KK

KK
17. BOS SUGI



Cukup lama juga Pak Samsudin dan Mak Asih menangis. Aku dan Randi hanya bisa menunduk. Tanpa terasa ada air mata juga di sudut mata kami. Hati ini serasa pedih. Aku ingat ibu, aku rindu ibu. Aku juga kagum pada ibu, begitu banyak orang-orang yang mengasihi ibu.


"Sudah, Mak. Sudah." Pak Samsudin akhirnya melepaskan pelukan Mak Asih. Beliau lalu mengusap-usap pundak Mak Asih.


"Maafkan Wildan ya, Pak. Wil jadi membuat Bapak dan Mak sedih."


"Iya Acep, ga apa-apa. Kami hanya kaget saja mendengar berita tentang Ibu Aisyah. Kami betul-betul tidak menyangka."


"Tapi kedatangan Acep membuat kami bahagia ko. Kami senang, kami bersyukur."


"Sekarang Acep ke dalam dulu yuk. Mandi dulu, terus kita sholat. Setelah itu makan. Setelah makan nanti kita mengobrol lagi. Banyak sekali yang ingin bapak obrolkan dengan Acep."


"Baik, Pa." Aku menurut. Pak Samsudin membukakan pintu, lalu menyuruh kami masuk. Di ruangan dalam rumah Pak Samsudin, aku dan Randi memperhatikan sekeliling. Rasa kagum kami makin bertambah. Melihat halaman rumah yang luas dan tertata begitu apik saja kami sudah terkagum- kagum. Melihat bagian dalam rumah, bukan hanya kagum yang kami rasakan. Kami terpesona. Ruang tamu begitu luas. Ada dua set kursi yang tersedia. Dua set kursi dengan warna yang sama. Sepertinya memang sengaja dipesan. Warna sama tapi model berbeda. Di dinding kiri ada sejenis hiasan seperti permadani, besar. Gambar ka'bah. Di dinding kanan ada lukisan abstrak, ukurannya besar juga. Dari ruang tamu masuk ke ruang tengah, mungkin ini ruang keluarga. Besar, tanpa kursi. Di sini terhampar karpet yang berukuran besar, karpetnya bergambar harimau. Di ruang tengah ini ada televisi dengan ukuran besar menempel di dinding, ukurannya mungkin lebih dari 50 inc. Besar sekali menurut penglihatan kami. Kami belum pernah melihat televisi sebesar ini. Kalau menonton tv, mungkin rasanya seperti nonton bioskop mini.


"Nah ini kamarnya. Acep simpan barang bawaannya didalam. Di dalam juga ada kamar mandi, barangkali Acep mau mandi dulu. Setelah mandi kita sholat berjamaah ya, Bapak menunggu di ruang mushola, di sana." Pak Samsudin menunjuk sebuah pintu yang terlihat dari ruang tengah. Kami mengangguk.


Saat masuk kamar, Randi langsung merebahkan badan di kasur yang empuk. Matanya langsung terpejam.


"Hush. Kamu mandi duluan sana. Kalau aku yang duluan, bisa-bisa kamu sudah mendengkur pas aku beres mandi." Randi hehe hehe. Dia mengeluarkan handuk dari tas gendongnya, lalu pergi mandi. Aku sendiri menyempatkan memperhatikan isi kamar. Ada tempat tidur, lemari pakaian tiga pintu, juga satu set meja kursi. semuanya berukuran besar. Hebat. Pak Samsudin ini benar-benar orang yang kaya raya.


Randi selesai mandi. Gantian aku sekarang yang mandi. Udara di sini mirip-mirip di Bandung, dingin. Air mandi saja dinginnya seperti air es. makanya aku tak berlama-lama di kamar mandi. Selesai mandi kami bersiap menunaikan sholat dzuhur. Pak Samsudin yang jadi imam kami.


"Yuk, kita makan dulu. Mak sudah menyiapkan makan untuk kita semua." Pak Samsudin keluar menuju ruang makan, kami mengikuti.


"Ayo Mak, sini, makan sama-sama sekalian." Kamipun makan bersama, berempat. Seperti sebuah keluarga saja jadinya.


Masakan Mak enak sekali, jangankan Randi, aku saja sampai nambah dua kali, betul-betul nikmat makan kali ini. Pak Samsudin dan Mak Asih juga sama, nambah makannya.


"Alhamdulillah, Nikmat sekali makan kali ini ya, Mak. Bapak sampai nambah nih makannya. Mak juga ya?" Mak Asih tertawa, Beliau masih asyik makan.


"Ini pasti karena ada kalian, sebelumnya Bapak dan Mak tak pernah makan sampai nambah dua kali begini, ya Mak ya?" Mak mengangguk. Kami tersenyum mendengar pujian Pak Samsudin.


Selesai makan, kami duduk di ruang tengah. di atas karpet. Suasana sangat santai. Bahkan Randi sesekali merebahkan badan.


"Sudah siap mendengar cerita Bapak?" Pak Samsudin memulai bicara. Aku dan Randi saling berpandangan. Kami bukan hanya siap, tapi sangat penasaran. Namun kami menahan diri untuk tidak banyak bertanya. Lebih baik kami menunggu saja, karena Pak Samsudin memang sudah berjanji akan mengajak kami mengobrol.


"Iya, Pak. Siap sekali." Aku mewakili suara kami berdua.


"Mak, sini. Ikutan ngobrol. Pekerjaannya tinggalkan dulu saja." Pak Samsudin memanggil Mak yang sedang beres-beres di ruang makan. Mak mendekat, lalu duduk berkumpul dengan kami.


"Bapak mulai ya, Acep."


"Iya, Pak." Aku kuatkan diri untuk menjawab pertanyaan Pak Samsudin.


"Bapak Sugianto itu kabarnya asli orang Jawa Timur. Beliau mula-mula tidak di kampung ini tinggalnya." Mulutku hampir saja terbuka, aku ingin bertanya. Tapi Randi memberi isyarat agar aku diam dulu.


"Dulu Bapak Sugianto di Jawa Timurnya di mana, kemudian orang tuanya siapa, beliau sudah berkeluarga atau belum, dan keterangan lain-lainnya tidak seorangpun yang tahu."


"Orang kampung ini, termasuk Bapak dan Mak, tahunya Bapak Sugianto itu hanya sendirian ke sini, tak punya saudara di sekitar sini." Kami tetap diam, menyimak cerita Pak Samsudin.


"Pak Sugianto pernah bilang, beliau pernah juga tinggal di Garut, kurang lebih satu tahun katanya. Lalu beliau pindah kesini, membeli sawah dan kebun di sini."


"Bapak dan Mak, juga orang-orang di kampung ini, memanggil Bapak Sugianto dengan sebutan Bos Sugi. Beliau orangnya baik. Terlalu baik malah." Aku dan Randi kembali berpandangan. Aku bahagia, bersyukur sekali mengetahui bahwa Bapak Sugianto orang yang sangat baik.


"Satu hal yang kami tidak mengerti, Bos Sugi tidak pernah kelihatan dekat dengan perempuan. Padahal saat itu umurnya sudah lumayan. Mungkin lebih dari 35 ya Mak ya?" Mak Asih yang ditanya, mengangguk.


"Perempuan-perempuan lajang di kampung ini banyak sebenarnya yang mau dinikahi, tapi entah kenapa, Bos Sugi tidak tertarik."


"Padahal menurut kami, tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan, Bos Sugi sudah punya segalanya. Waktu pertama datang ke sini, Bos Sugi hanya punya modal untuk membeli sepetak sawah dan kebun puluhan tumbak. Tapi karena kegigihan Bos Sugi, dalam waktu 15 tahun, beliau bisa membeli sawah dan kebun puluhan hektar." Aku terpana. Bapak Sugianto orang kaya ternyata. Tapi kenapa Ibu Aisyah pindah ke Bandung setelah menikah dengan Bapak Muji? Aku tetap menahan diri untuk tidak bertanya.


"Assalamu'alaikum Pak Sam." Seseorang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Wa'alaikum Salam." Serempak kami menjawab. Mak Asih bergegas membukakan pintu.


Mak Asih kembali lagi, nemberitahu Pak Samsudin.


"Mang Jana, Pak." Pak Samsudin bergerak menemui Mang Jana.


"Aya naon, Mang?"


"Eta Pak, saur Si Bos Garut, salapan rebu wae, kumaha?"


"Nya geuslah. Oke kitu nya, bejakeun. Sarua wae da di Bandung ge harga keur sakitu. Iraha cenah rek ka kebonna?"


"Paling enjing, ayeuna mah pameng tos siang."


"Isukan panggih di kebon weh kitu nya, Jam 07.00 an."


"Enya mangga." Mang Jana pamit, Pak Samsudin kembali duduk di dekat kami.