KK

KK
46. KETULUSAN ABANG



Telepon dengan abang masih terhubung. Aku baru menyadari, pengorbanan abang untuk membebaskan Mimbo begitu luar biasa. Abang harus mengeluarkan uang tiga ratus ribu di awal. Selanjutnya abang harus menyetor dua puluh ribu per hari, sepanjang waktu yang tidak ditentukan. Bisa jadi selama Pak Preman masih menguasai terminal Leuwi Panjang, dan itu entah sampai kapan. Aku kasihan pada abang. Selama ini perjuangan abang begitu berat untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Lalu uang hasil perjuangan itu harus disetor ke Pak Preman dua puluh ribu, tiap hari pula. Kasihan sekali abang.


"Bang, uang yang tiga ratus ribu Wil ganti ya. Juga uang yang untuk setoran, enam ratus ribu berarti sebulan. Wil minta nomor rekening abang, nanti Wil transfer." Aku tidak mungkin membiarkan abang menanggung resiko sendirian.


"Ga usah, Wil. Abang kan juga ingin ikut andil dalam perjuangan Wil. Biar abang juga kebagian pahalanya." Ada rasa haru saat mendengar kalimat-kalimat abang yang begitu tulus. Tapi tetap saja aku tidak tega. Aku tahu persis perjuangan abang tidak mudah untuk mendapatkan uang. Abang harus ke pasar dini hari, lalu sambung menyambung kegiatan memasak dan menyiapkan segala sesuatunya. Sepanjang hari harus siap melayani pembeli. Malamnya kembali siap-siap memotong-motong sayuran untuk di olah menjadi masakan saat dini hari sepulang dari pasar. Begitu dan begitu terus aktifitasnya.


"Bang, gimana kalau begini, kita patungan aja. Setengah-setengah. Biar abang tidak terlalu berat, tapi tetap kebagian pahalanya. Aku juga sama kebagian pahalanya. Kan kata guru agama juga, Allah tidak memandang shodaqoh itu berdasarkan besar kecilnya. Tapi berdasarkan keikhlasan hati kita saat memberinya." Aku mencoba mengajukan usulan.


"O gitu, Wil. Ya sudah. Oke setengah-setengah."


"Kalau begitu, Wil minta no rekening abang ya, nanti Wil transfer." Alhamdulillah, abang menerima usulanku. Aku menutup telepon, lalu kembali bergabung dengan anak-anak.


"Adik-adik, ayo kalian simpan tas masing-masing ke kamar kalian. Nanti Opik tunjukkan kamarnya." Aku menginstruksi.


"Horeee." Anak-anak serempak berteriak. Mereka lalu bergerak ke dalam rumah mengikuti Opik. Bapak-bapak dari Dinas Sosial tersenyum melihat kehebohan mereka.


Setelah sholat dzuhur, Bapak-bapak dan Kakak-kakak pamit pulang.


"Anak-anak, Jaga diri kalian masing-masing ya. Berusahalah untuk selalu berbuat baik. Jangan sampai merepotkan keluarga di sini."


"Iya, Pak. Siaaap." Anak-anak kompak menjawab.


"Kak, nanti aku minta nomer rekening Kak Agung ya. Tiap hari jumat Insyaa Allah aku transfer uang untuk operasional kegiatan sabtu minggu Kakak-kakak semua." Aku berbisik di telinga Kak Agung. Kak Agung mengacungkan jempol.


Setelah tamuku pulang, aku membiarkan anak-anak untuk beristirahat dulu di kamar masing-masing. Kudengar tawa riang di masing-masing kamar. Mereka kebanyakan mengobrol, cerita dengan berbagai topik. Aku dan Randi berusaha menyusun jadwal kegiatan mereka. Diusahakan seimbang antara kegiatan ibadah, belajar, main, bantu-bantu pekerjaan rumah, dan istirahat.


"Eh, Wil. Rasanya kayak punya yayasan ya. Atau sejenis pondok pesantren gitu." Aku cuma tersenyum menanggapi komentar Randi.


"Bisa gak ya, besok lusa kita beneran punya pesantren? Kan hebat tuh, Wil. Betul-betul bermanfaat dunia akhirat. Kita memfasilitasi anak-anak untuk menguasai dan mempraktekkan ilmu agama."


"Insyaa Allah suatu saat, Ran. Semoga terwujud ya. Untuk saat ini sih, kita ajak anak-anak belajar sedikit-sedikit dulu aja." Randi menatapku. Tatap matanya bersinar penuh harapan.


Saat adzan asar berkumandang, aku mengajak anak-anak semua untuk sholat berjamaah. Kami sholat berjamaah di ruang tengah, supaya cukup untuk semuanya. Randi dan Opik membagikan sarung dan sejadah untuk anak laki-laki. Sejadah dan mukena untuk anak perempuan. Mereka semua senang, begitu bersemangat mengambil air wudhu. Randi yang bertugas jadi imam kali ini.


Ternyata, bukan hanya anak-anak yang jadi makmum. Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane juga ikutan. Mereka tidak ingin ketinggalan sholat berjamaah. Dalam sekejap, ruang tengah berubah fungsi menjadi mushola.


Selesai sholat, aku, Randi dan Opik membagi anak-anak masing-masing satu kantong plastik berisi baju koko, kaos, dan lain-lain. Semua begitu bahagia menerima bagian masing-masing. Aku menyuruh mereka mencoba bajunya. Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane membantu mereka mencoba baju masing-masing. Sebagian besar baju bisa dibilang cukup di badan anak-anak. Hanya satu dua anak saja yang bajunya terlihat agak longgar, karena badannya yang memang teramat kurus.


Anak-anak tertib menyimpan barang masing-masing ke lemari plastik yang sudah disediakan di masing-masing kamar mereka. Sengaja lemari plastiknya diberi nama masing-masing anak. Agar masing-masing mudah menyimpan sesuatu, dan dapat bertanggung jawab menjaga kerapihan lemarinya sendiri. Aku dan Randi mencoba mulai menghafal nama anak-anak, agar kami mudah memanggil bila ada keperluan.


"Ran, kamu mandi duluan ya. Aku mau ke Mak dulu. Mau nanya tentang guru ngaji."


"Oke, Wil. Ide yang bagus itu."


Aku ke belakang mencari Mak, menanyakan tentang guru ngaji yang sudah biasa membimbing ngaji yang rumahnya dekat-dekat sini. Mak bilang ada dua ustadz yang suka rajin membimbing anak-anak ngaji di rumahnya. Namanya Pak Ustadz Muslih dan Pak Ustadz Amin.


"Nanti Mak tanya dulu ya, Aden. Mudah-mudahan Pak Ustadznya mau datang ke sini mengajar ngaji anak-anak, sesuai permintan Aden."


"Iya, Mak. Tiga hari aja mintanya ya, Mak. Sore setelah asar sampai magrib. Semoga Pak Ustadznya bersedia."


Aku kembali ke kamarku, mandi dan bersiap membimbing ngaji anak-anak.


Semua anak sudah kumpul di ruang tengah ketika aku bergabung. Aku pernah mengikuti pola pembelajaran yang dilakukan Kak Agung dan kawan-kawan. Hari ini aku juga akan melaksanakan pola yang sama. Anak-anak yang ngajinya sudah sampai buku iqro jilid 3, bertugas jadi tutor sebaya, membimbing anak-anak lain yang ngajinya baru sampai iqro jilid 1 atau 2. Satu orang tutor mengajar 2 atau 3 orang anak. Sebagian anak yang belum mendapat tutor sebaya dibimbing aku dan Randi. Setelah selesai melaksanakan tugas sebagai tutor sebaya, anak-anak tutor belajar iqro jilid 3 dibimbing aku dan Randi. anak-anak lain menghafalkan surat pendek, yaitu Surat An-Nàs dipandu aplikasi Al Quran di HPku.


"Kak, maaf. Aku mau cerita sedikit." Deri, salah seorang tutor sebaya tiba-tiba bicara setelah dia selesai aku bimbing. Usia Deri kira-kira sembilan tahun.


"Iya, Deri. Ada apa?"


"Salah satu anak yang tadi aku bimbing baca iqro 1, ada masalah sedikit."


"Masalah apa maksudnya?"


"Masalah di matanya, Kak. Dian namanya." Aku melirik anak yang namanya Dian, dia sedang fokus menghafalkan surat An-Nàs.


Deri lalu meneruskan penjelasannya,


"Dian tidak terlalu jelas kalau melihat. Itu menurut aku. Tapi dia penghafal yang hebat. Dia selalu memilih dibimbing setelah Tito. nanti saat Dian yang dibimbing, dia akan membacakan yang dibaca Tito. Berulangkali aku jadi tutor, selalu begitu." Aku kagum pada Deri. Dia betul-betul melaksanakan tugasnya sebagai tutor.


"Tadi aku coba menunjuk yang bukan dibaca Tito. Tapi Dian membaca yang dibaca Tito. Itulah makanya aku bilang ada masalah di matanya Dian."


"Oke, Deri. Makasih ya. Nanti Kakak cek lebih lanjut."


'Terimakasih untuk semua pembaca, yang telah hadir hingga hari ini. Semoga sehat selalu ya.'


Ini dia rekomendasi karya hebat kali ini: