
"Ibu, bapak, ade-ade semua mohon maaf Ada masalah sedikit. Mohon sabar menunggu ya, kami akan cek dulu. Menunggunya di bawah juga boleh." Sebagian besar penumpang turun, menunggu di bawah. banyak dari mereka yang berdiri berkelompok, mengobrol sesama penumpang. Ada juga yang bersantai sejenak, duduk di atas rumput sambil merokok. Aku belum turun, tetap duduk di tempatku sambil buka-buka HP. Di sebelahku, Randi mulai membuka matanya.
"Sudah sampai, Wil?" Randi mengucek-ngucek matanya. Dia heran melihat bis sudah kosong.
"Belum. Tuh mereka ada di bawah."
"Lah? Kenapa ini bis? Mogok?" Aku hanya menjawab dengan anggukan, mataku masih fokus pada HP.
"Ibu nge WA nih." Aku menunjukkan chat di Whatsappku. Randi melirik.
"Kayaknya ibu nge WA ke kamu juga deh, kamu sih, tidur mulu." Randi cuma cengengesan, lalu mengecek HPnya.
"Hehe, iya bener. Ibu chat aku." Randi segera membalas chat ibunya.
"Gimana nih Wil, ibu nanya ini." Randi menunjukkan chat ibu. Ibunya Randi menanyakan tentang bekal uang, cukup atau tidak.
"Gimana ya, Kita tidak boleh berbohong Ran, apalagi pada orang tua. Tapi kasihan ibu."
"Iya makanya aku juga bingung."
"Kita bilang saja ya, terus minta maaf, terus bilang juga bahwa bekal yang masih tersisa Insyaa Allah cukup. Gimana setuju, Wil?" Aku berpikir sejenak. Akhirnya kami sepakat, untuk bilang pada ibu, sejujurnya.
Ibu langsung membalas chat Randi.
"Salah satu HP kalian, download aplikasi shopee atau Gojek. Nanti ibu kirim uang lewat shopeePay atau GoPay. Jadi untuk makan kalian bisa lewat Shopeefood atau Gofood belinya, ga usah mengeluarkan uang cash." Ide briliant. Cerdas sekali ibunya Randi ini. Paling tidak, uang kami tidak akan terpakai untuk makan. Sungguh ide yang luar biasa. Kami menyepakati, HP Randi yang digunakan untuk mendownload shopee.
Chat dari ibu masuk lagi,
"Kalau nanti butuh penginapan, tinggal bilang. Nanti ibu yang memesankan lewat aplikasi di HP ibu." Ck ck ck... Betul-betul luar biasa. Ibu yang gaul. Walau sudah punya usia, tapi tetap tidak kalah oleh anak jaman now.
Beres. Masalah uang untuk keperluan operasional selama perjalanan, kami tidak khawatir lagi. Uang cash yang kami pegang bisa untuk ongkos-ongkos selama perjalanan kami. Randi tersenyum bangga.
"Ibu aku gitu loh." Kata Randi sambil menepuk dada. Aku ikut bangga dan bahagia.
"Turun yuk, Wil. Bosan nih." Perbaikan bis masih belum selesai. Kami turun, ikut bergabung dengam kerumunan para penumpang.
"Bade kamana , Acep?" Seseorang menyapa kami. Seorang bapak, tuanya hampir seimbang dengan ayahnya Randi. Aku dan Randi saling memandang. Mau menjawab, takut salah.
"Oh, teu patos ngartos bahasa sunda nya, Mau kemana Acep?" Bapak itu sepertinya mengerti keraguan kami.
"Oh, Iya Pak. Kami mau ke Garut, Pak."
"Sama atuh dengan bapak kalau gitu mah."
"Iya, Pak. Sama."
"Ke Garutnya kemana?" Bapak itu ramah sekali. Dari nada bicaranya kami yakin bapak itu orang baik.
"Ke kota Leuwi G?oong, Pak."
"Euleuh, sama lagi dongnya."
"Leuwi Goong mah bukan kota atuh Acep, Leuwi Goong mah kampung, hehe." Bapak itu pake senyum segala. Kami ikut senyum, lucu juga mendengar dialek bapak ini. Hampir-hampir mirip dialek ibu penjual gado-gado waktu di Bandung.
"Bapak juga sama mau ke Leuwi Goong, mau pulang. Rumah bapak di sana. Ini habis dari Bandung, bisnis. Nanya-nanya penerimaan porang. Sedang murah sekarang teh." Bapak itu menjelaskan panjang lebar. Aku dan Randi hanya nengangguk-angguk saja. Kami tak mengerti apa yang dibicarakan bapak itu.
"Ayo, bapak ibu, semua-semua. Pada naik lagi. Bisnya sudah bisa jalan lagi." Kondektur bis berteriak-teriak memberitahu.
"Alhamdulillah, ayo-ayo." Hampir serempak para penumpang mengucap syukur. Kami semua duduk kembali di posisi semula. Bis kemudian melaju lagi. Kecepatannya agak perlahan, tidak seperti sebelumnya.
Baru saja satu dua menit bis melaju, Randi sudah terlelap kembali. Enak sekali tidurnya.
Bapak yang tadi menyengajakan mendekati tempat duduk kami.
"Acep nanti turunnya bareng bapak saja ya, kita sama-sama ke Leuwi Goongnya."
"Iya, Pa. Siap." Aku menyetujui.
Perjalanan berjalan lancar. Bis tidak mogok lagi. Sebagian penumpang ada yang sudah turun. Sementara Aku, Randi dan sisa penumpang lain turun di Terminal Guntur Garut.
"Acep namanya siapa? Kalau bapak mah Samsudin." Bapak mengenalkan namanya.
"Saya Wildan, Pak. dan itu Randi, saudara saya." Kami ikut mengenalkan nama kami.
"Oh, Ya ya, Wildan, Randi. Nama yang bagus."
"Asli Garut?"
"Bukan, Pa. Cirebon."
Kami sudah menemukan angkutan kota yang harus kami naiki. Kebetulan masih ada formasi untuk duduk. Selang beberapa saat, angkot melaju.
"Wow." Randi terpana melihat pemandangan yang kami lalui.
"Kenapa, Cep, bagus ya?"
"Iya, Pa. Pemandangannya bagus sekali."
Mata kami serasa dimanja dengan pemandangan alam yang begitu indah. Sawah-sawah yang hijau kekuningan, Lengkung gunung dari kejauhan, pohon-pohon di sepanjang jalan. Begitu lengkap membuat suasana damai di hati. Belum lagi kesegaran udara yang membuat pikiran tenang. Andai ini bukan di angkutan kota, Randi pasti sudah terlelap kembali.
"Di sini kayaknya enak makan ya, Pak?" Mulai deh Randi. Dari mata turun ke perut.
"Iya betul, Cep. Enak makan enak tidur." Cocok, jawaban Pak Samsudin membuat perut Randi keroncongan. Aku menahan tawa, tangan Randi mengusap-usap perutnya sendiri.
Perjalanan sebenarnya lumayan agak lama, Tapi tak terasa. Karena sepanjang jalan kami terus saja disajikan dengan keindahan-keindahan alam yang tiada henti. Pak Samsudin kelihatan agak terkantuk-kantuk. Beliau kelelahan rupanya. Aku sendiri masih asyik menikmati sajian luar biasa di depan mataku ini.
"Wil, lihat. Haha." Randi berkomentar ketika melihat sebuah delman. Di jalan ini ada juga delman ternyata.
"Asyik kali ya, kalau kita jalan-jalan di sini pakai delman?" Randi mengandai-andai. Pak Samsudin yang sedang terkantuk-kantuk jadi bangun.
"Acep mau jalan-jalan pakai delman, ayo kalau mau." Baik sekali Pak Samsudin ini. Beliau langsung mendukung hal yang bisa membahagiakan kami.
"Ah, Engga ko Pak. Biasalah Randi senang berandai-andai." Randi senyum-senyum.
"Bapak berhenti di depan, Cep. Acep berhenti di mana?" Sempat kaget juga saat Pak Samsudin pamit akan turun.
"Ini sudah sampai Leuwi Goong, Pak? SMAN Leuwi Goong di mana, Pak?" Aku ingat pesan Pak Muji untuk turun di SMAN Leuwi Goong.
"Kiri, Pak." Pak Samsudin meminta pak supir menghentikan angkot.
"Itu, Cep. SMAN Leuwi Goong barusan kelewat."
"Oh, Iya, Pa."
"Sebentar, pak supir. Kami juga turun." Aku dan Randi ikut turun. Pak Samsudin mendahului membayarkan ongkos naik angkot untuk tiga orang.
"Duh maaf, Pak. Jadi merepotkan. Terimakasih."
"Iya, Ga apa-apa. Mumpung ada kesempatan ketemu."
Pak Samsudin mau menyeberang jalan. Aku dan Randi masih kebingungan, belum tahu mau kemana.
"Acep sebenarnya mau kemana?" Mungkin Pak Samsudin melihat kebingungan kami.
"Kami mencari alamat, Pak."
"Oh, Alamat mana, Alamat siapa?"
Randi segera mengeluarkan lembar KK ketiga, dia menunjukkan KK itu pada Pak Samsudin."
"Loh, ini KK punya Pak Sugianto almarhum. Acep siapanya Pak Sugi?" Pak Samsudin seperti mengenal nama Pak Sugianto.
"Saya Wildan putranya Pak Sugianto, Pak."
"Allahu Akbar, Ya Allah. Putranya Pak Sugi dan Bu Aisyah?"