
Weekend. Ini saat yang kutunggu-tunggu. Si Putih dan Pak Nana sudah sampai di rumah. Siap membawaku ke Garut, bertemu adik-adik matahari. Apa kabar mereka ya? Rasa kangen di hati sudah meletup-letup. Sebenarnya ada rasa tak puas, karena aku tak bisa mendampingi mereka setiap waktu. Tapi apa mau dikata, aku harus berbagi waktu. Tugas utamaku di sini tetap harus dilaksanakan. Aku harus sekolah, dan berusaha menjadi anak yang baik, yang bisa membuat Bu Nita dan Pak Daud bahagia. Aku jadi berpiķir untuk melanjutkan sekolah di Garut. SMAN Leuwi Goong kan lokasinya persis di depan rumah. Jadi aku bisa full waktu mendampingi anak-anak matahari. Tapi kalau aku SMAnya di Garut, siapa yang akan menemani Ibu Nita di sini? Randi pasti ikut sekolah di Garut juga. Aku akan berusaha untuk tidak terpisah lagi dari Randi. Dia satu-satunya kakak yang aku punya. Kasihan juga Ibu Nita dan Pak Daud kalau harus kami tinggalkan.
"Hei. Siang-siang ngelamun. Nanti cepet tua loh!" Seseorang menepuk pundakku agak keras, siapa lagi kalau bukan Randi-ku. Dia baru pulang sekolah, tadi aku pulang duluan karena Randi harus diskusi kelompok dulu.
"Beres diskusinya?" Aku mengabaikan komentarnya.
"Beres dan harus beres. Kita nggak bisa menunda pekerjaan soalnya, waktu kita harus dibagi-bagi untuk beberapa urusan."
"Hhh, Lagaknya kayak yang iya orang sibuk!" Aku mendorong Randi, Randi tertawa.
"Emang iya kan, kita super sibuk? Hahaha." Tawa lepasnya membuat aku ikut tertawa juga. Kami menertawakan diri kami sendiri, yang memang sedikit pusing membagi waktu.
"Keren ya kita, saat temen-temen kita pada sibuk ngurusi cinta, ngurusi cewek, kita malah sibuk ngurusi..." Mata Randi mendelik, kalimatnya sengaja tidak dilanjutkan.
"Alah, kamu juga sempat ngurusi cewek. Itu Si Wulan, yang sekelas kamu itu loh, yang can..." Tangan Randi dengan sigap membekap mulutku. Matanya melotot. Aku berusaha menepiskan tangannya. Tapi tangan Randi betul-betul kuat menutup mulutku.
"Aduh anak-anak ibu nih, bercanda terus. Ayo udah, bukannya kalian harus siap-siap?" Bu Nita keluar dari kamarnya. Ibu pasti sudah hafal, kalau ada suara gaduh, mesti aku dan Randi sedang beraksi.
"Itu tuh, Bu. Randi. Punya ce..." Aku melirik Randi, dia mengacungkan tinjunya. Haha, kena kau Ran! Randi panik, dia takut gosip yang ada di sekolah terdengar oleh ibunya.
"Sudah, sudah. ayo kembali beres-beres. Jangan sampai ada yang ketinggalan ya." Kami bubar, menuju kamar masing-masing. Melanjutkan memberekan segala sesuatu yang akan kami bawa ke Garut.
"Wil." Terdengar suara ibu memanggil.
"Ya, Bu." Aku menghampiri ibu di depan pintu kamarku.
"Nenek dan Pak Nana ikut ke Garut juga? Kata ibu sih kasihan, cape. Biar nenek dan Pak Nana di sini saja."
"Tadi sudah Wil bilang ke nenek, kata nenek ikut aja, Bu. Nenek ingin menengok rumah nenek katanya." Tiba-tiba aku jadi ingat kuburan Ibu Minah. Selama ini nenek yang rajin menjaga kebersihan di area sekitar kuburan ibu. Sekarang bisa jadi di atas kuburan ibu sudah banyak daun-daun kering, maklum kuburan ibu ada di bawah pohon besar yang daun-daunnya tidak berhenti berguguran.
"Oh gitu. Ya sudah, nenek sudah siap?" Ibu melihat ke arah pintu kamar nenek yang tertutup.
"Sudah, Bu. Tadi nenek bilang mau siap-siap menunggu waktu sholat."
"O iya." Ibu mau melangkah meninggalkanku, Tapi berhenti lagi.
"Satu lagi, Nanti sepulang sholat jumat, jangan lupa pada makan dulu."
"Iya, Bu." Aku kembali ke kamarku, mengeluarkan tas ransel berisi baju dan semua keperluanku. Juga Tas ransel berisi baju Dian. Semua tas kusimpan di kursi tamu.
Masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum adzan untuk menunaikan sholat jumat. Aku, Mang Jana, Dian, Randi berangkat menuju mesjid.
***
Sepulang dari mesjid, kami melihat ada Si Putih-2 di depan gerbang rumah kami.
"Mobil siapa, Wil?" Aku menggelengkan kepala. Tak seorangpun dari kami yang tahu pemilik Si Putih-2.
"Tamunya ibu kali." Dian menduga-duga.
"Bisa jadi." Randi mendukung dugaan Dian.
Slot pintu gerbang hanya dikaitkan saja, tidak dikunci. Posisi gerbang seperti itu juga cukup aman untuk membuat Bapak Nana tetap di dalam area gerbang. Kami masuk dan kembali menutup dan mengaitkan slot pintu gerbang.
"Assalamu'alaikum." Kami ucapkan salam, sedikit perlahan, karena khawatir mengganggu tamu yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Wa'alaikum Salam." Terdengar jawaban dari dalam rumah. Aku dan Randi cukup kaget, di ruang tamu kulihat ada Ibu, Bu Min, Bu Mel, Bu Tita dan Bu Sri. Aku baru ingat, obrolan ringan beberapa hari lalu di ruang guru. Tak kusangka kini empat guruku sudah hadir di depanku. Dengan berpakaian rapi, siap beriringan melakukan perjalanan menuju Garut.
"Ga boleh nih kita ikut?" Mereka malah menggodaku.
"Itu mobil putih di depan punya ibu?" Randi bertanya, mengabaikan pertanyaan Bu Min. Bu Min mengangguk.
"Nanti mau dibawa ke Garut?" Randi masih lanjut bertanya.
"Ya iya dong, Ran. Kan kita dah bilang tadi, kita mau ikut ke Garut." Bu Tita yang menjawab pertanyaan Randi.
"Maksud Randi, nanti yang nyetirnya siapa, Bu?" Mata Randi melihat seputar ruang tamu, siapa tahu Bu guru kita membawa supir.
"Oh itu. Ibu nanti yang nyetir, kalau cape nanti bisa gantian dengan Bu Mel. Iya kan, Bu Mel?" Bu Mel mengangguk.
Ck ck ck... jagoan sekali ibu guru kita ini. Walaupun aku sudah sering melihat perempuan menyetir, aku tetap tak menyangka kalau Bu Min bisa menyetir. Bu Mel apalagi, dari tampilannya yang kalem dan tak banyak bicara, orang tak akan menyangka kalau beliau piawai juga di belakang kemudi.
"Ayo, pada makan dulu semuanya. Bu guru, ayo silahkan makan dulu."
"Makasih, Bu. Kami sudah makan tadi sebelum ke sini. Kami mau ikut sholat saja ya, Bu."
***
Setelah semuanya siap, kami pamit pada Bu Nita. Pak Daud masih belum pulang dari tempat kerjanya. Tadi pagi aku sudah menyempatkan bilang pada Pak Daud, bahwa kami akan ke Garut setelah sholat jumat.
Diperjalanan, Si Putih dan Si Putih-2 selalu melaju beriringan. Jalanan agak macet di daerah Cicalengka. Tapi macetnya tidak terlalu parah. Kami sampai lokasi rumah setelah masuk waktu asar.
"Kakaaaak, kakak datang, kakak datang" hampir semua anak-anak matahari berteriak menyambut kedatangan kami. Mereka berdiri semua, berlari mendekati aku dan Randi, padahal sebelumnya mereka sedang duduk mengaji dibimbing Pak Ustadz.
"Wil, ini anak-anak matahari yang kamu ceritakan itu?" Bu Min memandang anak-anak yang berlari menghampiriku. Sebagian dari mereka memelukku erat, seolah sudah berbulan-bulan tidak ketemu.
"Apa kabar kalian?" Randi menyapa anak-anak.
"Alhamdulillah baik, Kakak."
"O ya adik-adik, perkenalkan, ini ada Ibu guru. Ini Bu Min, Ini Bu Mel, Ini Bu Tita, dan ini Bu Sri." Aku memperkenalkan semua ibu guru yang ikut, wajah anak-anak begitu cerah menatap semua yang aku perkenalkan.
"Assalamu'alaikum Bu Guru. Asyiik, kami mau sekolah sekarang ya, Kakak? Ibu gurunya sudah datang, horeee." Ada keharuan yang tiba-tiba hadir di hatiku. Adik-adikku sudah ingin sekolah. Betul-betul rindu sekolah.
___________
Masih bersambung. Terimakasih pada semua yang sudah berkenan hadir di sini.
Bila berkenan, simak juga yuk novel bagus karya teman sesama Authorku:
Berbekal ijasah SMA, Putri memberanikan diri mengadu nasib di Ibukota.
Seorang gadis yatim piatu mengadu nasib di kota besar yang secara tidak sengaja memiliki hubungan dengan pengusaha muda dan menguak misteri masa lalu.
Sky Putra Gandratama, pengusaha muda yang sukses membawa perusahaannya mencapai puncak kejayaan.
Hidupnya berubah setelag bertemh dengan seorang gadis belia yang secara tidak sengaja dia undang masuk kedalam kehidupannya.
Bagaimana kisah mereka?
Misteri apa yang terjadi dimasa lalu?