
Aku berusaha tersenyum pada Bu Min. Ekspresi takutnya betul-betul kumaklumi.
"Wil?" Bu Min mencoba bertanya, matanya melirik pada Bapak Nana.
"Ini salah satu bapakku, Bu. Bapak yang kutemukan saat perjalananku mencari bapak kandungku." Tentu saja penjelasanku tidak dimengerti oleh Bu Min. Untungnya Bu Min berhasil menekan rasa takutnya. Beliau fokus menatapku lalu berkata,
"Oke, Wil. Ibu datang justru supaya kamu bisa menjelaskan semuanya pada ibu, sekarang ibu masuk ya." Ekspresi takut sudah hilang dari wajah walikelasku ini. Bapak Nana pun sudah menjauh, duduk dekat pohon bougenvile yang bunganya begitu banyak. warna pink bunga bougenvile menarik perhatian Bapak Nana. Bapak meraba kelopak bunga, satu demi satu.
"Mari, Bu. Silahkan masuk." Pintu gerbang kubuka, Bu Min masuk. Tak lupa pintu gerbang kukunci lagi.
Bu Min aku perkenalkan pada semua anggota keluarga yang sedang duduk di teras. Kecuali Randi tentunya. Karena Bu Min memang sudah mengenal Randi. Guru-guru di sekolah hampir semuanya sudah mengenal Randi, siswa yang sedikit cuek, tapi lumayan pintar. Sempat aktif di OSIS juga waktu kelas delapan tahun lalu.
"Ayo, duduknya di dalam saja. Wil, ajak Bu gurunya masuk." Sesuai perintah Pak Daud, Bu Min aku persilahkan masuk ke dalam rumah. Kami duduk di ruang tamu, aku, Bu Min dan Randi.
"Wil, ibu penasaran ke cerita kamu yang kemarin itu loh. Kenapa waktu liburan kamu chat ibu, padahal kamu belum bertemu bapak kandung kamu?" Bu Min langsung ingin melanjutkan diskusi yang tertunda kemarin.
"Karena nama bapak yang tertulis di Akte dan di Ijasah SD semua orang penting dalam hidup Wil. Semua orang-orang yang sangat baik."
Aku berusaha menjelaskan.
"Lalu, orang yang tadi di belakang kamu, siapa? Tadi kamu bilang itu bapakmu juga." Yang Bu Min maksud adalah Bapak Nana.
"Betul, Bu. Jadi dalam hidup Wil sampai saat ini, ternyata banyak nama bapak yang ikut berperan hingga Wil bisa seperti sekarang ini. Pertama adalah..." Aku menceritakan secara garis besar pertemuanku dengan Ua Amir, Bapak Muji, Pak Samsudin, Bapak Nana. Aku juga bilang ke Bu Min tentang Pak Sugianto yang sudah meninggal. Tak lupa juga aku ceritakan tentang Pak Daud, orang yang pertama kali memberiku kesempatan dan semangat untuk menelusuri kisahku.
"Jadi Randi itu kakak kandungmu?" Aku mengangguk pasti. Randi senyum sambil mengacak-acak rambutku.
"Lalu, penelusuran tentang siapa bapak kandung kalian masih akan diteruskan?" Bu Min masih semangat mengajak diskusi. Aku dan Randi saling berpandangan.
"Sampai saat ini buntu, Bu. Harapan kami cuma satu, Bapak Nana sembuh. Bila Bapak Nana sembuh, bisa jadi ada petunjuk baru tentang siapa bapak kami. Tapi kalaupun tidak ada, kami tak bisa berbuat banyak. Biar saja. Yang penting Bapak Nana sembuh." Bu Min mengangguk-angguk.
"O gitu ya. Ya sudah. berarti memang tidak bisa dipastikan berapa lama masalahmu akan beres."
"Ibu mengerti sekarang, kenapa kamu tetap mempertahankan nama -nama di ijasah dan di akte. Semoga saja bapak kandung kamu ketemu sebelum ijasah diterbitkan ya, Wil."
"Iya, Bu."
"Kalau Randi, tidak ada masalah di data kan?"
"Aku cocok semua, Bu. Mulai dari akte, KK, dan ijasah SD, nama bapak aku Bapak Daud." Randi senyum-senyum. Soal penulisan data di surat-surat penting, Randi memang lebih beruntung dari aku.
"Ini Wil sama Randi gimana, ibu gurunya kok tidak dikasih minum." Tiba-tiba ibu Nita datang, membawa nampan berisi minuman dan kue-kue ringan.
"Tidak apa-apa, Bu. Jadi merepotkan."
"Nggak merepotkan kok. Silahkan diminum bu guru."
"Iya, Bu. terimakasih." Bu Min meminum wedang jahe hangat yang disajikan Bu Nita. Aku dan Randi juga sama sama menikmati minuman kami.
Saat kami masih menikmati kue yang disajikan ibu, sayup-sayup terdengar suara HPku berdering.
"Sebentar ya, Bu." Aku pamit sebentar pada Bu Min, mengambil HPku di kamar.
Ada panggilan masuk dari Pak Samsudin. Aku segera mengangkat telepon.
"Assalamu'alaikum. Ya, Pa? Sehat alhamdulillah."
"Kenapa, Pa? Waduh! Lalu? Oh iya, iya. Iya, Pak. Wa'alaikum Salam."
Randi penasaran, dia tak menunda untuk bertanya,
"Ada apa, Wil? Siapa yang menelepon?"
"Pak Samsudin."
"Terus?"
"Ngasih kabar, Pak Preman datang. Nengok Mimbo."
"Apa? Pak Preman? Datang ke rumah kita di garut? Nengok atau mau nyulik?" Bu Min bingung melihat ekspresi Randi, beliau jadi ikut-ikutan bertanya,
"Pak Preman? Di Garut ada preman mau nyulik? nyulik siapa? Kamu? Kan kamunya ada di sini." Giliran aku yang bingung sekarang. Kepala sampai kugaruk-garuk, padahal tidak gatal.
"Tenang, tenaang. Sebentar Wil jelaskan." Aku tarik nafas sebentar. Dua orang di hadapanku sudah serius, siap mendengarkan penjelasanku.
"Bu, ini Wil jelaskan tanpa ada maksud apapun ya, Bu. Jangan dikira Wil sombong atau kesan negatif lainnya." Bu Min hanya diam.
"Kamu kalau sombong juga pantas kok, Wil. Wajar aja, kamu kan orang ka..." Aku memelototi Randi, dia kalau ngomong suka keterusan. Untung kali ini remnya sedang pakem. Randi tidak meneruskan kalimatnya.
"Jadi begini, Bu... Mmm... Duh, Ran, Aku kok jadi bingung harus mulai cerita dari mana ya."
"Kamu tuh kebanyakan mikir. Tinggal bilang aja, Bu, Aku di Garut punya 20 anak asuh. mereka aku sebut anak-anak matahari. Mimbo salah satunya, Mimbo itu anaknya Pak Preman di Bandung. Gitu aja kok repot." Kembali kepala kugaruk-garuk meski tanpa rasa gatal.
Ada binar cahaya dalam tatap mata Bu Min. Beberapa saat, beliau terus menatapku tanpa kedip dan tanpa suara.
"Wedang jahenya diminum lagi, Bu." Tawaran Randi membuat Bu Min tersadar dari ekspresi berlebihnya.
"Pak Preman ngapain juga sih, Wil. Pake nengok-nengok Mimbo segala. Aku jadi khawatir Pak Preman berubah pikiran lagi."
"Mungkin kangen kali. Mimbo kan memang anaknya."
"Alah, kangen dari mana, orang selama ini Mimbo cuma dimanfaatkan aja."
"Yaaa, nggak tau juga sih. Kata Pak Samsudin, Pak Preman cuma sebentar aja kok nengok Mimbonya."
"Beneran nggak niat nyulik?"
"Ya enggak lah, Ran. Kamu ini ya, pendendam sekali. Itu sifat jelek tau." Mata Randi mendelik.
"kamu hebat sekali, Wil. Ibu sampai tak tau lagi harus bicara apa."
"Nggak hebat kok, Bu. Hanya kebetulan aja. Alhamdulillah. Do'ain kami ya, Bu." Bu Min mengusap bahuku,
"Pasti. Ibu do'akan kalian berdua. Semoga selalu diberi kemudahan dalam segala sesuatunya." Aku dan Randi mengaminkan do'a Bu Min.
Bu Min pamit pulang dan menyalami semua yang masih kumpul di teras depan. Bapak Nana ikut-ikutan mendekati Bu Min, dengan setengah berlari, dan berjingkrak-jingkrak. Bapak kemudian mengulurkan tangannya, hendak cium tangan. Tangan Bu Min masih belum menerima uluran tangan Bapak Nana. Tangan Bu Min masih diam tak bergerak. Wajah Bu Min kembali tegang.
__________
Masih bersambung ya. Terimakasih.
Simak juga yuk. Novel karya teman sesama Author:
Blurb :
Eldren dan Aldrich adalah saudara kandung yang dibuang oleh keluarganya di suatu tempat.
Kemudian mereka ditemukan oleh sepasang suami istri yang rela menolong nya lalu menjadikan mereka sebagai anak adopsi yang sah.
Al dan El memiliki kisah cinta yang sangat berbeda, walaupun sikap Al terbilang lebih dingin.
Tetapi mereka tetap saling menyayangin satu sama lain, meskipun caranya memang terlihat sangat unik.
Bagaimana kehidupan El dan Al selanjutnya ?
Apakah mereka bisa menemukan cintanya dengan benar ? ataukah mereka salah orang.
Lalu balas budi apa yang mereka berikan pada keluarga adopsinya ?
Akankah El dan Al adalah tipe pria seperti kacang yang lupa pada kulitnya.
Mari kita simak cerita selengkapnya di bab berikutnya.