
Pagi yang cerah. Ada yang berbeda di rumah ini pagi ini. Biasanya rumah ini sepi. Karena masing-masing dari penghuni rumah sibuk dengan pekerjaannya. Mak di dapur, Pak Samsudin siap-siap ke kebun, aku dan Randi paling bersih-bersih di halaman rumah.
Kali ini, pagi-pagi sudah rame. Anak-anak matahari sudah bangun ketika adzan subuh berkumandang. Sepertinya mereka hanya cuci muka, gosok gigi, lalu berwudhu. Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di ruang tengah, bersiap sholat subuh berjamaah. Yang menjadi imam Pak Samsudin.
Selesai sholat, Pak Samsudin mengajak kami semua untuk berdzikir. Pak Samsudin lalu memberi nasehat,
"Perbanyak istighfar ya, Nak. Juga do'akan orang tua kalian, meski kalian tak tahu siapa mereka. Do'akan saja, mintakan pada Allah ampunan untuk kedua orang tua kalian." Pak Samsudin lalu memimpin do'a.
Selesai berdo'a, Pak Samsudin bersiap untuk ke kebun. Mak sudah menyediakan sarapan untuk Pak Samsudin dan kami semua.
"Ayo, siapa yang mau sarapan bareng bapak?"
"Nanti aja, Pak. Kami mau olah raga dulu." Randi mengajak anak-anak berolah raga ringan di halaman rumah.
22 orang berlari-lari kecil bolak balik antara teras, gerbang, saung. Semua bersemangat. Tapi tidak serius. Kebanyakan dari kami berlari sambil bercanda. Tawa riang anak-anak begitu membuat hangat suasana.
"Wil, biasa. Bapak di gerbang." Randi memberitahuku.
"Adik-adik, coba berhenti sebentar, Kakak mau ngomong." Anak-anak menghentikan kegiatannya.
"Kakak mau ngasih tau kalian. Itu yang di balik pintu gerbang, kan ada Bapak-bapak, itu Bapak Nana yang kakak ceritakan kemarin." Semua mata memandang seorang bapak, yang sedang menunggu pintu gerbang dibuka.
"Kak, aku takut."
"Aku juga, serem ih, Kak. Lihat matanya."
"Iya Kak, kami masuk aja ya."
"Sssstt, gak usah takut, Bapak Nana memang agak tidak normal, tapi Bapak baik kok." Opik yang bicara.
"Coba sini liat, Opik akan bukain gerbang." Dengan percaya diri Opik melangkah menuju gerbang. Tentu saja Randi mengikuti, karena pintu gerbang itu tak akan bisa dibuka bila hanya oleh Opik. Tenaga Opik belum cukup kuat untuk membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi.
Pintu gerbang terbuka, Bapak Nana bergegas masuk, langsung menuju saung, lalu duduk.
"Ayo, adik-adik. coba semua berbaris. Kita melakukan pemanasan ringan ya." Randi memimpin. Aku melirik Bapak Nana. Tumben pagi ini Bapak Nana hanya duduk melihat kami berolah raga. Bibir Bapak tersenyum, matanya terus memandang kami semua.
"Sekarang kita lari di tempat ya, tapi gak usah cepat-cepat. Ayo, mulai, satu dua tiga." Randi memberi contoh. Anak-anak kompak melakukan gerakan sesuai instruksi. Di saung kulihat Bapak Nana berdiri, lalu bertepuk tangan dengan begitu gembira. Bapak Nana terus bertepuk tangan, seiring gerakan anak-anak matahari.
Melihat respon Bapak Nana, aku jadi sedikit menyimpulkan bahwa Bapak Nana senang pada anak kecil.
"Ran, coba sini." Randi mendekatiku.
"Kenapa, Wil?"
"Coba kamu perhatikan, selama ini Bapak Nana begitu senang kalau ada Opik. Sekarang Bapak Nana terlihat senang melihat anak-anak. Aku jadi punya ide."
"Ide apa tuh, Ran?"
"Biasalah, ide coba-coba. Tapi paling nanti diterapkannya, Ran. Setelah ada petunjuk dari dokter yang memeriksa Bapak Nana."
"O gitu. Oke deh."
Mak Asih dan Mak Ucih datang, membawa air putih hangat dan empat piring pisang goreng.
"Ayo sini, kalau belum mau sarapan, pisang goreng dulu aja." Anak-anak berlari menuju teras, berebut mengambil pisang goreng.
"Hei adik-adik. Coba lambaikan tangan pada Bapak Nana." Anak-anak melaksanakan instruksi.
"Sini, Pak. Ayo sini. Kumpul di sini dengan kami." Anak-anak kompak memanggil Bapak Nana. Terdengar tawa riang, sedikit berlari Bapak Nana mendekati kami. Randi memberikan setengah piring pisang goreng dan segelas air putih. Bapak Nana langsung mengambil satu pisang goreng dan memakannya dengan begitu nikmat.
"Ujang, kabiasaan nya, can mandi oge." (Pen: Ujang, kebiasaan ya belum mandi juga) Nenek datang dari pintu gerbang.
"Euleuh, meni seueur murangkalih geuning, ieu saha, Cu?" (Pen: Ko banyak anak-anak, siapa ini, Cu?), Aku melirik Opik, seperti biasa, Opik bertindak sebagai penerjemah.
"Ini anak-anak matahari, Nek. Datang dari Bandung." Nenek menatap anak-anak satu persatu.
"Nek, ini ada pisang goreng, dicicipi dulu." Nenek mengambil pisang goreng yang ditawarkan Opik.
"Insyaa Allah kita hari ini jadi ke Cirebon ya, Nek. Setelah sholat dzuhur berangkatnya." Nenek mengangguk.
"Hayu Ujang, urang siap-siap." (Pen: Ayo, Ujang, kita siap-siap) Nenek hanya memakan satu pisang goreng, minumnya pun hanya setengah gelas. Diraihnya tangan Bapak Nana, mengajaknya pulang. Bapak Nana menurut.
"Nenek pulang dulu ya, anak-anak."
"Iya, Nek."
Anak-anak melanjutkan aktifitasnya. Ada yang pergi mandi, ada juga yang membantu Opik menyiram tanaman dan membersihkan taman. Anak-anak perempuan pergi ke dapur membawa piring kosong bekas pisang goreng dan gelas-gelas kotor bekas kami minum. Aku dan Randi siap-siap pergi ke pasar, belanja alat-alat tulis.
***
Waktu berlalu, adzan dzuhur berkumandang. Kami sudah berkumpul di ruang tengah untuk sholat berjamaah. Kali ini aku yang jadi imam. Pak Samsudin belum pulang.
"Adik-adik, ayo bersiap." Semua berdiri membentuk tiga shaf. Siap melaksanakan sholat.
Selesai sholat, aku menunjuk Deri, Ahmad dan Toni untuk jadi imam bergantian, selama aku dan Randi di Cirebon. Itu juga bila kebetulan Pak Samsudin sedang tidak di rumah. Deri, Ahmad dan Toni menyanggupi.
***
Saatnya tiba. Bapak Nana, nenek, Dian, Mang Jana dan Mang Ijar sudah siap di dalam mobil. Aku dan Randi pamit pada semua. Mang Ijar sengaja ikut, untuk menemani Mang Jana pulang lagi ke Garut nanti sore.
"Jangan lupa sering-sering kasih kabar ya, Bos. Terus satu lagi, jangan ragu menggunakan uang yang ada di ATM." Pak Samsudin berpesan.
"Iya, Pak. Siap. Makasih ya, Pak. Jumat sore Wil ke sini lagi Insyaa Allah."
"Iya, tunggu aja. Nanti dijemput Mang Jana dan Mang Ijar."
"Ok, Pak."
***
Perjalanan lancar. Tiga jam perjalanan kami lalui dengan aman. Bapak Nana cukup tenang selama perjalanan. Tadinya aku dan Randi khawatir, Bapak Nana akan bertingkah aneh, atau melakukan sesuatu yang cukup merepotkan. Ini tidak, Bapak hanya diam, mata memandang keluar melalui kaca mobil. Entah apa yang Bapak pikirkan.
Kami sampai di rumah, Ibu Nita dan Pak Daud menyambut kami dengan gembira. Nenek kami perkenalkan, ibu Nita mencium tangan nenek, juga mencium pipi nenek kiri dan kanan. Ada yang sedikit tak kumengerti. Cara ibu Nita menatap nenek, seperti seorang anak yang sangat merindukan ibunya. Padahal mereka baru pertama kali ini bertemu.
'Halo pembaca yang baik, terimakasih telah bersedia mampir dan membaca karya ini, Simak dan dukung terus ya...❤❤❤.'
Simak dan dukung juga ya karya saudaraku sesama Author, makasih. Ini dia karyanya: