KK

KK
2



Piring-piring berdenting ketika berbenturan dengan benda lain. Busa memenuhi seisi mangkuk dan kembali kosong setelah Bellena membilasnya.


Di meja makan, Vasco menghitung kepingan uang logam sembari komat-kamit mengingat nominalnya. Dia berperilaku layaknya orang dewasa atau lebih khususnya seperti Ned, bendahara kerajaan. Meski ia belum pernah melihat pria tambun itu menghitung uang. Kira-kira berapa jumlah penghasilan raja dalam sehari? Itu yang selalu terbayang dalam pikirannya. Tentu saja banyak. Lebih dari sekadar mereka memperoleh makanan, sandang, dan istana.


Setelah selesai mencuci perlengkapan dapur, Bellena tidak pergi kemana-mana. Dia memilih duduk berhadapan dengan Vasco dan menatap anak itu sebagaimana tatapan kasih sayang ibu yang semestinya. Tangannya menyangga dagu dan di atasnya bibir merah itu menggariskan senyuman. Bagaimana cara wanita itu bersyukur atas anak laki-laki manis ini? Sedangkan, ia tak mendapatkan kebutuhan rohani yang seharusnya menjadi hak semua insan. Pendidikan pun tidak sama sekali. Sistem perdagangan Marinaisse terjadi begitu saja tanpa perhitungan yang jelas. Sehingga, pihak bangsawan yang berwawasan lebih dengan mudah mengambil jatahnya sekaligus mengelabui mereka.


"Berapa pendapat kita hari ini, Vasco?" tanya Bellena setelah putranya selesai menghitung.


"Tiga puluh keping stone," jawabnya memberengut. Bagaimana tidak? Tiga puluh keping stone hanya mampu ditukar dengan seperempat daging ayam. Belum lagi harus dipotong dengan pajak bulanan, baik itu tanah dan bangunan, air, bahan bakar, dan berbagai macam pajak lainnya.


"Tidak apa-apa. Kita akan mencarinya lagi besok."


"Tidak bisakah kita menanam uang dan menunggu mereka tumbuh?"


Mendengar kepolosan Vasco, Bellena tergelak. "Itu mustahil, Sayang."


"Aku lelah," kata Vasco, menghela nafas.


"Lebih baik kau tidur."


"Ibu mau berdongeng untukku?"


Bellena diam sejenak, lalu mengangguk dan membuntuti Vasco ke ruang sempit yang hanya berisi alas tidur dan lemari kayu penyimpan pakaian.


Di samping Vasco, wanita itu duduk sambil membelai surai putranya. Vasco menarik selimut kain perca dan menatap langit-langit kamar.


"Kau mau diceritakan tentang apa?" tanya Bellena.


Vasco berpikir sejenak. Mencari bahan untuk diceritakan oleh sang ibu.


"Hm... ceritakan tentang ayah."


"Ayah?" ulang Bellena berkerut dahi.


"Iya. Kenapa ayah masuk ke penjara?"


Wanita tersebut terkesiap. Dia bingung harus berterus terang atau bagaimana sebaiknua. Anak delapan tahun ini terlalu dini baginya untuk tahu betapa kotornya negeri ini. Terlalu pagi untuk mengulas gelapnya petang menuju malam. Terlalu sulit untuk diungkapkan agar tak salah pemahaman.


"Ibu?"


"Ya?"


Tanpa mengulangi permintaannya, Bellena pun sudah paham apa yang dinantikan Vasco. Tampak jelas dari manik biru itu.


"Bagaimana kalau Rapunzel dan Rambut Panjangnya?"


Vasco menggeleng cepat. Ia benar-benar tidak tertarik dengan dongeng kuno yang sudah berulang kali didengarnya tiap malam.


"Semua dongeng sudah Ibu ceritakan. Sekarang Vasco ingin cerita tentang ayah."


"Ayah tidak memiliki cerita seperti Rapunzel, Sayang."


"Tapi, Ibu pernah cerita tentang masa kecil Ibu. Pasti ayah juga punya."


"I-ibu tidak tahu cerita masa kecil ayah, Vasco."


Bocah laki-laki itu mengangkat tubuhnya. Membawanya sampai posisi terduduk di samping wanita itu.


"Vasco mau cerita tentang bagaimana ayah dipenjara," protesnya. "Hanya itu dan Vasco akan tertidur."


***


Seorang patih berjalan masuk ke dalam ruang makan yang terdiri dari meja panjang dan jajaran kursi bersandaran tinggi. Dimana semua perwakilan golongan kelas berkumpul.


Usai memberi hormat kepada para tamu, pria tersebut menyerahkan sebuah papirus kepada seorang raja yang tidak lain merupakan pemimpin pertama Marinaisse, yakni Cornelis I. Setelah menerimanya, dia langsung menarik sebatang bulu putih dari botol kaca berisi cairan hitam yang membasahi ujung bulu.


Di atas papirus tersebut, telah tergores garis tak beraturan yang menandakan persetujuan raja atas isi surat itu. Selanjutnya dari golongan II yang beranggotakan rohaniawan, menorehkan tanda tangannya.


Berikutnya, tibalah saatnya golongan III yang terdiri dari rakyat biasa untuk mewakili anggotanya dalam persetujuan surat ini. Orang itu adalah Jean Devisser yang menjabat sebagai kepala desa. Meski demikian, tak ada perbedaan mencolok dari penampilan antara si kepala desa dengan masyarakat yang dipimpinnya. Mereka sama-sama golongan III yang memiliki tingkat kekuasaan terendah dan taraf ekonomi paling dasar.


Lain dengan dua golongan yang dengan mudah memberi coretan di atas namanya, Jean Devisser seakan tertahan oleh kehendak dirinya sendiri yang bergejolak dalam hati. Baginya, isi dari keputusan surat ini tidak relevan dengan hasil diskusi mereka. Ini benar-benar berbeda dengan apa yang diduga sebelumnya.


Pendusta, geramnya dalam batin.


Tak ada gunanya sang raja menyuruh kepala desa untuk bermusyawarah dan menyerahkan hasilnya. Tak ada perundingan atau pembicaraan lebih lanjut. Tiba-tiba saja persetujuan dilakukan. Bagaimana cara Jean rela tanda tangannya dijual murah, sedangkan nantinya rakyat lagi-lagi menderita?


"Ada apa, Tuan Devisser?" tanya Raja Cornelis.


Sekarang jari-jarinya berdenyut kencang. Panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Memberi sensasi api di dalam hatinya. Namun, ia mencoba mengatur nafasnya. Memasang wajah palsu seolah baik-baik saja.


Jean Devisser melirik kembali ke kolom dimana tanda tangan seharusnya ada. Perlahan ia menarik bulu dari tinta dan mulai memberi simbol setuju di atas papirus.


Kemudian di jajaran kursi bangsawan, Cornelis d'Carruso yang merupakan adik Raja Cornelis I duduk tegak. Ia menyiratkan seringai dari air mukanya. Jean Devisser semakin naik pitam kala sudut netranya menangkap ekspresi tersebut. Tetapi, dirinya masih sanggup memendam amarah.


Akhirnya pemberlakuan kebijakan baru telah disetujui oleh seluruh perwakilan golongan. Sang penasehat raja menutup acara tersebut dan satu per satu orang beranjak dari duduknya.


Jean Devisser melangkah cepat menuju pintu. Lebih tepatnya menuju sasaran belati yang sejak tadi disimpan olehnya di balik kaus lusuhnya.


Zasss...


Darah terlanjur keluar, saksi terlanjur melihat, mata pisau terlanjur bernoda, begitu juga si kepala desa yang terlanjur dinodai dosa.


Semua pasang mata membelalak, nafas seketika tercekat, tetapi teriakan memenuhi ruang rapat. Sejurus kemudian, tangisan bayi mengalahkan erangan sang raja yang kesakitan. Lady Rosalina dalam dekapan Lady Amber bersimbah air mata ketika merasa bahwa lelapnya terganggu oleh keributan. Sedangkan, Dennis d'Carruso menyembunyikan pandangannya di balik tubuh Amber dari kejamnya pembunuhan yang akhirnya menggegerkan seluruh penjuru Kerajaan Marinaisse.


Pria berdarah biru itu jatuh berlutut sampai tak mampu ia menahan dalamnya tusukan di punggungnya dan kemudian terkapar tak berdaya. Semua panik. Tanpa perintah, para prajurit sudah siap membawa Sang Cornelis ke ruangan lain. Sementara itu, Jean Devisser si pelaku ditawan oleh banyak pihak di sana. Diseret paksa melalui lorong besar dan undakan batu menuju balok-balok jeruji untuk dihakimi.


***


Melihat tetes demi tetes berderai kian deras, Vasco menahannya dengan menyeka di sekitar pipi Bellena.


"Ayah bilang kalau ayah baik-baik saja setelah aku pulang dari sana."


Selagi isakan memenuhi ruang nafasnya, Bellena berupaya tersenyum di hadapan sang putra.


"Ibu tahu. Ibu juga akan baik-baik saja setelah kau tertidur."


"Ibu yakin?"


Dia mengangguk, lalu melepaskan sepasang tangan kecil yang mengusap wajahnya. Wanita itu masih terus meyakinkan bahwa hatinya tak seremuk saat pertama kali ia mengetahui suaminya dijatuhi hukuman penjara. Ia harus membuat Vasco tidak terlalu memikirkan hal itu.


Bellena menutup pintu kamar secara perlahan dan Vasco menatap bagaimana benda itu merapatkan diri dengan kusennya. Bukan karena ia heran dengan proses tertutupnya pintu, melainkan karena ia penasaran dengan proses kembalinya senyuman indah di wajah Bellena setelah sendu.


Entahlah. Vasco hanya mau Bellena baik-baik saja. Jadi, ia harus tertidur sekarang juga.


***