KK

KK
18. MENDADAK KAYA



"Aya naon Mang Jana teh?" Mak Asih bertanya pada Pak Samsudin. Pak Samsudin tidak segera menjawab. Beliau merebahkan badan dulu di karpet.


"Asa rada cape yeuh, Mak. Coba kopi heula. Sugan rada cenghar." Mak Asih berlalu, tak lama kemudian kembali lagi membawa secangkir kopi panas. Mak Asih kembali duduk bersama kami.


"Hmm, meni seungit kieu kopi teh, Acep mau kopi?"


"Ga, Pak. Makasih." Aku dan Randi menjawab bersamaan.


"Mang Jana ngabaran porang, salapan rebu cenah, Bos Garut." Mak Asih manggut-manggut.


"Cerita bapak teruskan ya, Cep."


"Iya, Pak." Aku dan Randi bersiap kembali untuk menyimak cerita Pak Samsudin.


"Seperti kata bapak, Bos Sugi punya sawah dan kebun puluhan hektar di kampung sini, bahkan bukan hanya di kampung sini tapi juga di kampung sebelah, termasuk di kampung tempat tinggal Ibu Aisyah."


"Sawah dan kebun Bos Sugi, di olah oleh para pekerja, istilah di sini panyawah. Bapak adalah orang yang dipercaya oleh Bos Sugi untuk mengelola segala sesuatu terkait panyawah dan semua urusan sawah dan kebun." Aku dan Randi tetap belum paham. Kami ikuti terus cerita Pak Samsudin dengan penuh konsentrasi.


"Dari tahun ke tahun, sawah dan kebun Bos Sugi makin luas, Bos Sugi kadang memantau sawah dan kebunnya, didampingi bapak."


"Suatu saat ketika Bos Sugi memantau kebun dan sawah yang ada di desa Ibu Aisyah, Bos Sugi melihat Ibu Aisyah. Saat itu Ibu Aisyah adalah salah satu panyawah Bos Sugi. Dan saat itu Ibu Aisyah sudah bercerai dengan Pak Muji. Dari sanalah awal pertemuan mereka, hingga akhirnya Bos Sugi teramat sangat mencintai Ibu Aisyah, dan menikahi Ibu Aisyah." Ooh, aku mengerti sekarang. Randi juga kulihat manggut-manggut.


"Hanya sayang..." Pak Samsudin berhenti sebentar, Beliau menghela nafas panjang berulangkali.


"Allah berkehendak lain. Bos Sugi dipanggil Allah, saat pernikahan dengan Ibu Aisyah sudah berjalan 4 tahunan. Saat itu usia Acep 3 tahunan." Aku mulai berdebar, cerita Pak Samsudin sudah mulai membahas tentang aku. Kulirik Randi. Dia masih fokus menyimak.


"Ibu Aisyah sangat terpukul ketika Bos Sugi meninggal. Jangankan Ibu Aisyah, Bapak, semua panyawah, dan semua warga di sini merasa sangat kehilangan. Kami kehilangan Bos yang sangat baik. Bos yang luar biasa baik." Pak Samsudin kembali diam.


"Boleh Wil bertanya, Pak?" Aku memberanikan diri.


"Iya, Cep. Tentu saja boleh. Silahkan." Giliran Pak Samsudin sekarang yang siap mendengar pertanyaanku.


"Saat aku ditemukan di halaman rumah Pak Sugianto dan Ibu Aisyah waktu itu, Bapak tahu dan ikut menyaksikan?" Pak Samsudin kaget.


"Jadi Acep sudah tahu kalau Acep bukan anak kandung Bos Sugi dan Ibu Aisyah?" Pak Samsudin sedikit tak percaya. Mak Asih terlihat kaget juga, matanya mulai berlinang.


"Iya, Pak. Wil sudah tahu." Pak Samsudin melihat Mak Asih, mereka saling berpandangan.


"Justru bapak yang pertama kali menemukan Acep di halaman rumah ini. Bapak saat itu mau ketemu Bos Sugi. Ada urusan. Bapak mendengar ada bayi menangis, setelah di lihat, memang betul bayi menangis. Bapak lalu segera lapor pada Bos Sugi." Pak Samsudin menjelaskan terbata. Ada rasa sesak yang ia tahan.


"Tadi bapak bilang di rumah ini? Rumah yang ini maksudnya Pak? Randi yang dari tadi menyimak, ikut bersuara.


"Iya Acep. Rumah ini. Ini rumahnya Bos Sugi. Rumahnya Ibu Aisyah. Rumahnya Acep."


"Wil, kamu... Bos kecil. Oh My God, Wil, Hebat kamu Wil." Randi terus terusan berkomentar.


"Ayo sini. Bapak tunjukkan tempat Acep ditemukan." Pak Samsudin mengajak kami ke luar. Kami menurut, mengikuti Pak Samsudin dari belakang. Mak Asih hanya duduk, beliau masih sibuk menyeka air matanya.


Di halaman rumah Bos Sugi, Kami berjalan ke arah gerbang, lalu mengelilingi setengah kolam, tampak di Pojok kiri ada sejenis saung. Ukurannya lumayan besar, hampir 3 x 3 meter. Kalau kami melihat dari halaman rumah, memang tidak terlalu jelas. Karena terhalang kolam dan taman yang mengelilingi kolam. Juga terhalangi pohon rambutan yang cukup besar. Aku sendiri tidak tahu kalau di sini ada saung, waktu kami duduk-duduk di halaman rumah, saung ini tidak terlihat.


"Nah, di sini Cep. Acep menangis di sini, Oa oa oa, Bapak datang dari arah gerbang menuju pintu masuk rumah." Pak Samsudin menjelaskan. Mataku sedikit basah, tapi cepat-cepat kuseka dengan punggung tangan. Ada rasa sedih yang menyusup kala kulihat saung, berlantaikan keramik putih. Kubayangkan seorang bayi Wildan menangis di sana. Bapak di hadapanku inilah, yng saat itu berjasa menemukanku.


"Terimakasih ya, Pak. Terimakasih." Aku mencium tangan Pak Samsudin. Berulangkali. Air mata kutahan, agar tidak jatuh. Pak Samsudin mengusap-usap bahuku.


"Iya, Cep. Iya. Sekarang ayo ke dalam lagi. Minum." Kami masuk lagi ke dalam rumah. Duduk kembali di tempat semula. Di atas karpet sudah ada nampan berisi teko kecil dan tiga gelas kosong.


"Ayo minum dulu." Mak Asih mengisi tiga gelas itu dengan air putih. Kami meminumnya, segar sekali rasanya.


"Kriing.' Terdengar suara HP berdering, HP Pak Samsudin rupanya.


"Sebentar ya. Bapak angkat telepon dulu." Pak Samsudin mengambil HPnya.


"Assalamu'alaikum, Bos. Ya Halo. Iya iya, Oke, Iya Bos. Jam 07.00 iya, betul. Iya. Wa'alaikum Salam." Pak Samsudin menyimpan kembali HPnya.


"Mak, isuk jam 07.00 an Si Bos ka kebonna. Siapkeun weh opieunna. Bisi nepi ka beurang, sakalian masak nya, geroan weh Mak Ucih jeung Uwa Ane. Sina ngabantuan masak." Mak Asih mengangguk.


"Acep besok sebelum jam 07.00 ikut bapak ke kebun ya. Biar tahu kebun Acep yang besok mau dipanen."


"Kebun Wildan, Pak?" Lagi-lagi Randi. Matanya terbelalak. Aku sendiri terpana, tak bisa berkomentar apa-apa.


"Iya, kebun Cep Wildan."


"Wow, Dahsyat. Bos kecil Wildan yang kaya raya." Randi tak henti-henti melontarkan kekaguman. Aku percaya tidak percaya. Rasanya begitu aneh. Aku harus memastikan dulu bahwa ini bukan mimpi di siang bolong.


"Wildan bukan siapa-siapa, Pak. Wildan bukan anak kandung Pak Sugianto." Aku mencoba mencari penjelasan yang lebih detail.


"Eh. kata siapa? Wildan itu posisinya bahkan lebih dari anak kandung. Wildan sumber kebahagiaan Bos Sugi dan Ibu Aisyah. Kadang kalau sesekali Bos Sugi memantau sawah dan kebun yang lokasinya pinggir jalan besar, Wildan suka di ajak. Pakai mobil. Ke kebon pakai mobil biar Wildan ga kepanasan. Turun dari mobil pakai payung, Bos Sugi sendiri yang menggendong Wildan juga memegang payungnya." Ya Allah... Betapa besar kasih sayang Pak Sugianto untuk aku.


'Kriing' Suara HP Pak Samsudin lagi.


"Sebentar ya, Cep. Bapak terima telepon lagi." Mak Asih memberikan HP pada Pak Samsudin.


"Halo, Iya, Bos. Sudah siap Bos. Iya, iya. 5000 Bos? Atuh naik dikit. 5100 deal ya? Oke oke. Iya. Lusa ya, Bos."