KK

KK
33. MISTERI PESAWAT KOTAK



"Ko tumben ya, Wil." Rupanya Randi juga ikut merasakan kejanggalan. Di hari-hari lalu Mang Jana pernah bilang, kalau pintu gerbang terbuka agak lama, orang gila mesti masuk. Ini sejak kami sampai tadi, sudah hampir dua jam pintu gerbang terbuka. Tapi orang gila tidak ada.


"Iya, Ran. Semoga sih tidak terjadi apa-apa pada orang gila."


"Hah! Orang gila, Kak? Emang ada orang gila?" Opik menyela.


"Tuh kan. Tadi Kakak dah bilang. Opik jangan banyak tanya dulu." Aku megingatkan Opik. Opik cuma cengengesan.


"Maaf, maaf..." Tangan Opik diacung-acungkan.


Kami terus berjalan, menyusuri rute yang biasa ke arah rumah nenek. Sampai di akar pohon besar kami berhenti. Di atas dipan di depan rumah nenek, kami melihat nenek, sedang duduk sendirian. Kami bersyukur, ternyata nenek memang sedang ada di rumah.


"Orang gilanya kemana ya, Wil? Randi bisik-bisik.


"Ga tau, Ran. Kita dekati nenek aja yuk." Randi dan Opik mengikutiku. Mendekati nenek.


"Assalamu'alaikum, Nek." Nenek menengok ke arah kami. Matanya mencoba lebih mengawasi kami. Nenek memang belum tahu siapa kami.


"Wa'alaikum salam. Saha ieu, Cu?" (Pen: Siapa ini, Cu?)Nenek tetap mencoba menyelidiki siapa kami, tatapannya bergantian memperhatikan kami bertiga. Aku dan Randi saling berpandangan, kami memang tidak terlalu mengerti bahasa nenek, kami hanya bisa menyimpulkan sedikit-sedikit.


"Tenang, Kak. Opik ngerti ko yang diucapkan nenek." Opik berbisik. Opik mengambil posisi sebagai penerjemah. Dia menyampaikan terjemah kalimat nenek pada kami, lalu menyampaikan terjemah kalimat kami pada nenek.


"Ieu Kak Wildan, Nek. Ieu Kak Randi, Abdi Opik." (Pen: Ini Kak Wildan, Ini Kak Randi, saya Opik) Opik menjelaskan pada nenek


"Oh. Aya naon, Cu?" (Pen: Oh. Ada apa, Cu?)


Kami menjawab, diterjemahkan oleh Opik. Kami bilang bahwa kami ingin ikut duduk-duduk bersama nenek. Nenek membolehkan kami duduk. Tanpa sengaja Randi bertanya,


"Ko nenek sendirian, mana orang gi..." Untung Opik berhasil di stop. Tidak langsung menerjemahkan kalimat Randi. Tapi nenek dapat sedikit menyimpulkan ucapan Randi.


"Si Ujang keur gering, tuh di jero ngaringkuk wae." (Pen: Si Ujang lagi sakit, tuh di dalam sedang tidur) Kami tinggal mendengarkan Opik menerjemahkan. Kami menengok ke dalam rumah, terlihat orang gila sedang tidur di atas tikar.


"Pik, coba tanya sakit apa." Opik bertanya pada nenek. Jawaban nenek, sakit panas biasa. nanti setelah seharian tidur, terus makan lalu minum obat warung juga biasanya sembuh. Aku sedikit tenang, setidaknya sakit orang gila bukan sesuatu yang serius.


"Opik, terjemahkan lagi ya, Kakak mau tanya sesuatu ke nenek."


"Siap, Kak." Opik bersiap menerjemahkan.


Aku mulai dialogku dengan nenek, lewat penerjemah Opik.


"Kasihan dong, Nek, karena sakit, jadi tidak bisa bermain pesawat-pesawatan."


"Iya betul. Biasanya senang sekali dia kalau sudah bermain pesawat-pesawatan, pesawat kotak."


"Itu pesawat kotaknya terbuat dari kotak tusuk gigi ya, Nek?"


"Iya. Kotak tusuk gigi. Anak nenek punya banyak pesawat kotak tusuk gigi." Rupanya orang gila itu anaknya si nenek. Dikira kami si nenek bukan ibunya orang gila itu.


"Ada banyak, Nek? Darimana kotak tusuk gigi yang banyak itu?"


"Boleh kami tau ceritanya, Nek?"


"Boleh, Cu. Dulu istri Si Ujang, bekerja di rumah makan. Bosnya kebetulan baik. Karena kami orang miskin, kami tidak bisa membelikan mainan apapun pada dua cucu kami, anaknya Si Ujang dan istrinya waktu itu. Maka istrinya Si Ujang meminta ijin kepada bosnya untuk mengambil kotak tusuk gigi, saat tusuk giginya dimasukkan ke dalam tempat tusuk gigi di rumah makan."


"O gitu, Nek. Lalu?"


"Dari hari ke hari, kotak tusuk gigi di rumah kami makin banyak. Pesawat kotak itu dijadikan mainan pesawat saat cucu pertama nenek berusia satu tahun lebih."


"Seru dong, Nek."


"Seru sekali. Si Ujang dan istrinya orang-orang yang baik. Hanya sayang..."


"Kenapa, Nek?"


"Istrinya Si Ujang sakit keras, waktu anak keduanya berusia dua bulan. Sampai akhirnya, menantu nenek yang baik itu meninggal." Nenek menunduk. Nenek mengusap wajahnya.


"Lalu?" Aku mencoba bertanya lagi.


"Si Ujang terlalu mencintai istrinya. Dia sangat terpukul kehilangan istrinya. Sepeninggal istrinya, Si Ujang sering menangis, berteriak-teriak, melamun, menjerit-jerit. Dia stres, tapi sesekali Si Ujang suka sadar akan dirinya. Hanya sebentar, nanti kumat lagi."


"Lalu kenapa anak nenek sering ke saung rumah besar itu?"


"Sejak Si Ujang stres, dia memang sering berjalan mondar mandir, kadang ke tempat yang agak jauh. Termasuk ke rumah besar itu."


"Suatu saat, nenek meninggalkan Si Ujang, ke pasar. di rumah ada dua cucu nenek, sedang tidur. Biasanya memang suka nenek tinggal sebentar saat nenek belanja keperluan dapur."


"Tapi khusus hari itu, saat nenek pulang, cucu nenek yang bayi sudah tidak ada. Si Ujang sedang menangis menjerit-jerit. Setelah sedikit tenang, Si Ujang menirukan membawa bayi, lalu bermain-main pesawat kotak, dia terus berjalan membawa bayi dan pesawat kotak. Nenek mengikuti langkah Si Ujang. Ternyata bayinya di ajak main ke saung rumah besar itu. Setelah itu Si Ujang menangis lagi, dia menjerit-jerit lagi, dia bilang bayinya hilang." Aku terdiam. Menelan ludahku sendiri. Hati ini sesak, sakit. Menarik nafas panjang tidak cukup meredakan gejolak hati. Dada ini bergemuruh. Aku ingin berteriak sekuat suaraku. Randi memegang tanganku. Opik menatap, polos. Dia siap menerjemahkan kalimatku selanjutnya.


"Ayo, Kak. Ngomong apa lagi?" Opik tak mengerti. Dia hanya sekedar penerjemah. Aku mencoba menengok ke dalam rumah nenek. Orang gila itu masih tertidur pulas. Membelakangiku.


Aku kumpulkan kekuatan untuk kembali menelusuri teka teki pesawat kotak. Pesawat kotak tusuk gigi mainan orang gila. Aku menengok Opik, meminta dia untuk kembali siap menerjemahkan. Opik mengerti.


"Jadi anak nenek bolak balik ke saung mencari bayinya yang hilang?"


"Betul. Berpuluh tahun Si Ujang lakukan itu. Dia akan mengintip, menunggu gerbang terbuka dan tidak ditutup lagi. Dia akan senang bila bisa masuk dan duduk di saung. Menunggu bayinya datang." Air mata ini tak bisa lagi kubendung. Kubiarkan air mata ini membasahi pipi. Aku tak perduli Opik menatapku dengan bingung, Aku tak perduli nenek menepuk-nepuk pundakku sepenuh kasih. Randi menunduk, dia pasti mengerti apa yang aku rasakan. Aku menatap tubuh renta di hadapanku. Dia adalah nenekku. Aku ingin bilang padanya bahwa aku adalah bayi yang dirindukan orang gila. Bayi yang selama ini hilang. Aku bahkan ingin bersimpuh di kaki nenek. Tapi aku ragu, akankah nenek percaya bahwa aku adalah bayi yang dulu ditimang orang gila.


"Nek. apa yang anak nenek simpan di dekat sang bayi waktu bayinya hilang?"


"Pesawat kotak. Si Ujang selalu membawa pesawat kotak. Saat bayi atau anak sulungnya diajak main, anaknya selalu dikasih pesawat kotak juga."


"Tapi kan, pesawat kotak bisa dimiliki oleh siapapun. Tiap orang bisa beli. Di toko banyak." Aku mencoba memberi sanggahan. Kotak tusuk gigi sejenis itu bisa ada di mana-mana.


"Ada dua huruf yang ditulis istrinya Si Ujang di setiap kotak tusuk gigi yang dia bawa ke rumah." Nenek masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian keluar lagi membawa kotak besar, yang aku tahu isinya berpuluh-puluh kotak tusuk gigi.


"Coba liat ini, dan ini. Dan ini." Nenek menunjukkan beberapa kotak tusuk gigi yang ada di dalam kota besar. Semua bertuliskan dua huruf.


"Wil?" Randi menatapku. Aku balas menatap Randi. Diantara kami tak ada yang sempat memperhatikan, Dua huruf itu ada atau tidak, di kotak tusuk gigi warisan ibu Aisyah.