
"A-ak wa-yi, i-wu." Pak penculik masih menatap Bu Yanti, sambil mengucapkan kata-kata yang tidak kami mengerti. Aku, Pak Preman dan Bu Yanti, semua melihat ke arah istri pak penculik. Kami berharap istri pak penculik bisa menerjemahkan apa yang pak penculik katakan.
"Maksudnya, anak bayi ibu. Begitu kan, Pak?" Istri pak penculik bertanya pada suaminya, untuk memastikan bahwa terjemahannya benar. Pak penculik mengangguk. Tanpa kami duga, tiba-tiba pak penculik mengacung-acungkan tangan kiri di depan dadanya. Beliau menangis sambil berkata,
"A-ap, a-ap." Tangan kirinya terus digoyang-goyangkan di depan dadanya.
"Bapak mengenal saya? Tadi bapak bilang, anak bayi ibu, maksudnya saya ibu dari anak bayi, kan? anak bayi yang bapak culik sekian tahun lalu itu kan, Pak?" Kali ini Bu Yanti mulai mengerti maksud kata-kata yang diucapkan pak penculik. Pak penculik masih mengacung-acungkan tangan kiri di depan dadanya sambil berkata,
"A-ap, a-ap."
"Sudah, Pak. Sudah. Saya sudah memaafkan bapak." Aku menatap Bu Yanti dengan sedikit heran. Semudah itu Bu Yanti memaafkan pak penculik? Apa karena Bu Yanti kasihan melihat kondisi pak penculik sekarang? Aku juga sebenarnya sama, merasa kasihan. Tapi kalau untuk memaafkan kesalahannya yang telah menculik Mimbo, nanti dulu. Harusnya tidak semudah itu. Bu Yanti telah melalui penderitaan kehilangan putra tersayang selama kurang lebih tujuh tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Harusnya Bu Yanti membalaskan dulu semua deritanya selama ini.
"Pak, saya minta tolong pastikan, bahwa bayi yang dimaksud bapak ini adalah Mimbo, agar saya yakin." Bu Yanti meminta tolong pada Pak Preman. Pak Preman mengerti.
"Pak, maaf. Apakah bapak yakin mengenal ibu ini sebagai ibu dari bayi yang waktu itu akan bapak jual?" Tanya Pak Preman pada pak penculik. Pak penculik mengangguk pasti. Aku jadi sedikit geram. Berarti waktu itu, pak penculik sempat mengintai dulu, makanya dia mengenali wajah Bu Yanti. 'Dasar!' Aku jadi merutuk dalam hati, pak penculik betul-betul niat menculik. Ini tidak main-main. Aku sering mendengar di televisi bahwa yang seperti ini namanya kejahatan yang direncanakan. Bila diadukan ke pihak berwajib maka hukumannya tidak ringan. Jadi Bu Yanti seharusnya tidak mudah begitu saja memaafkan pak penculik. Orang sejahat pak penculik, dihukum penjara berapa tahun saja belum tentu membuat dia kapok. Ini cuma dimaafkan begitu saja, mana bisa jera dia?
"Bu, kenapa ibu semudah itu memaafkan dia? Dia itu jahat, Bu. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya." Dengan geram akhirnya aku ajukan protes pada Bu Yanti. Sengaja aku ngomongnya langsung di depan pak penculik, biar dia tahu bahwa dia tuh jahat sekali. Bu Yanti tersenyum. Beliau malah mengusap bahuku sambil berkata,
" Alasan yang sama dengan tindakanmu memberikan uang satu juta untuk biaya pengobatannya. Padahal Wil tahu persis bahwa dia itu penculik." Aku menatap Bu Yanti dalam diam. Ada yang bergetar di hati ini. Aku sendiri tak bisa mengemukakan alasan apapun untuk tindakanku. Ketika hati dan pikiranku memerintah untuk mengeluarkan uang itu, tanganku langsung bergerak. Mungkin begitu juga dengan Bu Yanti. Bu Yanti tak perlu punya alasan untuk memaafkan pak penculik. Bu Yanti tinggal bilang 'sudah memaafkan' ketika Allah menggerakkan hati Bu Yanti untuk memaafkan. Hanya Allah, yang berkuasa membolak balik hati manusia.
"Iya, Bu. Wil ngerti." Aku menyerah pada pemahaman yang telah begitu saja tertanam di hati. Pak penculik menarik nafas panjang, kali ini wajahnya tak lagi tegang. Tapi air mata masih membasahi pipinya. Dia kembali mengacung-acungkan satu tangan sehatnya sambil berkata,
"ma-aih, a-ap." Bibirnya tersenyum.
Kami keluar dari rumahnya pak penculik. Urusan dengan pak penculik bisa dikatakan beres, setidaknya untuk saat ini.
Sepulang dari rumah pak penculik, mobil Bu Yanti beda arah dengan Si Putih dan mobil Bu Min. Bu Yanti bersegera menuju rumahku lagi di Leuwi Goong. Pak Preman masih diminta menemani. Bu Yanti ingin Pak Preman yang menjelaskan pada Mimbo tentang segala sesuatu terkait identitas Mimbo yang sebenarnya. Pak Preman dengan senang hati bersedia kembali ke Leuwi Goong, untuk menjelaskan segala sesuatunya pada Mimbo. Beliau tampak sangat bahagia karena perjuangannya selama ini untuk menemukan orang tua kandung Mimbo sudah berhasil. Entah seperti apa kebahagiaan Mimbo saat tahu bahwa orang tua kandungnya masih ada, dan sudah di depan mata. Bisa jadi Mimbo berteriak karena teramat bahagia. Atau bisa jadi Mimbo menangis sejadi-jadinya. Karena betul-betul tak menyangka sama sekali bahwa sosok orang tua yang sudah dianggap tidak ada, kini hadir dihadapannya. Aku ingin menyaksikan kebahagiaan Mimbo bertemu ibunya, tapi sayang aku tidak bisa. Aku harus kembali ke Cirebon dan pulang ke Garut lagi minggu depan.
***
Sampai di rumah Bu Nita, Ada yang terlihat spesial. Bapak Nana tampak sudah hafal dengan rumah ini. Beliau langsung menuju kamar yang minggu lalu digunakan oleh bapak dan nenek untuk tidur. Kami anggap itu sebuah kejutan. Kejutan yang menggembirakan. karena menurutku, itu pertanda ingatan Bapak Nana berangsur pulih, bapak sudah sanggup mengingat sesuatu yang pernah bapak lakukan.
*
*
*
Hari-hari berlalu dengan cepat. Lima bulan sudah aku dan Randi bolak balik Garut-Cirebon untuk menyelesaikan semua urusan di dua kota tersebut. Anak-anak matahari sudah lancar membaca, menulis dan hitung dasar. Mereka juga sudah terikat dengan sholat. Tak seorangpun berani meninggalkan sholat, meski hanya satu waktu. Kesadaran mereka akan sholat sudah sedemikian kuat. Mungkin karena mereka sering mendengar nasehat kakak-kakak pembimbing matahari juga dari Pak Ustadz bahwa meninggalkan sholat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.
Tentang Bapak Nana, kondisinya makin membaik. dokter yang merawatnya saja sampai merasa kagum, karena katanya perkembangan Bapak Nana luar biasa bagus. Jauh lebih baik dibanding pasien-pasien lain. Rencana aksi ketiga yang kami praktekkan berhasil membuat bapak Nana sadar bahwa anaknya kini sudah besar. Waktu rencana aksi ketiga, aku yang menggantikan Opik. Walaupun untuk beberapa waktu Bapak Nana cukup heran, tapi karena aku selalu memegang pesawat kotak saat didekatnya, bapak lambat laun yakin bahwa akulah anaknya yang dulu hilang. Dan anaknya kini akan selalu ada didekatnya. Tentang Randi adalah kakakku, sedikit demi sedikit sudah aku jelaskan juga pada bapak. Perlahan-lahan bapak sudah bisa menerima bahwa Randi adalah kakakku, putra pertama ibu Aisyah. Satu hal yang masih terasa aneh bagiku, bapak tak memanggilku Wil. Bapak justru memanggilku Randi. Cukup terdengar asing di telingaku. Ketika kutanya pada nenek kenapa bapak memanggilku Randi, nenek bilang, namaku waktu bayi memang Randi, sementara kakakku namanya Nandi. Jadi bapak memang tidak salah. Bu Nita juga tidak salah memberi nama Randi pada anak yang diadopsinya dari panti. Saat itu Bu Nita memang tidak tahu bahwa nama anak adopsi itu adalah Nandi.
Sekarang tinggal antara aku dan Randi yang harus membiasakan telinga kami untuk nama baru kami. Nama spesial kami khusus bagi Bapak Nana, aku \= Randi, Randi \= Nandi. Hehe, lumayan pusing sedikit. Saat sedang menemani bapak dan bapak memanggil 'Randi', yang spontan menjawab panggilan pasti Randi dulu, bukan aku.