
Pak Preman diam. wajahnya sedikit menunduk. Mungkin Pak Preman merasa sedih karena tidak kami percaya. Tapi itulah kenyataannya, kami memang tidak percaya dia.
Pak Preman menegakkan wajahnya lagi, dia lalu berkata,
"Sebenarnya ada sedikit proses sampai bapak bisa menggendong Mimbo."
"Bisakah bapak ceritakan pada kami?"
"Untuk apa, De? Tetap saja orang tua Mimbo tidak bisa bapak temukan." Mendengar kalimat yang Pak Preman utarakan ini, kecurigaan kami mulai berkurang. Aku dan Randi menatap Pak Preman, kesedihan di wajahnya tampaknya bukan sandiwara, Pak Preman betul-betul sedih.
"Bisa, Pak. Ada harapan. Ada seorang ibu yang merasa bahwa Mimbo adalah anaknya yang hilang. Karena semua ciri-ciri anaknya ada pada Mimbo."
"O ya? Betul itu, De? Syukurlah. Walau bapak sudah terlanjur sayang pada Mimbo, tidak apa-apa. Bapak lebih bahagia kalau Mimbo kembali pada ibu yang melahirkannya." Ada rasa aneh. Ko bisa-bisanya secepat itu Pak Preman berubah. Pak Preman kini jadi sering bicara soal sayang, soal rindu. sekarang bahkan Pak Preman bicara soal keikhlasan. Dia ikhlas Mimbo kembali pada ibu kandungnya. Dia rela kehilangan Mimbo. Padahal di hari-hari lalu, Pak Preman selalu mengukur segala sesuatu dengan rupiah. Mimbo boleh pergi asal diganti dengan rupiah. Sekarang, Mimbo boleh pergi dan dia ikhlas.
"Maka dari itu, ayo ceritakan dengan lengkap, Pak. Bagaimana caranya Mimbo jadi ada di dekat bapak?" Aku mendesak. Selain karena penasaran, juga karena ingin membuka harapan seluas-luasnya untuk kebahagiaan Bu Yanti.
Baik, bapak akan ceritakan.
"Saat perjalanan dari rumah ke Terminal Guntur, hari masih pagi. Bapak melewati sebuah rumah yang pintunya terbuka. Dari dalam rumah bapak mendengar tangis seorang anak kecil yang tidak berhenti-berhenti. Selain suara anak menangis, bapak mendengar suara orang yang sedang bertengkar hebat."
"Bapak khawatir pada anak itu, karena tangisnya betul-betul tidak berhenti. Maka bapak dekati pintu rumah itu. Dari tempat bapak berdiri jelas terdengar bahwa yang bertengkar adalah seorang ibu dan bapak. Sepertinya mereka adalah suami istri, karena sekilas bapak bisa lihat si ibu menggendong anak yang menangis."
"Mereka bertengkar tentang apa, bapak kurang mengerti. Yang bapak dengar, istrinya berteriak melarang suaminya menjual anak. suaminya berteriak tetap akan menjual anak, uang hasil penjualan anak katanya untuk modal hidup mereka berikutnya. suaminya bilang bahwa kalau tetap tidak sepakat, dia akan meninggalkan istrinya dan akan berangkat bersama sang anak. Suaminya kemudian berusaha mengambil paksa anak dari gendongan istrinya. Karena istrinya bersikeras mempertahankan, suaminya mulai bersikap kasar, dia menampar istrinya."
"Bapak tidak tega, maka bapak masuk, berusaha melerai. Bapak mencoba menasehati, bahwa anak itu karunia Ilahi, jangan di sia-siakan. Dengan emosi, si suami menjawab bahwa anak itu bukan anak istrinya."
"Anak kecil itu Mimbo kan, Pak?" Randi menyela. Aku menyikut lengan Randi. Randi kembali diam. Kami menyimak cerita Pak Preman lagi.
"Si suami tetap mau mengambil paksa sang anak, istrinya tetap bertahan. Kekerasan hampir terjadi lagi, maka bapak mengancam si suami, bahwa bapak akan melaporkan pada polisi, karena tindakan menjual anak itu melanggar hukum, ditambah lagi tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Si suami masih emosi, dia menendang kursi lalu pergi meninggalkan rumah, entah kemana."
"Setelah suaminya pergi, si ibu memberikan anaknya ke bapak. Si ibu bilang bahwa anak itu korban penculikan suaminya. Si ibu meminta bapak untuk mengembalikan anak itu pada ibu kandungnya. Suaminya pernah bilang bahwa anak itu diambil dari sebuah rumah di daerah Banyuresmi."
"Dengan berat hati, bapak menerima bayi itu. Bapak berjanji pada si ibu, bahwa bapak akan mencari ibu kandung anak itu. Tapi sayang, beberapa hari bapak mencari, tetap tidak berhasil. Sampai akhirnya bapak berkeputusan untuk membesarkan anak itu."
"Dan bapak menjadikan Mimbo sebagai pengemis? Selain itu, bapak juga tega mengambil sebagian hasil kerja Mimbo." Aku protes. Muncul lagi emosi di hati ini.
"Kalau soal bapak menjadikan Mimbo sebagai pengemis, betul, itu salah bapak. Pekerjaan bapak adalah pengamen, dan saat Mimbo punya ide untuk mengemis, karena dia ingin membantu bapak, bapak tidak melarang. Di sana letak kesalahan bapak. Tapi kalau soal bapak mengambil sebagian hasil kerja Mimbo, itu tidak benar, bapak hanya mengamankan bukan mengambil." Masih saja ada alasan.
"Sudah jelas-jelas mengambil, masih saja bilang mengamankan. Mengamankan untuk apa?" Randi yang protes kali ini.
"Setengah dari penghasilan bapak dan setengah dari penghasilan Mimbo, bapak simpan. Maksudnya untuk jaga-jaga bila suatu saat darurat membutuhkan. Misal untuk berobat bila Mimbo sakit, atau untuk sekolah Mimbo." Aku dan Randi saling berpandangan. Tidak ada yang salah pada alasan Pak Preman kali ini. Memang betul, yang namanya sakit itu tidak bisa diduga. Apalagi anak kecil, siang hari sehat, malam bisa jadi sakit. Dan bila sudah sakit memang perlu biaya untuk berobat. Walaupun sekarang sudah musim BPJS, tapi untuk sekelas Pak Preman tidak memungkinkan untuk rutin membayar iuran BPJS.
Tadi Pak Preman bilang uang yang disimpan ditujukan untuk sekolah Mimbo juga? Wow, surprise buatku. Ternyata sekelas Pak Preman yang hanya seorang pengamen, punya kesadaran tinggi juga untuk menyekolahkan anak. Aku acungkan jempol untuk hal ini.
"Lalu, Pak. alasan bapak mengambil sebagian penghasilan anak-anak matahari, sama juga?" Pak Preman mengangguk pasti.
"Uangnya masih ada di bapak. Bapak simpan dengan aman. Bila kalian meminta, untuk menambah biaya anak-anak di sini, bapak akan berikan. Nanti saat bapak datang ke sini lagi uangnya bapak bawa." Randi kembali memandangku. Aku mengerti tatapan Randi. Dia mengaku salah, selama ini menganggap Pak Preman orang yang jahat, karena telah memperlakukan anak-anak dengan begitu kejam. Kejam versi kami.
"Lalu kenapa, kemarin-kemarin bapak minta tebusan, saat kami akan meminta anak-anak matahari untuk kami sekolahkan?" Pak Preman tersenyum.
"Hanya trik, agar bapak tidak kehilangan mereka. Bapak sudah berencana bahwa tahun ini yang akan bapak sekolahkan adalah anak-anak yang besar dulu. Anak-anak belum tau soal itu." Ya ampun. Ternyata aku benar-benar salah menilai Pak Preman. Aksi sosial Pak Preman ternyata lebih dulu dibanding aku. Aku baru hitungan hari menjaga anak-anak matahari. Tapi Pak Preman, sudah bertahun-tahun. Kualitas peduli sesama Pak Preman juga jauh lebih baik dari aku. Aku bisa berbuat seperti yang kulakukan sekarang, karena memang aku punya uang, punya harta pemberian Pak Sugianto yang bisa kugunakan untuk semua keperluan. Tapi Pak Preman? Dia berbuat dengan segala keterbatasan yang dia miliki. Dia membiarkan anak-anak menganggap dia jahat. Dia tidak marah, apalagi berusaha memulihkan nama baiknya. Dia membiarkan semua, karena memaklumi bahwa anak-anak matahari memang masih anak-anak. Suatu saat di waktu yang tepat, dia juga berencana akan menjelaskan semuanya.