
"Ayo, hapus air mata kalian. Hilangkan semua kesedihan. Kita sama-sama berusaha semaksimal yang kita bisa untuk menyembuhkan Pak Nana." Pak Daud menyulut semangat kami semua. Aku dan Randi mengepalkan tangan kanan, lalu kedua kepal tangan kami beradu,
"Tos! Semangat!" Kompak kami menyuarakan kata yang sama. Ibu Nita dan Pak Daud tersenyum, tak ada lagi kesedihan di wajah keduanya. Dian ikut-ikutan mengepalkan kedua tangannya. Lalu kedua kepal tangannya dia tempelkan satu sama lain. Nenek masih sibuk mengusap air matanya, tapi sudah ada senyum di bibirnya.
***
Minggu pagi, aku dan Randi mulai sibuk menyiapkan segala hal terkait sekolah. Baju-baju seragam yang harus kami siapkan untuk satu minggu, juga tas dan buku-buku sekolah. Jadwal pelajaran untuk semester genap sudah di share di grup kelas. Biasanya, hari pertama masuk sekolah, kami langsung belajar secara efektif.
"Ran, besok untuk kunjungan Bapak Nana ke rumah sakit gimana? Siapa yang antar, kita kan sekolah." Randi bertanya. Aku memang belum membicarakan soal ini lagi.
"Nggak tau, Ran. Aku ijin aja gitu ya, untuk besok nggak usah sekolah?" Yang terpikir olehku cuma itu. Aku tak punya ide yang lain.
"Terus untuk jadwal kunjungan berikutnya, gantian ya, aku yang ijin nggak sekolah, oke?" Randi menyambung ideku. Klop. Kami sepakat. Aku mengambil HPku. Aku akan menghubungi ibu walikelasku lewat telepon, meminta ijin untuk besok tidak bisa masuk sekolah.
Baru saja nomor ibu walikelasku akan ku klik, Ibu Nita tiba-tiba bilang,
"Sudah, untuk besok biar ibu sama nenek aja yang mengantar Pak Nana ke rumah sakit. Kalian semua besok sekolah. Masa hari pertama masuk sekolah sudah ijin tidak masuk?" Aku dan Randi hanya saling berpandangan.
"Nanti untuk kunjungan berikutnya, ibu mau tanyakan ke petugas pendaftaran di rumah sakit, ada jadwal kunjungan sore atau tidak. Kalau ada, nanti baru kalian yang antar."
"Iya, Bu." Hampir kompak aku dan Randi menjawab.
***
Senin setelah subuh. Aku dan Randi bersiap untuk sekolah. seragam putih biru sudah kami siapkan. Untuk subuh kali ini, kulihat nenek ikut bergabung dengan ibu menjadi tim pejuang subuh. Nenek membantu ibu memasak. Mereka tim yang hebat, tak terdengar keluh kesah sedikitpun. Malah kudengar nenek dan ibu mengobrol seru, entah apa yang mereka bicarakan. Diam-diam aku mengintip ke kamar nenek. Ada rasa rindu untuk melihat Bapak Nana. Aku mengintip melalui pintu yang terbuka sedikit. Kulihat Bapak Nana masih tidur dengan lelap.
"Ayo, sarapan dulu." Seseorang menepuk bahuku perlahan. Nenek tersenyum. Nenek mengintip ke kamarnya sebentar, lalu kembali ke dapur. Rupanya nenek juga memantau Bapak Nana masih tidur atau sudah bangun.
Pukul 06.30. Aku dan Randi beres sarapan, kami siap berangkat sekolah. Kami pamit pada Ibu Nita, Pak Daud, pada nenek juga. Bapak Nana menatap kami saat kami cium tangan pada nenek.
"Wil. Salam ke Bapak yuk." Randi menyikut lenganku. Aku dan Randi mendekati bapak, hendak cium tangan. Bapak Nana menarik tangannya. Kepalanya menggeleng-geleng. Yang Randi pahami, Bapak Nana tidak mau tangannya kami cium. Tapi yang aku pahami, Bapak Nana tidak mau kami pergi sekolah, meninggalkan bapak. Entahlah mana yang betul.
"Kami sekolah dulu ya, Pak." Akhirnya kami hanya pamit.
"Dian ikut boleh, Kak?" Dian menatap kami penuh harap.
"Kalau sekarang belum boleh. Nanti kapan-kapan ya, Dian kakak ajak untuk melihat-lihat sekolah kakak." Dian mengangguk. Sedikit kecewa.
"Nanti kan Dian juga punya sekolah sendiri, ya kan?" Randi mencoba menghibur.
"O iya ya, Kak. Nanti Dian juga sekolah. Sama seperti kakak, gagah. Pakai tas gendong yang besar." Dian memperagakan dengan tangannya. Kami semua jadi tertawa.
***
Di sekolah, siswa yang hadir sudah banyak. Mereka kebanyakan sedang seru bercerita ini itu. Aku melalui beberapa kelas untuk sampai di kelasku. Anak-anak di kelasku sebagian besar duduk bergerombol. mengobrol atau sekedar tertawa-tawa ceria. Aku menuju tempat dudukku. Rian teman yang duduk di sebelahku juga sudah ada.
"Hei, sehat?" Aku menyapa Rian.
"Alhamdulillah. Kamu?"
"Sehat juga alhamdulillah."
"Gimana, liburannya seru? Kalau aku sih di rumah aja, ibuku lagi sakit." Deg, spontan jantung ini berdetak lebih cepat mendengar kata-kata Rian. Kasihan Rian, dia pasti mengalami kebingungan dan kekhawatiran seperti yang aku alami saat Ibu Aisyah sakit dulu.
"Sakit apa?" Aku mencoba mencari tahu.
"Nggak tau."
"Nama penyakitnya nggak tau. Pokoknya, ibuku sering pusing, kadang sampai muter-muter pusingnya. Dua hari lalu malah sampai muntah."
"Udah ke dokter?"
"Belum. Ibuku anti dokter, takut katanya kalau di bawa ke dokter. Takut jadi ketahuan sakit ini dan itu, padahal yang dirasa cuma pusing aja."
"O gitu." Aku mengerti alasan ibunya Rian. Bagi sebagian orang, memeriksakan diri ke dokter memang jadi hal yang membuat nyali ciut. alasannya bisa jadi takut ketahuan punya penyakit yang berat. jauh lebih berat dari yang dikeluhkan. Sehingga nanti, harus melanjutkan berobat jalan lah, harus meminum rutin obat tertentu lah, atau tindak lanjut lain yang sama-sama bikin pusing karena harus mengeluarkan biaya tambahan.
"Lalu, ibumu minum obat apa dong?"
"Biasa, obat warung. Nanti juga sembuh katanya."
Bel masuk berbunyi. Kami duduk di bangku masing-masing. Walikelasku, Bu Min, datang.
"Assalamu'alaikum anak-anak."
"Wa'alaikum Salam, Bu."
"Hari ini kita mulai belajar ya. Jangan minta liburan diperpanjang lagi. Untuk semester sekarang kalian harus lebih giat lagi belajarnya, karena di ujung semester ini kalian akan menghadapi Ujian Sekolah." Betul kata Bu Min. Aku harus lebih giat lagi belajar. Agar pada saatnya nanti, aku bisa lulus dari sekolah ini dengan hasil yang baik.
"Nah, sekarang kan jadwal pelajaran ibu. Sebelum mulai belajar, ibu ingin tau dulu tentang cita-cita kalian." Kami semua diam. Mulai berpikir tentang cita-cita kami. Nggak nyambung sih sebenarnya, Bu Min mengajar matematika, tapi kali ini membahas tentang cita-cita, aneh kan?
"Diantara kalian, ada yang bercita-cita jadi pengusaha?" Lima orang mengacungkan tangan.
"Oke, cita-cita yang hebat. Besok lusa, jadilah pengusaha yang jujur. Pengusaha yang banyak membantu rakyat kecil."
"Lalu, adakah yang ingin jadi guru seperti ibu?" Dua orang temanku, Mila dan Nanda mengacungkan tangan.
"Alhamdulillah. Insyaa Allah, menjadi guru adalah pekerjaan yang baik dan mulia. Asal kita berusaha ikhlas dan bertanggung jawab menjalankan tugas-tugasnya yang lumayan berat."
"Ada yang bercita-cita jadi dokter?" Amir mengacungkan tangan.
"Hanya Amir?" Bu Min melihat ke semua sudut kelas. Semua siswa saling berpandangan, Aku belum bisa menetapkan cita-citaku apa, karena masih banyak pilihan cita-cita di kepalaku.
"Ayo, siapa lagi yang mau jadi dokter?" Entah kekuatan apa yang membuat tanganku terangkat, aku mengacungkan tangan. Mendengar kata dokter disebut lagi oleh Bu Min, pikiranku spontan ingat pada Bapak Nana, pada Dian. Mereka orang-orang penting dalam hidupku yang saat ini sedang butuh pendampingan seorang dokter. Aku juga ingat anak-anak matahari. Bila besok lusa aku jadi dokter, aku berharap anak-anak matahari akan lebih terpacu untuk berjuang keras meraih cita-citanya masing-masing. Aku ingin adik-adik matahariku sukses semuanya.
"dokter Amir dan dokter Wil. Ibu do'akan kalian menjadi dokter yang amanah, dokter yang selalu siap dan ikhlas menolong sesama."
'Terimakasih untuk semua pembaca yang telah menyempatkan hadir di sini.'
Kali ini aku merekomendasikan novel bagus karya temanku, ini dia:
Blurb :
Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.
Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.
Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.
Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?
Ikuti kisah perjalanan mereka ....