KK

KK
70. SEKOLAH BARU



Liburan akhir tahun pelajaran sudah selesai. Aku dan Randi diterima di SMAN Leuwi Goong. Hanya saja kelas kami masih tetap berbeda. Bu Nita dan Pak Daud masih di Cirebon. Proses pindah kerja Pak Daud dari Cirebon ke Garut masih belum beres, katanya bulan depan beresnya.


Hari ini, hari pertama kami masuk sekolah. Aku dan Randi bisa lebih tenang sekarang, karena untuk ke sekolah, kami tinggal menyeberang jalan. SMAN Leuwi Goong dari halaman rumah juga kelihatan. Bahkan bel tanda masuk sekolah dari rumah juga terdengar.


Aku dan Randi jadi bisa membantu dulu persiapan sekolah anak-anak matahari. Walaupun mereka sudah bisa mandiri, tetap saja mereka harus diingatkan, 'Ayo cepetan mandinya', 'Jangan telalu lama sarapannya', 'Pakai bajunya yang rapih ya', pesan-pesan seperti itu harus digaungkan oleh Mak, aku maupun Randi. Bila mereka mendengar pesan itu, gerak mereka otomatis jadi lebih cepat. Tapi kalau mereka dibiarkan tanpa pesan pengingat itu, mungkin jam 06.30 begini mereka masih belum mandi semua.


"Ayo, sudah siap semua?" Randi menyiapkan pasukan anak-anak matahari.


"Siap, Kak." Mereka kompak mengatakan siap. Suara mereka begitu lantang terdengar. Pak Samsudin tersenyum bangga. Mak mengusap airmata dengan ujung kain kerudungnya. Begitu bahagianya kedua orang tua kami itu melepas anak-anak pergi sekolah.


"Ayo kita berangkat, ucapkan bismillah dan do'a keluar rumah, lalu cium tangan sama Mak dan Pak Sam." Anak-anak mengikuti perintahku. Mereka bergantian cium tangan pada Mak dan Pak Sam.


"Kami berangkat ya, Mak, Pak. Mohon do'anya." Orang terakhir yang cium tangan pada Mak dan Pak Sam adalah aku. Mak mengusap kepalaku dengan lembut.


"Antar dulu anak-anak ya. Nanti kalau mereka sudah terbiasa, baru boleh dilepas." Itu pesan Mak. Aku mengangguk.


Aku dan Randi mengantar dulu anak-anak sampai masuk gerbang sekolah mereka. Baru setelah itu, aku dan Randi menuju sekolah kami.


Ada yang spesial. Meski aku dan Randi adalah siswa baru, ternyata semua guru di sekolah baru kami sudah mengenal kami. Saat upacara pembukaan kegiatan Masa Orientasi Siswa, Bapak Kepala Sekolah memanggil kami ke depan.


"Anak-anak, dua orang teman kalian ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi kalian semua. Di usia yang masih muda, mereka sudah melakukan begitu banyak kebaikan, mereka memiliki anak asuh sebanyak dua puluh orang. Mereka bahkan sudah mempertemukan seorang anak dengan ibu kandungnya, yang sebelumnya terpisah selama delapan tahun." Tepuk tangan riuh dari para peserta upacara, baik itu siswa maupun guru-guru kami.


"Wil, Kok Bapak Kepala Sekolah tau sih?" Tanya Randi sambil menyikut lenganku.


"Nggak tau, Ran. Aku juga heran. Berita dari mulut ke mulut kali."


"Kamu kali, pernah pasang di status WA ya?" Mata Randi mendelik. Aku jadi menahan senyum. Aku tahu persis Randi hanya bercanda. Karena Randi tahu bahwa aku orang yang alergi pasang-pasang status di WA. Kalaupun iya aku pasang di status WA-ku, Bapak kepala sekolah dan guru-guru di sini tetap saja tidak akan melihat statusku, kan mereka belum punya nomor kontakku. Ah dasar Randi, dia memang suka sekali membuat tanganku ingin bergerak menggelitiki pinggangnya.


"Kalian silahkan kembali ke barisan. Saat istirahat nanti, temui bapak di ruang guru ya." Bapak kepala sekolah menyuruh kami untuk kembali pada barisan. Kami menurut.


Kegiatan hari ini, adalah perkenalan dengan wali kelas, dan perkenalan antar siswa. Kemudian siang nanti setelah istirahat ada materi Wawasan Wiyata Mandala.


Seperti yang diminta bapak kepala sekolah, saat istirahat, kami menemui beliau di ruang guru.


"Ayo sini duduk." Bapak kepala sekolah meminta kami duduk di depan beliau, jarak kami terhalang oleh meja tamu. Di ruang guru ini ada satu set sofa. Mungkin diperuntukkan untuk tamu yang datang ke ruang guru ini. Misal orang tua atau wali siswa. Yang duduk di kursi tamu ini bukan hanya bapak kepala sekolah. Di sebelah beliau ada tiga orang guru yang belum kami kenal.


"Nah, ini Pa Agus guru IPS, ini Bu Intan guru IPA, dan ini Bu Ai guru matematika." Bapak kepala sekolah memperkenalkan tiga orang guru yang mendampingi beliau. Kami tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Randi memberi kode bahwa yang memberi penjelasan aku saja.


"O iya, Pa. Mereka adik-adik kami. Semula mereka tinggal di Terminal Leuwi Panjang. Sekarang alhamdulillah bisa berkumpul di rumah kami. Mohon do'anya ya, Pa. Juga pada ibu dan bapak guru, mohon do'anya." Aku meminta do'a pada orang-orang mulia yang ada di hadapanku ini. Mereka adalah orang tua aku di sekolah ini.


Untung saja bapak kepala sekolah hanya mengangguk-angguk menerima penjelasan singkatku. Coba bila bapak kepala sekolah menanyakan lebih detail tentang cerita anak-anak matahari, tentu waktunya akan lumayan lama untuk aku dan Randi menjelaskan semuanya.


"Oh begitu ya. Nah sekarang, ayo silahkan Bu Intan, katanya mau mengatakan sesuatu." Bapak kepala sekolah mempersilahkan Bu Intan untuk bicara.


"Oh iya, begini, Wil, Ran. Boleh tidak, kami, yaitu ibu dan beberapa rekan guru di sini, ikut membantu kalian dalam berjuang membesarkan anak-anak matahari? Misalkan berbentuk memberi les. Tentu saja tanpa perlu bayar apapun alias gratis." Aku terpana, Randi juga. Betapa Maha Besar Kuasa Allah. Bahkan orang-orang yang baru kami kenal saja sudah Allah gerakkan untuk menyayangi adik-adik kami.


Aku belum dapat menjawab, aku bahkan masih kebingungan mengekspresikan rasa syukur di hati ini. Untung Randi mengerti yang aku rasakan. Randi mewakiliku menjawab,


"Ya Allah terimakasih ibu dan bapak semua, kami mohon maaf... baru kenal saja kami sudah merepotkan semuanya."


Ibu Intan tersenyum, beliau berkomentar,


"Kamu ya. Masih kecil saja bahasanya sudah seperti orang dewasa. Ini pasti gara-gara kalian sudah jadi bapak dari dua puluh anak-anak matahari." Gerr... Orang-orang baik di hadapan kami ini jadi tertawa semuanya, kami jadi ikut tertawa juga. Guru-guru kami ini memang luar biasa, ya baik, suka bercanda juga.


"Ya sudah, nanti Bu Intan dan kawan-kawan akan diskusi lebih lanjut tentang jadwal les dan lain-lainnya ya. Tapi tentu saja tidak hari ini. Besok atau lusa saja. Sekarang kalian kembali ke kelas." Bapak kepala sekolah menutup pembicaraan kami. Kami cium tangan pada semua, lalu kembali ke kelas.


Di kelasku, teman-teman masih duduk-duduk santai. Sebagian besar sedang mencoba saling mengenal satu sama lain.


"Wah, ini dia panutan kita. Nama kamu Wildan kan? Aku Satria." Seseorang yang bernama Satria mengulurkan tangannya menyalamiku.


"Eh teman-teman, kita langsung angkat Wildan jadi Ketua Kelas saja ya." Satria mengusulkan pada semua anggota kelas.


"Iya betul. Aku setuju."


"Oke, sepakat."


"Bagus. Pilihan yang tepat."


"Cocok." Semua anggota kelas kompak menjawab dengan nada yang sama. Dari jawaban antusias mereka, aku bisa menyimpulkan bahwa teman-temanku adalah orang-orang yang baik. Hari ini aku betul-betul jadi orang yang beruntung dan orang yang harus banyak bersyukur. Tapi sebentar, rupanya ada satu orang di pojok belakang kelas yang menatapku dengan tatapan aneh. Ada sedikit kebencian dalam tatap matanya. Dia seorang gadis, yang hanya diam, tidak berkomentar apa-apa.