
Mang Jana dan Mang Ijar sudah menunggu ketika kami sampai di lokasi yang disepakati. Pak RT juga menunggu. Kami berencana berangkat bersama-sama.
"Bos. Bos bisa pake motor kan? Kalau bisa, satu motor bawa aja. Buat boncengan. Puskesmasnya dekat ko."
"Randi yang bisa. Gimana, Ran?"
"Oke, boleh. Supaya kita bisa agak lama di sana." Randi setuju.
Kami berangkat menuju Puskesmas. Mengikuti Pak RT. Mang Jana dan Mang Ijar kembali ke rumah.
Ternyata memang dekat, hanya lima menitan kami sudah sampai Puskesmas. Gedung Puskesmas di sini besar juga. Area parkirnya juga luas. Motor maupun mobil leluasa parkir di sini.
Kami langsung menuju IGD. Ternyata anaknya nenek sudah dipindah ke ruang rawat inap. Kami menuju ruang rawat inap.
Nenek senang saat melihat kami datang.
"Nuhun nya, Cu." (Pen: Makasih ya, Cu.)
Bapak Gila masih terbaring, agak lemas. tangannya diinfus. Nenek bilang, anaknya sakit gejala types. Dokter tadi bilang begitu. perlu di rawat sementara. Dua atau tiga hari, bila kondisinya membaik, bisa pulang.
"Pak RT mohon maaf, saya kan kurang ngerti bahasa daerah di sini, boleh minta tolong terjemahkan ucapan nenek, Pak? Saya ingin bicara dengan nenek." Pak RT tersenyum maklum. Beliau mengangguk.
Aku dan Randi mendekati nenek. Bapak Gila masih tidur. Pak RT siap menerjemahkan dialog aku dan nenek.
"Nek, bisa ngobrol sebentar. Tapi pelan-pelan aja ya, Nek."
"Iya, Cu. Ada apa?"
"Ini, Nek. Coba liat." Aku menunjukkan kotak tusuk gigi pemberian Ibu Aisyah. Tak lupa kutunjukkan pula dua huruf tulisan tangan yang ada di sana.
"Ya Allah, Cu. Ini dari mana?" Nenek menatapku lekat.
"Wil adalah bayi nenek yang selama ini hilang." Nenek menatapku tak percaya. Kotak tusuk gigi dilihat lagi, dibolak balik, mata nenek di tutup pake tangan sebentar. Lalu dibuka lagi. Nenek kembali memastikan, dua huruf tulisan tangan yang ada di kotak tusuk gigi diraba. Nenek kembali menatapku.
"Iya, Nek. Ini bayi nenek. Cucu nenek." Aku meyakinkan nenek. Nenek akhirnya menarikku ke dalam pelukannya. Nenek menangis, tanpa suara. Aku juga. Kami kemudian bersama-sama menatap bapak. Bapak masih lelap.
"Jadi Bapak ini adalah bapakku, Nek? Nama bapak siapa, Nek?" Randi mengusap bahuku. Pak RT terlihat bingung.
"Namanya Nana. Bapak Nana. Dia anak nenek satu-satunya. Tapi dia bukan bapak kandungmu." Aku menatap Randi. Randi juga menatapku. Kami sama-sama bingung.
"Maksud Nenek?"
"Iya, Cu. Waktu Bapak Nana berniat akan menikahi ibumu, Ibu Minah, kakakmu berusia 10 bulan. Dan kamu masih di dalam kandungan usia 4 bulan." Aku tak bisa berkata apapun. Ada rasa sakit yang begitu menusuk di hati ini. Tadinya aku sudah merasa yakin, aku punya bapak, meski bapak gila. Tapi kenyataannya, bapak gila bukan milikku. Bukan bapakku. Lalu mana bapakku? dimana bapakku? Aku lelah berharap dan berharap terus.
"Walaupun belum boleh dinikahi Bapak Nana, Ibu Minah sudah nenek ajak tinggal di gubuk nenek. Kasihan, dia tidak punya siapa-siapa. Suaminya menceraikannya, lalu membiarkannya begitu saja." Itu bapakku, suaminya Ibu Minah kemungkinan adalah bapakku. Bapakku ternyata jahat. Menceraikan ibu, dan membiarkan kami terlantar.
"Bapak Nana begitu menyayangi ibumu. Dia rela tiap malam tidur di dipan depan rumah. Supaya ibumu dan kakakmu bisa tidur di dalam rumah nenek."
"Ini Wildan, Pak. Bayi yang selama ini bapak tunggu-tunggu." Pandangan Bapak masih tetap kosong, tapi bibirnya tersenyum. Nenek mengusap sudut mata Bapak Nana yang basah.
"Bapak Nana menangis. Apakah Bapak mengerti yang Wil katakan, Nek?" Pak RT masih setia menerjemahkan setiap dialogku dengan nenek. Meski Pak RT terlihat belum paham duduk persoalannya, tapi Pak RT melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.
"Nenek tidak tau, Cu. Selama ini dia memang suka menangis kalau mendengar ucapan nenek tentang Ibu Minah dan anak-anaknya." Aku tahu bahwa laki-laki di hadapanku ini begitu penuh kasih. Dia tulus menyayangi aku, kakakku dan ibuku.
"Lalu, dimana kakakku, Nek?" Wajah nenek seketika pucat. Nenek melihat ke arahku, dan menyimpan jari telunjuk di mulutnya. Nenek menyuruhku diam. Lalu Nenek memberi kode pada Pak RT agar mendekat, Nenek kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Pak RT. Setelah itu, Pak RT menarik tanganku, agak menjauh dari tempat Bapak Nana berbaring.
Pak RT lalu bilang,
"Kata Nenek tadi, Nanti soal itu Nenek ceritakan. Tapi tidak sekarang."
"Oh, begitu." Aku berusaha mengerti. Walau sebenarnya cukup penasaran juga, kenapa Nenek tidak bilang sekarang saja. Kenapa mesti ditunda.
"Maaf ya, Pasien mau diperiksa dulu." Dokter dan perawat datang. Akan memeriksa kondisi terkini Bapak Nana. Aku memberi kode pada Randi untuk tetap di dalam ruangan. Sementara aku mengajak nenek dan Pak RT ke luar ruangan.
"Bisa sekarang diceritakannya, Nek?" Pak RT masih bertugas menerjemahkan. Nenek mengangguk.
"Intinya, setelah bayi hilang, Nenek sangat khawatir. Nenek takut kakakmu akan hilang juga dengan cara yang sama. Maka Nenek pikir, lebih baik menitipkan kakakmu di panti asuhan, di sana tempat yang aman." Aku menutup mulut, karena hampir berteriak.
"Jadi, Kakakku ada di panti asuhan, Nek?" Nenek mengangguk. Nenek lalu menyebutkan nama panti asuhan tempat kakak dititipkan.
Dokter selesai memeriksa Bapak Nana. Dokter menemui nenek.
"Kondisina sae, dua dinten deui mudah-mudahan tiasa uih. Ieu aya resep nu kedah dipeser di apotek di luar nya, Nek." (Pen: Kondisinya bagus, dua hari lagi mudah-mudahan bisa pulang. Ini ada resep yang harus dibeli di apotik di luar ya, Nek) Dokter memberikan kertas resep pada nenek.
"Sini, Nek. biar Wil dan Randi aja yang nebus resepnya." Nenek hanya diam saat aku mengambil kertas resep dari tangannya.
"Pak RT terimakasih untuk semua bantuannya ya. Sekarang biar kami yang mendampingi nenek. Bapak istirahat saja di rumah."
"Oh gitu, Nanti malam nenek gimana?" Baik sekali Pak RT ini, beliau masih saja mengkhawatirkan nenek.
"Kami yang menemani nenek selama Bapak Nana dirawat, Pak."
"Ya sudah, Bapak pulang kalau begitu ya. Besok ke sini lagi. Titip nenek dan Bapak Nana ya." Pak RT pamit.
"Iya, Pak."
Pak RT pulang, nenek kembali duduk di samping Bapak Nana. Aku dan Randi pamit meninggalkan nenek sebentar. Kami akan ke apotik terdekat, menebus resep obat buat Bapak Nana.
"Wil, coba sambil chat Pak Samsudin dan Mang Jana. Bilang bahwa kita nginep di sini malam ini" Randi mengendarai motor perlahan, kami menuju apotik yang lokasinya ditunjukkan
Pak Satpam, saat kami bertanya tadi.
"Nanti saja, Ran. Masih sore ini. Aku kabari Pak Samsudin kalau sudah sampe ruangan Bapak Nana lagi."