
"Ayolah, Wil. Jangan diem mulu." Randi tak sabar.
"Oke, oke. Rencanaku gini. Kita baca dulu bentar dari google, tentang cara menyembuhkan orang sakit jiwa. Versi aku sih, kita tetap butuh bantuan medis yang tepat. Jadi sebagai persiapan, kita cari juga sekalian alamat medis yang bisa dihubungi." Aku berusaha menjelaskan.
"Iya, betul. Untuk yang itu aku ngerti. Tapi yang aku tanya, untuk apa cari alamat medis di Cirebon segala. Apa Bapak Nana mau kita bawa ke Cirebon?" Aku ngerti maksud pertanyaan Randi. Dia ingin aku menjelaskan detail rencanaku.
"Rencana mengobati Bapak Nana di Cirebon belum pasti sih. Aku harus konsultasi dulu sama Ibu kamu. Ini untuk jaga-jaga aja. Saat keputusannya nanti bawa ke Cirebon, kita sudah punya alamat medis yang bisa dituju." Randi fokus menyimak. Opik juga.
"O gitu. Oke. Ini coba baca." Aku membaca tulisan di HP yang disodorkan Randi.
'Salah satu yang bisa kita lakukan untuk membantu memulihkan kondisi orang sakit jiwa adalah kita berusaha memperlakukan orang tersebut sewajarnya, layaknya pada orang normal. Jangan sampai mengisolir orang tersebut. Lalu jangan ikut ke dalam halusinasinya.' Aku dan Randi berusaha memahami. Alhamdulillah selama ini kami berusaha menghadapi Bapak Nana dengan sewajarnya. Kami berusaha tidak takut, tidak menganggap Bapak Nana aneh. Kecuali Opik. Opik masih agak takut kalau berdekatan dengan Bapak Nana. Lalu untuk kalimat 'jangan ikut ke dalam halusinasinya' kami baru tahu itu. Kemarin-kemarin kami malah ikutan memainkan pesawat kotak, seperti Bapak Nana memainkan pesawat kotak. Padahal menurut anjuran medis dari internet, seharusnya tidak boleh begitu. Ke depannya kami harus memperbaiki hal yang satu itu.
"Terus gimana, Wil. Di sini dituliskan bahwa pasien tetap harus dibawa ke rumah sakit atau klinik ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dulu."
"Pasti, Ran. Bapak Nana nanti kemungkinan harus meminum obat-obatan yang diberikan dokter. Selain terapi-terapi lainnya."
"Terus, siapa dong yang mau bolak balik mengantar ke rumah sakit? Belum lagi harus menertibkan obat dan lain-lain."
"Itulah makanya aku punya ide, Bapak Nana di bawa ke Cirebon. Kalau di Cirebon, bisa kita yang melayani." Randi manggut-manggut. Opik ikut-ikutan.
"Kalau gitu, kita harus telepon ibu dulu. Biar aku aja yang telepon ibu." Randi langsung mengambil HPnya. Kudengar Randi berdialog dengan Ibu Nita. Randi menjelaskan detail kondisi Bapak Nana dan harapan kami akan kesembuhan Bapak Nana.
"Jadi gimana, Bu?" Kudengar Randi masih berdiskusi dengan ibunya. Entah keputusan apa yang akan diambil Ibu Nita nanti.
"Sudah, Wil."
"Apanya yang sudah?"
"Itu. Diskusi sama ibu aku."
"Terus?"
"Kata ibu oke. Bapak Nana bawa aja ke Cirebon. Nanti ibu yang cari rumah sakit atau klinik ODGJnya." Aku bersyukur. Ibu Nita dan Bapak Daud membolehkan Bapak Nana di bawa ke Cirebon. Paling tidak, terapi untuk Bapak Nana bisa segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
***
Saat malam, kami bisa sedikit bersantai. Karena persiapan untuk besok sudah dapat dikatakan beres.
" Nonton tv yuk, Kak." Opik mengajak nonton tv. Kami menurut. Opik mengajak nonton film kartun. Asyik sekali Opik nonton. Matanya fokus ke layar tv. Sementara aku dan Randi sesekali melihat HP.
"Assalamu'alaikum anak-anak. Jangan lupa tiga hari lagi kalian masuk sekolah ya. Liburan sudah usai. Jangan diperpanjang liburannya." Chat pengumuman dari ibu walikelas kami. Aku serasa dingatkan bahwa lusa aku harus kembali ke Cirebon. Semoga saja urusan menertibkan anak-anak matahari di rumah ini besok beres, tidak ada kendala apapun.
"Hai, Wil. Assalamu'alaikum." Chat dari Kak Agung.
"Wa'alaikum Salam, Kak."
"Persiapan untuk besok Insyaa Allah sudah beres, kami berangkat dari Bandung jam sepuluhan."
"Oke, Kak. Kami di sini Insyaa Allah juga sudah siap." Aku memastikan.
***
Film kartun yang Opik tonton sudah selesai. Opik lanjut menonton film drama keluarga. Film yang menceritakan perjuangan seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin, tapi punya cita-cita yang tinggi, ingin menjadi seorang dokter. Opik sangat takjub pada tokoh Amir dalam film ini. Dia begitu serius menyimak langkah demi langkah yang dilakukan Amir untuk mewujudkan cita-citanya.
"Bisa. Pasti bisa." Nada suara Randi begitu mantap, membakar semangat Opik.
"Opik mau belajar yang rajin kayak Amir." Semangat Opik begitu menggebu. Kami bahagia Opik punya cita-cita yang sangat hebat.
Tanpa terasa, malam makin larut, mata kamipun sudah mengantuk. Pak Samsudin dan Mak sepertinya sudah beristirahat. Kamipun bersiap untuk tidur. Tv kumatikan, Opik sudah duluan pergi ke kamar.
***
Pagi yang cerah. Aku, Randi dan Opik sudah siap di halaman rumah. Kami ingin joging sebentar. Tapi hanya di area halaman rumah saja.
"Kak, Opik mau duduk di saung dulu ya." Opik berjalan menuju saung.
"Jangan lama-lama duduknya ya, kita kan lagi olah raga." Randi berteriak, mengingatkan Opik.
"Oke, Kak." Teriak Opik dari arah saung.
"Wil, Ada Bapak." Randi menunjuk ke arah gerbang.
Ada Bapak Nana di balik gerbang yang masih tertutup. Gerbang tidak dikunci, hanya ditutup saja. Tadi setelah sholat subuh Pak Samsudin dan Mang Jana sudah keluar.
"Ayo, Pak. Silahkan masuk." Aku membukakan gerbang untuk Bapak Nana. Bapak Nana masuk, tanpa berkata apapun. Bapak Nana langsung belok menuju saung. Opik yang sedang duduk di saung, spontan berdiri. Seperti biasa, wajah Opik sedikit tegang. Aku memberi kode pada Opik untuk duduk kembali. Opik menurut.
"Ran, Kita lanjut olah raga lagi. Ingat, kita harus berusaha memperlakukan Bapak Nana sebagai orang normal." Randi mengerti. kami melanjutkan olah raga. Lari-lari kecil bolak balik antara gerbang, saung, gerbang, teras rumah.
"Ayo, Opik. Ikut lari-lari kecil." Aku mengedipkan mata pada Opik.
"Iya, Kak. Siap." Opik ikut berlari-lari kecil. Kulirik Bapak Nana, Bapak sudah memegang pesawat kotaknya.
"Ayo, Pak. Ikut olah raga." Aku sedikit berteriak pada Bapak Nana. Sambil meneruskan lari-lari kecil. Bapak Nana melihat ke arahku, tapi masih duduk di saung.
"Ayo, Pak. Sini. Ikut lari sama Opik." Opik melambaikan tangan pada Bapak Nana. Opik sengaja menghentikan dulu larinya, tepat di samping saung.
"Ayo, Pak. Satu dua satu dua." Opik lari di tempat. Bapak Nana mulai berdiri, mendekati Opik. Opik kembali berlari- lari kecil. Bapak Nana mengikuti Opik. Berlari-lari kecil. Tapi tangannya memegang pesawat kotak. Mulut Bapak Nana mulai bersuara, mengiringi gerakan tangannya meliuk-liuk memainkan pesawat kotak.
"Ayo, Pak. Satu dua satu dua."Opik bersuara lebih keras. Aku tahu maksud Opik. Dia ingin memecah konsentrasi Bapak Nana, agar tidak fokus pada pesawat kotaknya. Opik belum berhasil, Mulut Bapak Nana masih mengeluarkan suara mengiringi gerakan pesawatnya.
"Satu dua satu dua." Randi menirukan suara Opik. Tangan Randi digerak-gerakkan. memutar ke depan, memutar ke belakang.
"Satu dua satu dua, satu dua satu dua." Aku juga sama, menirukan suara Opik. Tanganku juga bergerak seperti gerakan tangan Randi. Kami semua kompak, melakukan gerakan yang sama dengan hitungan yang sama, satu dua satu dua. Bapak Nana mulai berhenti. Mulutnya diam. Bapak lalu mengikuti kami berlari-lari kecil, sambil tangannya di gerak-gerakkan, mirip seperti gerakan yang kami contohkan. Pesawat kotak masih ada di tangan Bapak Nana, tapi tangan Bapak Nana terus bergerak, memutar ke depan, memutar ke belakang.
"Ayo, Pak. Satu dua satu dua." Opik begitu bersemangat.
Masih bersambung yaaa....
'Terimakasih untuk semua yang sudah membaca novelku. ❤❤❤.
Simak terus yaa, jangan lupa untuk like, koment dan kasih hadiah... biar aku makin semangat nulisnya. 😊'
Selain itu, Aku rekomendasikan juga karya Author hebat untuk kalian simak ya. Ini dia,