
Pak Samsudin menyimpan HPnya kembali.
"Mak, besok jam 07.00 kan porang. Lusa jam 07.00 an juga sama ya, jagung." Tumben kali ini Pak Samsudin bicara pada Mak Asih menggunakan bahasa yang aku mengerti.
"Mak ngerti kan?" Pak Samsudin memastikan. Mak Asih mengangguk.
"Sengaja Mak, pakai Bahasa Indonesia saja ya, biar Acep ngerti." Oh, maksudnya itu rupanya.
"Nah, Acep. Bosnya Bapak sekarang Acep ya. Biar bapak tenang. Bapak panggilnya Bos Acep saja ya" Aku bingung, sekaligus merasa lucu juga. Randi sih kalem-kalem saja, dia senang bukan main mendengar panggilan baru untukku, Bos Acep.
"Pak, Wil kesini itu mau cari informasi terkait Bapak Sugianto dan Ibu Aisyah. Bukan mau jadi Bos."
"Iya kan informasinya sudah jelas Acep. Pak Sugianto itu Bos Sugi. Jadi Acep otomatis jadi Bos Acep." Pak Samsudin kukuh pada pendiriannya. Aku tak bisa protes lagi. Walau aku sendiri merasa aneh, merasa asing dengan panggilan baru dari Pak Samsudin.
"Sebentar Pak. Ini bagaimana aturannya ko tiba-tiba seolah Wil adalah pewaris harta kekayaan Pak Sugianto. Itu tidak bisa main-main Pak. Ada hukum dan aturannya."
Pak Samsudin malah tertawa.
"Bos Acep mah aneh. Orang lain mah ingin kaya, ini tinggal terima saja malah ga mau."
"Wil takut dosa, Pak." Pak Samsudin memegang kedua bahuku. Beliau menatapku lekat.
"Alhamdulillah, harta kekayaan Bos Sugi diwariskan pada orang yang sholeh seperti Bos Acep. Bapak bahagia sekali." Pak Samsudin memeluk aku. Sebentar kemudian melepaskan pelukannya kembali sambil berkata,
"Dulu, sewaktu Bos Sugi sakit, beliau bilang bahwa bila usianya pendek, maka seluruh harta kekayaannya diberikan pada Ibu Aisyah dan anaknya, yaitu Bos Acep."
"Lalu saat Ibu Aisyah memutuskan menikah dengan Pak Muji, Ibu Aisyah dengan tulus ikhlas meninggalkan semua harta kekayaan Bos Sugi, Ibu Aisyah pindah ke kota lain, mendampingi Pak Muji suaminya. Sebelum menikah juga Ibu Aisyah mensyaratkan, Pak Muji akan Ibu Aisyah terima, bila tidak mengutak atik kekayaan Bos Sugi."
"Ibu Aisyah bilang, semua harta Bos Sugi bukan miliknya. Tapi milik saudara-saudara Bos Sugi. Pesan Ibu Aisyah, bila besok lusa ada keluarga Bos Sugi datang, harta kekayaan Bos Sugi silahkan di bagi-bagikan saja pada keluarganya."
"Bertahun-tahun bapak menunggu, Tak ada seorangpun keluarga Bos Sugi yang datang, sampai saat ini. Sampai Acep ada di hadapan Bapak. Jadi Bapak anggap inilah petunjuk Allah. Kembali pada wasiat lisan Bos Sugi, bahwa pewaris harta kekayaannya adalah Bos Acep." Aku dan Randi diam. Serius menyimak.
"Jadi kalau sekarang aku minta dibelikan sesuatu, boleh Pak?" Randi mengajukan sesuatu. Aku menyikut lengannya.
"Apa sih kamu, malu-maluin saja." Aku berusaha menggagalkan usaha Randi.
"Oh, boleh. Boleh sekali." Pak Samsudin antusias. Beliau tersenyum.
"Minta dibelikan apa, Cep Randi?" mata Randi berbinar.
"Pulsa dan kuota, Pak. Randi mau menghubungi ibu di Cirebon. Mau laporan ada Bos Acep di sini." Randi melirik aku, tatapannya menggoda. Aku mencubit pinggangnya, tapi tidak kena. Randi menghindar, bersembunyi di belakang Pak Samsudin.
"Dasar kamu! Awas!" Aku berusaha mengejar, aku harus mencubit pinggangnya, yang keras sekalian, biar dia kapok.
"Eit, Eit." Randi masih saja bisa menghindar. Pak Samsudin tertawa, enak sekali ketawanya.
"Sudah, sudah."
"Ayo sini. Bapak kirim pulsa dan kuota. Duduk dulu." Pak Samsudin mengambil HPnya, lalu mengirimi pulsa dan kuota menggunakan m-banking miliknya. Canggih sekali Pak Samsudin ini, hidup di kampung begini, tapi punya m-banking segala.
"Berapa nomor Cep Randi? Bos Acep juga sekalian ya." Randi menyebutkan nomor HPnya.
"Ga usah, Pa. Wil jarang pake HP ko."
"Ih, jangan ga usah ga usah. Ayo sini, mana HPnya?"
"Randi hapal nomor Wil ko Pa." Randi bersiap akan menyebutkan nomornya.
"Bukan sekedar nomornya, bapak mau lihat HPnya. Ayo bawa sini." Aku akhirnya menurut, HP kuambil.
"HP Bos Acep bapak ambil dulu, besok dikembalikan ya."
"Loh. Kenapa, Pak?"
"Mau bapak belikan HP yang bagus."
"Aduh. Ga usah, Pak. Serius tidak usah." Aku berusaha melarang. Tapi HP sudah di tangan Pak Samsudin. Pak Samsudin lalu berlalu meninggalkan kami.
"Cie ciee... HP baru buat Bos Acep. Ha ha ha." Randi terus-terusan mengolok-olok aku. Dia berlari saat tanganku akan menarik bajunya. Aku mencoba mengejar. Randi masuk kamar, lalu menutup pintu kamar. Mengunci pintu kamar juga. Otomatis aku tidak bisa mengejar lagi. Dasar Randi. Tunggu saja tanggal mainnya, nanti akan aku gelitiki dia sampai dia minta ampun. Randi paling anti kalau digelitiki.
Karena pintu kamar ditutup dan dikunci, aku jadi tidak bisa masuk kamar. Aku mencoba ke dapur. Kulihat Mak Asih sedang memasak. Aku melihat tempat cucian piring, banyak piring-piring kotor di sana. Aku bergegas menyiapkan cairan pencuci piring yang ada di sebelah tempat cuci piring. Kasian Mak. Aku akan membantu mencuci piring kotor.
"Aduh jangan Aden. Biar nanti sama Mak saja." Mak melarang aku.
"Ga apa-apa ko, Mak. Wil sudah biasa membantu pekerjaan rumah." Aku bukan sekedar basa basi, Aku memang sudah biasa mencuci piring, mengepel, mengelap kaca, menyiram tanaman, dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sejak aku dan ibuku tinggal di rumah ibunya Randi, semua pekerjaan rumah memang aku dan ibuku yang mengerjakan.
Setelah beres mencuci piring, aku minta ijin Mak untuk membantu Mak memasak. Mak sudah masak sayur, tinggal masak ayam kecap.
"Biar Wil saja Mak. Wil bisa ko. Mak mandi saja dulu. Nanti selesai Mak mandi, gantian Wil yang mandi." Mak tidak melarang lagi. Tangannya mengusap-usap rambutku, lalu pergi meninggalkanku.
***
Pagi hari ini, sebelum subuh, sudah kudengar suara aktifitas Mak di ruang makan dan di dapur. Aku memaksakan diri bangun. Randi tidak aku bangunkan dulu. Aku ke kamar mandi sebentar, lalu ke dapur melihat Mak.
"Ada yang bisa Wil bantu, Mak?" Mak cukup kaget mendengar suaraku.
"Aduh, Den. Dikira siapa."
"Ga usah Aden, sebentar lagi juga Mak Ucih dan Uwa Ane datang membantu."
"O kalau begitu Wil bantu potong-potong sayuran sampai Mak Ucih dan Uwa Ane datang ya Mak." Aku memaksa. Tak tega rasanya melihat orang tua seperti Mak Asih sibuk sendirian di dapur. Mak Asih akhirnya membiarkan aku membantu. Beberapa menit kemudian, Mak Ucih dan Uwa Ane datang. Mak Asih memperkenalkan aku pada keduanya. Aku lalu meninggalkan mereka, mandi, dan bersiap sholat subuh.
Ketika aku sudah siap akan melaksanakan sholat, Pak Samsudin sudah menunggu di mushola rumah. Kami sholat berjamaah. Tapi tanpa Randi. Aku lupa belum menbangunkan Randi.
Selesai sholat, Pak Samsudin mengajak aku bicara sebentar.
"Bos, mumpung Cep Randi belum bangun, Bapak mau bilang sesuatu."
"Iya, Pa. Ada apa?"
"Sejak Ibu Aisyah meninggalkan rumah ini, Sawah dan kebun kan dikelola oleh bapak. Nah hasilnya, setelah dikurangi modal, 25% Bapak simpan. 35% untuk bagi hasil dengan panyawah. 15% untuk bagi hasil dengan bapak. Dan 25% bapak golangkan lagi diusaha, untuk membeli sawah dan kebun. Bertahun-tahun pengelolaannya seperti itu. Sekarang alhamdulillah sawah dan kebun sudah makin luas. Uang simpanan juga sudah banyak. Uang simpanan itu milik Bos Acep. Bos boleh menggunakan untuk apa saja terserah bos." Aku diam, tak bisa berkata-kata. Aku hanya menatap Bapak yang demikian jujur di hadapanku ini. Dalam hati aku memohon pada Allah, semoga Pak Samsudin diberikan usia yang panjang, juga selalu sehat.