
Kami kembali ke Puskesmas, membawa obat untuk Bapak Nana.
"Ini, Nek. obatnya." Nenek mengambil air minum untuk Bapak Nana. Aku menyiapkan obat sesuai dosis yang disarankan. Ini sudah jam lima sore, ada obat yang harus diminum Bapak Nana sore ini.
"Bapak Nananya sudah makan, Nek?" Aku bertanya pada nenek dengan dilengkapi peragaan menggunakan tangan. Kali ini tidak ada penerjemah, agak susah juga berkomunikasi dengan nenek.
"Atos tadi." (Pen:Sudah tadi) Nenek menunjuk piring berisi bubur. Isinya tinggal bubur setengah piring. Aku mengerti bahwa Bapak Nana sudah makan. Berarti Bapak Nana sudah boleh minum obat.
Tiba-tiba Bapak Nana menangis, dadanya sampai naik turun, sedih sekali kelihatannya. Nenek mengusap-usap tangan Bapak Nana.
"Geus tong inget wae ka si eneng. Ikhlaskeun." (Pen: Sudah, jangan ingat terus ke si eneng, Ikhlaskan.) Nenek menunjukkan obat padaku, lewat peragaan nenek bilang bahwa obat membuat Bapak Nana sedih, ingat pada Ibu Minah.
"Ayo, Pak. Diminum obatnya ya. Supaya cepat sembuh. Nanti kalau sudah sehat kita main pesawat kotak lagi." Aku memegang kotak tusuk gigiku. Lalu memainkan pesawat kotak dengan menirukan tangan Bapak Nana bila sedang memainkan pesawat kotak. Tangan meliuk ke kiri, Meliuk ka kanan. Melesat ke atas, menukik ke bawah. Seolah sebuah pesawat sedang beratraksi di udara. Bapak Nana antusias. Air matanya diusap. Matanya kembali berbinar. Kepalanya ikut bergerak ke kiri ke kanan sesuai arah pesawat yang kumainkan. Nenek memegang tangan Bapak Nana, memberikan gelas berisi air putih. Lalu memasukkan obat tablet ke dalam mulut Bapak nana. Nenek menyuruh Bapak Nana minum. Bapak Nana menurut. Obat berhasil diminum. Randi tersenyum melihat keberhasilan aku merayu Bapak Nana untuk minum obat. Dia mengacungkan jempol.
"Sekarang Nenek makan dulu. Ini Wil sudah belikan nenek makanan. Ayo, Ran. Temani Nenek makan. Nanti aku belakangan, gantian." Randi memapah nenek, mengajaknya makan, di lantai di ruangan rawat inap Bapak Nana.
"Ran, sekalian kabari Pak Samsudin ya." Randi kembali mengacungkan jempol.
Bapak Nana sudah tenang kembali, walaupun tidak tidur tapi Bapak diam. Bapak hanya memegang kotak tusuk gigiku.Membolak-balik, seolah sedang memeriksa sesuatu. Aku duduk di samping tempat tidur Bapak. Sekedar menemani. Meski aku tak yakin Bapak Nana tahu aku temani. Karena yang kulihat, Bapak asyik dengan dirinya sendiri. Kotak tusuk gigi itulah yang sepertinya dianggap sebagai teman penghibur.
"Ayo, Wil. Bagian kamu yang makan. Biar aku yang duduk di sini." Randi menawarkan.
"Gimana jawaban Pak Samsudin?"
"Kata Pak Samsudin, Nanti setelah magrib, Pak Samsudin dan Mang Jana ke sini, ingin nengok katanya."
Aku duduk di lantai, menyandar ke tembok, membuka nasi bungkus makananku. Aku makan sambil membuka HP. Aku ingin berkonsultasi pada ibunya Randi.
"Assalamu'alaikum, Ibu. Apa kabar? Mohon do'anya, aku dan Randi sedang di ruang rawat inap." Masih cheklis satu. Aku membiarkan WA-ku tetap terbuka. Aku meneruskan makanku sambil menunggu jawaban ibu.
Tak lama kemudian, ibu membalas chatku.
"Sehat, Nak. Itu siapa yang di rawat?"
"Bapak, Bu. Orang gila yang sering diam di saung di rumah garut, ternyata ada hubungannya dengan kotak tusuk gigi Ibu Aisyah." Ibu Nita sudah tahu sedikit cerita tentang orang gila yang sering masuk gerbang. Randi pernah menceritakan lewat telepon.
"Apa? Kotak tusuk gigi yang di amplop besar itu?"
"Iya, Bu."
"Lalu, siapa dia? Orang gila itu siapa?"
"Astagfirullah...Wil. Jadi bapakmu orang gila itu?" Aku bisa merasakan betapa kagetnya Ibu Nita.
"Bukan, Bu. Ternyata Bapak gila bukan bapak kandung Wil. Bapak gila hanya orang yang meletakkan bayi di saung. Bapak kandung Wil sampai saat ini belum tau siapa dan dimana."
"Aduh, Wil. Ibu perlu cerita lengkapnya deh. Ibu telepon kamu aja ya."
"Iya, Bu. Tapi sebentar Wil ke luar ruangan dulu ya, Bu."
"Oke."
Aku pamit sebentar pada Randi dan Nenek. Ijin mau mencari tempat di luar yang memungkinkan untuk menelepon ibu.
Di area parkir di luar gedung puskesmas adalah tempat paling aman untuk menelepon Ibu Nita. Aku ceritakan semuanya pada ibu. Tentang Ibu kandungku yang bernama Ibu Minah, Tentang kotak tusuk gigi yang ada dua huruf tulisan tangan Ibu Minah. Tentang kakakku yang kata nenek dititip di panti asuhan. Tentang semuanya. Semua informasi yang belum aku sampaikan pada Ibu Nita.
Adzan magrib berkumandang ketika aku selesai menelepon. Aku langsung menuju mushola yang ada di puskesmas ini, ikut sholat magrib berjamaah. Selesai sholat aku ke ruangan Bapak Nana lagi. Menggantikan Randi dan nenek menjaga Bapak Nana. Randi dan Nenek sholat magrib.
Randi dan Nenek kembali ke ruangan, bersamaan dengan Pak Samsudin, Mang Jana dan Opik. Rasanya jadi ingin ketawa melihat Mang Jana membawa kasur lantai.
"Mang, untuk apa bawa-bawa kasur lantai segala?" Tawa kutahan. Randi ikut menahan tawa juga.
"Mak Asih yang menyuruh. Mak khawatir Bos masuk angin kalau tidur langsung di lantai." Mak Asih memang betul-betul sayang ke aku dan Randi. Tak tanggung-tanggung sayangnya. Kasur lantai yang di bawa yang ukuran agak besar, cukup untuk dua orang, bahkan tiga orang. Kasihan juga Mang Jana bawanya, Berat sih enggak, cuma ribet, karena ukurannya yang lumayan besar.
"Simpan dimana, Bos?"
"Di sini aja ga apa-apa, Mang. Nanti gampang di atur-atur lagi." Aku sendiri agak bingung kalau harus menggelar kasur segala. Tempat Bapak Nana di rawat ini bukan ruang PIV. Tapi ruang yang sekamarnya bergabung dengan pasien lain. Jadi kalau harus menggelar kasur, entah harus dimana.
Selain kasur, Mak juga mengirim makanan yang tidak sedikit. Mak juga memerintahkan Pak Samsudin atau Mang Jana untuk ikut menginap. Hehe seperti berkemping saja, harus rame-rame. Opik juga ribut ingin ikut menginap. Tentu saja aku melarang semuanya. Pak Samsudin, Mang Jana dan Opik tetap akan kuminta pulang.
"Opik, sini. Tolong bantu kakak. Terjemahkan lagi dialog kakak dengan nenek ya."
Opik mendekati aku dan nenek, siap membantu menerjemahkan. Sengaja aku mengobrol dengan neneknya berbisik-bisik.
"Nek, Wil akan menyempatkan datang ke panti asuhan untuk mencari Kakak Wil. Apa ciri-ciri Kakak Wil, Nek?" Nenek terdiam sesaat.
"Nenek sengaja menyertakan kotak tusuk gigi yang sama seperti yang Ucu punya. Seperti pesawat kotak anak nenek." Jadi hanya itu. Ciri seseorang itu kakakku, dia punya kotak tusuk gigi seperti yang aku punya.
"Nenek pesan pada pengasuh panti, untuk selalu menyertakan kotak tusuk gigi itu kemanapun Kakak Ucu pergi."
"Dan Nenek sudah merelakan, bila besok lusa Kakak Ucu ada yang mau mengangkat anak, silahkan aja. Tak perlu lagi meminta ijin Nenek. Nenek mau khusus mengasuh Si Ujang aja." Itu keterangan nenek. Aku jadi ingat cerita di film, anak panti banyak yang suka di adopsi oleh keluarga yang kebetulan tidak dikaruniai anak. Entahlah, saat aku ke panti nanti, Kakakku masih ada di sana atau tidak.