
"Maafkan kami ya, Pa." Akhirnya egoku tidak lagi bertahan. Aku betul-betul mengucapkan maaf dengan setulus hatiku.
"Minta maaf untuk apa, De? Sekarang bapak justru sangat bersyukur. Bila anak-anak tetap tinggal dengan bapak, mereka tidak akan seperti yang bapak liat sekarang. Bapak yang seharusnya minta maaf. Orang sebaik kalian seharusnya bapak sambut dengan muka manis, bukan dengan muka garang seperti kemarin-kemarin. Maafkan bapak ya, De." Akhirnya, kami saling memaafkan.
"Lalu, tentang orang yang menculik Mimbo, bapak masih ingat rumahnya?" Randi kembali mengingatkan, masalah Mimbo memang masih belum selesai.
"Masih. Rumahnya kan sering bapak lewati kalau bapak pulang ke rumah orang tua bapak."
"Gimana, Wil? Kita hubungi Bu Yanti dulu atau langsung ke rumah bapak penculik untuk memastikan Mimbo anak Bu Yanti atau bukan?" Aku berpikir sesaat.
"Kita telepon dulu Bu Yanti ya, Ran. Sebentar." Aku mengambil HPku. Ku telepon Bu Yanti. Aku menceritakan sekilas tentang keterangan Pak Preman, dan bilang bahwa Pak Preman sekarang ada di rumahku. Bu Yanti bilang mau ketemu langsung dengan Pak Preman. Beliau minta kami menunggu.
"Wil, kita jadi kan ke Cirebon bada asar?" Tiba-tiba Bu Min muncul dari balik pintu.
"Iya, Bu. Jadi Insyaa Allah."
"Ya sudah, ibu siap-siap ya."
"Iya, Bu." Aku masuk sebentar ke ruang tamu, lalu melihat jam yang menempel di dinding ruang tamu, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Aku kembali ke teras rumah.
"Sambil menunggu Bu Yanti datang, bapak masuk dulu yuk. Makan dulu. Kami kebetulan sudah makan semua, tapi bapak tetap kami temani di ruang makan."
"Jangan, De. Tidak usah repot-repot." Pak Preman menolak. Tapi aku dan Randi memaksa, kasihan soalnya. Ini sudah lewat jam makan siang, kami khawatir Pak Preman belum makan. Akhirnya Pak Preman mau kami ajak masuk ke dalam rumah untuk makan dulu.
Belum juga Pak Preman selesai makan, anak-anak sudah ramai masuk ke dalam rumah. Pelajaran yang diberikan Kak Agung sudah selesai. Mimbo duduk di kursi ruang makan, menemani Pak Preman. Mimbo bahkan mengambilkan air minum untuk Pak Preman.
Setelah Pak Preman selesai makan, anak-anak matahari memaksa Pak Preman untuk melihat kamar tidur mereka. Pak Preman menuruti keinginan anak-anak. Pak Preman melihat kamar tidur anak-anak satu demi satu.
"Terimakasih untuk semuanya ya, De." Kata Pak Preman ketika keluar dari kamar yang terakhir.
"Iya sama sama, Pak. Do'akan kami terus ya, Pak." Pak Preman tersenyum, beliau mengangguk. Tak lama kemudian terdengar salam dari teras rumah. Itu suara Bu Yanti.
"Ayo, Pak. Itu suara Bu Yanti. Seorang ibu yang besar kemungkinan adalah ibunya Mimbo." Aku mengajak Pak Preman menemui Bu Yanti.
"Mari silahkan masuk, Bu." Bu Yanti datang sendirian, suaminya katanya di rumah menjaga Si Kecil.
Kami mengobrol di ruang tamu. Bu Yanti terlihat begitu bersemangat.
"Maunya ibu sekarang, Wil. Ibu sudah ingin mendapat kepastian bahwa Mimbo anak ibu."
"Kami bada asar kan mau ke Cirebon lagi, Bu.Nah, bagaimana kalau ibu dan Pak Preman ikut sekalian, nanti kita mampir dulu ke rumah bapak penculik."
"O gitu. Boleh, Wil. Ibu sama suami ibu aja ya. Biar nanti pulangnya gampang."
"Iya, Bu. Boleh."
"Tapi sebentar Wil ingin tanya dulu, Bu. Rumah ibu tepatnya masuk kecamatan mana? Soalnya info sementara, katanya rumah bayi yang diculik di Banyuresmi."
"Kalau melihat lokasi, orang pasti bilang rumah ibu di Banyuresmi. Padahal itu perbatasan Banyuresmi dan Leuwi Goong. Dan rumah ibu masuknya ke kecamatan Leuwi Goong." Jelas Bu Yanti.
Meski lokasi rumah Bu Yanti belum sesuai dengan info sementara yang kami terima, kami tetap punya harapan besar bahwa Mimbo adalah anak Bu Yanti.
***
Bada asar, kami sudah siap untuk kembali ke Cirebon. Nenek dan Bapak Nana juga sudah ada.
Kami berangkat. Si Putih, mobil Bu Yanti dan mobil Bu Min melaju beriringan. Sementara mobil yang membawa Kak Agung dan kawan-kawan, sudah berangkat duluan menuju Bandung.
Karena Pak Preman ikut mobil Bu Yanti, maka mobil Bu Yanti bertindak sebagai pemandu. Terminal Guntur sudah kami lewati. Tak lama kemudian, mobil Bu Yanti berhenti, tepat di halaman sebuah rumah. Si Putih dan mobil Bu Min ikut berhenti, tapi karena halaman rumah kecil, mobil Bu Min dan Si Putih kami parkir di pinggir jalan. Hanya Bu Yanti, Pak Preman dan aku yang turun kemudian mengetuk pintu rumah yang ditunjuk Pak Preman.
Seseorang membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum, Bu." Pak Preman mengucapkan salam. Ibu itu langsung mengenali Pak Preman. Beliau menjawab salam. Kemudian mempersilahkan kami masuk dan duduk di ruang tamu.
"Bagaimana kabarnya, Bu?" Pak Preman membuka percakapan.
"Baik, Pa. Alhamdulillah saya sehat. Tapi suami saya sedang sakit."
"Sakit apa, Bu? Dirawat di sini atau di rumah sakit?"
"Gejala stroke, Pa. sudah enam bulan, tapi belum juga sembuh. Di rawat di sini saja. Bapak ada di dalam." Ibu itu menjelaskan.
"Semoga bapak lekas sehat lagi ya, Bu."
"Aamiin. Terimakasih."
"Sebentar saya buatkan minum dulu, ya." Ibu itu berdiri, hendak membuatkan minuman untuk kami. Pak Preman melarang, beliau lalu menjelaskan maksud kedatangan kami. Pak Preman bilang bahwa kami tidak akan lama di sini.
"Kalau begitu, silahkan bertemu suami saya. Bapak ada di kamar, mari, Pa, Bu." Ibu itu meminta kami langsung menemui bapak penculik. Aku dan Pak Preman berjalan menuju kamar yang ditunjukkan ibu itu, Bu Yanti hanya duduk menunggu di ruang tamu. Mungkin Bu Yanti merasa tidak etis bila harus masuk ke kamar pak penculik.
Saat sampai di hadapan bapak penculik, hati ini langsung merasa iba. Bapak penculik yang aku lihat, sungguh jauh berbeda dengan typical bapak penculik yang aku tangkap dari cerita Pak Preman. Kemarin Pak Preman bilang bapak penculik pemarah, kasar, sampai menampar istrinya segala. Sekarang bapak penculik tampak lemah, sebagian tubuh sebelah kanan belum dapat digerakkan dengan baik, masih harus dibantu oleh istrinya. Bicaranya juga tidak jelas.
"Sudah dibawa ke dokter kan, Bu?" Aku memberanikan diri bertanya. Pak penculik menatapku. Pak penculik juga menatap Pak Preman.
"Sudah, tapi baru dua kali dalam enam bulan ini. Pesan dokter sih, harusnya tiap bulan bapak cek rutin, supaya obatnya juga berkelanjutan." Tanpa dijelaskan lagi pun, aku mengerti apa alasan istri pak penculik hanya sanggup membawa pak penculik dua kali ke dokter dalam enam bulan.
"Sebentar, Bu. Saya ingin bicara dulu." Aku mengajak istri pak penculik untuk kembali ke ruang tamu.
Setelah kami di ruang tamu, aku bertanya,
"Biasanya berapa biaya bapak untuk sekali kunjungan ke dokter, Bu? Ibu itu malah menatapku sendu. Beliau lalu menjawab,
"Lima ratus lima puluh ribu, De. Lima ratus ribu untuk obat yang harus diminum bapak selama satu bulan, dan lima puluh ribu untuk ongkos kami sewa angkot dari rumah ke rumah sakit PP." Ibu itu menjelaskan dengan wajah sedikit menunduk.
Aku lalu meminta ibu itu untuk membawa pak penculik ke dokter besok. Aku memberi uang untuk sekali kunjungan ke dokter, dan sedikit untuk pegangan si ibu. Ibu itu hampir saja cium tangan sebagai luapan bahagianya, untung aku sigap menarik tanganku.
"Ya, Allah terimakasih, De."
"Ayo, De. Ibu ingin memberitahu bapak tentang kabar bahagia ini." Ibu itu bergegas menuju kamar suaminya. Aku mengajak Bu Yanti untuk ikut menengok pak penculik.
"Pak, besok kita ke dokter ya, Pa. Ibu dikasih uang untuk berobat bapak." Sedikit berteriak ibu itu mengabari suaminya. Pak penculik menoleh pada istrinya. Raut wajah pak penculik tiba-tiba berubah, saat aku dan Bu Yanti muncul di pintu kamar.