
Senang sekali melihat Opik lari kesana kemari dengan begitu gembira. Kami turun, abang warung memyempatkan mendekati kami.
"Wah... Mobilnya keren banget. Punya siapa ini?" Abang warung mengusap-usap si Putih sambil melihat-lihat ke dalam mobil.
"Punya Wildan, Bang. Sekarang Wildan jadi Bos. Bos Acep namanya."
"Wow. Bos? Dalam hitungan hari langsung jadi bos? beruntung sekali kamu, Nak. Hebat."
Aku menanggapi pujian abang dengan senyum. Tanpa perlu dikomando, aku, Randi masuk ke warung abang. Mang Jana mengikuti kami.
"Ayo, Mang, kita makan saja dulu. Di sini makanannya enak-enak, Mang." Abang warung terlihat senang dipuji begitu.
"Ayo, Opik. Ambilkan piring buat tamu besar kita."
"Siap, Bang." Opik setengah berlari menuju tempat piring. Opik membawa empat buah piring.
"Ko piringnya empat? Yang datang kan cuma bertiga."
"Kakak ini ya, Opik juga kan pengen makan bareng kakak." Opik sedikit cemberut, semua jadi tertawa melihat Opik cemberut.
"Iya, ayo kita makan sama-sama. Tapi ga usah disuapi ya, kakak juga lapar soalnya, ingin makan." Kami makan bersama. Dengan menu pilihan kami masing-masing. Abang warung kembali sibuk melayani tamunya.
Selesai makan, kami masih duduk mengelilingi satu meja. Abang warung kulihat tinggal melayani satu orang lagi.
"Nah, Opik. Sesuai janji kakak. Hari ini kakak menengok Opik lagi." Opik mendengarkan. Kalau sudah serius begitu, Opik kelihatan seperti sudah besar.
"Iya, Kakak. Opik senang Kakak datang."
"Sekarang, Kakak mau bilang sesuatu. Kakak yakin Opik pasti senang dengarnya."
"Apa itu, Kak?" Opik tampak antusias.
"Sekarang, Kakak ga akan tinggalin Opik lagi. Opik akan Kakak ajak ke rumah Kakak. Opik mau kan tinggal di rumah kakak?" Opik mengangguk pasti. Wajahnya cerah. Bibirnya senyum.
"Mau, Kak. Opik mau ikut Kakak." Dengan begitu semangatnya Opik menyatakan mau ikut aku.
"Tapi, Kak..." Ucapan Opik terhenti. Dia menunduk. Kelihatan bingung.
"Kenapa? Ko ada tapinya? Opik ga suka sama Kakak ya?" Aku jadi sedikit khawatir dengan keraguan Opik.
"Iya, Ko pakai tapi segala?" Randi ikut-ikutan menginterogasi. Mang Jana hanya diam menyimak. Mang Jana belum tahu apa-apa. Bahkan Opik itu siapa, Mang Jana juga belum tahu.
"Bukan ga suka Kakak. Opik sayang ke Kakak semua, tapi..."
"Tuh kan, tapi lagi? Ayo dong yang jelas. Tapi kenapa?" Abang warung mendekat, ikut bergabung bersama kami.
"Loh. Kenapa?" Randi kelihatan geram.
"Biasa, merasa dirugikan. Dia minta jatah." Abang warung menambahkan. Aku dan Randi masih belum mengerti.
"Gini. Sebelum Opik tinggal di sini, Opik kan tinggal di terminal. Preman itu seolah-olah menjadi pelindung Opik dan anak-anak jalanan yang lain. Terus Opik dan anak-anak lain kan bekerja, ada yang jadi pengemis, termasuk Opik. Ada yang mengamen, Ada yang mencari barang rongsokan. Mereka semua setiap hari harus setor ke preman itu. Setornya setengah dari penghasilan yang didapat hari itu." Tangan Randi mengepal. Giginya gemerutuk. Nafasnya naik turun dengan cepat. Aku melihat Opik. Anak sekecil itu sudah dimanfaatkan oleh preman dengan begitu kejam. Dengan susah payah Opik dan kawan-kawan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Preman dengan begitu tega mengambil uang mereka.
"Lalu kenapa preman itu marah-marah ke sini, Bang?"
"Ya kan, Sejak Opik tinggal di sini, Opik tidak mengemis lagi. Jadi jatah yang diterima preman berkurang. Preman marah-marah bukan hanya sama Opik, tapi juga sama abang." O iya iya, aku baru mengerti duduk persoalannya. Randi juga manggut-manggut. Mang Jana pun, terlihat antusias menyimak.
"Yang membuat Opik sedih, preman memaksa Opik untuk kembali tinggal di terminal." Abang melanjutkan.
"Ya ga bisa begitu dong. Opik bebas memilih mau tinggal dimana." Randi protes.
"Harusnya memang begitu. Preman bilang, kalau Opik tetap mau tinggal sama abang, Opik harus membayar ganti rugi."
"Lah. Ko aneh. Ini siapa yang rugi siapa yang harus ganti. Dasar preman." Randi terus-terusan menyela, meluapkan emosinya.
"Kata preman, Uang ganti rugi yang harus Opik bayar, lima ratus ribu."
"Gila! Ini sih pemerasan namanya. Mana bisa Opik menyediakan tebusan lima ratus ribu untuk dirinya." Randi tak bisa lagi duduk. Dia berjalan mondar-mandir. Aku berpikir sesaat. Betul-betul tebusan yang mahal, terlalu susah didapat, apalagi untuk anak sekecil Opik, yang sebelumnya hanya mengandalkan mengemis sebagai sumber penghasilannya. Aku jadi ingat rencana rahasiaku dengan Pak Samsudin. Bila begini keadaannya, aku harus berjuang keras untuk melaksanakan rencana rahasiaku, agar rencanaku berhasil.
"O jadi Opik tidak bisa begitu saja kami ajak ya, Bang?" Emosi Randi sedikit reda, dia sudah mulai bisa berpikir.
"Jangankan di ajak ke tempat yang jauh, untuk tinggal di warung abang aja susah. Tiap hari preman itu datang kesini minta tebusan." Kami semua geleng-geleng kepala. Kami tak menyangka ada orang yang sejahat itu. Jangankan menolong, ini malah memanfaatkan anak-anak untuk keperluan dirinya.
"Gimana nih, Wil? Randi masih belum menemukan ide untuk dijadikan solusi. Aku juga sama. Pikiran masih blank.
"Kapan anak-anak matahari ada jadwal belajar lagi?" Aku bertanya pada Opik. Dari tadi Opik hanya diam menyimak. Wajahhya kelihatan bingung.
"Sore ini, Kak. Di tempat biasa." Terbersit sebuah ide di kepalaku. Entah dapat diterapkan atau tidak. Yang jelas, aku harus bertemu dulu dengan kakak-kakak pembimbing belajar anak-anak matahari. Semoga sore ini kami bisa berdiskusi.
"Memangnya kenapa, Kak? Kakak mau ikut ngajari baca lagi ya?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan Opik. Terbayang serunya saat ikut mengajar anak-anak matahari waktu itu.
"Mengajar lagi boleh. Tapi kali ini Kakak ingin berdiskusi dengan kakak-kakak pembimbing anak-anak matahari." Opik manggut-manggut, seolah dia mengerti yang aku bicarakan.
Sambil menunggu waktu sore, Opik kuajak berkeliling seputar area Leuwi Panjang naik si Putih. Opik senang sekali. Sepanjang jalan kami ramai bercerita dan tertawa-tawa. Mang Jana ikut bercerita juga, cerita waktu Mang Jana anak-anak dulu. Opik sampai tertawa terpingkal-pingkal menyimak cerita Mang Jana. Kata Mang Jana, dulu Mang Jana jarang pakai baju, karena di kampung mainnya suka jauh masuk-masuk ke kebun dan hutan, sambil mencari rumput untuk makanan kambing. Baju Mang Jana suka diikatkan di pinggang, maksudnya supaya baju tidak cepat kotor karena harus memikul rumput di pundak. Opik bilang, dia dan Mang Jana sama. Sama-sama tak dibaju kalau lagi main. Walaupun alasan Opik tak di baju, karena Opik hanya punya dua baju. Jadi sekedar trik saja biar bajunya agak awet. Kalau sering dipakai takutnya cepat rusak.
"Jadi kita sama ya, Mang." Mereka seolah kompakan. Tos tosan tangan sebentar, lalu tertawa-tawa lagi.
Tak terasa sudah masuk waktu asar. Kami mampir ke mesjid untuk menunaikan sholat asar. Selesai sholat kami menuju warung abang lagi, si putih di parkir di depan warung abang. Sementara Aku, Randi, dan Opik berjalan menuju tempat belajar anak-anak matahari. Mang Jana sengaja aku minta istirahat di mobil, sambil menunggu kami kembali.