
Opik masih asyik menonton ketika Randi dan Mak Asih pulang.
"Asyik Mak dah pulang, Opik bantu beres-beres belanjaannya ya, Mak." Opik langsung membawa ke dapur beberapa kantong plastik berisi belanjaan Mak.
Aku melirik Randi yang tampak lelah.
"Makan dulu, Ran. Tapi nanti makannya di sini ya. Ada yang harus didiskusikan."
"Ada apa sih? Serius amat."
"Udah, makan dulu aja." Aku memaksa Randi untuk segera mengambil makan. Tidak lama kemudian, Randi sudah bergabung lagi di ruang tengah. Sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya sudah ada di tangan Randi.
"Ayo, aku sambil makan nih. Ada apa?" Randi tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Anak matahari ada yang hilang."
"What?" Randi menunda mengunyah makanan di mulutnya. Matanya melotot.
"Iya, anak matahari hilang satu. Entah kabur atau apa, belum jelas. Namanya Mimbo."
"Ko bisa?" Mata Randi masih melotot. Aku menunjukkan chatku dengan Kak Agung. Randi serius membaca.
"Dan kabar yang lebih buruknya, Mimbo kemungkinan besar anaknya Pak Preman."
"What?" Kali ini Randi shock, kaget bukan main. Dia sampai berteriak. Otomatis langsung terbatuk-batuk karena tersedak. Opik yang sedang beres-beres belanjaan Mak di dapur jadi mendekat ke arah kami. Saking kerasnya teriakan Randi, ke dapurpun kedengaran. Opik lalu mengambilkan minum buat Randi.
"Ada apa sih, Kak? Sampai berteriak segala."
"Kamu belum tau, Pik? Mimbo hilang!" Randi langsung mengumumkan pada Opik.
"Apa?"
"Ko bisa?"
"Bukannya Mimbo gabung sama teman-teman yang lain?"
"Kenapa bisa hilang?" Opik sama kagetnya dengan Randi. Tapi dia tidak berteriak sekeras Randi. Opik hanya terus berkomentar tanpa stop.
"Kalian ini. Bukannya ngasih ide buat menemukan Mimbo, ini malah berteriak-teriak melulu."
"Itu pasti ulah Pak Preman. Pak Preman kan jahat." Opik langsung menuduh. Aku tak bisa menyalahkan, karena Opik memang lebih tahu secara detail seperti apa Pak Preman.
"Maksud kamu, Mimbo bukan pulang sendiri ke Leuwi Panjang?" Randi menyela.
"Ga, ga mungkin Mimbo pulang sendiri begitu aja. Opik tau ko, Mimbo senang sekali saat mau dibawa ke rumah kakak, apalagi dengar mau disekolahkan. Mimbo memang ingin sekolah." Opik begitu antusias menjelaskan.
"Jadi gimana nih. Ada ide ga buat menemukan dan mengambil Mimbo lagi?" Aku kembali mengarahkan pada tujuan diskusi kali ini.
Randi serius berpikir. Dia lalu mengajukan usul.
"Besok kan kita ke Cirebon, gimana kalau kita mampir ke Leuwi Panjang dulu?" Aku memikirkan sejenak usulan Randi.
"Kayaknya ga bisa, Ran. Besok kan kita bawa Bapak Nana dan nenek. Kasihan Bapak Nana dan nenek kalau perjalanan terlalu lama." Randi manggut-manggut. Dia mengerti alasanku.
"Betul juga ya. Terus, gimana dong?" Kami jadi diam semua. Berpikir semua. Khusus untuk aku, blank. Tidak ada ide briliant yang nyangkut di otakku.
"Widih, Opik hebat. Pinter sekali adikku punya ide sehebat ini." Randi mengacungkan jempol dua untuk Opik.
"Gimana menurut kamu, Wil?" Tentu saja aku setuju dengan usulan Opik. Setuju sekali malah.
"Ayo, jangan ditunda lagi. HP siapa yang mau dipake menelepon abang?"
"HP aku aja, Kak."
Randi menelepon abang menggunakan HP Opik. Opik kelihatan bangga sekali idenya langsung dipraktekkan. Menggunakan Hpnya pula. Dia senyum-senyum.
Kami bersyukur abang langsung mengangkat telepon. Randi menjelaskan semuanya.
"Iya, iya. Abang langsung tutup warung sekarang. Setelah ini abang langsung pantau ke terminal. Coba kasih tau dimana markas Preman itu?" Opik menyebutkan tempat Pak Preman biasa mangkal.
"Oke, siap. Tutup dulu teleponnya ya. Abang kabari nanti." Kabar dari abang sangat kami tunggu. Soalnya kalau belum ada gambaran apa-apa, hati kami belum tenang. Semoga saja abang punya berita yang menggembirakan.
Pak Samsudin dan Mang Jana pulang. Wajah mereka tampak lelah. Tapi senyum menghiasi bibir keduanya.
"Kenapa Mang senyum-senyum?" Kutanya begitu jawaban Mang Jana tetap senyum-senyum. Matanya melirik pada Pak Samsudin. Yang dilirik ikut senyum-senyum juga.
"Panen jagungnya bagus, Bos. Hasilnya sip pokoknya." Kali ini Pak Samsudin yang memberi penjelasan. Dua jempol tangannya diacungkan.
"Alhamdulillah." Hampir berbarengan aku, Randi dan Opik mengucap syukur.
"Barokah akan hadirnya anak-anak matahari Insyaa Allah. Rizki mereka ada di dalamnya."
"Iya, Pak. Semoga Bapak, Mang dan semua anggota keluarga di sini, juga para panyawah dan keluarga mereka sehat-sehat terus ya, Pak." Semua mengaminkan do'aku.
"Mana anak-anak mataharinya, belum pada datang?"
"Belum, Pak. Sebentar Wil cek lagi mereka sudah sampai mana."
Aku buka chat di HP. Siapa tahu ada kabar dari Kak Agung. Tapi Kak Agung belum memberi kabar apa-apa. Padahal ini sudah jam 12.30.
"Mereka ko belum pada datang ya, Wil?" Randi berbisik di telingaku. Randi sama seperti aku, cukup gelisah, atau lebih tepatnya khawatir menanti kedatangan anak-anak matahari.
Beberapa menit kemudian, kami mendengar ada suara gaduh di luar rumah. Suara rebana bersahut-sahutan mengiringi lantunan sholawat yang dibawakan oleh kumpulan anak-anak.
Opik langsung berteriak,
"Temen-temen datang, Kak. Mereka datang." Aku, Randi, Pak Samsudin dan Mang Jana semua saling berpandangan. Antara percaya dan tidak percaya. Terlebih aku, soalnya tidak ada kesepakatan sebelumnya dengan Kak Agung bahwa mereka akan datang dengan diiringi rebana.
"Ayo, Kak." Opik berlari menuju pintu depan, kami mengikuti.
Ketika pintu dibuka, terlihat anak-anak matahari sudah berbaris di depan rumah. Paling depan ada bapak-bapak, sepertinya petugas dari Dinas Sosial. Di belakangnya anak-anak matahari, beberapa anak menabuh rebana. Dan paling belakang ada Kak Agung dan tiga kakak yang lain.
"Kakak, lihat! Ada Mimbo." Opik berteriak disela-sela lantunan sholawat anak-anak matahari. Opik menunjuk pada seseorang. Aku dan Randi melihat ke arah yang ditunjukkan Opik. Kata Opik itu Mimbo. Aku memperhatikan anak kecil lain yang tingginya di bawah Opik. Betul, ada. Jadi ada dua anak kecil yang tingginya di bawah Opik. Berarti betul Mimbo ada. Aku masih penasaran. Kuhitung seluruh anak. Jumlahnya 19. Lengkap berarti. jadi betul kata Opik, Mimbo ada. Lalu, kabar tadi pagi bahwa Mimbo hilang? Tidak mungkin itu hanya isyu. Orang yang menyampaikan padaku adalah Kak Agung. Orang yang dapat dipercaya. Terus, apa alasannya, ko Mimbo ada. Padahal katanya Mimbo hilang. Aku melihat ke arah Kak Agung, siapa tahu isyarat dari Kak Agung sedikit meredakan rasa penasaranku. Yang dilihat masih asyik senyum-senyum, sambil bibirnya komat kamit mengikuti lantunan sholawat. Tidak ada cara lain selain bersabar, menunggu Kak Agung menjelaskan semuanya. Selain bersabar, yang bisa aku lakukan saat ini adalah bersyukur. Bersyukur atas semuanya, termasuk kehadiran anak-anak matahari secara lengkap. Mulai saat ini mereka adalah adik-adikku. Adik-adik yang hari ini kunobatkan sebagai Boss Sugi Family.
β€β€β€Para Pembaca sekalian, makasih selalu hadir di sini, menyertai perjuangan Wil mengasuh 20 orang anak matahari. Simak terus ya. Jangan lupa ditunggu like dan komennya... πππ.
O ya, Ini Karya hebat berikutnya dari saudaraku sesama Author, simak yuk: