KK

KK
20. SI LURIK



"Jangan diam saja atuh, Bos. Ayo dipikirkan, Bos ingin apa? Uangnya sudah banyak loh, Itu semua hak Bos. Milik Bos." Pak Samsudin mengingatkanku.


"Jangan takut uangnya habis, usaha Insyaa Allah berjalan terus. Bos banyak berdo'a saja. Semoga kebun porang, kebun jagung dan sawah Bos semuanya berhasil, tumbuh subur, jangan sampai ada masalah hama atau apapun."


"Iya, Pak."


"Terus Bos ingin beli apa?"


"Ga tahu, Pak."


"Loh, ko? Apa sajalah, motor misal, atau baju-baju, atau mau mempercantik rumah ini biar tambah betah ditinggali, atau apa saja."


"Rumah ini tidak perlu di apa-apain lagi, Pak. Sudah bagus, megah, besar, pasti betah tinggal di sini."


"Nanti malam ya bapak tunjukkan buku rekening yang berisi uang simpanan Bos, biar Bos tahu jumlahnya berapa."


"Tidak usah juga tidak apa-apa, Pak."


"Pak, yang mengurus rumah ini, selain Bapak dan Mak Asih, siapa lagi?" Aku mencoba bertanya, tiba-tiba ada ide dikepalaku.


"Ya cuma Bapak sama Mak saja. Kalau sewaktu-waktu ada banyak pekerjaan karena sedang panen misal, seperti hari ini dan besok, Mak suka minta bantuan Mak Ucih dan Uwa Ane untuk masak-masak. Untuk ngurus halaman rumah dan sekitarnya, Mang Jana dan Mang Ijar sesekali suka Bapak mintai tolong juga."


"Mereka itu warga kampung sini juga, Pak?"


"Iya, Mak Ucih dan Uwa Ane rumahnya dekat sini, mereka para janda yang tak punya anak, suaminya sudah lama meninggal. Dulu suaminya panyawah Bos Sugi juga."


"Kalau Mang Jana dan Mang Ijar, punya keluarga dan punya anak. Mereka juga panyawahnya Bos Sugi dari dulu. Mereka semua orang-orang yang dapat dipercaya. Pada jujur semua."


"Insyaa Allah semua panyawah yang mengurus sawah dan kebun Bos Acep, semua orang-orang baik dan jujur."


"Alhamdulillah." Aku ikut bersyukur, ternyata masih banyak orang-orang yang baik dan jujur.


"Bos Acep seterusnya akan tinggal di sini kan?" Pak Samsudin menanyakan hal yang tak bisa kujawab, bahkan belum kupikirkan sama sekali.


"Nanti Wil pikirkan dulu ya, Pak."


"Aduh Bos Acep, Bapak dan Mak sudah senang ada Bos Acep. Masa Bos Acep mau pergi lagi?"


"Banyak yang harus dipertimbangkan Pak. Nanti Wil berdiskusi dulu dengan ibu dan bapaknya Randi ya, Pak." Pak Samsudin manggut-manggut.


"Ya sudah, tentang itu nanti dibicarakan lagi ya. Sekarang tentang apa yang ingin Bos beli dulu saja. Bos ingin apa?" Aku menatap Pak Samsudin. Orang tua ini betul-betul orang yang sangat jujur. Beliau hanya mengambil haknya, sama sekali tidak mengganggu yang menurut beliau hak aku. Padahal sudah lebih dari 10 tahun berlangsung. Keimanannya betul-betul sudah teruji. Beliau akan menyerahkan begitu saja uang dan segala sesuatu hasil jerih payahnya selama ini. Aku harus belajar banyak padanya tentang rasa takut pada Allah. Aku yakin ini semata-mata karena beliau takut pada Allah. Bila tidak, bisa saja beliau mengakui semua adalah miliknya. Karena tidak seorangpun yang tahu tentang detail harta kekayaan Pak Sugianto selain dirinya dan istrinya.


"Tuh kan, malah diam lagi." Aku jadi tersenyum melihat Pak Samsudin yang begitu antusias menunggu jawabanku.


"Pak, ada sih keinginan Wil. Tapi Wil takut Bapak tidak setuju."


"Ya Allah Bos Acep. Kan sudah Bapak bilang, Semua uang yang disimpan adalah milik Bos. Bos Acep bebas menggunakan untuk apa saja. Ayo coba bilang ke Bapak."


"Ini baru rencana ya, Pak. Bila tidak memungkinkan juga tidak apa-apa. Ini hanya keinginan yang muncul di hati dan pikiran Wil saja. Wil bisikkan di telinga Bapak ya. Bapak jangan dulu bilang pada siapa-siapa." Pak Samsudin mengangguk. Ada rasa penasaran di raut wajahnya. Aku mendekatkan mulutku pada telinga Pak Samsudin, kubisikkan rencanaku, keinginanku. Pak Samsudin mendengarkan dengan penuh konsentrasi. Selesai aku membisikkan keinginanku, kulihat Pak Samsudin menyeka air mata. Aku tak tahu apa yang membuat Pak Samsudin menangis. Beliau hanya menatapku lekat.


"Iya, Bos. Sementara Bapak ga akan bilang pada siapa-siapa, termasuk pada Mak. Sampai nanti Bos sendiri yang mengatakan pada semuanya."


"Sekarang Randi bangunkan, suruh sholat dulu. Lalu kita sarapan. Kita siap-siap ke kebun."


"Ran, Bangun-bangun, sudah siang." Badan Randi aku goyang-goyang. Dia bergerak sedikit, tapi kemudian tidur lagi.


"Hei, ayo bangun. Pak Samsudin sudah nunggu." Randi bergerak lagi. Aku tarik selimutnya biar dia tidak tidur lagi.


"Apa sih, masih malam gini, mau kemana?"


"Malam gimana, woy. Lihat, matahari sudah mau muncul." Aku membukakan gorden kamar. Biar Randi tahu ini sudah pagi. Randi mengucek-ngucek matanya. Aku memberikan handuk pada Randi, memaksa dia agar segera mandi. Untung kali ini Randi menurut. Dia masuk kamar mandi yang ada di kamar ini. Sambil menunggu Randi mandi, aku melipat selimut Randi, dan membereskan tempat tidur. Tiba-tiba aku ingat ibunya Randi. Aku ingin minta do'anya pagi ini. Namun sayang HPku sedang di bawa Pak Samsudin, aku harus menunda menghubungi Ibu, sampai HP ada ditanganku lagi.


***


Kami sudah siap. Randi sudah mandi. Kami sudah sarapan juga. Kami tinggal menunggu Pak Samsudin, yang sedang menelpon Bos Garut, memastikan panen hari ini.


"Jangan lupa ya, Pak. Jam 10.00 an Mang Jana suruh ke sini, memgambil makanan untuk makan siang." Kudengar suara Mak berpesan.


"Iya, Mak."


"Sebentar ya Bos Acep. Tunggu Mang Jana dan Mang Ijar sebentar. Nanti kita ke kebun pakai motor."


"Nah, itu dia mereka. Bos Acep dan Cep Randi di bonceng Mang Jana dan Mang Ijar ya. Bapak naik motor sendiri."


"Iya, Pak." Aku dibonceng Mang Jana, Randi dibonceng Mang Ijar. Pak Samsudin pakai motor sendiri. Kendaraan kami tidak melaju beriringan. Mang Jana dan aku pergi duluan.


Naik motor masih pagi begini, lumayan dingin. Belum lagi Leuwi Goong memang daerah dingin. Badanku sedikit menggigil, angin berhembus, menusuk tulang. Tiba-tiba motor Mang Jana berhenti.


"Kenapa, Mang?"


"Tadi Mang lupa, harusnya mengingatkan Bos pakai jaket. Sekarang pakai jaket Mang saja ya, bersih ko. Ini." Mang Jana betul-betul baik. Jaketnya dibuka. Diberikan padaku.


"Mang nanti gimana?"


"Mang mah ga pake juga ga apa-apa, ayo pake." Aku memakai jaket yang diberikan Mang Jana. Kami lalu melanjutkan perjalanan. Randi, Mang Ijar dan Pak Samsudin entah kemana. Kami berhenti sebentarpun, mereka tetap belum menyusul.


Memakai jaket badanku jadi hangat. Walau aku kasihan pada Mang Jana, tapi seperti kata Mang Jana, Mang ga akan kenapa-kenapa. Mang mungkin sudah terbiasa dengan udara dingin di sini. Kami terus menyusuri jalan, yang hanya bisa dilewati motor dan pejalan kaki. Laju motor Mang Jana harus perlahan-lahan, jalan yang dilalui masih tanah, banyak batu-batu pula. Selain itu jalan cenderung menaik.


"Nanti hasil panen dibawanya gimana Mang oleh Bos Garut? kan jalannya begini." Aku jadi penasaran.


"Mobil bak milik Bos Garut di parkir di pinggir jalan, Bos. Dari kebun nanti ada beberapa motor Panyawah yang bisa digunakan bolak-balik mengangkut hasil panen." Aku baru tahu, perjuangan para petani betul-betul luar biasa.


Kami sampai. Aku turun dari motor Mang Jana. Kulihat Randi, Mang Ijar, dan Pak Samsudin sudah sampai juga. Aneh. Padahal mereka tidak terlihat mendahului aku tadi. Selain kami berlima, ada banyak orang yang sudah berkumpul di sini. 20 orang. Ditambah 2 orang yang oleh Pak Samsudin dipanggil Bos. Mungkin itulah Bos Garut. Jadi total yang berkumpul di sini ada 27 orang.


Aku terpana bukan hanya karena di sini ada banyak orang yang sudah siap bekerja. Tapi juga karena di hadapanku ada pemandangan luar biasa. Di hadapanku kini ada kebun yang demikian luas. Sebatas mata memandang, pohon-pohon yang terlihat hanya satu jenis. Tinggi pohon ini hampir rata. Warna batangnya bagus menurutku, Lurik, hijau dan putih kekuningan.


"Ini dia kebun porang Bos Acep." Pak Samsudin menjelaskan.


"Bos, Ini Bos Acep, pemilik kebun porang ini." Pak Samsudin mengenalkan aku pada dua orang yang beliau panggil Bos. Kedua orang Bos itu sedikit mengernyitkan kening, mereka menatapku heran. Meski begitu keduanya mengulurkan tangan, menyalamiku.


"Dan mereka semua, adalah orang-orang hebat yang selalu siap bekerja tanpa lelah." Pak Samsudin menunjuk 20 orang yang berdiri berkelompok, sekitar 3 meteran di hadapanku. Aku mengangguk hormat.


"Bapak-bapak, ini bos kita, Bos Acep. Mohon maaf Bos Acep baru sempat ke sini sekarang." Semua mata memandangku. Rasanya rikuh juga. Tiba-tiba saja aku jadi berdiri di sini, di depan orang-orang yang menganggap aku bos. Kulirik Randi. Dia mengedipkan sebelah matanya. Tanpa suara mulutnya terbuka, mengatakan 'Bos Acep'. Dua jempol tangan dia acungkan, sambil jempolnya bergoyang-goyang, seperti sedang menari. Aku tahu maksud Randi menggoda aku. Awas kau Randi!