KK

KK
69. MUTASI



Aku dan Randi sudah lulus SMP sekarang. Masalah nama ayah yang tertera di ijasahku, sementara masih mengikuti ijasah SD dulu. Perkembangan terkini tentang siapa nama bapak kandungku, sampai saat ini masih belum ada peningkatan. Statusku masih sebagai anak yang tidak jelas siapa bapak kandungnya. Tapi saat ini orang-orang, khususnya guru-guruku tak lagi menatap dengan tatapan menahan tawa mendengar statusku yang tidak jelas. Guru-guruku sekarang malah jadi partner yang hebat dalam mengurus anak-anak matahari. Statusku yang tidak jelas tak lagi dipandang aneh, karena yang berstatus tidak jelas bukan hanya aku. 19 anak-anak matahari statusnya tidak jelas juga, dan guru-guruku bukan menertawakan, malah ikut berusaha agar ketidak jelasan status mereka justru menjadi motivasi bagi anak-anak matahari untuk berprestasi semaksimal yang mereka bisa.


Anak-anak matahari sudah di daftarkan sekolah. Empat belas orang ke Sekolah Dasar Negeri, lima orang ke pesantren, yang ke pesantren nanti mereka akan mondok sambil sekolah. Khusus untuk Mimbo, Bu Yanti minta, urusan sekolah Mimbo beliau yang urus, beliau yang membiayai. Meski dalam aktifitas keseharian Mimbo tetap bergabung dengan anak-anak matahari yang lain, tapi tiap menjelang magrib Mimbo pulang ke rumah ibunya, dia tidur di rumah ibunya.


Dari lima orang anak yang masuk pesantren, Dian adalah salah satunya.


Pertimbangan Dian masuk pesantren, selain karena Diannya juga mau, juga karena aku, Randi dan para guru-guru kami melihat kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Kami berharap kelak Dian bisa menjadi penghafal Al Quran yang baik, juga menguasai hadits-hadist dan ilmu agama islam. Siapa tahu cita-cita kami ingin punya pesantren bisa terlaksana besok lusa, setelah Dian dan kawan-kawan lulus dari pesantren.


Berarti beres sudah. Urusan daftar sekolah untuk anak-anak matahari selesai, persiapan mereka untuk sekolah juga sudah bagus. alat-alat sekolah, baju-baju seragam dan lain-lain, semua sudah lengkap. Anak-anak mataharinya sendiri sudah dapat dikatakan lancar membaca,menulis, dan hitung dasar. Setidaknya saat masuk sekolah nanti mereka tidak akan terlalu berbeda dengan anak-anak lain yang berlatar pendidikan TK.


Sekarang tinggal untuk aku dan Randi, urusan melanjutkan sekolah, kami masih galau. Kami ingin full membantu Mak dan Pak Samsudin mengurus anak-anak matahari, jadi otomatis kami harus sekolah di garut supaya tugas itu bisa terlaksana dengan baik. Tapi kami tidak tega untuk mengajukan usul itu pada Bu Nita dan Pak Daud. Alangkah sedihnya Bu Nita bila kami pindah ke Garut.


"Ayo, kenapa pada melamun? Sudah lulus sekolah bukannya seneng malah berwajah murung. Ada apa?" Bu Nita bertanya, kami sedang duduk-duduk santai sore ini. Aku, Randi, Bu Nita, dan Pak Daud. Dian, Bapak Nana dan nenek sudah kembali tinggal di Garut. Cek rutin Bapak Nana ke dokter sekarang hanya sebulan sekali dan kesehatan fisik, terutama psikis Bapak Nana juga sudah jauh lebih baik dibanding saat rencana aksi yang pertama lima bulan lalu. Penglihatan mata kanan Dian juga sudah berangsur membaik, meski terapi menggunakan kaca mata masih dilakukan hingga saat ini.


"Nggak sedang melamun kok, Bu. Kami sedang liat-liat HP aja. Iya kan, Ran?" Randi mengangguk, matanya tetap fokus pada layar HP.


"Hm... mana bisa mata ibu dibohongi. Mata kalian iya sedang liat layar HP, tapi pikiran kalian entah kemana." Bu Nita kembali menyelidik. Aku tersenyum. Randi masih berlagak cuek.


"Kalau perkiraan ibu sih, sepertinya kalian sedang bingung tentang melanjutkan sekolah ya?" Bu Nita melirikku, bibirnya tersenyum. Meski Bu Nita ini bukan ibu kandungku, tapi feelingnya selalu tepat. Beliau selalu bisa menebak dengan betul tentang apa yang sedang kami pikirkan bila kami kebetulan ketahuan sedang melamun.


Randi tak lagi pura-pura fokus pada HP. Dia memandang ibu kesayangannya dengan wajah ragu.


"Tebakan ibu betul kaaan?" Kata Bu Nita lagi. Pak Daud hanya tersenyum menyaksikan ekspresi kami yang entah dalam pandangannya seperti apa.


"Iya, Bu." Jawabanku hampir berbarengan dengan jawaban Randi. Kami akhirnya memilih berkata jujur. Kami memang belum punya keputusan tentang sekolah yang akan kami pilih sebagai sekolah kami berikutnya.


"Serius boleh, Bu?" Kataku dengan keraguan yang sangat.


Bu Nita menggangguk pasti. Aku dan Randi lalu menatap Pak Daud. Beliau mengacungkan kedua jempol tangannya dengan mantap.


"Ibu dan Bapak nanti hanya berdua di sini, nggak apa-apa, Bu, Pak?" Randi mencoba mengingatkan Bu Nita tentang resiko dari kata 'boleh' yang beliau ucapkan.


"Eh, kata siapa kami nanti akan tinggal berdua saja?" Bu Nita melirik Pak Daud sambil senyum.


"Loh, betul kan, Bu. Kami pindah ke Garut, lalu di sini, tinggal Ibu dan Bapak, iya kan?" Bu Nita dan Pak Daud kompak menggelengkan kepala. Kami jadi makin tak mengerti. Orang tua kami ini, pasti sedang menghibur diri mereka sendiri, biar tak terlalu sedih kehilangan kami.


"Maafkan kami ya, Bu, Pak." Aku akhirnya hanya bisa minta maaf. Wajahku dan wajah Randi tertunduk. Kami tak berani menatap wajah kedua orang tua hebat di hadapan kami ini.


Perlahan-lahan, Tangan kanan Bu Nita menengadahkan wajahku, tangan kirinya menegadahkan wajah Randi. Bu Nita bilang,


"Kami bangga dan bahagia memiliki kalian. Kami akan selalu berada di dekat kalian dan mendukung setiap langkah perjuangan kalian."


"Maksud ibu?" Tanya Randi, aku sendiri berusaha sabar menunggu penjelasan Bu Nita.


"Liat ini." Pak Daud menunjukkan secarik kertas. Aku dan Randi segera memperhatikan apa yang Pak Daud tunjukkan. Itu surat resmi. Di kop surat tertulis 'Surat Keputusan'. Sekilas kubaca isi surat, kurang lebih tentang pindah kerja. Di sana tertulis nama Pak Daud. Pindah dari kantor cabang Cirebon ke kantor cabang Garut.


"Bapak?" Randi tak lagi menunggu aku selesai membaca. Dia langsung mendekati Pak Daud, dan memeluknya. Bu Nita mendekati dua orang yang sedang berbahagia itu dan memeluk keduanya. Bu Nita mengusap-usap kepala Randi dengan penuh kasih sayang. Aku hanya dapat menonton adegan romantis itu dengan senyum. Randi yang belasan tahun menjadi anak semata wayang Bu Nita dan Pak Daud, tetap saja bebas bermanja-manja pada ibu dan bapaknya. Meski Randi sudah tahu bahwa dia hanya sekedar anak adopsi, Randi tak perduli. Randi seolah bilang pada dunia bahwa sampai kapanpun Bu Nita dan Pak Daud adalah miliknya. Lihat saja, Randi sekarang duduk diantara Bu Nita dan Pak Daud. Dia kembali menyimak SK pindah kerja Pak Daud sambil tersenyum bangga. Randi kini yakin bahwa tak seorangpun dapat memisahkan dia, Bu Nita dan Pak Daud.


"Wil. Sini." Tiba-tiba Bu Nita menyuruhku mendekat. Beliau menggeser duduknya, lalu meminta aku duduk dekat Randi. Aku ragu, tapi lambaian tangan Bu Nita meyakinkanku. Aku duduk dekat Randi dengan hati berdebar. Terlebih ketika kurasakan tangan halus Bu Nita mengusap kepalaku dengan lembut, sangat lembut. Sampai tanpa sadar mata ini terpejam. Aku tahu belaian di kepalaku ini adalah belaian seorang ibu, yang di tahun-tahun lalu selalu membuat hatiku damai, tapi kali ini membuat dada ini bergemuruh.