KK

KK
55. REHABILITASI



"Kok aku nggak terpikir ya, ke arah situ? Bener-bener aku ini egois ya, Ran? yang kupikir hanya tentang diri sendiri aja." Aku jadi merutuki diri sendiri.


"Bukan egois, tapi agak telaaat." Randi mendorongku, lalu dia berlari menjauh, menghindar dari pembalasanku. Awas kau, Ran!


***


Sampai rumah, Tim yang mengantar Bapak Nana belum pulang. Gerbang tidak dikunci. Tapi pintu rumah terkunci. Randi mengambil kunci rumah ditempat rahasia. Kunci rumah selalu disimpan ditempat rahasia bila semua penghuni rumah pergi.


Sebelum masuk kamarku, aku sempat melirik meja makan. Di atasnya sudah tersaji makanan. Berarti ibu berangkat setelah beres masak. Mungkin sekitar jam 09.00 an.


Sepi sekali rumah ini bila penghuninya sedang pergi semua. Aku membayangkan, betapa repot ibu, harus membawa Bapak Nana yang kondisinya seperti itu, membawa nenek yang sudah tua, juga membawa Dian yang walaupun bisa mandiri, Dian tetap masih seorang anak kecil. Mungkin kalau harus berjalan, mereka akan berjalan saling berpegangan, satu dan yang lain saling menjaga. Entah ibu naik apa ke rumah sakit, bisa jadi naik grab car. Karena mobil Pak Daud tetap ada di garasi. Pak Daud berangkat kerja biasanya menggunakan motor, lebih praktis menurut beliau. Andai ibu bisa nyetir, tentu tak usah susah-susah memanggil abang grab. Tapi sampai saat ini ibu belum berminat untuk bisa nyetir sendiri. Untuk urusan nyetir, di rumah hanya mengandalkan Pak Daud, karena aku dan Randi memang belum diperbolehkan menyetir, karena belum berusia 17 tahun.


"Wil, ibu sudah di jalan menuju pulang katanya. Barusan aku chat." Randi masuk kamarku, pintu kamar memang tidak aku tutup.


"Terus gimana katanya, tentang bapak?" Aku tak sabar ingin mendengar hasil diagnosa dokter ahli jiwa pada Bapak Nana.


"Aku belum nanya soal itu. Kasihan ah, ibunya lagi di jalan. Ntar aja di rumah."


"Semoga cepat sampai rumah, aku penasaran soalnya."


"Sama sih, aku juga penasaran. Yuk ah, sekarang makan dulu aja." Randi bergerak ke meja makan. Aku mengikuti.


"Duh, aku lupa, Ran. Belum sharelock ke Bu Min." Tiba-tiba aku ingat pesan Bu Min. Aku kembali ke kamar, mengambil HPku.


Setelah mengirim sharelock, aku kembali ke ruang makan, bergabung dengan Randi.


"Emang Bu Min mau kesini? pake dikirim sharelock segala."


"Iya, Ran. Supaya leluasa ngobrol tentang masalah aku katanya."


"Bu Min baik juga ya. Untuk urusan siswanya, Bu Min sampai mau berkunjung ke rumah segala."


"Iya, Ran. Bu Min memang guru yang hebat."


"Eh tapi yang hebat bukan hanya Bu Min kali. Semua guru kita juga hebat."


"Betul, Ran. Kesimpulan, profesi guru itu hebat. Coba aja liat, tiap hari ngurusi anak orang, banyak pula anaknya. Nggak pusing apa ya?"


"Sudah kewajibannya kali. Mereka kan digaji."


"Nggak semuanya punya gaji, Ran. Kan Bu Min pernah cerita, tentang perjuangan guru-guru di pelosok daerah, apalagi di daerah terpencil. Banyak Sekolah Dasar yang gurunya hanya ada satu, itupun guru relawan, yang jangankan digaji. Uang pribadinya pun malah digunakan untuk keperluan anak didiknya, beli bukulah, alat-alat tulislah. Kasian."


Sedang seru-serunya diskusi antara aku dan Randi, terdengar salam dari arah pintu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum Salam." Aku dan Randi serentak menjawab salam. Ibu, Nenek, Bapak Nana dan Dian pulang. Bapak Nana begitu ceria kelihatannya. Bibirnya tersenyum. Aku jadi ingin sedikit menggoda.


"Kenapa nih, Pak. Senyum-senyum terus. Abis ketemu dokter cantik ya?" Aku tahu candaanku tidak akan kena sasaran, Bapak akan tetap asyik dengan dirinya sendiri. Tapi sedikit-sedikit aku mencoba memperlakukan bapak sebagai orang normal.


"Betul, Wil. Tadi dokternya cuantiik sekali. Ibu aja jadi iri." Ibu menambahkan.


"Ibu juga cantik kok, apalagi di hatiku, ibu adalah wanita yang paliiing cantik. hehe." Randi malah menggoda ibunya. Ibu Nita tersenyum.


"Ayo, ayo. pada makan dulu. Wil sama Randi udah selesai makannya?"


Aku sebenarnya ingin segera bertanya pada ibu tentang hasil kunjungan ke dokter. Tapi keinginanku sementara kuredam dulu. Sambil menunggu semua makan, aku sholat dulu, lanjut rebahan sebentar di kamar.


***


Sore setelah sholat asar, aku baru bisa bertanya pada ibu tentang hasil kunjungan ke dokter tadi.


"Alhamdulillah secara umum, kondisi fisik Bapak Nana baik." Kalimat awal ibu cukup menenangkan semua yang mendengar. Pak Daud menghela nafas panjang, beliau ikut mengucap syukur.


"Tapi khusus untuk kondisi psikisnya, penyembuhannya membutuhkan proses dan kesabaran lebih. Yang penting, kita sebagai orang-orang yang menyayangi Pak Nana, tetap harus mendukung penuh, jangan patah semangat." Semangat ibu begitu terasa dari nada bicaranya. Aku bangga pada ibuku yang satu ini, beliau mengenal Bapak Nana baru hitungan hari. Tapi semangat dan kesiapannya untuk berjuang menyembuhkan Bapak Nana, tak dapat diukur dengan nilai berapapun. Apalagi ketulusannya, Ibu Nita betul-betul patut kami jadikan suri tauladan dalam hidup kami.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Bu?" Randi menatap Ibu Nita dengan antusias.


"Tadi dokter memberi obat. Kata dokter namanya obat antipsikotik, harus diminum secara teratur sesuai petunjuk yang dokter sarankan."


"Selain itu, dokter menyarankan terapi tambahan. misal seperti rehabilitasi."


"Maksudnya, Bu?" Randi bertanya lagi. Pertanyaan Randi juga sekaligus merupakan pertanyaanku. Karena aku juga belum mengerti yang ibu bicarakan.


"Pokoknya untuk saat ini, yang kita lakukan: Ingatkan Bapak Nana untuk minum obatnya, lalu kita rutin membawa Pak Nana ke dokter dua kali seminggu. Kemudian dalam keseharian, kita perlakukan Pak Nana sebagaimana orang normal pada umumnya." Ibu menjelaskan panjang lebar. Aku dan Randi saling berpandangan.


"Berarti masih ada harapan untuk sembuh kan, Bu?"


"Bukan hanya masih ada. Tapi masih besar harapan untuk sembuh, Insyaa Allah. Kita sama-sama berusaha dan berdo'a ya."


"Bu." Kalimat Randi terhenti. Aku sudah hafal, bila kalimat Randi terputus begitu, biasanya ada ide spontan yang ingin Randi sampaikan.


"Ya, Nak?"


"Coba ibu bilang pada nenek bahwa nenek tidak perlu lagi berusaha membuat Bapak Nana betah di kamar."


"Lalu?" Aku yang kali ini penasaran dengan ucapan Randi.


"Kan kita memang harus memperlakukan Bapak Nana sebagai orang normal. Jadi biarkan aja pintu kamar tidak terkunci. Biarkan Bapak Nana bebas keluar masuk kamar, berhubungan dengan kita, dan beraktifitas di area seputar rumah dan halaman. Yang penting pintu gerbang selalu dikunci." Aku, ibu, dan Pak Daud mengangguk-angguk bersamaan. Dian ikut-ikutan mengangguk-angguk juga.


"Betul kata Randi. Ayo kita bilang pada nenek." Ibu setuju. Kami lalu bergerak menuju kamar nenek, mengetuk pintu perlahan. Saat pintu terbuka, Bapak Nana langsung keluar dan menuju halaman rumah. Nenek hampir berteriak, memanggil Bapak Nana. Tapi ibu cegah. Ibu lalu menyampaikan ide yang kami sepakati tadi.


"Teu sawios-wios, Nek. Aman Insyaa Allah. Gerbangna ge dikonci da."(Pen: Tidak apa-apa, Nek. Aman Insyaa Allah. Gerbangnya juga dikunci kok) Nenek mengerti, akhirnya nenek hanya mengikuti pergerakan Bapak Nana dengan matanya.


Kami melanjutkan duduk-duduk di teras rumah, mengobrol berbagai tema. Tiba-tiba,


"Assalamu'alaikum." Terdengar salam dari luar gerbang rumah. Seseorang datang berkunjung, Bu Min. Aku berjalan menuju gerbang, mau membukakan gerbang untuk Bu Min. Bapak Nana mengikutiku dari belakang. Bu Min menatapku, menatap Bapak Nana juga. Kaki Bu Min bergerak mundur satu langkah. Jelas sekali kulihat ketegangan di wajah Bu Min.


____________


Bersambung...


Rekomendasi novel karya Teman sesama Author:



Akibat dari cinta satu malam, membuat Vie harus merelakan masa mudanya. Setelah dikeluarkan dari kampus, ternyata Vie juga diusir oleh ayahnya sendiri karena Vie telah mencoreng nama baik keluarga. Lima tahun berlalu, kehidupan pahit Vie kini telah terobati dengan hadirnya sosok Arga, bocah kecil tampan yang sedang aktif berbicara meskipun kini tak tahu dimana keberadaan ayahnya. Namun, siapa yang menyangka jika selama ini Vie bekerja di perusahaan milik keluarga kekasihnya. Hal itu baru Vie ketahui saat kekasihnya mulai mengambil alih perusahaan. Masih adakah rasa yang tertinggal untuk sepasang kekasih di masa lalu ini? Mari kita ikuti kisahnya 😊