
Sekarang isi kotak besar sudah dikeluarkan semua. Orang gila itu membalikkan kotak besar, seperti memastikan isinya sudah kosong. Dia lalu menyusun pesawatnya, berjajar di atas dipan. Nenek berdiri, memberi kesempatan pada orang gila untuk menyusun mainannya seluas area dipan. Entah berbentuk apa susunan pesawat yang dibuat oleh orang gila, yang jelas orang gila itu tampak senang, dia tertawa terpingkal-pingkal. Nenek juga ikut tertawa. Bahagia sekali kelihatannya kedua orang itu. Tanpa disadari aku dan Randi jadi saling berpandangan, kami jadi saling senyum, rasanya ikut bahagia melihat mereka bahagia.
"Pulang dulu yuk, Wil. Takutnya Mak bingung cari kita." Kali ini Randi ingat pulang duluan. Aku masih asyik memperhatikan tingkah kedua orang yang sedang berbahagia itu.
"Aku penasaran dengan kotak tusuk giginya, Ran. Apa ada hubungannya dengan kotak tusuk gigi punya aku?" Randi berpikir sesaat. Aku menunggu reaksinya.
"Besok kita kesini lagi. Saat si nenek sedang sendirian. Kita coba tanya ke nenek, oke?" Ide Randi hebat. Bisa dicoba. Semoga melalui nenek, ada secercah harapan lagi untuk mengetahui siapa bapakku.
Kami pulang, dengan berusaha mengingat-ingat jalan yang sudah kami lewati tadi. Randi memang hebat, dia jadi pemandu kali ini. Ada ketenangan tersendiri ketika sudah sampai di jalan raya, kami tinggal berjalan lurus, lalu sampai SMAN Leuwi Goong, kemudian menyeberang. Sampailah di depan gerbang rumah kami.
"Ya Allah Aden... pulang dari mana? Dari tadi Mak nyari, tanya tetangga sekitar tapi tidak ada yang melihat Aden. Mak khawatir." Mak Asih langsung menyambut kami dengan kalimat-kalimat penuh kekhawatiran.
"Maafin kami ya, Mak. Kami tadi jalan-jalan melihat-lihat daerah sini." Randi yang menjawab. Mak percaya.
"Besok kami mau muter-muter lagi di sekitaran sini ya, Mak. Ga usah dicari. Kami hafal jalan pulang ko." Aku laporan sekarang, biar Mak gak khawatir lagi.
"Nah gitu Aden, bilang dulu ya, biar Mak ga khawatir."
"Iya, Mak."
Kami masuk rumah. Aku beristirahat sebentar di kamar. Randi katanya mau nonton tv, Mak ke dapur rupanya. Mak memang gak mau diam, selalu ada saja yang dikerjakan.
Tiduran di kasur begini, pikiranku jadi melayang kemana-mana. Aku ingat ibu dan bapak Cirebon. Kasihan sekali ibu dan bapak, mereka mungkin sudah sangat rindu pada Randi. Walaupun Randi tiap hari menghubungi, tapi ya tetap saja, mereka berjauhan. Pasti ada keinginan untuk bertemu langsung. Terutama ibu, yang setiap hari memang selalu tersenyum karena ulah Randi.
Selain ingat ibu bapak Cirebon, aku juga ingat Opik. Bagaimana kabarnya Opik dan abang warung? Apa dia betah ya tinggal dengan abang? Opik itu hebat, anak seusia dia sudah terlatih untuk kuat menghadapi hidup. Opik selalu ceria, padahal dia tak pernah tahu ibu bapaknya siapa. Hati dan pikiran dia bahkan tidak dibebani keinginan untuk mengetahui siapa ibu bapaknya. Yang penting bagi Opik, dia bisa makan, sudah. Makan adalah karunia luar biasa yang sangat Opik syukuri. Asal sudah makan, hati Opik tenang.
Aku sedikit menyesal, kenapa waktu di Bandung aku tidak menanyakan nomor HP abang. Betul-betul lupa. Andai saja aku punya nomor abang, pasti sudah kutelepon Opik sekarang. Besok lusa kalau aku ke Bandung lagi, pasti kuminta nomor abang.
"Wil, ditanyain Pak Samsudin tuh." Tiba-tiba Randi muncul.
"Pak Samsudin nunggu di ruang tamu ya." Randi menegaskan, ia berlalu lagi.
Aku segera menemui Pak Samsudin di ruang tamu. Kulihat Randi kembali asyik menonton tv.
"Bapak manggil Wil?"
"Iya, ayo sini duduk." Aku duduk di sebelah Pak Samsudin.
"Ini, Bapak mau laporan, hasil panen porang dalam dua hari ini, Dan hasil panen jagung hari ini." Pak Samsudin menunjukkan buku yang bentuknya agak besar juga tebal. Di dalamnya ada catatan-catatan yang aku gak paham.
"Wil ga ngerti, Pak. Jadi semuanya terserah Bapak saja."
"Bos Acep harus memaksakan belajar sedikit-sedikit. Insyaa Allah lama-lama juga Bos Acep akan bisa. Tidak usah tergesa-gesa, perlahan-lahan saja. Bapak juga memberitahunya sedikit-sedikit ko."
"Iya, Pak."
"Kebun porang bos Acep, luasnya kurang lebih 4 hektar. lokasinya ada di beberapa tempat. Yang kemarin Bos lihat itu yang lokasinya di utara. Untuk yang di barat nanti kapan-kapan kita kesana."
"Yang lokasi di utara, ada 1,5 hektar. Kemarin yang dipanen dalam dua hari baru yang satu hektar. setengah hektar lagi panennya hari selasa depan."
"Ini rincian hasil panen porang." Aku terpana melihat angka-angka yang tertulis di buku. total hasil panen 162 juta. Untuk bagi hasil panyawah 56.700.000,-. Uang aku untuk digolangkan lagi 40.500.000,-. Uang aku untuk aku simpan/pakai 40.500.000,-. Dan untuk bagi hasil Pak Samsudin 24.300.000,-. Aku tak bisa berkomentar apa-apa. Rasanya bagai mimpi.
"Hari selasa depan panen porang lagi yang setengah hektar. Semoga hasilnya lebih bagus dari yang sekarang." Aku tak habis pikir. Melihat angka-angka yang tertera di buku saja aku sudah merasa bagai mimpi. Ini Pak Samsudin bilang semoga hasil panen mendatang lebih bagus lagi. Lalu sebagus apa? Bukankah ini juga sudah luar biasa bagus?
Pak Samsudin tersenyum melihat aku hanya diam. Beliau sepertinya mengerti kebingunganku.
"Kalau harga lagi bagus Bos, perkilo bisa sampai 12 ribu. itu kemarin lagi turun, penerimaan hanya 9 ribu perkilo."
"Lalu hasil panen juga kalau lagi bagus, perpohon bisa menghasilkan sampai 3 atau 4 kilo. kemarin rata-rata hanya 2 kilo perpohon."
"Makanya Bos banyak berdo'a ya. Sholat dhuha dirutinkan kalau bisa."
"Iya, Pak."
"Uang yang untuk bagi hasil panyawah, besok mau dibagikan. Bos ikut membagikan ya, biar kenal dengan para panyawah Bos." Duh, bentrok jadwal rupanya. Aku dengan Randi sudah berencana akan menemui si nenek.
"Randi juga ikut membagikan ya, Pak." Randi berteriak dari ruang tv.
"Ayo, Wil. Kita ikut belajar dalam bisnisnya Pak Samsudin. Biar kita juga ketularan pintar kayak Pak Samsudin." Randi masih berteriak dari ruang tv. Kulirik dia, matanya masih fokus pada tv.
"Iya, Bos Acep dan Cep Randi besok bantu bapak membagikan gaji para panyawah." Kata-kata Pak Samsudin membuat Randi senang. Dia mengucapkan terimakasih.
"Bapak lanjut penjelasannya ya, Bos."
"Iya, Pak." Aku kembali fokus.
"Kebun porang yang 2,5 hektar lagi, ada di sebelah barat lokasinya. Panennya kurang lebih 6 bulan lagi." Aku hanya bisa mengangguk-angguk. Luas 2,5 hektar itu tak bisa kubayangkan seluas apa.
"Sekarang tentang kebun jagung ya. Luas kebun jagung Bos Acep sampai saat ini kurang lebih ada 5 hektar. Yang dipanen hari ini baru 2 hektar, sisanya dua minggu lagi. "
"Bos Jagung akan membayar dan mengambil hasil panen 7 hari lagi, menunggu jagungnya agak kering dulu"
"Wow, Wil. Kamu betul-betul jutawan. Tajir sekali kamu, Wil." Randi berkomentar, masih dari ruang tv.
"Bukan jutawan. Tapi miliarder."
"Hah! Miliarder, Pak? Mata Randi hampir keluar mendengar kata-kata Pak Samsudin.