
Langkah Randi begitu bersemangat, aku jadi ingin tertawa juga melihat ekspresinya.
"Kira-kira kejutan apa ya, Wil?" Randi tak tahan untuk tidak bertanya. Aku cukup menjawab dengan senyum.
"Ini untuk Bos Acep, seperti janji bapak kemarin. Dan ini untuk Cep Randi." Pak Samsudin memberikan kami masing-masing satu kotak. Dari kotaknya sudah terlihat bahwa itu HP.
"Wow. Aku dibelikan HP juga, Pak?" Randi tak sabar, langsung membuka kotak HP barunya.
"Bukan bapak yang membelikan. tapi Bos Acep. Itu belinya pake uang Bos Acep." Randi melirikku, matanya memancarkan kekaguman.
"Hebat kamu, Wil. Bisa belikan aku HP segala. Berarti uang kamu banyak, Makasih ya." Aku cuma senyum, hati ini masih belum percaya bahwa aku kini punya uang.
"Makasih ya, Pa." Hampir berbarengan aku dan Randi mengucapkan terimakasih pada Pak Samsudin.
"Iya sama-sama. Tapi Randi jangan iri ya, HP Bos Acep harganya lebih mahal." Randi melihat kotak HPku, dilihatnya bolak balik.
"Ya iya lah, Pa. Namanya juga Bos. barangnya pasti harus lebih mahal dari anak buahnya, ya kan, Wil?" Bahu Randi menyenggol bahuku, lirikan matanya menggoda. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, mumpung badan Randi sedang ada didekatku, aku gelitiki pinggangnya, terus aku gelitiki tak henti-henti.
"Kena kamu sekarang."
"Ampun, Wil. Ampun..." Randi tertawa sambil terus-terusan minta ampun. Pak Samsudin ikut tertawa.
"Sudah, sudah... Ayo pada makan dulu." Mak Asih melerai. Mak sudah menata meja begitu rapi. Banyak makanan yang sudah tersaji. Aku menghentikan aksiku. Randi melirik meja makan.
"Wow..." Lidah Randi menjilat-jilat bibirnya sendiri. Makanan yang disajikan Mak memang terlihat begitu menggugah selera.
"Kami mau membuka kotak hadiah dari Bapak dulu ya, Mak." Kami menuju ruang tengah dulu.
Duduk di karpet, siap membuka kotak HP kami masing-masing.
"Punya Bos Acep kartu chipnya sudah terpasang, sudah siap pakai. Cep Randi pasang sendiri bisa kan?"
"Iya bisa, Pak. ok." Randi mengacungkan jempolnya. Kami sibuk membuka bingkisan masing-masing, lalu mencoba mengoperasikan HP baru kami. Maklum HP baru, harus sedikit mempelajari lagi biar mudah menggunakan.
"HP lama Wil masih ada, Pak?" Aku baru teringat, HP lamaku belum aku terima lagi.
"Ada, tuh di box motor Bapak. Ambil sendiri ya. Ini kuncinya." Pak Samsudin memberikan kunci motornya.
"Buat apa, Wil? HP kamu udah secanggih itu masih nanya HP lama?" Randi masih sempat bertanya, sambil matanya tetap fokus melihat-lihat HP barunya.
"Buat Opik." Aku menjawab sambil berlalu menuju motor Pak Samsudin di depan rumah.
"Hah? Opik?" Masih kudengar Randi berteriak. Aku membiarkan saja.
HP lama sudah ditanganku, aku kembali mendekati Randi. Dia menatapku heran.
"Opik, Wil? Tadi kamu bilang Opik kan?"
"Iya, Opik." Aku memastikan.
"Jadi kita mau ke Bandung lagi?"
"Ya..., lihat sikon lah ya. Yang jelas, suatu saat pasti ke Bandung lagi." Randi tak bertanya lagi, Dia ke kamar, mengambil HPnya, lalu sibuk memindahkan chip dan kembali mempelajari penggunaan HP barunya.
"Ayo, sudah siang. Makan dulu." Mak kembali menyuruh kami makan.
"Iya, Mak. Kami makannya di sini boleh kan, Mak? Sambil lihat-lihat HP."
"Iya, boleh. Di mana aja boleh." Akhirnya kami mengambil makanan, makan di karpet sambil membuka HP baru kami.
"Wil, berapa hari lagi kita di sini?" Tiba-tiba Randi menanyakan itu. Aku jadi berpikir sebentar.
"Ga tau, Ran. Waktu untuk kita mencari informasi tinggal 7 harian lagi. Tapi aku sendiri bingung, dari sini kita harus kemana lagi? Rasanya tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Info tentang siapa bapakku tetap tak ada. Kan aku memang ditemukan gitu aja di saung." Randi ikut berpikir.
"Iya ya. lah trus, kamu mau terus tinggal di sini?"
"Ini rumah segini gedenya, sawah kebun, mau kamu tinggalin gitu aja?"
"Ga tau, Ran. Udah ah, ga usah membahas ini dulu, aku mandi dulu ya." Aku meninggalkan Randi yang kembali asyik memainkan HPnya.
***
Aku dan Randi sudah dua malam menginap di sini. Di rumah yang katanya rumahku, walau aku sendiri masih belum yakin bahwa ini rumahku.
Hari ini, Aku dan Randi sengaja tidak ikut Pak Samsudin ke kebun. Kasian Pak Samsudin kalau kami harus ikut-ikut terus. Pak Samsudin sedang sibuk, mengurus panen porang, panen jagung, mengatur ini itu. Kalau kami ikut seperti kemarin, pekerjaan Pak Samsudin jadi bertambah, yaitu mengurus kami. Kerja Mang Jana dan Mang Ijar juga jadi terganggu, karena harus mengantar kami. Maka kami putuskan untuk tinggal di rumah saja, menemani Mak. Membantu sedikit-sedikit pekerjaan Mak.
"Mak, kami bantu mengepel lantai depan rumah ya. Sekalian menyiram tanaman juga. boleh kan?" Mak tak melarang. Karena percuma juga melarang. Kami minta ijin hanya sekedar formalitas. Jawaban Mak tak kami dengar. Karena kami langsung menuju halaman rumah. Alat kebersihan sudah kami bawa.
Randi mulai menyapu. Aku menyiapkan lap pel. Lantai yang sudah Randi sapu langsung aku pel. Mengerjakan pekerjaan barengan begini, tak terasa. Sebentar saja pekerjaan mengepel selesai.
"Lanjut mana dulu nih, Wil?"
"Bersihin rumput-rumput di pot dulu yuk." Randi menurut. Pohon-pohon kecil yang ditanam di pot sudah banyak yang berbunga, semuanya bagus-bagus. Senang lihatnya juga. Mata serasa dimanja dengan warna warni yang demikian cerah. Semarak sekali. Hanya sayang banyak tumbuh rumput-rumput liar kecil di dalam potnya. Mungkin oleh Mang Jana dan Mang Ijar belum sempat dibersihkan. Aku dan Randi berusaha membersihkan sedetail mungkin.
"Kayaknya sudah semua ya, Wil?" Aku mengecek satu persatu.
"Sepertinya beres, Ran."
"Tinggal menyiram kali ya?"
"Menyiram sama aku aja deh. Kamu duduk aja, istirahat."
"O gitu, ya sudah, aku duduk ya." Randi duduk istirahat. Sementara aku mengambil slang panjang yang sudah terhubung dengan kran air. Tanaman-tanaman mulai kusiram. Aku masih asyik menyiram ketika tiba-tiba Randi mendekatiku, berbisik-bisik,
"Wil, orang gila, Wil." Randi menyikut lenganku. Tangan Randi menunjuk sesuatu. Aku melihat arah yang di tunjuk Randi. Betul kata Randi. Ada orang gila lagi.
"Itu orang gila yang kemarin aku ceritakan, Ran." Aku melihat pintu gerbang. Oh pantas saja orang gila itu masuk lagi. Pintu gerbangnya terbuka, mungkin tadi pagi Pak Samsudin lupa tidak menutup gerbang lagi.
"Ga apa-apa sih, Ran. Orang gilanya baik ko, ga akan macam-macam."
"Takut, Wil. Siapa coba yang bisa menjamin kalau dia ga akan ngamuk-ngamuk, atau lempar-lempar apalah. Namanya juga orang gila." Betul juga kata Randi. Orang gila kan tingkah lakunya suka aneh-aneh.
"Kemarin sih sama Mang Jana bisa diusir. Kita usir yuk. Bisa ga ya?" Aku sendiri sedikit ragu.
"Ga ah. Hayu cepet kita beresin slangnya. Masuk yuk." Randi memutuskan. Dia tak berani berspekulasi.
Aku membereskan slang seperti posisi semula. Kami tergesa-gesa masuk rumah. Pintu rumah langsung Randi kunci dari dalam. Aku mau ke dapur melihat Mak, barangkali ada pekerjaan Mak yang bisa kubantu. Saat kulirik Randi, dia malah mengintip keluar, lewat gorden ruang tamu. Dasar Randi, katanya takut, tapi malah mengintip ala-ala detektif. Aku jadi ikut penasaran, ikut-ikutan mengintip.
"Liat, Wil. Orang gilanya mondar mandir." Orang gila itu kali ini tidak hanya duduk diam seperti kemarin. Dia bergerak kesana kemari, di area sekitar gerbang.
"Tangannya megang apa ya, Wil?"
"Mana kutau."
"Itu coba kamu liat. Dia seperti bermain." Orang gila itu memainkan apa yang dipegangnya layaknya sebuah pesawat kecil, dia goyang ke kiri, ke kanan, melambung ke atas, lalu menukik ke bawah. Dia lalu bergerak memutar, berlari kecil ke arah halaman rumah kami, duduk sebentar di teras, menggoyang-goyang mainannya lagi. Dia lalu tertawa, kemudian berlari-lari kecil lagi ke arah gerbang. Seru sekali kelihatannya. Orang gila itu tampak bahagia sekali. Berbeda dengan kemarin.
"Wil, Aku ko jadi ingat sesuatu ya."
"Apa sih ah, udah jangan kebanyakan mikir."
"Bukan. Coba perhatikan. Melihat yang dipegang orang gila itu, aku ko jadi ingat kotak tusuk gigi pemberian Ibu Aisyah. Perasaan gedenya segitu deh."
"Hah? Apa iya?" Aku jadi terpancing omongan Randi. Mataku kuusahakan lebih fokus lagi, melihat apa yang dipegang orang gila itu. Tapi tetap saja tidak jelas, posisi orang gila itu sekarang di dekat gerbang, agak jauh dari aku. Yang dapat kuamati, apa yang dipegang orang gila itu berbentuk kotak. Itu saja.
"Kita dekati yuk, Wil. Kita pastikan apa yang dipegang orang gila itu. Dimana ya kita ngintipnya, yang jaraknya agak dekat dengan dia." Ide aneh. Tiba-tiba saja Randi jadi sok berani.
"Kamu serius, Ran?"
"Iya lah. Keliatannya emang beneran baik ko orang gilanya. Ayo!" Randi membuka pintu, perlahan. Kami mengendap-endap.