
"Ayo sini semua. Minum teh manis hangat dulu. Ini ada pisang goreng juga." Mak berteriak dari teras rumah. Teriakan Mak kemudian berhenti, mungkin Mak melihat Bapak Nana.
"Iya, Mak." Kami semua kompak menjawab, kecuali Bapak Nana tentunya.
Kulihat Mak kembali masuk ke rumah, setelah menyimpan baki berisi tiga cangkir minuman teh manis dan sepiring pisang goreng.
"Ayo, Pak. Kita minum dulu." Opik menuntun Bapak Nana. Kali ini tidak tampak rasa takut di wajah Opik. Bapak Nana menurut. Tepat saat itu, Nenek muncul dari arah gerbang.
"Ujang, hayu geura balik. Mun rek ulin teh sarapan heula atuh, terus mandi, karak ulin." (Pen: Ujang, ayo pulang dulu. Kalau mau main sarapan dulu, terus mandi, baru main) Nenek berteriak, padahal jaraknya masih jauh dengan Bapak Nana.
Diteriaki begitu Bapak Nana diam saja, Bapak duduk bersebelahan dengan Opik. Opik memberikan cangkir teh miliknya untuk Bapak Nana. Bapak Nana meminum teh begitu nikmat, langsung habis.
Nenek sampai di teras, berbarengan dengan Mak Asih keluar membawa nampan berisi dua cangkir teh lagi.
"Aden ini tehnya barangkali kurang. Perlu dibuatkan lagi, Den?" Aku memberikan teh untuk nenek dan Opik. Tanpa diduga Bapak Nana kembali meminum teh yang aku berikan pada Opik. Opik hanya tersenyum.
"Ya sudah Mak bikin lagi ya." Mak mau ke dalam rumah lagi membuatkan teh untuk Opik.
"Ga usah, Mak. Opik ambil sendiri aja." Opik masuk ke dalam rumah mendahului Mak.
"Ayo, Nek. Silahkan diminum." Cangkir teh nenek masih belum disentuh, aku kembali mempersilahkan nenek untuk minum.
Randi mendekatiku, lalu membisikkan sesuatu.
"Sekarang aja, Wil. Bilang ke nenek."
"Kalau gitu tolong panggilkan Opik. Biar lancar ngobrol sama neneknya."
"Oke." Randi masuk ke dalam rumah, dan kembali ke teras bersama Opik. Opik membawa teko kecil berisi air putih.
"Dihabiskan minumnya, Nek." Aku mengingatkan nenek lagi, karena teh manis di cangkir nenek masih tersisa setengah.
"O iya, Nek. Ini dicicipi juga pisang gorengnya." Nenek mengambil satu, lalu mendekati Bapak Nana. nenek bermaksud menyuapi Bapak Nana.
Aku segera mengambil piring pisang goreng, lalu menawarkan pada Bapak Nana. Opik berinisiatif memberi masukan pada nenek,
"Nek, Bapak Nana piwarang nyandak weh nyalira. Teu kedah dihuapan wae." (Pen: Nek, Bapak Nana suruh ambil sendiri saja. Jangan disuapi terus) Nenek hanya diam, tak jadi menyuapi Bapak Nana. Nenek malah mengambil piring pisang goreng yang aku pegang, kemudian menyuruh Bapak Nana mengambil pisang gorengnya. Berhasil, Bapak Nana mengambil satu. Lalu memakannya. Ada rasa khawatir juga di hati ini. Bapak Nana baru sembuh dari sakitnya. Makannya sampai saat ini masih ditertibkan bubur kalau pagi, nasi tim kalau siang dan malam. Sekarang Bapak Nana makan pisang goreng, padahal belum sarapan bubur. Semoga sih aman-aman saja.
"Nek, Wil ingin bilang sesuatu." Nenek melihat ke arahku.
"Wil dan Randi, ingin berusaha menyembuhkan Bapak Nana. Caranya, Bapak Nana harus dirawat dengan baik oleh dokter yang ahli mengobati sakit seperti sakitnya Bapak Nana." Nenek masih menyimak. Aku meneruskan bicaraku,
"Bagaimana kalau Nenek dan Bapak Nana besok ikut Wil dan Randi ke Cirebon, di sana ada rumah sakit yang cocok untuk Bapak Nana. Nanti kami juga ikut mengurus Bapak Nana selama pengobatan. Jadi nenek tidak sendirian." Nenek diam. Ada rasa khawatir di wajah nenek.
"Biayanya pasti mahal, Cu." Aku tersenyum. Tangan nenek aku usap.
"Nenek tidak usah khawatir. Insyaa Allah biaya untuk pengobatan Bapak Nana sudah kami siapkan. Nenek do'akan Bapak Nana cepet sembuh ya." Nenek mengangguk. Aku dan Randi jadi tenang. Besok kami pulang ke Cirebon bersama nenek dan Bapak Nana.
"Sekarang Nenek pamit dulu ya, Cu."
"Hayu Ujang, balik heula nya." (Pen: Ayo Ujang, pulang dulu ya) Nenek menuntun tangan Bapak Nana. Bapak Nana menurut.
"Ayo, Nek. Opik antar. Sekalian Opik bawain makanan buat makan pagi dan siang, Mak Asih yang menyiapkan tadi." Opik sudah menenteng kantong plastik yang berisi makanan untuk nenek dan Bapak Nana.
"Kamu berani sendirian, Pik?" Entah apa maksudnya Randi bertanya begitu pada Opik. Bisa jadi Randi hanya mengolok-olok Opik.
"Berani dong, Kak. Di Bandung aja aku kesana kemari sendirian kalau lagi kerja. Jalannya jauh pula. Kalau dari sini kerumah nenek sih, deket banget." Aku mendengar jawaban Opik dengan sedikit terharu. Bisa kubayangkan Opik berjalan ke tempat-tempat yang dianggap memungkinkan untuk bisa mengemis. Tiap hari Opik berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan perutnya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya." Opik mengangguk. Dia pergi mengantar nenek pulang.
Kami masuk ke dalam rumah, langsung menuju dapur. Niat kami ingin membantu Mak. Kasihan Mak dari tadi masak untuk menyiapkan makan tamu kami hari ini.
"Kami bantu ya, Mak." Mak Asih menolak.
"Ga usah, Aden. Kan sudah ada Mak Ucih dan Uwa Ane." Mak Ucih dan Uwa Ane memang sudah hadir. Sudah sibuk bersama Mak.
"Kalau gitu, kami antar Mak ke pasar aja. Mau sekarang?"
"Betul juga kata Aden. Ayo, sekarang aja Mak ke pasar. Pekerjaan di sini sementara dikerjakan Mak Ucih dan Uwa Ane aja." Mak bersiap. Aku dan Randi menunggu di ruang tengah. Kami baru ingat, Mang Jana sedang ke kebun, kami tak bisa meminta bantuan Mang Jana untuk menyetir. Jadi kami ke pasar harus pakai motor. Motor Pak Samsudin yang dipakai. Karena memang motor Pak Samsudin yang ada di rumah. Pak Samsudin tadi pagi berangkat dibonceng Mang Jana.
"Aku naik gojek aja ya, Ran." Randi malah tertawa.
"Kamu di rumah aja. Biar aku sendiri yang antar Mak."
"Lalu, kalau nanti belanjaan Mak banyak dan ga muat di motor kamu, gimana coba?"
"Ya tinggal nyuruh gojek lah. Di pasar kan banyak gojek." Masuk akal juga jawaban Randi.
"Oke deh kalau begitu. Aku di rumah ya. Sambil memantau kabar dari Kak Agung."
"Oke." Randi dan Mak berangkat ke pasar. Aku mengambil HP di kamar. Aku akan cek kesiapan Kak Agung dan semua yang akan datang ke sini nanti siang.
Saat HP kubuka, ada chat dari ibu Nita. Juga ada chat dari Kak Agung.
"Assalamu'alaikum, Wil. Kami sebenarnya sudah siap. Jam sepuluh kami akan berangkat, sesuai rencana kami kemarin." Ada rasa tak enak di hati ini membaca redaksi kalimat Kak Agung. Tapi chat Kak Agung baru itu, chat masuk sepuluh menit lalu. Mungkin Kak Agung sengaja belum melanjutkan kalimatnya dengan jelas karena menunggu aku online.
"Wa'alaikum Salam, Kak. Maaf Wil baru buka HP lagi. Ada apa, Kak?" Tak lama kemudian, Kak Agung membalas chatku.
"Ada kendala sedikit, Wil. Sedikit tapi lumayan bikin pusing." Deg. Hati langsung berdebar. Belum juga jelas berita yang ingin disampaikan Kak Agung, aku sudah panik. Aku mengkhawatirkan semuanya.
'Jeng jeng jeng... do'akan tidak terjadi sesuatu yang serius ya, para pembaca setiaku. Cerita disambung besok Insya Allah. Jangan lupa like dan komennya yaa..., Makasiiiihhh'🥰🥰🥰
O ya, Ini ada karya hebat lagi dari Saudaraku sesama Author, jangan lupa simak ya: