KK

KK
13. ANAK-ANAK MATAHARI



Aku dan Randi terpana. Kami tak menyangka Opik punya ide untuk ikut bersama kami. Pikiran anak kecil seringkali susah dimengerti. Mungkin menurutnya, kami tuh enak-enakan, jalan-jalan terus. Opik tidak tahu betapa berat perjuangan aku dan Randi. Kami harus mengunjungi beberapa kota tanpa bisa memastikan apa yang akan kami temukan di kota tersebut. Tujuan kami belum tentu tercapai.


"Ya Bang ya. Opik mau ikut kakak, boleh kan?" Kudengar Opik merajuk. Abang belum menanggapi, masih sibuk melayani pembeli.


"Sekarang ambil dulu tuh kertas pesanan kakakmu, kasihan kakak lapar." Abang akhirnya menyuruh Opik melupakan dulu keinginannya. Opik menurut, kembali mendekati kami.


"Loh, Kak. Ko sendirian?" Opik heran melihat Randi tidak ada di dekatku. Yang dicari malah ketawa, di balik etalase makanan abang warung.


"Tuh, lagi ngambil makanan." Opik menengok arah yang aku tunjukkan.


"Oh, dikira kemana. Mana kertas pesanannya, Kak? Abang nanyain."


"Ga jadi."


"Loh, kenapa? Ga jadi makan?"


"Bukan, ga jadi ditulis. Sudah langsung ambil sendiri. Nah ini sudah datang makanannya." Randi sudah ada di dekat kami, membawa dua piring nasi, lengkap dengan sayur dan tempe. Randi tadi sudah minta ijin abang untuk mengambil makanan sendiri. Dia kasihan melihat abang cukup sibuk melayani pembeli. Opik manggut- manggut. Dia mulai paham.


"Sekarang ayo duduk sini, sesekali kakak ingin menyuapi kamu makan." Tiba-tiba aku jadi ingin menyuapi dia.


"Malu ah, Kak. Sudah besar masa disuapi?"


"Ih, kata siapa kamu sudah besar? Masih kecil tau. Coba lihat nih, tinggi kamu sepinggang kakak saja belum. Berarti masih kecil kan?" Opik cengengesan, dia sadar aku godain. Opik memang sudah 8 tahunan. Tapi badannya kecil. Maklum selama ini Opik tinggal di jalanan. Makannya tidak terurus. Opik lalu duduk di dekat aku. Dia mau aku suapi. Randi sih sudah dari tadi menyantap makanannya. Sudah hampir selesai makannya.


Serasa punya adik kecil, aku asyik menyuapi Opik, sampai lupa aku sendiri belum makan. Opik yang mengingatkan aku, suapan untuknya dia suruh aku yang makan. Akhirnya jadi gantian, satu suap untuk Opik, satu suap untuk aku. Tanpa kusadari, abang warung memperhatikan dari sela-sela kerumunan pembeli. Abang tersenyum saat tanpa sengaja aku menoleh ke arahnya.


Kami selesai makan. Randi kembali ke etalase makanan abang warung. Dia menyimpan uang bayaran makan kami di bawah piring.


"Bang." Randi memanggil abang. Memberi isyarat bahwa uang di simpan di bawah piring. Abang menggeleng. Tangannya digerak-gerakkan, maksudnya kami tak usah membayar makanan itu. Randi tidak menurut. Tetap menyimpan uang itu.


"Sekarang ya, Kak?" Opik hendak bersiap. Dia berlari mengambil kantong yang berisi dua potong bajunya. Sebentar saja Opik sudah ada di hadapan kami lagi.


"Opik sudah siap, Kak." Begitu antusiasnya Opik. Aku bingung, Randi juga sama. Kami memang belum berdiskusi menanggapi permintaan Opik. Tapi tanpa diskusipun, sudah jelas jawabannya tidak. Mana mungkin kami membawa Opik? Tanpa Opikpun kami sudah harus mengatur-atur pengeluaran uang, biar cukup untuk segala sesuatu. Kami bahkan tidak pernah tidur di penginapan, tidak seperti rencana sebelumnya. Bila harus membawa Opik, kami tak yakin uang kami cukup. Kasihan juga Opik bila harus tidur di mesjid, di mushola, atau di pos satpam, atau di tempat-tempat tak berbayar lainnya. Opik lebih layak bila tinggal di sini dengan abang.


"Tuh kan malah melamun. Ayo. Opik sudah siap." Opik nampak bersemangat sekali.


"Untuk sementara, Opik tinggal di sini saja dulu ya. Nanti kakak nengokin Opik lagi ke sini." Aku mencoba memberi pengertian. Tanpa kuduga, mata Opik basah, dia menangis.


"Eit, jangan nangis dong. Kan katanya sudah besar, masa sudah besar menangis." Randi menghibur Opik. Opik diam, menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya.


"Ga. Ga begitu ko."


"Trus, kenapa Opik ga boleh ikut?"


" Karena kakak harus cepat-cepat beresin urusan kakak. Nanti di sana, jalan kakak harus cepat, harus lari, supaya urusannya beres." Opik diam. Mencoba memahami alasanku. Padahal aku sendiri bingung itu alasan apa. Aku hanya asal bunyi saja, siapa tahu bisa meredakan keinginan Opik untuk ikut.


Berhasil. Opik diam. Tidak lagi ribut ingin ikut. Juga tidak nangis lagi.


"Kalau memang Opik ga boleh ikut sekarang, kakak harus tinggal di sini dulu malam ini. Perginya besok saja." Aduh. Syarat yang sama sama berat untuk dijalankan. Aku melihat Randi, dia lagi-lagi sama bingungnya dengan aku.


"Sebentar ya, kakak diskusi dulu dengan kak Randi." Opik mengangguk. Matanya kembali berbinar. Aku mendekati Randi, bisik-bisik. Kami sama-sama tak tega bila harus menolak lagi permintaan Opik. Bila dipikir-pikir, antara dua pilihan Opik ikut atau menginap semalam di sini, memang lebih baik menginap. Resikonya lebih kecil dibanding bila membawa Opik dalam perjalanan kami.


"Oke Opik. Kami menginap di sini malam ini."


"Hore. Yeay yeay yeay." Opik bersorak. Aku menatap abang warung, meminta ijin. abang warung mengangguk.


"Kak, nanti sore, kalau yang beli di sini sudah sepi, kita jalan-jalan ya. Ke tempat teman-teman Opik. Biar kakak tahu, teman Opik banyak." Dengan bangganya Opik ingin menunjukkan pada kami tempat favoritnya. Tempat dimana teman-temannya berkumpul. Baiklah Opik adikku, kebanggaanmu adalah kebanggaan kami juga.


Selepas waktu asar, warung abang sudah sepi pengunjung. Mungkin karena para calon penumpang bis atau angkutan kota sedikit terburu-buru bila mereka pergi di waktu sore begini. Atau bisa jadi, karena ini waktu yang tanggung untuk makan. Karena jam makan siang sudah lewat, jam makan malam belum masuk. Seperti yang diminta Opik, kami minta ijin pada abang, untuk jalan-jalan. Jalan-jalan versi Opik. Dia yang jadi pemandunya kali ini.


"Di sana, Kak. deket ko." Opik menunjuk arah yang akan kami lalui.


Di sebelah gerbang utama terminal Leuwi Panjang, ada parkiran motor. Di sana, tepatnya di bawah pohon, terlihat beberapa anak seusia Opik sedang tertawa-tawa, bersenda gurau. Aku perhatikan, selain ada anak-anak seusia Opik, ada juga yang usianya di atas Opik. Bahkan diantara mereka yang berkumpul di sana, ada Kakak-kakak yang sepertinya usianya di atas usia aku. Dari tampilan mereka, aku yakin kakak-kakak itu bukan anak jalanan seperti Opik.


"Ayo anak-anak. sudah cukup mainnya ya. Sekarang kita mulai belajar." Kakak-kakak itu mengajak anak-anak untuk mulai belajar.


"Kak, Opik bergabung dengan mereka dulu ya. Satu jam. Boleh?" Opik meminta ijin kami. Kami mengangguk.


"Tapi kakak tetap di sini ya, melihat kami belajar." Aku mengangguk lagi. Kami cukup penasaran juga, apa yang anak-anak ini lakukan bersama kakak-kakak itu.


Opik mendekati mereka.


"Halo Opik, Assalamu'alaikum. Alhamdulillah Opik datang, sudah dua hari ya Opik tidak ikut kegiatan?"


"Wa'alaikum Salam. Iya, Kak. Maaf ya, Kak." Opik menjawab salam. Opik terlihat tak canggung lagi bergabung dengan anak-anak lain. Dia langsung duduk. Siap menyimak apa yang akan disampaikan kakak-kakak di sana.


"Ok anak-anak matahari! Siapkan mata kalian, pikiran kalian, hati kalian. Mari kita mulai!"