KK

KK
51. AKSI BAPAK NANA



"Dor dor dor, dor dor dor." Bapak Nana terus-terusan menggedor pintu. Nenek tak kuasa menahan lagi. Akhirnya pintu kamar dibuka. Bapak Nana keluar kamar dengan berjingkrak-jingkrak, gembira sekali kelihatannya. Aku dan Randi cepat bergerak menuju pintu gerbang. Dengan sigap Randi mengunci pintu gerbang. Aman sudah. Aku dan Randi bisa bernafas lega.


Ibu Nita, Pak Daud dan Dian melihat tingkah kami dengan wajah sedikit tegang. Randi mendekati ibu Nita, lalu berkata,


"Tenang, Bu. Sudah aman kok. Bapak Nana nggak akan gimana-gimana. Paling cuma muter-muter di halaman ini aja." Untung halaman rumah Ibu Nita cukup luas. Jadi area untuk Bapak Nana berjalan bolak balik cukup besar. Ketegangan di wajah Ibu Nita mulai hilang. Kami meneruskan obrolan yang tadi tertunda.


"Sini, Nek. Duduk. Ini minuman untuk nenek juga sudah ada." Bu Nita mempersilahkan nenek duduk. Nenek duduk di sebelah Bu Nita. Dari tadi minuman untuk nenek dan Bapak Nana memang sudah aku sediakan. Untuk jaga-jaga saja barangkali nenek dan Bapak Nana keluar kamar.


Nenek duduk dengan tidak tenang, sebentar-sebentar nenek melihat Bapak Nana, memastikan bahwa Bapak Nana ada di sekitar kami.


"Dian, sini!" Randi meminta Dian mendekat.


"Kamu bisa bahasa nenek nggak?"


"Bisa, Kak."


"Kalau gitu, omongan kakak ke nenek terjemahkan ya."


"Iya, Kak." Dian menyanggupi.


"Apa sih, Ran. Ibu juga bisa kok bahasa sunda. Bahasa nenek itu namanya bahasa sunda." Randi menatap ibu dengan ragu. Aku sendiri juga tak menyangka kalau ibu bisa bahasa nenek. Ibu memaklumi keraguan kami.


"Waktu ibu kecil, ibu dan nenek kakek kamu pernah tinggal di Garut juga. Tapi bukan di Leuwi Goong, nama daerahnya Limbangan."


Randi antusias mendengar cerita ibu.


"Saat naik ke kelas lima SD, baru ibu, kakek dan nenek pindah ke Cirebon. Karena tempat kerja kakek dipindah ke Cirebon."


"Ayo, tadi kamu mau bilang apa ke nenek? sini ibu yang terjemahkan." Ibu mengingatkan Randi.


"Oh, iya. Ini, Bu. Nenek tenang saja, tidak usah khawatir. Pintu gerbang sudah dikunci, jadi Bapak Nana tidak akan kemana-mana." Ibu Nita segera menerjemahkan apa yang Randi katakan ke nenek. Nenek terlihat agak tenang sekarang. Tapi mata nenek tetap memantau terus kemanapun Bapak Nana bergerak.


"Ujang kadieu heula." (Pen: Ujang ke sini dulu) Nenek memanggil Bapak Nana, kemudian memberikan cangkir berisi minuman, yang memang belum diminum sama sekali. Bapak Nana mendekat, lalu menerima cangkir. Sebelum minum Bapak Nana menatap nenek, entah apa maksudnya. Setelah itu baru Bapak Nana minum sampai habis. Nenek menyimpan cangkir kosong di atas meja, lalu kembali duduk.


Saat nenek hendak kembali memantau pergerakan Bapak Nana, nenek agak terkejut.


"Cu, Si Ujang kamana nya?" (Pen: Cu, Si Ujang kemana ya?) Kami semua ikut memperhatikan sekeliling, seputar halaman rumah, mencari keberadaan Bapak Nana.


"Masuk ke kamar tadi." Dian yang menjawab. Aku jadi merasa sedikit malu pada Dian. Tadi aku malah fokus melihat nenek menyimpan cangkir, hanya sekian detik padahal. Tapi sekian detik yang membuat aku tak tahu kalau Bapak Nana pergi ke kamar.


Baru saja nenek mau menyusul Bapak Nana ke kamar, Bapak Nana sudah keluar kamar lagi. Kulihat wajah Bapak Nana lebih ceria dari sebelumnya, Kali ini ada senyum di bibirnya. Mataku langsung fokus pada apa yang dipegang bapak. Pantas saja, bapak memegang mainan favoritnya. Itu dia sumber keceriaannya. Seperti biasanya, tangan Bapak Nana mulai meliuk-liuk, naik turun sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya. Mulutnya mulai mengeluarkan suara, seiring gerakan tangannya. Aku kasihan melihat nenek, Nenek tampak rikuh, tapi tak bisa berbuat banyak. Bapak Nana mulai berlari-lari kecil. Dari pintu rumah menuju pintu gerbang, balik lagi ke pintu rumah. Begitu terus sampai beberapa putaran. Kami semua yang duduk di teras, hanya diam, menonton aksi yang dilakukan Bapak Nana. Perlahan, tangan Ibu Nita memegang tangan nenek. Ibu Nita seolah ingin bilang bahwa nenek tak perlu merasa risi, semua yang hadir di sini memaklumi apa yang dilakukan Bapak Nana.


"Hampura ka sadayana, Si Ujang masih inget keneh wae ka barudakna. Nyaah pisan Si Ujang ka anak-anak Minah teh." (Pen: Maafkan semuanya, Si Ujang masih ingat terus ke anak-anaknya. Si Ujang sangat menyayangi anak-anak Minah) Nenek berusaha menjelaskan. Kami semua tetap diam, hanya tangan Bu Nita saja yang terus mengusap-usap bahu nenek.


Tiba-tiba Randi bertanya,


"Pesawat kotaknya masih ada, Nek?" Ibu Nita meneruskan pertanyaan Randi dengan bahasa nenek. Nenek menggeleng.


"Ngan nyandak hiji. Eta ge melang weh bisi Si Ujang ribut nanyakeun ulinan karesepna."(Pen: Cuma bawa satu. Itu juga karena khawatir, takut Si Ujang nanyain mainan favoritnya).


"Emang buat apa kamu nanyain pesawat kotak, Ran?" Aku jadi terpancing untuk bertanya. Randi senyum.


"Buat nemani Bapak Nana main, Wil. Aku kasihan, mana area mainnya cuma segini, mainnya sendirian pula. Kalau ditemani kan jadi tambah seru gitu." Rupanya Randi lupa kesepakatan kami, untuk tidak ikut-ikutan bertingkah seperti apa yang dilakukan Bapak Nana. Sebagai upaya agar keadaan Bapak Nana tidak makin parah.


"Loh. Kan kita sudah sepakat, Ran. Kata Google, jangan menirukan apa yang dilakukan bapak, karena itu justru akan semakin memperparah keadaan bapak." Randi garuk-garuk kepala.


Bapak Nana masih bolak balik di depan kami, memainkan pesawat kotaknya.


"Wil, Randi. Ibu ingin bertanya." Tiba-tiba Bu Nita bicara serius. Bu Nita memandang Pak Daud. Seolah minta ijin untuk berkata sesuatu. Pak Daud mengangguk.


"Menurut kalian, Bila kakaknya Wil ditemukan, apakah itu bisa membantu menyembuhkan Bapak Nana?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Ibu Nita. Betul-betul ibunya Randi ini baik sekali. Beliau ternyata ikut memikirkan, hal-hal yang bisa membantu memulihkan kondisi Bapak Nana.


"Ya pasti lah, Bu. Setidaknya kerinduan Bapak Nana pada Ibu Minah jadi terobati dengan kehadiran anak-anak ibu Minah. Hati dan pikiran Bapak Nana lambat laun akan menyadari, bahwa Bu Minah sudah tidak ada, tapi anak-anaknya Bu Minah masih ada, masih menyayanginya." Randi begitu antusias mengemukakan pendapatnya.


"Kalau menurut kamu, Wil?" Kali ini aku yang harus mengemukakan pendapat.


"Aku setuju dengan pendapat Randi, Bu."


Randi menyikut lenganku,


"Ah kamu sih copy paste doang. Nggak seru tau!" Kami semua jadi tertawa mendengar komentar Randi. Nenek juga ikut tertawa melihat kami tertawa, padahal aku tahu nenek tidak mengerti apa yang dikatakan Randi.


"Ya sudah, sebentar ya. Pak, kita bismillah ya." Ibu Nita kembali memandang Pak Daud.


"Iya, Bu. Sekarang atau nanti, akan sama saja. Kita tetap harus mengalami ini." Baik aku maupun Randi tak mengerti arti percakapan antara Ibu Nita dan Pak Daud. Kami hanya bisa diam, melihat Ibu Nita berlalu dari hadapan kami. Ibu Nita masuk ke dalam rumah.


'Terimakasih untuk semua pembaca yang berkenan hadir sampai episode 51 ini. Semoga sehat selalu.'


Hari ini novel bagus yang aku rekomendasikan adalah 'Survive Life Figuran Novel' , simak yuk.



Blurb:


Kalian percaya nggak sih sama yang namanya isekai dan sistem?


Della juga awalnya nggak percaya... sampai akhirnya ia mengalaminya sendiri.


...


Entahlah, Della sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.


Tapi yang pasti... begitu dia membuka matanya kembali semuanya tampak berbeda, atau lebih tepatnya aneh!?


Della baru menyadari kalau dirinya masuk ke dalam novel bergenre romansa—fantasi barat setelah melihat dirinya dan keadaan sekitarnya.


Tidak.


Della tak menjadi tokoh antagonis ataupun protagonis.


Tapi ia memiliki akhir yang sama tragisnya dengan sang antagonis.


Hingga suatu hari suara kaku terdengar.


[Sistem telah siap!]


[Misi telah ditentukan, menerimanya atau menundanya?]