KK

KK
4



Tiada gemerincing suara logam, tiada dua piring yang tersaji di meja, tiada kantong ikan yang selalu dibawa pulang. Vasco belum juga kembali. Bellena cemas bukan kepalang.


Berulang kali ia mengintip keluar melalui jendela rumah, tetapi tidak ditemukan satu orang pun melintas di jalanan desa. Sejurus kemudian, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Tanpa perlu menduga, dia langsung mempersilakan. Sayangnya, yang datang bukan yang dinantikan. Melainkan, empat orang prajurit pembawa kabar dari istana kerajaan.


Pikirannya seketika kacau. Bellena terpaksa mengosongkan seluruh kotak dari sekian jumlah harta yang dimilikinya. Tujuannya tidak lain untuk membebaskan Vasco dari hukuman penjara.


"Hanya 400 stone dan 2 kalung emas?" tanya Carruso setelah Ned si bendahara memberitahu jumlahnya.


Bellena mengangguk ragu. Ia takut apabila jumlah itu tak cukup untuk membeli hak kembali.


"Bagaimana kalau ditambah satu karung ikan?" tawar pria tersebut.


"Kami hanya punya 2 karung untuk dijual, Yang Mulia."


"Baiklah, jika itu keputusanmu, Nyonya Bellena. Sebenarnya tinggal kau pilih saja. Pertahankan daganganmu dan pulang untuk tinggal sendiri, atau bocah pemberani itu akan kembali dengan merelakan satu karung daganganmu?"


Tentu bukan hal baru Bellena menghadapi pilihan yang keduanya sama-sama diharapkan. Lucunya, pilihan itu seakan selalu hadir dalam hidupnya. Sehingga, Bellena mesti terdiam cukup lama untuk mengambil keputusan.


"Saya ingin Vasco kembali."


Mendengar jawaban itu, Carruso tersenyum senang. Lagi pula tidak ada gunanya menyimpan anak itu sekalipun menunggu sampai dia menjamur dalam jeruji.


"Ambil karung ikan itu kemari!" titah sang raja kepada para prajuritnya.


***


Di belakang Bellena, anak laki-laki itu terus mengejarnya. Berupaya menyejajarkan langkah kecilnya dengan wanita di depannya. Sesekali, ia merengek dan memanggil-manggil sang ibu. Namun, tak ada respon sama sekali.


Purnama saja enggan terus-menerus menerangi si kapten kecil berjalan yang tanpa sengaja telah meremukkan hati ibunda. Sinar terangnya kini memilih bersembunyi di balik pekatnya gumpalan mega pada malam itu. Sedangkan, lentera tak mampu menggantikan cahaya rembulan seutuhnya. Terkadang beberapa padam akibat bahan bakar yang sudah habis ditelan api.


"Masuk!" perintah Bellena, lalu menutup pintu dengan sedikit jengkel. "Duduk!" Sementara itu, dirinya sendiri masih berdiri sambil berkacak pinggang. Vasco yang merasa sedang dihakimi akhirnya tertunduk pasrah.


"Sudah berulang kali ibu katakan agar kau tidak membawa pisau keluar rumah. Kau tak behitu memerlukannya. Lihat, Vasco!" Bellena mengarahkan telunjuknya ke sisa karung dagangan yang teronggok di lantai.


"Kita hanya punya itu dan rumah ini. Kalau sampai besok penghasilannya tidak mencukupi, terpaksa kita menahan lapar selama beberapa hari. Itulah dampaknya, Vasco. Dampak dari kita menentang kebijakan raja yang jelas-jelas manusia itu sudah gila harta. Kau harus tahu itu. Janganlah menjadi bodoh akibat bertarung dengan orang yang tidak punya hati. Hanya buang-buang waktu."


Tinggalah bocah laki-laki itu termenung sendiri. Memandang kakinya yang belum lagi memiliki alas kaki. Untuk makan saja masih sulit. Rasanya macam mimpi yang begitu menyiksa.


***


Sama halnya dengan malam hari, pagi pun tak secerah kala sinar matahari berdenyar di ufuk timur. Tetapi, binatang ternak yang membangunkannya dengan saling bersahutan. Vasco mengambil posisi duduk setelah matanya benar-benar terbuka lebar. Meski suasana desa sudah ramai, tetapi berbeda dengan rumahnya yang penuh keheningan.


"Ibu?"


Tak ada jawaban. Vasco beranjak dan menggeledah seluruh bagian rumah. Dari kamar ke kamar, dapur ke toilet, dan halaman belakang. Alhasil tak ada siapa pun, kecuali pintu yang terkunci dari luar. Anak itu berlari mengecek pintu lain yang berada di depan. Jawabannya tetap sama jika ia bertanya. Pintunya tak bisa dibuka.


Mungkinkah wanita yang amat disayanginya pergi begitu saja tanpa salam? Apakah ini balasan untuknya? Semalam Bellena yang cemas mencari Vasco dan sekarang justru sebaliknya.


Dari atas loteng, Vasco mendapati bau amis dan busuk bercampur aduk. Tenda-tenda kumuh di depan rumah-rumah penduduk mulai dipadati lautan manusia, baik dari negeri Marinaisse sendiri maupun para pedagang asing yang sengaja singgah di sini.


Terlepas dari semua itu, Vasco akan menerima kenyataannya. Apa pun bentuknya. Barangkali Bellena pergi sebab kecewa memiliki anak nakal seperti Vasco.


***


Bruk!


Wanita yang kini berkemeja dan memakai celana longgar meletakkan kotak berisi perlengkapan yang biasanya digunakan saat melaut. Tentu saja, Bill terperanjat bukan main melihat Bellena yang tiba-tiba menghadangnya ketika hendak naik ke kapal.


"Aku ikut denganmu."


Bill mengangkat satu alisnya dan terbahak tepat di depan wajah Bellena.


"Ikut denganku?" ulang Bill tak percaya.


"Y-ya," jawabnya sedikit tidak yakin. "Vasco sedang kularang keluar rumah."


"Maksudmu kau mengurungnya?"


"Tepat. Sekarang cepat bawa barang ini ke atas."


Ketika Bellena sudah berada di geladak, pria berjanggut itu bertanya, "Lalu apa gunanya kau ikut melaut bersamaku?"


"Menangkap ikan. Apalagi?"


"Wanita tahu apa?"


"Hei hei heiii..." Bellena melangkah maju sampai di titik semula ia menghadang Bill. "Kau kira wanita tidak bisa melakukan pekerjaan pria? Iya?"


"Ahahaha... bukan seperti itu. Hanya saja kau setiap hari berhadapan dengan pembeli dan sekarang-"


"Cepat, Bill! Kita akan keduluan kapal lain," tukas Bellena kembali ke dalam kapal sebelum kemudian menjauh dari pelabuhan.


Ini merupakan kali pertama bagi Bellena berlayar. Dia tak pernah meninggalkan desa sekalipun hanya untuk mencari angin. Tanggung jawabnya belum sepenuhnya tertangani kalau mata masih terbuka. Namun, untuk ini ia pergi menggantikan peran Vasco. Sebagai sosok ibu yang tak mau buah hatinya terjebak dalam perangkap lagi, maka dia mengurungnya.


Tak hanya Bellena yang melakukan hal itu kepada anaknya. Hampir semua orang tua di Marinaisse menghukum anak dengan cara tersebut. Meski kadangkala, yang dihukum merasa amat tertekan. Cara yang kuno memang. Bagaimana tidak? Mereka hidup sebelum perang-perang besar terjadi di bumi, seperti Perang Dunia I.


Dari ruang kendali, Bill mengamati Bellena yang melamun di tepian kapal. Biasanya orang yang baru pernah menaiki kendaraan laut akan merasa pusing, jika matanya beradu dengan permukaan air yang seakan berjalan. Tetapi lain halnya dengan Bellena. Kedua netranya tidak benar-benar melihat air, melainkan melihat pikirannya sendiri.


Pemandangan ini sama dengan apa yang dilihat Bill di hari sebelumnya. Dimana Vasco berdiri di tepian kapal sambil menunduk.


Setelah mengarahkan kapalnya ke titik dimana mereka akan berburu ikan, Bill turun dari ruang kendalinya. Ia membuang sauh ke laut dan bersiap menebarkan jaring sebagai perangkap.


Wanita itu tidak sungguh-sungguh menggantikan peran Vasco. Sampai Bill selesai, kaki Bellena masih kuat menopang tubuhnya di titik yang sama. Dia tidak melakukan apa yang seharusnya menjadi tugas. Kewajiban Bill memerintah Bellena akhirnya terhambat juga, karena pria tersebut tidak tega dengan adanya kondisi saat ini. Walau kabar tak sampai terdengar ke seluruh telinga penduduk desa, tetapi Bill mengetahui bahwa semalam Vasco dijatuhi hukuman penjara oleh pihak bangsawan.


***