KK

KK
61. RENCANA AKSIKU



Aku orang yang paling dekat posisinya dengan Mimbo. Jadi akulah orangnya yang paling jelas melihat tanda hitam di sekitar telinga kanan Mimbo. Apakah mungkin Mimbo adalah anak Bu Yanti yang hilang? Entahlah, tak seorangpun tahu. Yang jelas, Mimbo adalah anaknya Pak Preman. Dan Pak Preman bukan suami Bu Yanti.


Pak Preman tinggal di Bandung, sementara Bu Yanti di Garut. Jadi tipis kemungkinan bahwa Mimbo adalah anak Bu Yanti yang hilang beberapa tahun lalu. Tanda hitam di sekitar telinga kanan Mimbo mungkin hanya suatu kebetulan belaka.


"Setelah mimbo hilang, ibu lapor polisi?" Aku mencoba menyelidiki.


"Tentu saja. Ibu lapor polisi, ibu juga mencoba menelusuri dari kampung ke kampung, tanya kesana kemari, siapa tau ada yang melihat atau menemukan bayi ibu." Bu Yanti begitu antusias bercerita.


"Tapi sayang, tak pernah ada kabar tentang bayi ibu. Akhirnya ibu dan suami ibu berusaha mengikhlaskan. Walaupun kami tetap menunggu sampai saat ini." Bu Yanti terus bercerita.


"Tapi saat ibu liat Mimbo, hati ibu mengatakan bahwa Mimbo adalah bayi ibu yang hilang dulu." Bu Yanti menatap Mimbo.


"Bapak Mimbo Pak Preman, Bu. Tapi ibunya Mimbo nggak tau siapa. Bapak tidak pernah cerita soal ibu." Mimbo bicara, untuk meyakinkan Bu Yanti bahwa dia bukan anaknya Bu Yanti yang dulu hilang.


"Ya sudah, kita do'akan ya, semoga anaknya Bu Yanti bisa ditemukan besok lusa." Kata-kata ibu kepala sekolah sedikit meredakan emosi Bu Yanti.


"Iya, Bu. Terimakasih. Do'akan terus ya, Bu. Soalnya saya tetap tidak bisa lupa sampai sekarang." Kata Bu Yanti, tangannya menyeka sudut matanya yang basah. Aku menghela nafas panjang. Aku bisa sedikit merasakan betapa berat penderitaan Bu Yanti.


"Iya, Kami do'akan terus. Sekarang, sambil menunggu bayi yang hilang pulang, ibu fokus saja pada si kecil. Kasihan si kecil kalau ibunya sedih terus." Ibu kepala sekolah mengusap bahu Bu Yanti.


"Oh sekarang Bu Yanti juga punya si kecil, berapa tahun, Bu? Seneng kayaknya kalau ada anak kecil di rumah." Bu Min kembali menemukan topik yang diharapkan tidak membuat sedih. Berhasil, kali ini Bu Yanti tersenyum.


"Satu tahun, Bu."


"Alhamdulillah. Semoga sehat terus semuanya ya." Semua mengaminkan do'a Bu Min.


Tiba-tiba ada ide aneh di kepalaku.


"Bu. Boleh Wil minta tolong? Aku menatap Bu Yanti, penuh harap.


"Loh, kok sekarang terbalik. Tadi ibu yang tanya Nak Wildan, sekarang tiba-tiba Nak Wildan minta tolong ke ibu. Ada apa, Nak?" Bu Yanti sedikit tersenyum menanggapi pertanyaanku.


"Ini, Bu. Tapi maafkan Wil ya, Bu."


"Iya, Nak. Ada apa?"


"Ini..." Aku jadi sedikit ragu menyampaikan ide di kepalaku.


"Aduh, Wil. Kelamaan kamu sih ngomongnya. Semua udah pada nunggu nih. Coba bisik-bisik aja dulu ke aku. Nanti biar aku yang bilang ke semua." Randi protes. Aku jadi diam sebentar. Kulihat semua memang sedang menunggu kelanjutan bicaraku.


"Ini..., kalau boleh, Wil mau pinjam anak Ibu Yanti."


"Hah?" Randi berteriak. Sudah bisa kupastikan, bukan hanya Randi, semua yang hadir terkejut mendengar kata-kataku. Mata Bu Yanti sampai terbelalak mendengar ide anehku.


"Jangan gila kamu, Wil. Apa maksudnya kamu pinjam anak Bu Yanti? Emangnya anak Bu Yanti barang, bisa dipinjam-pinjam segala?" Protes Randi tambah sengit.


"Mohon maaf semuanya, khususnya Bu Yanti. Jadi masalahnya begini..." Aku lalu menceritakan sekilas tentang kondisi Bapak Nana. Aku juga bilang bahwa Bapak Nana sekarang sedang dalam pengobatan dokter. Terakhir aku bilang tentang alasan aku pinjam bayi, sebagai bagian dari ikhtiarku untuk memulihkan ingatan Bapak Nana.


Semua fokus menyimak penjelasanku. Mata Ibu Yanti berkaca-kaca. Beliau bilang,


"Ibu bisa merasakan kepahitan yang Bapak Nana rasakan. Karena ibu juga merasakan betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup kita." Mata Ibu Yanti kembali menatap Mimbo.


"Semoga suatu saat ibu punya bukti bahwa kamu anak ibu." Bu Yanti bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri.


"Wil. Anak ibu boleh kok kamu pinjam." Kalimat Bu Yanti membuat semua terpana.


"Ibu yakin membolehkan?" Randi memastikan. Tampak sekali ada kekhawatiran di wajah Randi.


"Iya, ibu yakin. Semoga ini menjadi jalan untuk kesembuhan Bapak Nana. Dan hikmahnya semoga Allah memberi kemudahan pada ibu untuk menemukan anak ibu."


"Kapan ikhtiar ini akan dimulai?" Bu Yanti bertanya padaku.


"Ya sudah. Sharelock aja ya. Nanti ibu datang diantar suami ibu. Nanti ibu minta nomor HP kamu dari ibu kepala sekolah saja, ibu nanti WA kamu."


"Baik, Terimakasih ibu."


"Ibu juga Insyaa Allah akan hadir, menyaksikan upaya kamu menyembuhkan Bapak Nana." Ibu kepala sekolah antusias juga untuk ikut dalam rencana aksiku.


"Ya, Bu. Nanti Wil sharelock juga ya, Bu."


"Iya, ibu nanti miscal kamu ya, simpan nomor ibu."


Kami akhirnya pamit untuk pulang. Rasanya jadi sedikit lucu. Kami datang ke sini untuk mencari informasi tentang daftar sekolah. Diskusi kami malah berlanjut ke masalah upaya menyembuhkan Bapak Nana. Sungguh sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Dan sesuatu itu patut disyukuri. Ternyata banyak orang-orang baik di sekitar kami.


***


Sore hari setelah asar, kami semua berkumpul di halaman rumah untuk menyaksikan rencana aksi yang sudah kurencanakan. Yang hadir cukup banyak, Mak Asih, Pak Samsudin, Mang Jana, anak-anak matahari, aku, Randi, para ibu guruku, Ibu kepala sekolah, Bu Yanti beserta suami dan anaknya, juga kakak-kakak pembimbing dari Bandung yang sudah tiba di sini setelah dzuhur tadi.


Nenek sudah kami beritahu untuk membawa Bapak Nana ke halaman rumah kami.


Aku sedikit gelisah. Bukan karena tak yakin rencana ini berhasil, tapi karena ragu apakah nenek berhasil atau tidak membujuk Bapak Nana untuk berkunjung ke rumahku. Biasanya Bapak Nana datang kemari atas kemauannya sendiri, bukan karena di suruh atau dibawa oleh nenek.


Randi kuminta jaga di pintu gerbang, memantau dari kejauhan kedatangan nenek dan Bapak Nana.


Aku sendiri berdiri dekat saung, mendampingi Mak Asih dan Bu Yanti yang menggendong anaknya.


Aku fokus menatap Randi. Tak lama kemudian kulihat Randi mengacungkan jempol. Itu tandanya nenek dan Bapak Nana sedang berjalan menuju gerbang.


"Ayo Mak, siap-siap. Digendong bayinya." Mak menggendong anaknya Bu Yanti. Karena anaknya Bu Yanti belum mengenal Mak, dia nangis. Lumayan keras nangisnya. Mak tetap menggendong, Mak lalu duduk di saung sambil menggendong anak Bu Yanti. Bapak Nana yang baru sampai gerbang, langsung terkejut mendengar tangis anak Bu Yanti. Bapak Nana setengah berlari menuju saung. Tapi langkah Bapak Nana terhenti karena melihat bayi yang menangis digendong oleh Mak. Anak Bu Yanti masih menangis, Mak berdiri lalu berjalan perlahan menuju teras rumah. Mak sengaja berjalan melewati Bapak Nana. Tangan Mak memegang pesawat kotak. Tepat saat Mak dekat sekali dengan Bapak Nana, Pesawat kotak sengaja Mak simpan di atas perut anak Bu Yanti yang sedang Mak gendong. Bapak Nana hanya mematung, mata Bapak Nana fokus pada anak Bu Yanti dan pesawat kotak yang ada di atas perutnya. Mak terus berjalan, Bapak Nana mengikuti Mak dari belakang. Sampai di teras, Mak menoleh pada Bapak Nana, lalu tersenyum. Setelah itu Mak masuk ke dalam rumah, pintu rumah Mak tutup. Melihat pintu ditutup, Bapak Nana mulai terisak. Bapak Nana melambai-lambaikan tangannya sambil meneriakkan kalimat-kalimat rintihan yang tidak kami mengerti. Tangis Bapak Nana makin keras, Suara tangisnya begitu menyayat hati.


__________


Terimakasih sudah hadir di episode kali ini. Cerita masih bsrsambung ya.


O ya, kali ini kita simak juga yuk, novel bagus karya teman Authorku:



Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.