KK

KK
59. SEKOLAH UNTUK ADIK-ADIKKU



"Wah, yang sudah ingin sekolah, liat bu guru datang langsung deh ngajak sekolah. Diajak masuk dulu dong ibu gurunya." Opik langsung mengajak teman-temannya menuntun tangan bu guru. Mereka berusaha seramah mungkin melayani bu guru. Maklum, mereka ada maunya, karena mereka pikir sekarang saatnya mereka didaftarkan sekolah.


Aku dan Randi menyalami Pak Ustadz.


"Mohon maaf Pak Ustadz, acara mengajinya jadi terganggu. Gimana, anak-anak pada rajin mengajinya, Pak?"


"Alhamdulillah, Bos. Mereka rajin sekali. Semangat terus mengajinya." Aku bahagia mendengar laporan Pak Ustadz.


"Wil." Bu Min memanggilku.


"Ya, Bu?" Aku mendekati Bu Min.


"Bos? Kamu di sini dipanggilnya Bos?" Bu Min setengah berbisik di telingaku. Randi yang ikut mendengar komentar Bu Min langsung nyeletuk,


"Di sini Wildan memang Bos, Bu. Panggilannya Bos Acep. Wil pemilik rumah, kebun, sawah, pabrik, pokoknya semua kekayaan bapak Sugianto yang buanyak sekali." Bukan hanya Bu Min yang menatapku dengan tatapan kagum dan bangga. Bu Tita, Bu Mel dan Bu Sri semua juga menatapku dengan tatapan kagum bahkan setengah tak percaya.


"Ah Randi ini. Nggak usah didengar, Bu. Randi aja yang terlalu berlebihan."


"Ayo, silahkan masuk semuanya. Nenek ayo, Nek. Minumnya sudah Mak siapkan dimeja." Mak Asih mempersilahkan semuanya masuk.


"Untuk adik-adik semua, kalian lanjutkan dulu mengajinya ya. Nanti kita ngobrolnya setelah sholat magrib." Anak-anak menurut. Sesuai instruksiku, mereka kembali ke teras rumah. Melanjutkan mengaji di bimbing Pak Ustadz.


"Wah, Wil. Bener-bener luar biasa. Hebat hebat hebat pokoknya." Bu Tita mengacungkan kedua jempol tangannya.


"The best pokoknya." Bu Sri menambahkan.


"Perlu aku pegang tangan kamu nggak, Wil? Takut kamu terbang dipuji terus-terusan oleh bu guru kita." Komentar Randi membuat kami semua tertawa.


"Jadi mereka semua yang akan kamu sekolahkan, Wil?"


"Iya, Bu, Insyaa Allah. Do'akan ya, Bu."


"Usianya paling sekitar delapan sampai sembilan tahunan ya. Lumayan terlambat sebenarnya untuk masuk sekolah. Tapi nggak apa-apa deh. Daripada tidak sekolah." Komentar Bu Mel.


"Kamu sudah menghubungi pihak sekolahnya?" Pertanyaan Bu Min membuat aku dan Randi terdiam sesaat. Aku memang belum terpikir sampai kesana. Sekolahnya yang mana juga belum aku diskusikan dengan Pak Samsudin.


"Belum, Bu."


"Harusnya segera hubungi, paling tidak ada obrolan dulu, siapa tau ada masukan-masukan dari pihak sekolah." Kata Bu Min lagi.


Mak datang. Membawa beberapa toples makanan ringan.


"Ada yang mau dibuatkan kopi atau minuman panas yang lain? Teh manis, wedang jahe?" Mak menawarkan.


"Cukup, Ibu. Terimakasih." Jawab Bu Sri.


"Mak. Mau tanya, kalau SD negeri yang dekat sekitar sini dimana ya?" Aku mencoba tanya Mak. Siapa tahu Mak hafal.


"SDN 2 Aden. paling kalau jalan kaki sekitar sepuluh menitan dari sini. Kalau SDN 3 agak jauh dikit, Lima belas menitan lah." Mak menjelaskan.


"Hari sabtu di SD sini ada kegiatan belajar nggak, Mak?"


"Ada, Den. Di sini belajarnya dari senin sampai sabtu."


"O iya. makasih ya, Mak."


Mak kembali ke belakang.


"Berarti Insyaa Allah besok Wil dan Randi berkunjung ke sekolah SDnya, Bu. Sekedar mengobrol dulu."


"Sip. Nanti ibu ikut aja. Supaya sekalian tau SD nya."


"Besok ibu ikut?" Tentu saja aku heran. Pikirku, bu guru ini hanya akan melihat sebentar di sini, lalu pulang lagi.


"Iya, kami memang berencana akan menginap di sini, di penginapan. Sekalian jalan-jalan. Ya bu?" Bu Mi menatap teman-temannya. Semua teman-teman Bu Min antusias mengiyakan.


***


Setelah beres berjamaah sholat magrib, kami semua kumpul di ruang tengah. Bu guru kami juga masih ada di sini.


"Anak-anak, Kakak hanya ingin bilang, nanti kalian kakak daftarkan di sekolah dasar yang sama ya, biar nanti pulang pergi bisa barengan. kan seru tuh." Semua antusias mendengar, satu sama lain saling memandang. Tampak sekali mereka begitu senang.


"Kakak, Dito boleh ngomong nggak?" Dito mengacungkan tangan.


"Boleh, kenapa Dito?"


"Memangnya Dito tau pesantren itu apa?"


"Tau. Kan pernah diceritain sama kakak pembimbing matahari. Kakak pembimbing kan ada yang sekolah di pesantren." Ya. Aku tau diantara empat pembimbing, dua orang diantaranya ada yang tinggal di pondok. Kakak yang perempuan kalau tidak salah.


"Terus, Kamu yakin mau sekolah sambil pesantren? Nanti di pesantren juga ada sekolahnya, sama seperti SD gitu. Hanya lokasi sekolahnya di dalam pesantren, itu yang kakak tau." Aku berusaha menjelaskan.


"Iya, Kak. Aku mau sekolah sambil pesantren." Dito tetap pada pendiriannya.


"Oke. Itu Dito ya. Diantara kalian ada lagi yang mau sekolah sambil pesantren?" Jim, Meida dan Putri mengacungkan tangan.


"Kalian hanya ngikut Dito ya?" Aku mencoba mencari tahu.


" Bukan ngikut Dito, Kak. Ngikut kakak pembimbing." Jim, Meida, dan Putri menjawab hampir bersamaan.


"Oke. Berarti 16 orang masuk SD Negeri, dan 4 orang masuk sekolah sambil pesantren ya. Untuk yang masuk pesantren, Nanti kakak pastikan dulu, apakah sekolahnya masih di dalam lingkungan pesantren atau tidak."


"Ya sudah, Wil. Ibu pamit ke penginapan dulu ya. Besok jam 09.00 Insyaa Allah ke sini lagi, kita sama sama ke sekolah SD nya."


"Penginapannya sudah di pesan, Bu?"


"Belum. Gampang kok soal itu sih, sambil kita jalan nanti kita pesan."


"Kalau begitu, bagaimana kalau ibu menginap di sini saja. Ada kamar kosong satu, satu lagi pakai kamar Wil. Biar Wil tidur di ruang tengah."


"Jangan, Wil. kasihan kamu kalau harus tidur di luar."


"Nggak apa-apa, Bu. sesekali tidur di luar itu seru. Mari, Bu. Wil tunjukkan kamarnya." Bu Min dan kawan-kawan akhirnya menerima tawaran kami.


***


Sabtu pagi jam 09.00. Aku, Randi, Bu Min, Bu Tita sudah siap berjalan menuju SDN 2. Kami memang sengaja akan berjalan supaya bisa mengukur lama perjalanan anak-anak matahari nanti saat mereka harus pergi ke sekolah.


"Aku ikut ya, Kakak." Mimbo usul dengan sedikit berteriak.


"Aku juga ya." Dian ikut-ikutan. Dua bocah itu menatapku penuh harap.


"Ya sudah. Ayo. Jalan kaki tapinya ya. Kuat kan?"


"Kuat dong, Kak. Kami sudah terbiasa berjalan jauh saat jadi pengamen." Bangga sekali Mimbo dan Dian mengatakan itu.


Kami berjalan beriringan. Betul kata Mak, sekitar sepuluh menitan kami sudah sampai.


Kami menyapa seseorang yang mempersilahkan untuk langsung menuju ruang kepala sekolah.


"Assalamu'alaikum." Pintu ruang kepala sekolah terbuka, di dalam sedang ada tamu.


"Wa'alaikum Salam." Terdengar jawaban, seseorang menuju ke pintu.


"Mohon maaf mengganggu, Bu."


"O ya, silahkan masuk." Kami duduk di kursi tamu yang ada di ruang kepala sekolah. Aku memperhatikan sekeliling, cukup bersih dan rapi juga ruangan ini. Meski kecil, tapi semua barang yang ada di ruangan ini tertata apik.


"Saya kaget juga ini, kedatangan tamu lumayan banyak. Ada yang bisa saya bantu, Bu? Saya kebetulan kepala sekolah di sini. Dan ini, yang tadi sedang ngobrol dengan saya, salah satu guru yang mengajar di sini, Bu Yanti namanya." Bu Yanti, orang yang diperkenalkan oleh ibu kepala sekolah, tersenyum sambil menganggukan kepala. Bu Min bersiap untuk bicara, mengutarakan maksud kedatangan kami. Sementara aku, lebih fokus pada gerak Bu Yanti. Sejak kami masuk ruangan tadi, Bu Yanti terus-terusan memperhatikan Mimbo. Ekspresi wajahnya tak stabil, kadang memandang Mimbo dengan mata berbinar bahagia, kadang dengan tatapan penuh kesedihan.


____________


Terimakasih untuk semua pembaca setiaku. ❤❤❤ Ceritanya masih bersambung yaa... Besok di up lg Insyaa Allah.


Yuk Simak juga novel bagus karya teman Authorku:



Blurb :


Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.


Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.


Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.


Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya.