
Para peserta diskusi di ruang tamu masih tertawa-tawa. Sirop dingin sudah berganti gelas kemasan. Nasi plus fried chicken juga sudah tersaji di atas meja. Mang gojek tadi yang kirim. Selain itu, ada kue putu. Kebetulan tadi tukang kue putu lewat, ibu sengaja memberhentikan. Si Penjual putu senang sekali dapat orderan banyak. Bu Nita pesan enam puluh kue putu. Suara lengking dari arah gerobak Mang Putu berpadu dengan tawa lepas kami yang masih saja belum berhenti. Yang aktif bercerita bukan hanya Opik dan Randi. Tapi juga Mang Jana. Mereka saling menimpali cerita satu sama lain. Mata Bu Nita dan Pak Daud sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terus menerus.
"Kalian ini, betul-betul bikin rumah jadi rame. Ayo ah sambil dimakan. Terserah mau makan nasi atau sekedar putu. Dobel dua-duanya juga boleh. Bebas aja. Menginap di sini kan ya?" Bu Nita ingin memastikan.
"Iya, Bu. Malam ini kami tidur di sini. Besok kami berangkat pagi-pagi ya, Bu. Ke Garut dulu. Kami penasaran dengan koleksi kotak tusuk gigi orang gila." Bu Nita saling memandang dengan Pak Daud. Mata mereka seolah berdialog satu sama lain.
"Ya sudah. Nanti setelah makan, istirahat ya. Pak Jana bisa di kamar depan. Opik di kamar Randi boleh, di kamar Wil boleh." Bu Nita mengatur formasi tidur kami. Bu Nita dan Pak Daud lalu meninggalkan kami. Kami lanjut makan putu sambil menonton tv.
Menjelang tidur, Aku masih sempat mengobrol dengan Opik.
"Ini foto ibunya Kak Wil ya?" Opik bertanya sambil memperhatikan foto ibu Aisyah yang kupasang di atas meja belajar. Opik memilih tidur di kamarku.
"Iya, Opik. Ibu Aisyah namanya. Ibu yang sangat baik, sangat sayang ke kakak. Do'ain Ibu Aisyah ya." Kami sama-sama menatap foto ibu Aisyah.
"Kakak beruntung, punya ibu. Ibu yang baik pula." Nada suara Opik terdengar sedih.
"Sudah, ga usah sedih. Kan Opik punya kakak." Opik senyum lagi.
"Opik juga pasti punya ibu. Walaupun Opik ga tau dan ga ingat siapa ibu Opik, Opik tetap harus sering mendo'akan ibu Opik." Opik mendengarkan nasehat aku dengan penuh perhatian. Kami lanjut mengobrol berbagai tema, lumayan lama juga. Sampai akhirnya kulihat Opik tertidur pulas. Ada rasa haru saat kulihat Opik tidur sambil memeluk foto ibuku. Bibir Opik kelihatan senyum. Semoga Opik sedang bermimpi dipeluk ibunya.
Pagi-pagi, Bu Nita sudah menyiapkan sarapan lengkap di meja makan. Kami berempat sudah siap untuk melakukan perjalanan kembali. Selesai sarapan, kami pamit.
"Wil pamit dulu ya, Bu. Tiga hari lagi juga Wil kesini lagi." Janjiku pada Bu Nita. Bukan hanya janji, tapi memang harus. Waktu liburan sekolah tinggal beberapa hari lagi. Dalam waktu tiga hari, selesai tidak selesai urusanku, aku dan Randi harus pulang.
"Iya. Semoga mudah dan lancar semua urusannya. Jangan lupa tetap kabari ibu tiap hari ya."
"Iya, Bu."
Perjalanan Cirebon-Garut lancar. Tiga jam serasa begitu cepat. Kami sudah masuk kota Garut, menuju Leuwi Goong. Kali ini tumben sepanjang perjalanan tidak ada yang tidur, termasuk Randi. semua bangun, mengobrol, tertawa-tawa. Mungkin karena ini memang masih pagi. Baru jam sembilan pagi. Hadirnya Opik di tengah-tengah kami betul-betul membawa suasana tambah semarak. Opik yang pintar, Opik yang lucu, Opik yang bawel juga.
"Nah, sampai deh kita." Si Putih sudah masuk gerbang rumahku. Ada Mang Ijar sedang membersihkan halaman rumah.
"Wow... Ini rumahnya Kakak? Besar sekali, Kak. Halamannya luas banget, rumahnya bagus." Opik melihat kiri, kanan, depan, belakang. Semua Opik lihat, dari balik kaca mobil.
Mobil berhenti. Opik ingin duluan turun. Dia langsung bergerak ke arah kolam, melihat-lihat area kolam.
"Ikannya gede-gede, Kak. Warnanya bagus-bagus." Opik terus saja bergerak. mengitari kolam, berlari kecil dari gerbang ke teras rumah. Dia duduk sebentar di teras rumah, lalu tidur-tiduran di lantai teras rumah. Kami semua ikut senang melihat Opik begitu bergembira. Opik bangun lagi, kali ini mendekati pohon rambutan.
"Wah, kalau sedang berbuah, seru sekali kita petik-petik rambutan. Nanti Opik ikut petik-petik ya, Kak." Opik bergerak lagi ke arah kiri,
"Kakak, ini saung yang Kakak ceritakan tadi malam ya?" Aku menjawab pertanyaan Opik dengan anggukan.
"Ayo Opik, sini." Randi memanggil Opik. Opik mendekat. Kami menyuruh Opik cium tangan pada Mak, Pak Samsudin, dan Mang Ijar.
Mak pergi kebelakang, tak lama kemudian datang lagi membawa kopi susu panas, teh manis hangat dan goreng-gorengan sebagai cemilan. Kami duduk-duduk di teras sambil mengobrol
"Jadi kapan anak-anak matahari datang?" Pak Samsudin bertanya.
"Insyaa Allah lusa, Pak. Semoga tidak ada halangan apa-apa."
"Aamiin." Semua mengaminkan do'aku.
"Mak Ucih dan Uwa Ane sudah dikasih tau, Mak?" Mak Asih mengangguk.
"Sudah. Nanti kalau anak-anak sudah di sini, Mak Ucih dan Uwa Ane bahkan akan nginap di sini. Sesekali saja pulang ke rumahnya." Kesiapan Mak Asih, Mak Ucih dan Uwa Ane sudah oke. Mereka bertugas menyiapkan makan tiap hari untuk semua orang di rumah ini.
"O gitu. Alhamdulillah, bagus kalau begitu. Mereka nanti bisa tidur di kamar belakang." Jelas Pak Samsudin. Rumah ini memang banyak kamarnya. Kamar yang luasnya besar saja ada enam kamar. Satu kamar dipakai Pak Samsudin dan Mak Asih. Satu kamar dipakai aku dan Randi. Masih ada empat kamar besar lain yang nanti bisa dipakai oleh anak-anak matahari. Kamar belakang yang disebutkan Pak Samsudin adalah kamar-kamar yang berukuran kecil, 2 meter x 3 meter. Semuanya ada dua kamar. Mak Ucih dan Uwa Ane boleh sekamar sendiri-sendiri kalau mau.
"Ayo, pada masuk ke dalam. Bapak mau ke kebun dulu. Para panyawah mau menyiangi rumput-rumput di kebun. Biar tanaman porang bisa maksimal menyerap zat-zat makanan yang diperlukan." Pak Samsudin pamit pergi ke kebun. Mang Jana pamit pulang dulu ke rumahnya. Mak Asih ke dapur, bersiap-siap masak untuk makan siang nanti. Tinggal aku, Randi dan Opik yang masih duduk.
"Wil, masih cape ga?"
"Ga cape ko. Mau ngajak kemana lagi nih?" Opik yang menjawab. Aku menggeleng untuk memperkuat jawaban Opik.
"Ke rumah nenek yuk. Siapa tau ada." Randi mengajukan usul.
"Yee, kan kalau jam segini nenek kerja bantu-bantu." Randi manggut-manggut.
"Iya, ya. Tapi dicoba aja dulu. Ga ada salahnya kan? Kalau tidak ada ya tinggal pulang lagi." Betul juga kata Randi.
"Opik ikut ya, Kak." Opik tak mau ketinggalan. Aku mengangguk sambil bilang,
"Iya ikut. Tapi dengan syarat, jangan banyak tanya ya, nanti kalau sudah di rumah lagi, kakak jelaskan semuanya." Opik setuju.
Kami pamit dulu pada Mak Asih. Biar Mak Asih gak khawatir mencari-cari. Kami berjalan menuju pintu gerbang. Sebelum belok kiri kusempatkan melirik saung. Tidak seperti biasanya, orang gila sedang tidak ada di saung. Padahal pintu gerbang terbuka dari tadi.