
Pukul 09.30, Bu Yanti dan suaminya datang. Si Kecil begitu ceria pagi ini. Dia belajar cium tangan pada semua orang yang sudah berkumpul. Anak kecil, di manapun memang selalu menggemaskan. Kadang suka merasa aneh, bila kita melihat bayi, selalu senang, greget, inginnya cium-cium. Di hati muncul rasa sayang, meski bayi itu punya orang, tak ada kaitan saudara dengan kita. Aura wajah bayi secara alami memang membuat semua yang melihat jadi suka. Mungkin, itu takdir dari Yang Maha Kuasa untuk seorang bayi. Selain karena bayi belum punya dosa, juga karena bayi memang patut dilindungi dan dikasihi. Karena bayi memang belum bisa apa-apa. Tanpa kita lindungi dan kasihi, apalah jadinya.
Tapi kembali pada nasib anak-anak matahari. Sebelum mereka sebesar sekarang, mereka kan jadi bayi dulu. Tapi kok ada ya yang tega, entah membuang mereka atau bagaimana. Yang jelas, mereka tak tahu ibunya dimana. Tak tahu bapaknya kemana. Mereka hanya tahu bahwa mereka sendirian. Kasihan. Kasihan pada anak-anak mataharinya, kasihan juga pada ibu bapaknya. Mereka berlabel manusia tapi tak berjiwa manusia.
"Ayo, Wil. Kita siap di posisi?" Bu Yanti mengingatkanku, bahwa waktu sudah hampir jam sepuluh.
" Iya, Bu. Ayo. Mak ayo Mak. Ran, siap ya. Opik, jangan lupa! Pak, do'ain ya, Bu guru, mohon do'anya." Aku mulai sibuk mengatur para pemeran. Rasanya seperti seorang sutradara film. Yang menempatkan pemain sesuai peran, mengatur ini dan itu agar proses shooting berjalan lancar.
Semua sudah berada di posisi, sesuai instruksiku. Kami tinggal menunggu Randi memberi kode sebagai tanda nenek dan Bapak Nana sudah datang.
"Wil." Randi berteriak, jempol diacungkan.
"Ayo, Mak." Mak bersiap.
"Gendong Mak dulu ya, manis." Mak merayu anak Bu Yanti. Si Kecil senyum, Mak jadi gemes bukan main.
Tumben, kali ini anak Bu Yanti tidak menangis dalam gendongan Mak. Dia anteng saja, matanya fokus menatap Mak. Mak lalu duduk di saung sambil terus-terusan mengajak Si Kecil berdialog, Si Kecil sesekali menanggapi dengan kalimat khas bayi. Aku jadi ikut-ikutan senyum melihat keseruan Mak dan bayi mengobrol.
"Mak." Aku memanggil Mak. Mak menoleh. Mata kukedipkan pada Mak. Aku memberi kode bahwa Bapak Nana sudah mendekat ke arah Mak.
Bapak Nana melirikku, hanya sekilas. Tatapannya kembali fokus pada Mak dan Si Kecil. Mak masih menggendong Si Kecil, masih mengajak Si Kecil berdialog, tapi kali ini Mak sudah berdiri. Mak mulai mengeluarkan pesawat kotak dari saku bajunya. Pesawat kotak Mak berikan pada Si Kecil. Si Kecil memainkan Pesawat kotak, Mak menirukan suara pesawat sambil tangan Mak membantu tangan Si Kecil memainkan pesawat kotak. Bapak Nana berjingkrak-jingkrak, Bapak senang bukan main. Bapak menatap Mak, lalu menatap Si Kecil bergantian. Mak Mulai berjalan perlahan-lahan, bergerak menuju teras rumah. Bapak Nana mengikuti Mak dari belakang. Langkah kakinya sedikit digoyang-goyangkan.
Sampai teras, Mak berhenti. Mak menoleh pada Bapak Nana, Mak tersenyum sambil memberi isyarat bahwa Mak akan menidurkan Si Kecil. Mak lalu masuk ke dalam rumah, pintu Mak tutup.
Bapak Nana tidak menangis, tidak seperti kemarin. Bapak Nana hanya diam, mematung, mata fokus menatap daun pintu yang tertutup.
Lima menit, sepuluh menit, pintu masih tertutup. Bapak Nana masih mematung di tempatnya.
Kami yang menyaksikan semua adegan, jadi ikut berdebar. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi lima menit kemudian. Saat Mak aku instruksikan keluar lagi.
Sebelas menit, dua belas menit. Aku masih menunggu, aku sudah pindah posisi, tidak lagi berdiri di dekat saung. Aku kini duduk di samping kiri teras rumah, dekat jendela kamar.
Lima belas menit, sesuai instruksi awal, Mak keluar, membuka pintu. Hatiku dag dig dug, aku sedikit panik. Mak memainkan peran dengan begitu sempurna. Kali ini Mak keluar rumah, tidak lagi menggendong Si Kecil. Mak menuntun Opik, dan Opik memegang pesawat kotak. Mereka berdua tersenyum.
"Ieu budak tea, geus gede, pinter jeung kasep."(Pen: Ini anak itu. Sudah besar, pintar dan tampan) Bapak Nana hanya diam memperhatikan peragaan tangan Mak.
Beberapa menit kemudian, mulut Bapak Nana mulai bersuara. Suara pesawat kotak ala Bapak Nana. Opik senang bukan main, dengan semangat tangan Opik kembali meliuk-liuk.
Nenek mendekati Bapak Nana, lalu membuka kotak besar berisi pesawat-pesawat kotak. Aku sendiri tak tahu kalau nenek membawa kotak besar itu. Melihat kotak yang diberikan nenek, Bapak Nana langsung mengambil dua pesawat kotak. Tangan Bapak Nana mulai bergerak memainkan pesawat kotaknya.
"Ayo, Pak. Kita main." Opik menarik baju Bapak Nana, mengajak bermain pesawat kotak, sambil berjalan, miring kiri, miring kanan. Mereka berdua kemudian asyik meliuk-liukan pesawat kotak masing-masing. Sesekali pesawat kotak mereka seolah mau bertabrakan, tapi kemudian meliuk lagi, menghindari benturan.
Ada rasa sesak yang menyusup di dada ini, melihat betapa bahagianya Bapak Nana bermain bersama Opik. Andai saja aku bisa, aku ingin berteriak,
"Aku ada di sini, Pak. Aku anakmu, Bayimu yang dulu hilang." Tapi mulut ini serasa terkunci. Dan memang sementara harus kukunci. Aku hanya dapat tersenyum. Aku bahagia melihat bapak bahagia.
"Opiiik, kejar siniii." Tiba-tiba terdengar teriakan anak-anak matahari. Opik menoleh ke arah suara. Anak-anak matahari sudah berjejer, masing-masing memegang satu pesawat kotak. Rupanya nenek membagikan pesawat kotak ke semua anak-anak matahari.
"Ayooo, kejar aku." Mereka mulai menirukan gerakan Opik, berjalan miring kiri miring kanan, sambil pesawat kotak di tangan mereka meliuk-liuk. Mulut mereka mulai bersuara.
Halaman rumah kami rasanya jadi terlalu sempit, anak-anak bergerak kesana kemari, kadang membentuk suatu lingkaran, mengitari Bapak Nana yang berada di tengah lingkaran. Kadang memanjang, berjalan beriringan. Suara mereka begitu riuh, betul-betul bagai suara gemuruh pesawat.
Aku dan Randi saling berpandangan. Ini benar-benar di luar skenario yang kususun.
Para guru, kakak-kakak pembimbing, Bu Yanti dan suaminya, Pak Samsudin dan Mang Jana, semua tertawa. Ceria. Menyaksikan betapa serunya anak-anak dan Bapak Nana bermain.
Satu-satunya orang yang menangis adalah Mak. Air mata Mak mengalir tak henti-henti, padahal Mak sudah berusaha menyeka air matanya berulang kali.
__________
Masih bersambung yaaa🙂
Baca juga yuk. novel asyik karya teman sesama Authorku: