
Bukan hanya aku yang berurai air mata, Randi juga. Opik hanya diam membisu. Ekspresi Opik datar saja. Mungkin dia sudah kebal dengan apa yang namanya kesedihan. Tempaan hidup buat Opik sudah sedemikian hebat. Menyimak cerita tentang Ibu Minah yang sudah meninggal adalah hal biasa untuk Opik. Mungkin dimatanya, nasib aku jauh lebih beruntung. Dibanding nasibnya yang sama sekali tak tahu tentang orang tuanya.
"Nek, kalau aku boleh tau, kuburan Ibu Minah dimana, Nek?" Aku menatap nenek, menunggu jawabannya. Nenek masih diam, tangannya masih menyuapi makan anak kesayangannya. Nenek kembali menatapku.
"Di sana, Cu." Nenek menunjuk suatu tempat. Aku, Randi, Opik, semua menengok ke arah yang ditunjukkan nenek. Kami semua mengernyitkan dahi. Yang ditunjuk nenek adalah akar pohon besar.
"Di dekat akar pohon besar, Nek?" Aku tentu saja penasaran.
"Iya, Cu. Dari sini tidak terlalu keliatan. karena tertutup pohon besar itu." Aku, Randi, dan Opik tanpa dikomando berjalan perlahan, mendekati akar pohon besar. Setelah dekat, baru kami bisa melihat. Ada satu kuburan. Sebenarnya kuburan itu ada jarak dengan pohon, lima meteran kurang lebih. Tapi karena pohon dan akar pohon begitu besar, kuburan itu tak kelihatan bila dilihat dari rumah nenek maupun dari jalan setapak yang menuju rumah nenek. Kami mendekati kuburan, tampak batu nisan bertuliskan 'Minah' dengan tahun lahir dan tahun wafat tertera di situ.
"Wil. Ini ibu kamu." Baik Randi maupun aku, betul-betul tak menyangka bahwa di balik pohon besar ini ada kuburan orang yang paling penting dalam hidupku. Padahal selama ini kami bolak balik ke rumah nenek. Kami selalu duduk di akar pohon besar ini. Tapi kami memang tidak memperhatikan sekeliling pohon. Mata kami selama ini selalu fokus memperhatikan rumah nenek.
"Ayo, Ran, Pik, kita berdo'a untuk ibu dulu." Kami berjongkok mengelilingi kuburan ibu. Aku yang memimpin do'a. Beberapa saat kemudian, tanpa kami duga, Bapak Nana mendekat. Bapak ikut berjongkok, di sebelah Opik. Setelah do'a selesai, sebelum kami berdiri Bapak Nana mengelus nisan ibu, cukup lama. Bapak Nana melakukan itu sambil tersenyum. Bapak terus mengelus-elus nisan ibu, seolah beliau sedang mengelus rambut ibu. Kami diam menunggu. Aku memberi kode pada Opik untuk menyentuh bahu bapak, Opik menurut. Bapak Nana sadar bahwa ada Opik di sebelahnya. Beliau menengok pada Opik, lalu tangan kanannya mengusap rambut Opik. Opik agak tegang, sedikit ketakutan. Bapak Nana kemudian mengajak Opik berdiri. Bapak menuntun tangan Opik menuju dipan di depan rumah nenek, aku dan Randi mengikuti dari belakang. Nenek tersenyum melihat kami berjalan beriringan.
"Wil, pulang dulu yuk. Kita harus mempersiapkan kamar untuk anak-anak matahari." Betul juga kata Randi.
Kami pamit pulang. Meninggalkan nenek dan Bapak Nana. Sebelum pulang masih sempat kulihat Bapak Nana tersenyum. Bapak melambaikan tangan pada Opik.
Lima belas menit perjalanan menuju rumah, Randi sibuk membahas tentang Bapak Nana.
"Wil, Tadi saat di kuburan, juga saat kita mau pulang, Bapak Nana ko keliatan normal ya."
"Iya, Ran. Aku juga sama agak heran."
"Tapi alhamdulillah juga sih, siapa tau lambat laun Bapak Nana kembali normal." Aku mengaminkan. Randi melanjutkan diskusi.
"Berarti harapan Bapak Nana untuk sembuh masih cukup besar, Wil." Ide-ide spontan dari Randi kadang tak terpikir olehku. Dia betul, aku harus mengusahakan sebisaku untuk membuat Bapak Nana sembuh, kembali normal seperti dulu.
"Menurut kamu, apa yang bisa kita lakukan sebagai upaya menyembuhkan Bapak Nana, Ran?" Randi diam sesaat.
"Itu loh. Kata kakak, kita bisa tanya apapun ke mbah google. yang di HP aku itu loh, Kak." Opik ikut bicara. Aku dan Randi jadi tertawa. Rasanya lucu, Opik mengira mbah google hanya ada di HPnya. Kemarin-kemarin memang Randi yang mengajarkan Opik untuk memanfaatkan HP sebaik mungkin. Termasuk sebagai alat untuk menemukan informasi apapun lewat google. Opik cerdas. Kali ini dia yang mengingatkan kami untuk mencari info di google, tentang cara menyembuhkan Bapak Nana.
"Sip. Opik betul sekali. Kita bisa tanya mbah google. Tugas kamu ya, Ran."
Sampai rumah, banyak yang harus kami selesaikan. Terutama menyiapkan tempat tidur untuk anak-anak matahari yang akan datang ke sini besok. Empat kamar sudah di siapkan untuk anak-anak matahari. masing-masing kamar dihuni lima orang. Pak Samsudin ternyata langsung pesan kasur lantai setelah selesai aku telepon saat di pasar tadi. Banyak kasur yang dipesan delapan. Jadi tiap kamar di isi dua kasur lantai dan kasur yang sebelumnya memang sudah ada. Diperkirakan cukup, bahkan leluasa untuk lima anak matahari tidur di situ. Pak Samsudin juga memesan barang yang aku lupakan, yaitu selimut. Aku betul-betul lupa tentang selimut, Padahal sudah jelas tidur di daerah dingin seperti Leuwi Goong ini memang butuh selimut. Walaupun anak-anak matahari sudah sangat bersahabat dengan angin dan dingin, baik siang maupun malam, kami tetap berusaha menyediakan fasilitas senyaman mungkin untuk mereka. Biar mereka betah tinggal di sini, dan bisa melakukan semua aktifitas secara maksimal.
"Bagaimana, Bos. Sudah cukup persiapannya, atau masih ada yang kurang?" Pak Samsudin memastikan.
"Alhamdulillah sudah cukup, Pak. Terimakasih." Kami duduk-duduk di ruang tengah, sekedar melepas lelah. Mak menyajikan minuman jahe hangat dan cemilan goreng ubi. Nikmat sekali sore-sore begini menyeruput jahe hangat.
"Sebentar ya, Kak." Opik berdiri, meninggalkan kami. Kulihat Opik mengecek kamar-kamar yang sudah disiapkan untuk anak-anak matahari. Opik masuk kamar yang pertama, lalu keluar lagi. Opik lalu masuk ke kamar kedua, kemudian keluar lagi. Begitu terus sampai semua kamar dimasuki. Opik lalu kembali bergabung di tengah-tengah kami. Kami tentu saja penasaran dengan tingkah Opik. Randi yang mewakil kami bertanya pada Opik.
"Ada apa sih, Pik? Kayak tim pemantau aja." Opik cengengesan.
"Opik lagi milih-milih kamar, Kak. Opik pilih kamar ketiga aja." Oh rupanya itu. Dikira kami Opik memantau ulang kesiapan kamar.
"Kak, boleh ga setiap kamar Opik tempeli kertas bertuliskan nama-nama anak yang tidur di dalamnya?" Ide cemerlang. Sekali lagi aku betul-betul kagum pada kecerdasan Opik. Ide yang hebat. Baik aku maupun Randi sampai saat ini memang belum hapal anak-anak matahari. jangankan orangnya, namanya saja kami belum hapal. Dengan dituliskan namanya di pintu kamar, memudahkan kami untuk menghafal nama dan orang pemilik masing-masing nama.
"Pakai kertas label aja, supaya tinggal tempel." Randi mengusulkan.
"Oke. Sementara iya pakai kertas label. Besok saja kita beli di toko fotocopi yang ada di depan SMAN Leuwi Goong." Aku setuju usulan Randi.
"Berarti persiapan untuk anak-anak tinggal itu aja ya, Wil?"
"Ada satu lagi. Besok salah satu dari kita antar Mak ke pasar, bantu angkat-angkat belanjaan Mak. Mak harus belanja agak banyak soalnya."
"Oke. Aku aja yang antar." Randi mengajukan diri.
"Terus urusan mbah google gimana, Kak?" Opik mengingatkan kami.
"O iya, Ayo Ran. Coba cari info." Randi menyiapkan HPnya.
"Cari info juga tentang rumah sakit atau klinik untuk orang sakit jiwa di Cirebon." Randi menatapku heran.
"Ko Cirebon? Maksud kamu bapak Nana mau kita bawa ke Cirebon, Wil?" Aku diam. Belum bisa menjawab.