KK

KK
12. HANYA ADA AKU



Tidak! Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Aku memandang Pak marbot, mencari kepastian. Pak marbot menatapku. Wajahnya sudah terlihat lebih tenang, tidak setegang tadi. Matanya juga sudah tidak basah lagi.


"Boleh aku tanya, Pak?" Aku mengumpulkan kekuatan diri. Bagaimanapun, aku harus tetap tahu yang sebenarnya. Bila apa yang dikatakan Pak marbot adalah suatu kebenaran, maka aku harus tahu detail tentang kebenaran itu.


"Ya, Nak. Kamu boleh bertanya apapun."


"Apakah betul, apa yang bapak katakan barusan?"


"Yang mana, Nak?"


" Yang barusan, Pak. Bapak bilang, aku tidak terlahir dari rahim ibu Aisyah."


"Ya, memang betul begitu."


"Memangnya Aisyah belum mengatakan kebenaran itu?" Aku menggeleng, air mata tak bisa kutahan lagi. Pipiku basah, aku menangis di hadapan semua.


"Ya Allah, Nak. Maafkan bapak, sekali lagi maafkan bapak. Sini, Nak." Pak marbot meraihku, kembali memelukku. Mengusap-usap kepalaku.


"Apakah kamu menyesal, telah mengetahui yang sebenarnya sekarang?" Aku menggeleng, tak ada yang harus aku sesali.


"Justru Wil berterimakasih pada bapak. Wil jadi tahu yang sebenarnya." Aku kembali pada kursiku semula. Hatiku sudah sedikit tenang sekarang. Aku menengok Randi, dia kelihatan ikut tegang.


"Minum, Ran. Kuenya di makan saja." Aku mengingatkan Randi. Biasanya dia paling semangat kalau melihat kue di piring. Randi mengambil gelas minumnya. Dia hanya minum.


"Iya, ayo diminum lagi. Kuenya dimakan juga." Teh Ani memindahkan piring berisi kue, ke depan Randi. Randi akhirnya mengambil satu kue.


"Mau, Wil?" Randi menawari. aku menggeleng.


"Jadi bagaimana, Pa?" Aku meminta Pak marbot menceritakan semua. Kalau ibu Aisyah bukan ibuku, lalu siapa ibuku?


"Iya sini. Bapak ceritakan yang bapak tahu saja ya, Nak." Aku mengangguk. Randi fokus menyimak.


"Setahu bapak, Kamu mulai diasuh ibu Aisyah, saat usia kamu kurang lebih 3 bulan."


"3 bulan Pak? Berarti aku masih bayi sekali, lalu ibu kandungku kemana, Pak. Ibu kandungku siapa?" Rasanya tak sabar menunggu penjelasan Pak marbot.


"Justru itu yang bapak tidak tahu. Aisyah juga sama tidak tahu." Hancur sudah harapanku. Tadinya aku punya harapan ibu kandungku masih ada. Aku bisa bertemu ibu kandungku dalam waktu dekat. Ini jangankan bertemu. Mengetahui ibu kandungku siapa juga mungkin sangat sulit. Aku menatap RandI. Randi sedang fokus menatap Pak marbot, menunggu kelanjutan ceritanya. Kadang aku iri pada Randi. Dia punya ayah dan ibu lengkap. Ayah ibunya juga baik sekali. Keluarga Randi sangat baik, sangat ideal. Semua orang pasti iri melihat kebahagiaan keluarga itu.


"Lalu, bagaimana ceritanya sehingga Widan jadi diasuh ibu Aisyah, Pak?" Kali ini Randi yang bertanya.


"Kata ibu Aisyah, Ibu Aisyah menemukan Wildan di depan rumah. Saat itu ibu Aisyah bersama Pak Sugianto." Badanku sedikit lemas. Jadi betul-betul aku ini seorang anak yang tidak jelas ibunya siapa, bapaknya siapa. Aku hanya sendirian. Tak ada yang bisa kutanya, tentang siapa ibuku, siapa bapakku. Karena di dunia ini, hanya ada aku.


Keadaan makin sulit. Perjuanganku dengan Randi untuk menemukan siapa bapakku saja belum menemukan titik terang. Sekarang ditambah dengan harus mencari tahu siapa ibu kandungku. Sementara waktu kami hanya tinggal 9 hari. Itu juga kalau bekal uang kami cukup untuk meneruskan perjalanan. Bila tidak, terpaksa kami harus pulang dulu ke Cirebon.


"Kira-kira siapa ibu kandungku ya, Pak?" Aku kembali bertanya, seharusnya pertanyaan itu bukan pada Pak marbot. Karena sudah jelas Pak marbot tak tahu jawabannya.


"Sabar ya, Nak. Allah akan selalu memberi yang terbaik untuk hambaNya."


"Lalu Wil harus gimana, Pak?"


"Seperti kata bapak. Kamu harus sabar. Selain itu, kamu jalani saja rencana kamu sebelumnya."


"Kami akan melanjutkan perjalanan, menuju alamat KK yang ketiga. Yaitu kota Garut. Iya kan, Ran?" Randi mengangguk, Pasti. Tak ada keraguan sedikitpun di wajah Randi. Dia tak khawatir lagi, meski bekal uang kami hanya seadanya.


"Garut. Ke Leuwigoong?" Pak marbot antusias.


"Ko bapak tahu?" Aku meminta Randi mengeluarkan KK yang ketiga. Randi menunjukkannya pada Pak marbot.


"Iya, Nak. Bapak tahu persis. Karena saat itu, bapak dan ibu Aisyah sama-sama tinggal di Garut. Hanya beda kecamatan saja." Aku mencoba memahami. Kuhubung-hubungkan perkataan Pak marbot dengan keterangan Ua Amir beberapa hari lalu. Pak marbot lalu memperhatikan KK yang diberikan Randi.


"Ini nanti, dari Terminal Leuwipanjang, kalian naik bis yang jurusan Garut ya, itu lebih mudah. Nanti kalian berhenti di Terminal Guntur Garut. Dari sana naik angkutan kota menuju Leuwigoong. Berhenti di depan SMAN Leuwigoong saja. Tinggal tanya-tanya kalau sudah sampai SMAN Leuwigoong." Kami memperhatikan dengan seksama, penjelasan Pak marbot tentang rute yang harus kami tempuh.


"Jadi kapan rencananya kalian ke Garut? Teh Ani jadi ikut memikirkan perjalanan kami. Teh Ani ini orang yang baik juga. Walaupun Teh Ani seolah-olah merebut Pak Muji dari ibu Aisyah, tapi itu adalah takdir. Mungkin memang sudah takdir, Pak Muji beristrikan Teh Ani. Itu yang terbaik untuk semuanya. Buktinya, bersama Teh Ani, Pak Muji menjadi seorang ahli mesjid. Walaupun Pak Muji ke mesjid sekalian melaksanakan pekerjaannya. Tapi Pak Muji memanfaatkan seluruh waktunya dengan baik. Beliau rajin berdzikir. Tak pernah ketinggalan berjamaah sholat fardhu.


"Sekarang kan, Wil?" Randi memastikan jawaban pertanyaan Teh Ani.


"Iya, Teh. Sekarang juga."


"Padahal besok pagi saja. Malam ini kalian menginap dulu di sini." Pak marbot memberikan usulan.


"Sekarang saja, Pak. Waktu liburan kami tidak lama. Kami ingin segera menemukan apa yang kami cari." Aku menegaskan. Pak marbot dan Teh Ani hanya bisa mengiyakan.


"Kami pamit ya, Pak, Teh." Kami siap melanjutkan perjalanan. Teh Ani masuk ke kamarnya sebentar, lalu keluar lagi.


"Ini sedikit, untuk nambah-nambah bekal kalian ya. Maaf tapinya, betul-betul cuma sedikit."


"Terimakasih Teh, Pak. Mohon do'anya." Kami meninggalkan rumah Pak Muji, diiringi do'a Pak Muji dan Teh Ani.


Dari rumah Pak Muji, kami berjalan kaki sebentar, menuju jalan raya. Kami melalui jalan pintas yang ditunjukkan Pak Muji, hanya 5 menit saja sudah sampai jalan raya. Kebetulan sudah ada angkutan kota yang berhenti dipinggir jalan. Kami naik, angkutan kota ini menuju terminal Leuwipanjang. Rasanya seperti sedang berada di kota sendiri. Kami dengan begitu percaya diri naik turun kendaraan. Tanpa rasa ragu, tidak ada rasa takut. Pak Muji tadi sempat bilang, di Bandung ini tak perlu takut tersesat. Jika merasa salah jalan, tinggal cari jalan raya. Di jalan raya, angkutan kota sudah pasti banyak. Tinggal lihat di bagian depan angkutan kotanya, nama daerah yang ingin dituju. Bila angkutan kota yang menuju daerah yang diinginkan tidak ditemukan, atau Bila mau keluar kota, tinggal cari angkutan kota yang menuju terminal Leuwipanjang atau terminal Cicaheum. dari kedua terminal tersebut banyak sekali bis-bis yang menuju ke luar kota. Juga banyak angkutan-angkutan kota yang menuju berbagai daerah di Bandung ini.


Tanpa terasa, kami sudah sampai terminal Leuwipanjang. Sinar matahari lumayan terik.


"Kita mampir ke abang warung yuk, Wil. sekalian makan. Kalau abang warung nanti tak mau dibayar, paksa saja. Uangnya simpan di meja." Betul juga usulan Randi. Kebetulan kami memang belum makan. Tadi di rumah Pak Muji, kami hanya makan kue. Kami menolak saat ditawari makan. Rasanya tak tega kalau kami harus makan di rumah Pak Muji, kami mengerti betul kondisi keuangan keluarga Pak Muji.


Baru saja kami sampai depan warungnya abang, seorang anak kecil dengan begitu riangnya menyambut kami. Siapa lagi kalau bukan Opik. Abang warung yang sedang sibuk melayani pelanggan, menengok ke arah kami, tersenyum.


Opik menuntun tangan kami, menuju meja kursi yang kosong.


"Mau pesan apa, tuan raja?" Opik bercanda, ceria sekali anak ini. Wajahnya begitu cerah, berbeda sekali dengan keadaan dua hari lalu.


"Silahkan bila pesanannya mau ditulis. Hamba siap melayani tuan." Opik memberikan secarik kertas dan pulpen. Rupanya dalam dua hari ini, dia banyak belajar. Terlihat begitu sopannya Opik mempersilahkan kami duduk. Betapa ramahnya dia menanyakan, apa yang akan kami pesan. Walaupun kali ini dia hanya bercanda pada kami, tapi sepertinya perlakuan Opik pada para pelangganpun seperti itu.


Belum juga Aku dan Randi menuliskan apa yang ingin kami pesan, Opik tiba-tiba sudah ada di sebelahku. dia menyenderkan badannya ke kursi tempat aku duduk.


"Kak, setelah makan, kakak mau pergi lagi ya?" Pertanyaan Opik membuat aku dan Randi saling memandang.


"Aku ikut ya, Kak. Aku janji akan jadi anak baik. Aku akan nurut apa kata kakak." Tanpa menunggu jawaban kami, Opik berlalu meninggalkan kami. Dia berteriak,


"Hore..., Abang, Opik mau ikut kakak, naik bis. Hore..."