
Jam setengah tujuhan warung abang sudah ada pengunjung. Bukan hanya satu orang, tapi beberapa orang. Mereka duduk-duduk santai sambil menyeruput kopi panas atau sekedar teh pahit hangat. Tentu saja ditemani goreng-gorengan, pisang goreng, ubi goreng, bakwan, dan cemilan-cemilan lainnya yang memang sudah siap tersaji di atas meja. Pantas saja setelah membersihkan meja dan kursi pengunjung, Opik buru-buru mandi tadi. Karena memang pagi-pagi begini Opik harus sudah siap melayani. Aku, dan Mang Jana juga ikut sarapan kue-kue ringan. Minumannya aku pilih teh manis panas pavoritku, Mang Jana pilih kopi susu. Karena ini serasa di rumah sendiri, aku sengaja melayani diri sendiri dan Mang Jana. Minuman kami, aku yang buat. Randi hanya duduk-duduk sambil lihat-lihat HP. Perutnya sudah penuh diisi sarapan karbo tadi. Entah dengan Opik. Aku tawari rotipun Opik menolak. Dia bilang nanti saja belum lapar.
Rencana kegiatan hari ini, hanya menunggu kabar dari Kak Agung dan Kak Yanto. Semoga saja proses berjalan mudah dan lancar.
"Wil. Ibu tanya tuh. Kapan katanya kita ke cirebon?" Randi mendekatiku. Aku berpikir sebentar. Rencana awal, jatah waktu kami untuk berpetualang adalah sepuluh hari atau kalau darurat perlu tambahan waktu, maksimal sebelas hari. Berarti waktu tersisa empat atau lima hari lagi. Sementara masalah yang harus diselesaikan, khususnya tentang anak-anak matahari, belum ada gambaran apa-apa. Apalagi tentang misi awal mencari tahu bapak kandungku, itu cenderung tidak ada harapan. Penelusuran seolah terhenti sampai aku ditemukan di saung. Teka teki kotak tusuk gigi rasanya terlalu jauh untuk sampai pada tujuan utama. Walaupun kami tetap berharap masih ada secercah harapan yang bisa kami temukan.
"Ya bilang saja ke ibu, sama seperti rencana semula. Maksimal lima hari lagi kita pulang." Aku akhirnya memutuskan.
"Nanti sebelum kita ke Garut lagi, kita mampir saja dulu ke rumah Bos Acep sama Cep Randi." Mang Jana mengusulkan.
"Boleh, Mang?" Aku setengah tidak percaya.
"Ya bolehlah, Bos. Kan kita bawa mobil sendiri, kemanapun boleh, Mang siap mengantar." Baik sekali Mang Jana ini. Dia rela meninggalkan keluarganya demi mengantar aku menyelesaikan urusan demi urusan.
"Aku ikut ya, Kak." Opik menyela. Padahal tangannya masih memegang nampan berisi minuman pesanan pelanggan. Aku jadi tersenyum melihat bola mata Opik yang penuh harap.
"Iya, kan sudah kakak bilang, mulai sekarang Opik boleh ikut kemanapun kakak pergi."
"Hore..." Opik berteriak, nampan yang dipegangnya hampir saja jatuh. Untung dia sigap menstabilkan pegangan. Para pelanggan warung abang hanya bengong mendengar percakapan kami. Mereka tidak mengerti.
"Alhamdulillah kalau memang Mang Jana siap mengantar untuk mampir ke Cirebon dulu. Minimal ibu bisa melepas kangen pada anak semata wayangnya." Aku melirik Randi. Yang dilirik merasa bangga, dia menggunakan telapak tangannya, menggoyang-goyang telapak tangannya, kipas-kipas di bawah muka. Haha, Sombong sekali dia. Tapi Randi memang anak yang beruntung. Dia pantas bangga karena punya orang tua yang begitu hebat, begitu menyayanginya.
"Berarti hari ini kita hanya menunggu info dari Kak Agung ya, Wil?" Aku mengangguk.
"Gimana kalau kita ke pasar dulu?" Usul Randi.
"Ke pasar?" Tentu saja aku heran.
"Iya, Kita belanja-belanja sedikit keperluan warung abang ini. Uang kita yang dari bekal sebelumnya, yang dikasih Ua Amir, yang dikasih Teh Ani, belum terpakai kan?" Usulan yang hebat. Tak terpikir olehku sama sekali. Tadinya aku baru akan memberi abang uang saat kami pamit. Tapi usulan Randi jauh lebih hebat.
"Ayo, kita mandi dulu ya, baru ke pasar." Aku menyetujui ajakan Randi.
Selesai mandi, kami berangkat ke pasar, diantar Mang Jana. sengaja si Putih dibawa biar mudah menyimpan belanjaan nanti. Aku melihat dompet yang diberi Pak Samsudin, uang yang ada di dalamnya ternyata banyak sekali, ada sekitar tiga juta. Itupun Pak Samsudin bilang, bila kurang ambil saja di ATM. Di ATM entah berapa banyak uang yang tersimpan. Ya Allah... begitu banyak nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku. Alhamdulillah.
"Ayo, Ran. Belanjanya agak banyak saja. uang di dompetku banyak ternyata." Kami jadi semangat berbelanja keperluan warung abang. Sayuran, buah-buahan, Kopi, susu, teh, gula, dan lain-lain. Tangan Randi dan aku sampai penuh kiri kanan membawa belanjaan.
"Wil, beli baju buat Opik juga yuk, dua stel juga ga apa-apa. Kasihan Opik cuma punya dua stel baju."
"Iya, Ran, ayo." Belanjaan untuk warung abang kami simpan dulu dimobil, kami kembali ke pasar untuk beli baju Opik.
"Apa ini?" Abang sampai tak mampu berkata-kata lagi. Kami tersenyum melihat abang yang nampak begitu bahagia sekaligus terharu.
"Coba lihat. Yang ini buat Opik." Randi menunjukkan sesuatu pada Opik.
"Asyiikkk...." Opik mendekat, langsung membuka semua kemasan plastik dari barang yang aku kasih. Semua baju dia coba. Aku bersyukur semua baju yang dibeli, pas di badan Opik. Randi bangga melihatnya, semua baju itu Randi yang pilihkan.
"Makasih ya kakak. Opik mau mandi lagi. Mau pakai baju baru." Opik berlalu, menuju kamar mandi terminal. Dia senang bukan main. Baju baru dia peluk sambil berjalan menuju kamar mandi. Lucu Opik ini, semangat sekali dia pergi mandi. Padahal baru dua jam lalu Opik mandi.
"Wil, coba periksa HP, siapa tau sudah ada kabar." Randi mengingatkanku. Betul, aku cek HP ada chat masuk dari Kak Agung, beberapa menit lalu.
"Deal. Pihak Dinas Sosial siap membantu. Nanti pihak Dinas Sosial yang menghubungi bagian Penertiban Umum. Tunggu, nanti diinfokan lagi perkembangan terkini." Alhamdulillah. Sudah ada titik terang. Semoga perjuangan membebaskan anak-anak matahari berjalan lancar.
Siang, sebelum adzan dzuhur berkumandang, ada chat lagi dari Kak Agung,
"Coba minta info dari Opik. Kapan biasanya anak-anak matahari memberi setoran pada preman." Aku segera panggil Opik. Kata Opik, biasanya anak-anak matahari setor beberapa saat sebelum adzan asar. Opik menyebutkan lokasi preman saat menerima setoran. Aku langsung infokan pada Kak Agung.
"Oke. Tunggu sebentar ya." Sepertinya Kak Agung langsung juga menyampaikan info dariku ke pihak terkait.
"Sore ini juga, petugas Penertiban Umum akan ke lokasi TKP. Anak-anak matahari akan ditertibkan, nanti ditampung sementara oleh petugas di tempat yang sudah disediakan"
"Nanti, kita tinggal menjemput mereka di tempat penampungan." Alhamdulillah, semoga lancar segala sesuatunya.
***
Jauh sebelum waktu asar, aku, Randi, dan Opik sengaja melihat situasi di tempat yang Opik sebutkan. Tempat Pak Preman menerima setoran anak-anak matahari. Ada rasa khawatir, hati kami gelisah, dag dig dug di hati ini tak bisa kami hindari. Kami takut semua tidak sesuai rencana. Kami berusaha berdo'a, setidaknya dengan berdo'a hati dan pikiran kami sedikit tenang.
Di lokasi masih agak sepi. Pak Preman belum datang. Anak-anak matahari belum satupun yang muncul. Petugas Penertiban Umum juga belum ada. Jangan- jangan... Ah, kutepiskan keraguan yang mengganggu di hati. Aku harus yakin semua akan berhasil.
Samar-samar kulihat Pak Preman datang. Lalu duduk santai sambil menyalakan rokok. Dia merokok dengan begitu tenangnya. Kami memang melihat dari kejauhan, sengaja supaya tidak menimbulkan kecurigaan siapapun.
Satu anak matahari muncul, dia langsung menyerahkan setoran pada Pak Preman. Terlihat Pak Preman memeriksa uang yang dipegang anak itu, mungkin Pak Preman meyakinkan bahwa anak itu tidak bohong, tidak mengambil jatah diluar kesepakatan.
Anak kedua datang, anak ketiga, anak keempat. Benar saja, dalam waktu singkat, sepertinya semua anak sudah kumpul. Semua mengantri memberikan setoran. Tiba-tiba...
"Itu, Wil. Liat." Randi menunjuk mobil yang baru datang. Mobil petugas itu tiba-tiba saja datang, begitu tepat waktu. Yang aku lihat, itu mobil tahanan, karena ada kursi yang posisinya saling membelakang. Mobil itu ada tulisan SATPOL PP.