
Kondisi istana kini menjadi lebih tenang. Hidup dengan emas melimpah ruah di setiap sudut ruangnya sebagai nyawa. Tanpa semua itu, gedung raksasa ini tak mungkin berdiri. Dua anak raja yang sebegitu akurnya dalam satu kamar, tidak biasanya mereka begitu. Terkadang Dennis sang kakak merasa sebal kalau Rosalina terus membuntutinya kemana pun ia pergi.
Melihat kain kasa mengikat lengan Rosalina, telah mengubah sifat dan pola pikir Dennis secara tiba-tiba. Ia menjadi merasa iba atas apa yang dialami adik perempuannya.
"Sebenarnya siapa, sih, yang berani melukaimu?"
"Aku tidak kenal siapa dia," jawab Rosa sambil memainkan mainannya di atas tempat tidur yang dinaungi kelambu.
"Tapi, kau pasti ingat seperti apa orangnya."
"Memang Kakak mau apakan anak itu?"
Dennis berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Rosalina sekenanya.
"Membalasnya. Hahahaha..."
"Jangan," tukas Rosalina yang tatapannya beralih kepada anak laki-laki di sampingnya.
Tanpa perlu Dennis bertanya 'mengapa', Rosa cukup paham dengan melihat ekspresi yang ditujukan kakaknya.
"Kalau Kakak membalas anak itu, ayah akan marah besar."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kakak akan dibuang ke sungai, tenggelam, dan tidak akan kembali. Kakak bisa dimakan ular."
"Kalau begitu aku akan pergi."
"Kemana?" tanya Rosa dengan suara melengkik."
"Membalasnya."
"Mustahil."
"Mustahil apanya?" Rosa kesal, karena ia seolah tengah dipermainkan oleh Dennis dengan pertanyaan bertubi-tubi yang sebenarnya retoris.
"Kakakkk!!!" teriak Rosalina sekencang-kencangnya. Bahkan seorang prajurit yang berjaga di pintu kamarnya sampai terpaksa masuk ke dalam. Sedangkan, Dennis langsung membekap mulut gadis pirang tersebut menggunakan kedua telapak tangan kecilnya.
"Ada apa Tuan? Em.. Nona?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Dennis cepat.
"B-baik, Tuan."
Pria berpakaian besi itu bergegas keluar dari kamar Rosa. Setelah tinggal mereka berdua saja, Dennis melepaskan tangannya bertepatan saat Rosa menjilat kulitnya.
"Ew... Rosa! Menjijikan." Dia mengelap seluruh bagian tangan dengan sapu tangan yang tergeletak di atas nakas.
"Itu milikku!" seru Rosa yang menyadari bahwa benda miliknya direbut oleh kakaknya. Bocah 14 tahun itu menghindar dari perlawanan yang mungkin akan dilakukan sang adik.
"Whoaaa..."
Bruk...!
Rosalina mengerang kesakitan kala tangannya menopang tubuh yang hampir membentur lantai. Akibatnya, rasa ngilu lagi-lagi menjalar ke seluruh lengan. Dengan tanggap, Dennis membantu gadis kecil itu kembali ke atas kasur. Dari luar kamar pun seorang penjaga masuk untuk kedua kalinya dengan tidak sopan. Dennis menoleh usai berhasil menaikkan tubuh Rosa.
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Aku yang bertugas menjaga Rosa kali ini. Tidakkah kau mengerti?"
Prajurit itu mengangguk dan berbalik keluar ruangan.
"Kakak baru saja mengatakannya."
"Apa?"
"Kakak bertugas menjagaku, tapi aku saja terjatuh dari tempat tidur."
"Itu 'kan ulahmu sendiri."
"Sst... Rosa. Sst... Pria itu akan kembali lagi kalau kau berteriak."
"Memangnya kenapa?"
"Lebih baik kau tidur saja."
"Aku tidak mengantuk."
Dennis menghela nafas. Ia mengambil bangku dan mendudukinya. Satu tangannya berupaya meraih lengan Rosa, tetapi ditolak. Rosa justru beringsut dari sisi kanan ranjang dimana Dennis berada.
"Aku minta maaf," ucap Dennis menyesal.
"Kakak galak."
"Galak seperti apa?" tanya bocah itu sambil mengulir kain sprei dengan telunjuknya.
"Entah." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rosa. Bukannya melanjutkan percakapan, ia malah menarik selimut tebalnya dan memiringkan tubuh ke sisi lain agar Dennis tidak bisa melihat wajahnya lagi. Karena merasa terkucilkan, anak laki-laki itu beranjak dan keluar dari kamar adiknya dengan menutup pintu secara perlahan. Tanpa sadar, penjaga pintu kamar sang putri sibuk memperhatikannya.
"Apa lihat-lihat?!"
Pria tersebut menggeleng takut sampai helm besinya berdentang. Dennis bergegas melangkahinya menuju ruangan lain sambil melempar tatapan heran. Meski hanya berasal dari sepasang mata milik bocah berusia 13 tahun, tetapi prajurit yang berjaga di seluruh penjuru kastil selalu bergidik ngeri. Khawatir kalau Dennis mengadu sesuatu kepada sang raja.
***
"Kau menceritakan soal Jean kepada Vasco?" Bill berhasil membuyarkan lamunan Bellena. "Mungkin itu sebabnya."
Wanita itu menarik nafas dalam, lalu berkata, "Aku selalu mengatakan pada Vasco agar tidak membawa senjata tajam apa pun bentuknya. Aku sudah menduganya. Entah sengaja atau tidak sengaja itu sama saja. Untunglah kemarin aku masih menyimpan cukup uang. Jujur saja, aku masih merasa trauma dengan tragedi kematian Cornelis I."
Pada frasa "cukup uang", Bill menanggapi dengan ekspresi tanda tanya awalnya. Tetapi kemudian, dia merespon dua kata tersebut yang menurutnya agak mengherankan. "Kau bilang apa?" Bellena menoleh. "Cukup uang?"
"Ya. Tak ada jalan lain selain menyuap raja."
"Aku tahu. Jadi, kau-"
"Aku tidak masalah kalau harus kelaparan, asalkan Vasco kembali. Aku tahu dia tidak salah apa-apa. Dari raut polosnya. Maksudku, terlampau polos. Sudah barang tentu dia mengatakan sejujurnya. Malam ketika aku terpaksa memarahinya, Vasco mengakui kesalahannya. Tapi, itu bukan karena sengaja."
Bill mengangguk mengerti.
***
Dari saku seorang saudagar pembeli ikan-ikan segar dari kapal milik Bill, keluar beberapa kantong yang gemerincing isinya. Ia membagikan uang tersebut kepada Bill dan Bellena. Setelah itu, mereka melenggang pergi sambil Bellena membawa kotak berisi ikan jatahnya untuk dijual.
"Memangnya tidak apa-apa kalau aku berhutang ikan padamu?" tanya Bellena.
"Bawa saja dulu sebagai modal berdagang. Kalau kau sudah memperoleh untung, hendaklah membayar hutangmu."
"Baiklah," balasnya. "Terima kasih, Bill."
Pria tersebut menunjukkan ibu jarinya dan berpencar dengan Bellena yang akan menuju ke desa. Dia tidak tahu mengapa kotak yang dibawanya terasa sangat berat. Mungkin karena belum terbiasa? Untung saja Bellena mendapat tumpangan kereta kuda, karena jarak dari pesisir ke desa cukup memakan waktu dan menguras keringat kalau saja harus berjalan kaki.
"Boleh aku menumpang?"
"Tentu, Nyonya," jawab seorang kakek pemilik gerobak yang bak belakangnya berisi kotak ikan yang sama dengan milik Bellena. Hanya tulisan di masing-masing kotak kayu itu yang menunjukkan kepemilikan.
Setelah Bellena mengatur tempat duduk ternyamannya, sosok pria bertubuh besar yang baru turun dari kapal membawa sebuah kotak kayu serupa. Ia menatap datar wanita itu. Janggutnya lebih tebal dibanding Bill, tetapi tubuhnya berotot laiknya binaragawan.
Usai meletakkan benda tersebut, pria tadi sedikit melirik dengan sengit. Sehingga, Bellena bergidik ngeri melihatnya. Meski telah berusaha mengalihkan pandangan, tetapi matanya terkunci dan memaksa untuk terus mengamati pria itu sampai ia memunggunginya, lalu menghilang di tengah kerumunan.
Kereta mulai bergerak, rodanya berderik, dan berkerosak ketika daun pohon kelapa kering tertindas olehnya. Sang kusir melecutkan tali kekang ke tubuh si kuda cokelat sampai hewan itu menuruti perintahnya.
Gerakan kendaraan yang ditumpanginya membuat rasa kantuk seketika menerjang. Apalagi, bak pengangkut barang itu tidak disertai atap. Sehingga, angin dengan mudah menerpa. Terlebih aroma samudera yang masih tercium kendati kereta mereka sudah menjauh. Bau amis pada kotak-kotak ikan pun terkalahkan oleh kenyamanan yang dirasakan Bellena. Perlahan tapi pasti ia mulai memicingkan matanya sampai yang dilihat hanya gelap dan hampa.
Satu kata yang bisa disimpulkan oleh Bellena hari ini adalah cukup. Berharap semua yang dia dapatkan baik pengalaman baru maupun uang, bisa mencukupi segenap kebutuhan yang selalu membuatnya pening setiap waktu.
***