KK

KK
62. IDE BISNIS



Bapak Nana tak lagi berdiri. Bapak duduk di tanah, matanya tetap fokus menatap pintu, tangisnya makin menjadi. Meraung-raung. Di sela-sela tangisnya, bapak berteriak,


"Dieu... balik... anak..." (Pen: Sini... pulang... anak) Tangannya terus melambai-lambai ke arah pintu. Mungkin maksud dari ucapannya adalah 'kesini kembalikan anakku'.


Aku tak bisa menahan air mataku. Kulihat Bu Yanti juga menangis. Sepertinya semua yang menyaksikan juga ikut menangis. Anak-anak matahari apalagi. Sebagian dari mereka menangis dengan tersedu-sedu. Aku meminta Randi untuk membawa Bu Yanti masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Kasihan, Bu Yanti harus menemui anaknya. Anak Bu Yanti tadi masih menangis waktu di bawa Mak ke dalam rumah.


Nenek mendekati Bapak Nana. mengusap-usap kepala Bapak Nana. Nenek berusaha mengajak Bapak Nana berdiri. Bapak Nana menurut.


"Hayu, balik heula. Keun weh budak mah geus aya nu ngurus. Ikhlaskeun. Isukan urang kadieu deui nya." (Pen: Ayo, pulang dulu. Biar saja anak sudah ada yang mengurus. Ikhlaskan. Besok kita ke sini lagi ya). Nenek menuntun tangan Bapak Nana menuju gerbang. Sesekali Bapak Nana menengok ke arah pintu rumah yang tetap tertutup.


Nenek dan Bapak Nana sudah keluar gerbang, mereka lalu berjalan menuju arah rumah nenek.


Setelah nenek dan Bapak Nana pulang, aku, Suaminya Bu Yanti, Para guruku, dan kakak-kakak pembimbing semua duduk di teras rumah. Anak-anak matahari kusuruh masuk, untuk bersiap-siap belajar didampingi kakak-kakak pembimbing.


"Wil, kasihan. Ibu ga tega liatnya." Bu Min masih sibuk menyeka air matanya.


"Iya, Bu. Sama, sebenarnya Wil tidak tega juga. Tapi namanya juga ikhtiar, Bu. Semoga saja ada hasil yang menggembirakan." Aku menghibur diriku sendiri.


"Sebenarnya maksud kamu gimana sih, Wil, dengan aksi seperti tadi itu?" Bu Min bertanya.


"Iya, Wil. coba kamu jelaskan tujuannya." Kak Agung ikut berkomentar.


"Aksi seperti tadi, besok akan diulang lagi. Tujuannya, supaya Bapak Nana mengingat wajah Mak. Harapannya, Bapak Nana hafal bahwa orang yang membawa anaknya itu Mak. Jadi anaknya tidak hilang begitu saja.


"Besok diulang lagi, Wil?"


"Iya."


"Dengan tujuan yang sama? Masih pinjam anak Bu Yanti?" Bu Min penasaran.


"Iya, Bu. Bu Yanti sudah diberitahu skenarionya, masih mirip-mirip seperti tadi. Nenek juga sudah diberitahu. Semoga Bapak Nana jadi tau bahwa Mak orang baik. Anaknya aman di tangan Mak." Para guru dan kakak-kakak pembimbing mulai mengerti skenario yang kususun.


"Ibu dan teman-teman tadinya mau pulang hari ini, tapi kami penasaran. Kami ingin menyaksikan rencana aksi besok. Kami menginap lagi malam ini nggak apa-apa, Wil?"


"Iya, tidak apa-apa, Bu. Boleh kok." Aku mulai berpikir tentang tempat untuk kakak-kakak pembimbing menginap. Bisa sih. Kakak pembimbing perempuan bisa tidur di kamar anak perempuan. Kak Agung dan Kak Yanto boleh tidur di kamar Opik dan kawan-kawan atau di ruang tengah gabung dengan aku dan Randi juga bisa.


"Kami kedalam dulu ya, Wil. Mau mengajar anak-anak dulu."


"Iya, Kak. Oke."


Tinggal aku dan para guruku yang masih mengobrol di teras.


"Wil, itu anak-anak SMA kayaknya ya?"


"Iya, Bu. Kakak-kakak itu ada yang sekolah di SMA Negeri ada yang sekolah setingkat SMA sambil mondok. Mereka sudah mengajar anak-anak matahari jauh sebelum Wil mengenal anak-anak matahari. Luar biasa pokoknya perjuangan mereka."


"Relawan ya, Wil?" Bu Sri bertanya, cukup penasaran juga rupanya para guruku ini dengan Kak Agung dan kawan-kawan.


"Iya, Bu. Sejenis itulah."


"Mengajar pelajaran apa mereka?"


"Hebat sekali ya. Masih anak-anak tapi sudah banyak berbuat kebaikan untuk sesama."


"Iya, Bu. Wil juga iri pada Kak Agung dan kawan-kawan."


"Wil. Jam berapa besok Bu Yanti kesini lagi?" Tanya Randi, dia keluar bersama Bu Yanti dan anaknya. Suami Bu Yanti berdiri lalu menggendong anaknya yang sudah tak nangis lagi.


"Pagi jam sepuluhan bisa, Bu? Setelah asar kami harus pulang dulu ke Cirebon." Bu Yanti menyanggupi. Beliau lalu pulang bersama suaminya.


Sepulang Bu Yanti, aku dan para guruku bergabung dengan kakak-kakak pembimbing. Pembelajaran sore ini lebih seru dari biasanya, karena bu guru semuanya ikut aktif sebagai pengajar anak-anak matahari. Anak-anak bahkan mulai diajarkan kata-kata dalam Bahasa Inggris. Mereka senang sekali. setelah sholat isya berjamaah pun, anak-anak meminta untuk belajar kembali. Alasan mereka, mumpung gurunya banyak katanya.


***


Minggu pagi, Sebelum matahari muncul, kami semua menyempatkan berolah raga ringan di halaman rumah. Pak Samsudin juga ikut hadir. Kebetulan di sawah dan kebun sedang tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.


Kami berolah raga bebas saja sesuai keinginan kami. Ada yang berlari-lari kecil, berjalan-jalan, melakukan senam ringan, atau sekedar menggerakan tangan ke kiri dan ke kanan. Sebagian anak-anak matahari malah ada yang tidak berolah raga, mereka bermain kejar-kejaran. Walau sebetulnya sama saja sih, olah raga juga, karena mereka berlari kesana kemari.


Selesai berolah raga, kami duduk-duduk di teras sambil menikmati minuman hangat dan cemilan yang disajikan Mak Asih dan Mak Ucih. Para guru kami pamit ke dapur. Bu Min dan bu guru yang lain berjanji akan masak untuk sarapan kami semua pagi ini. Kata Bu Min, biar Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane bisa istirahat sejenak tidak terus-terusan sibuk di dapur.


"Pak, boleh Wil usul sedikit?" Aku bertanya pada Pak Samsudin


"Pasti boleh dong, Bos. Usul apa?" Pak Samsudin menanggapi dengan antusias.


"Ini Pak. Kita semua kan ingin berusaha memberi semangat pada anak-anak matahari untuk menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Nah bagaimana kalau anak-anak matahari bapak beri ilmu bertani dan berkebun?"


"Maksudnya, Bos? Bapak belum paham nih." Kening Pak Samsudin berkerut.


"Maksud Wil, bagaimana kalau kebun kita yang biasanya hanya ditanami jagung dan porang, sekarang sebagian kecil lahannya kita coba ditanami dengan tanaman palawija yang lain. Misalnya singkong, ubi jalar, mentimun, kedelai, dan lain-lain. Nanti dari mulai persiapan lahan, penyediaan bibit, penanaman dan pemeliharaan sampai panen anak-anak matahari ikut menyimak dan ikut terlibat membantu. Tujuannya untuk memberi ilmu praktis pada anak-anak matahari." Pak Samsudin mengangguk-angguk, mencoba memahami apa yang aku sampaikan.


"Boleh, Bos. ide yang bagus itu. Tp jangan terlalu dituntut untuk langsung menghasilkan banyak keuntungan ya, Bos. Ini lebih menekankan pada pendidikan untuk anak-anak."


"Betul, Pak. Syukur-syukur langsung berhasil. Tapi kalaupun tidak, kita akan belajar dari pengalaman. suatu saat pasti akan berhasil juga."


Tak terasa matahari makin tinggi. kami harus bersiap untuk melaksanakan rencana aksi yang kedua.


_____________


'Terimakasih untuk semua yang selalu hadir di sini. ceritanya masih bersambung ya.'


Bila berkenan, simak juga yuk novel bagus karya teman Authorku:



Arti nama Annchi adalah seorang bidadari yang cantik menawan, Annchi adalah seorang seorang dokter jenius yang bisa mengobati segala penyakit dan ahli mengunakan senjata tajam serta menguasai ilmu bela diri. Di usia yang ke 45 tahun Annchi belum ada keinginan untuk menikah dikarenakan sibuk mengobati orang-orang yang membutuhkan dirinya. Banyaknya pasien tentu saja uang mengalir terus hingga Annchi menjadi gadis yang paling kaya raya di negara itu hingga suatu ketika pamannya ingin menguasai kekayaan Annchi hingga merencanakan memberikan racun yang sangat kuat dengan di bantu istrinya dan rencananya berhasil Annchi meninggal. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dia baru mengetahui kalau paman dan bibinya yang telah meracuni dirinya membuat dirinya bersumpah di depan mereka jika kelak berinkernasi kembali akan membalas perbuatan mereka.


Annchi terbangun dan dirinya sangat terkejut tubuhnya gendut dan jelek serta penuh dengan luka dan di dalam ingatan pemilik tubuh kalau pemilik tubuhnya sering di bully dan di siksa oleh ibu tiri dan adik tirinya membuat Annchi membantu membalaskan dendam dan juga mengubah pemiik tubuh untuk menjadi langsing, cantik dan menjadi wanita yang tidak bisa ditindas.


Akankah usaha Annchi untuk membalas dendam berhasil?


Ikuti Novelku yang ke 19