KK

KK
31. SKENARIO OPIK



Dengan cepat, para petugas turun dari mobil, menggerebek anak-anak matahari.


"Ayo kalian semuanya, jangan lari!" Petugas berteriak, tegas. Anak-anak matahari pontang panting. Ada yang lari ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang. Ada keanehan yang aku lihat. Anak-anak itu memang kelihatan sibuk berlari, seolah akan menghindari penangkapan. Tapi larinya anak-anak seolah hanya aksi saja. Mereka yang lari ke kiri, nanti berbelok lagi mendekati petugas. Demikian juga yang lari ke arah lain, nanti balik lagi mendekati petugas. Otomatis petugas dengan mudahnya menangkap semua. Dalam waktu singkat semua anak sudah duduk di mobil petugas. Pak Preman sendiri sudah sejak awal mobil datang, lari terbirit-birit, entah kemana. Dia tak perduli dengan nasib anak-anak matahari. Yes! Memang itu yang kami harapkan. Anak-anak matahari tertangkap semua, total 19 orang yang duduk di mobil petugas.


Opik cekikikan di sebelahku. Dia tertawa begitu renyah. Aku jadi sedikit curiga pada Opik. Jangan-jangan, tingkah anak-anak matahari tadi adalah skenario Opik. Lihat saja, tangan Opik melambai pada anak-anak matahari yang ada di mobil petugas.


Mobil petugas SATPOL PP berlalu, membawa anak-anak matahari pergi meninggalkan area terminal Leuwi Panjang, meninggalkan Pak Preman.


Aku mengajak Randi dan Opik kembali ke warung abang.


"Ayo, kita siap-siap."


"Siap-siap kemana Kak Wil?" Opik penasaran.


"Kita temui Kak Agung dan Kak Yanto, kita menengok anak-anak matahari." Opik mengerti. Dia berlari mendahului kami menuju warung abang.


"Abang, abang..."


"Opik mau ikut Kak Wildan dan Kak Randi menengok anak-anak matahari." Abang mengangguk. Mengijinkan. Kulihat abang ikut senang, melihat Opik begitu bersemangat. Tapi ada kesedihan juga di raut wajah abang. Aku mengerti, abang sudah terlanjur menyayangi Opik. Jadi mungkin ada rasa berat di hati. Abang tahu ini saat-saat terakhir ia bersama Opik. Sebentar lagi Opik akan jauh.


Aku mengecek HP. Chat dari Kak Agung harus aku pantau terus.


"Beres. Anak-anak matahari sedang di kantor Dinas Sosial. Pihak Dinas Sosial sedang melakukan pendataan." Lima menit lalu chat masuk dari Kak Agung. Aku segera membalas,


"Iya, Kak. Semoga semuanya lancar. Kami perlu ke sana ga?"


"Ga usah. Biar Kakak aja dengan Kak Yanto. Tunggu info dari kakak aja ya."


"Oke siap." Aku menutup HPku sementara. Tugasku sekarang adalah menunggu.


Kulihat Opik sudah bersiap. Dia pakai baju baru.


"Ayo, Kak. Kita berangkat sekarang?" Opik kelihatan sudah tak sabar ingin pergi.


"Sebentar ya, Opik. Kata Kak Agung, kita harus menunggu informasi dan petunjuk dari Kak Agung dulu." Aku berusaha menjelaskan.


"O gitu ya, Kak. Ya sudah, Opik tunggu sambil bantuin abang cuci piring aja ya." Opik pergi ke belakang.


"Oke, Opik. Nanti setelah Opik selesai cuci piring, Kakak punya kejutan untuk Opik."


Lumayan lama juga tidak ada chat lagi dari Kak Agung. Aku sabar menunggu. Dua jam kemudian, chat dari Kak Agung datang,


"Pendataan beres. Semua oke. Sementara anak-anak matahari belum bisa dijemput. Harus tinggal di tempat penampungan dulu. Kata petugas, kurang lebih tiga hari. Baru nanti diproses sesuai dengan rencana kita."


"Jadi tiga hari lagi kita baru bisa menengok dan memproses kelanjutan nasib anak-anak matahari?" Aku mencoba menyimpulkan penjelasan Kak Agung.


"Iya betul. Sementara biar kakak aja yang memantau perkembangannya."


"O gitu. Wil ijin ke Cirebon dulu bisa?"


"Oke. Boleh." Chat Kak Agung cukup menenangkan hati. Kami sepakat, Kak Agung dan Kak Yanto yang memantau dalam tiga hari ke depan. Untuk sementara, urusan anak-anak matahari sudah dapat dikatakan hampir berhasil. Tinggal menunggu tiga hari lagi.


Aku, Randi, Opik dan Mang Jana berpamitan pada abang. Kami akan menengok ibunya Randi dulu di Cirebon.


"Kabari abang kalau sudah sampai. No abang sudah di simpan kan?" Abang berpesan pada kami semua. Randi mengangguk. Aku memang pernah meminta Randi untuk menyimpan nomor HP abang.


"Tenang, Abang. Nanti Opik yang kasih kabar ke Abang." Opik menunjukkan HPnya. Dia bangga sekali punya HP pemberianku. Saat beres cuci piring tadi, Opik langsung menagih janji. Ketika tahu bahwa kejutannya HP, Opik langsung bersorak. Meski HP Opik belum dipasang kartu chip. Opik sebentar-sebentar cek HP seolah HP nya sudah aktif digunakan untuk berbagai keperluan.


***


Arus kendaraan Bandung-Cirebon ramai lancar. Seperti biasa Randi tertidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara Opik, bangun dan bercerita terus hampir sepanjang perjalanan. Aku dan Mang Jana menyimak cerita Opik yang begitu seru. Cerita tentang perjuangan Opik dan anak-anak matahari bertahan hidup dengan berbagai rintangan. Mang Jana sampai geleng-geleng kepala, tak menyangka kalau anak seusia Opik harus menghadapi berbagai tantangan untuk bisa bertahan hidup. Beruntung Opik dan kawan-kawan adalah anak-anak yang tangguh. Masalah seperti harus menahan lapar sehari misal, itu mereka anggap hal yang biasa.


Kami sampai di kotaku, Cirebon. Rumah ibu Nita sudah di depan mata. Tentu saja ibu kaget saat melihat kami datang. Ibu sama sekali tak menyangka, karena kami kemarin bilang bahwa waktu kami pulang sekitar empat atau lima hari lagi.


"Ini mobil kamu, Wil? Wah... hebat sekali." Bu Nita berdecak kagum. Aku tahu, pasti Randi yang sudah bercerita pada Bu Nita tentang Si Putih.


"Ayo kalian masuk, Mari Pak Silahkan." Pak Daud mempersilahkan Mang Jana masuk. Kami duduk di ruang tamu.


"Sebentar ya, ibu buatkan minum."


"Wil aja, Bu. Yang buat minumnya." Aku meminta Bu Nita duduk saja. Pikirku, pasti Bu Nita sudah rindu ingin mendengar cerita-cerita Randi. Bu Nita tersenyum. Beberapa saat kemudian sudah kudengar serunya Randi bercerita. Mulai dari pertemuan dengan Ua Amir, sampai kejadian pagi tadi saat kami berusaha beraksi membebaskan anak-anak matahari.


Aku membawa enam gelas minuman sirop dingin. kusajikan di depan orang-orang yang sedang tertawa-tawa ceria di ruang tamu. Kali ini Opik yang cerita,


"Untung udah Opik bilang 'kamu semua nanti pura-pura ketakutan ya, lari kesana kemari. Tapi larinya jangan jauh-jauh.' Jadi beres deh, naik mobil polisi semua." Opik tertawa lagi. Tuh kan, berarti benar dugaanku. Anak-anak tadi berlari kesana kemari hanya pura-pura saja. Opik yang mengatur semuanya. Opik... Opik. Adikku yang satu itu memang patut dibanggakan. Aku lirik Opik yang masih antusias bercerita. Aku ingin Opik sekolah yang tinggi nanti. Biar jadi sarjana yang hebat.