KK

KK
60. TATAPAN PENUH ARTI



"Mohon maaf sebelumnya, Bu. Karena sudah mengganggu waktu ibu." Ibu Kepala sekolah tersenyum mendengar ucapan Bu Min.


Bu Min melanjutkan bicara, menyampaikan pada ibu kepala sekolah bahwa kami ingin menyekolahkan 16 orang adik kami.


"Apa? 16 orang? Banyak sekali, Bu. Itu bukan anak ibu semua kan?" Ibu kepala sekolah terkejut, beliau menatap Bu Min dengan rasa heran. Bu Min jadi sedikit tertawa.


"Tentu saja bukan, Bu. Saya sendiri jangankan punya anak, menikah saja belum." Jelas Bu Min. Aku menatap Bu Min. Aku baru tahu bahwa Bu Min belum menikah. Dikira aku, Bu Min paling tidak sudah punya anak dua.


"Lalu sebanyak itu, anak siapa, Bu?"


"Orang tua mereka sampai saat ini belum diketahui siapa. Mereka tadinya adalah anak-anak yang kurang beruntung, hidupnya di jalanan. Tapi sekarang Insyaa Allah mereka aman. Mereka sudah jadi adik-adik angkat anak baik ini, namanya Wildan." Bu Min menepuk bahuku. Ibu kepala sekolah menatapku. Bu Yanti juga. Ada tatapan penuh harap di mata Bu Yanti, tapi aku masih belum mengerti itu apa.


"Selama ini mereka belum pernah sekolah, Bu. Jadi aku ingin memasukkan mereka semua ke kelas paling awal, kelas satu. Tapi usia mereka berbeda-beda, bolehkah?" Aku menjelaskan, ibu kepala sekolah serius menyimak.


"Berapa usia mereka?" Tanya ibu kepala sekolah.


"Kurang lebih antara delapan sampai sembilan tahun." Ibu kepala sekolah mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Harusnya sudah kelas 3 SD ya." Ibu kepala sekolah bergumam, seolah untuk dirinya sendiri.


"Iya, Bu. Maklumlah, selama ini jangankan untuk sekolah, waktu mereka habis untuk berjuang mencari makan, berusaha bertahan hidup." Randi ikut menjelaskan. Kulihat mata Bu Yanti sudah berkaca-kaca, beliau masih terus memperhatikan Mimbo.


"Baiklah. Insyaa Allah kami bisa terima mereka di sekolah ini, tapi mungkin nanti kelasnya disatukan dengan para pendaftar baru lainnya ya. Nggak apa-apa kan?"


"Iya nggak apa-apa, Bu. Mereka Insyaa Allah tidak akan merasa minder atau apa. Karena mereka betul-betul sudah niat ingin sekolah."


"O iya, alhamdulillah kalau begitu."


"Hanya untuk syarat berkas-berkasnya, kami belum punya apapun, Bu. Mereka baru aku ajak untuk tinggal di rumah seminggu lalu. Kami belum sempat mengurusi berkas-berkas untuk mereka." Kami menunggu jawaban ibu kepala sekolah dengan sedikit khawatir.


"Paling tidak mereka harus punya KK dan Akte kelahiran. Agar kami punya dasar untuk menuliskan nama mereka di rapot dan di ijasah nanti." Aku dan Bu Min saling berpandangan. Bu Min mengerti kebingunganku.


"Tapi KK dan Aktenya bisa menyusul kan, Bu? Insyaa Allah kami siapkan secepatnya."


"Bisa. Toleransi waktu untuk mengurusi surat-surat itu masih lama kok, Bu. Kan sekarang baru masuk semester genap. Tahun ajaran baru masih lima bulanan lagi." Ibu kepala sekolah menanggapi kebingungan kami dengan sedikit tertawa. Aku dan Bu Min baru sadar bahwa ini bukan musim pendaftaran sekolah. Kami ke sini hanya sekedar mencari info awal, kira-kira bisa atau tidak anak-anak matahari sekolah di sini.


"Aduh, maaf ya, Bu. Kami lupa. Perasaan kami ini sudah waktunya daftar sekolah." Kami semua jadi tertawa.


Mimbo ikut berkomentar,


"Kakak dan bu guru terlalu bersemangat sih. Jadi lupa deh" Semua melihat ke arah Mimbo.


"Ini dua anak pintar yang mau sekolah ya?" Ibu kepala sekolah melihat Mimbo, juga Dian.


"Iya, Bu. Kami anak-anak matahari." Mimbo menjawab, dengan penuh percaya diri. Dian hanya tersenyum.


"Wow. Keren sekali sebutannya. Ada berapa orang anak-anak mataharinya?"


"Semuanya 20 orang, Bu." Mimbo menjawab penuh semangat. Ibu kepala sekolah menatapku.


"Yang daftar ke sini 16 orang, yang 4 orang lagi?" Tanya ibu kepala sekolah.


"Yang 4 orang ingin sekolah sambil mondok, Bu."


"Subhanallah, betapa hebat keinginan mereka. Lalu, Nak Wildan sudah dapat info tentang pesantrennya?"


"Belum, Bu."


"Kalau begitu, ibu minta nomor HP Nak Wildan. Nanti ibu kirim foto dan info secara garis besar tentang beberapa pesantren sekitaran sini yang ibu tau." Aku menyebutkan nomor HPku. Ibu kepala sekolah langsung menyimpan di HPnya.


"Ya, Bu?"


"Apakah Nak Wildan betul-betul tidak tau tentang orang tua anak-anak asuh Nak Wildan? Khususnya tentang Mimbo." Aku menatap Bu Yanti, Bu Yanti kembali memandang Mimbo dengan tatapan yang tak kumengerti.


"Iya, Bu. Wil sama sekali tidak tau tentang orang tua mereka. Merekapun tidak ada yang ingat tentang orang tuanya. Kecuali Mimbo." Aku menjelaskan tanpa ragu. Itu memang kenyataan yang aku tahu.


"Kecuali Mimbo?" Bu Yanti mengulang kalimatku, ada harapan dalam tatapan matanya.


"Iya, Bu. Kecuali Mimbo. Khusus Mimbo, dia punya bapak. Bapaknya seorang preman di Bandung."


"Bapak? Preman?" Lagi-lagi Bu Yanti mengulang kalimatku.


"Ada apa, Bu? Kok seperti yang serius." Ibu kepala sekolah bertanya pada Bu Yanti. Rupanya bukan hanya aku yang tak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan Bu Yanti, Ibu kepala sekolah juga sama tak mengerti.


"Ini, Bu. Tapi mohon maaf sebelumnya ya, Bu. Saya jadi bercerita sedikit tentang masalah pribadi saya."


"Iya tidak apa-apa, Bu. Silahkan diteruskan." Ibu kepala sekolah memberi kesempatan pada Bu Yanti untuk bicara.


"Ibu masih ingat kejadian beberapa tahun lalu? Saat itu saya kehilangan anak saya." Ibu kepala sekolah terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Oh, Waktu anak ibu usia satu tahun itu ya?" Ibu kepala sekolah mencoba menerka.


"Iya, betul. Saat itu anak saya sedang tidur di atas dorongan bayi, saya meninggalkan anak saya di teras rumah untuk mengambil sesuatu di dalam rumah. Hanya sebentar padahal, dua atau tiga menitan. Tapi saat saya ke teras rumah lagi, anak saya sudah hilang." Kami semua yang mendengar cerita Bu Yanti, terkejut bukan main. Kami tak menyangka Bu Yanti pernah mengalami kejadian pahit seperti itu. Aku bisa membayangkan, betapa paniknya Bu Yanti saat itu. Ibu normal manapun di dunia ini pasti kalut, panik, bingung, bila anak yang dicintainya hilang dengan cara seperti yang Bu Yanti alami. Bisa jadi Bu Yanti sampai pingsan saat itu. Tapi aku sedikit bersyukur, Bu Yanti dapat melalui musibah yang dialaminya dengan baik, Bu Yanti tidak sampai mengalami kejadian seperti Bapak Nana. Bu Yanti termasuk orang yang kuat, buktinya, beliau masih baik-baik saja sampai saat ini.


"Lalu, apa kaitannya kejadian yang pernah ibu alami dengan pertanyaan-pertanyaan ibu ke Nak Wildan tadi? Ibu kepala sekolah bertanya lagi. Kami semua memang cukup penasaran dengan kelanjutan cerita Bu Yanti.


"Anak saya yang hilang, punya ciri khas yaitu tanda hitam di sekitar telinga kanannya." Mataku langsung melihat Mimbo, Semua yang sedang mendengar cerita Bu Yanti pun melakukan hal yang sama, memperhatikan Mimbo. Khususnya memperhatikan telinga kanan Mimbo.


___________


Terimakasih untuk selalu hadir di sini.


Cerita masih bersambung ya.


Simak juga yuk, novel bagus karya teman Authorku:



#istri tangguh rasa pelakor


#hanya di noveltoon.


Kimberly ligh Hugo, adalah seorang wanita tangguh dan memiliki karir yang sangat cemerlang di dunia modeling.


Memiliki sejuta jam terbang pekerjaan.


Membuat Kimberly tidak menyadari


Perselingkuhan suaminya malvin Abraham.


Sehingga di malam dimana Kimberley melihat sendiri perselingkuh suami dan sahabatnya di dalam kamarnya.


Hati istri mana yang tidak sakit, saat menyaksikan sendiri suami yang kita cintai melakukan hubungan intim di ranjang mu.


Dan dimalam itu juga,semua karir Kimberly ligh Hugo hancur, karena harus membekam di penjara, akibat jebakan Charlotte.


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Istri Tangguh Rasa Pelakor, di sini dapat lihat: