
Sampai warung abang, aku dan Opik duduk sebentar. Randi sudah duluan sampai. Dia juga duduk.
"Gimana?" Abang warung mendekat. Kami menggeleng. Abang warung mengerti kalau usaha kami masih belum berhasil. Abang lalu pergi ke belakang. Datang lagi dengan membawa tiga gelas teh hangat.
"Minum dulu, biar sedikit segar." Kami menyeruput teh hangat. Itu teh manis ternyata, teh dengan manis yang sedikit samar, tapi beraroma vanili. Nikmat dan wangi. Aku menyeruput tehku lagi. Pikiran agak plong sekarang.
"Assalamu'alaikum." Terdengar salam.
"Kakak." Opik berteriak. Ternyata yang datang Kak Agung dan kawan-kawan.
"Ko tau kami di sini?" Kak Agung senyum mendengar pertanyaanku.
"Opik pernah cerita. Dan tadi kami berbalik arah lalu mengikuti kalian ke sini." Kak Yanto yang menjawab.
"Ayo kakak, duduk." Opik menarik empat kursi untuk kakak-kakak pembimbing anak-anak matahari. Mereka duduk.
"Ini sudah mau magrib, nanti Kakak-Kakak kemalaman sampai rumah." Randi berusaha mengingatkan, kasihan kakak-kakak kalau harus melalui perjalanan malam hari.
"Ga apa-apa. Kami sudah biasa. Kadang sampai rumah jam sepuluh malam kalau urusan sambung menyambung." Kakak yang perempuan yang menjawab. Hebat, meski perempuan, tidak takut melakukan perjalanan menembus malam, demi anak-anak matahari.
"Wah, Kak Irna hebat. Kak Amel juga sama, hebat semua." Opik berkomentar. Kedua kakak yang perempuan tersenyum.
Rupanya nama kakak yang perempuan Kak Irna dan Kak Amel. Aku baru tahu.
O ya, aku baru ingat Mang Jana. Kasihan, Mang Jana di mobil dari tadi.
"Opik. Lihat Mang Jana di mobil ya. Panggil ke sini kalau sudah bangun."
"Iya, Kak." Opik menuju mobil.
Tak lama kemudian Mang Jana datang. Mang duduk berkumpul juga dengan kami.
"O ya, sebentar. Opik akan buatkan minum untuk semua." Pintarnya Opik. Dia kebelakang, dan datang lagi membawa enam minuman teh hangat. Opik meletakkan minuman itu di depan Kak Agung, Kak Yanto, Kak Irna, Kak Amel, Mang Jana dan Abang warung. Semua senyum mengucapkan terimakasih pada Opik.
"Jadi gimana langkah berikutnya, ada ide?" Kak Agung yang memulai diskusi.
"Tanggung magrib, Kak. Sholat dulu aja yuk." Opik yang mengingatkan. Kak Agung menatap Opik dengan haru. Aku juga ikut bahagia, Opik diajarkan sholat oleh kakak-kakak. Sekarang Opik yang mengingatkan kami semua untuk sholat dulu.
Kami menuju mesjid terdekat, ikut berjamaah sholat magrib. Pulang sholat, diskusi kami lanjutkan.
"Ayo kita lanjut diskusi, Jadi gimana?" Kak Agung lagi yang memulai.
"Kalian libatkan aparat aja." Abang warung mengemukakan ide.
Kami terperangah, semua menatap abang warung. Kak Agung manggut-manggut.
"Bisa juga tuh ide abang. Kita lapor aparat, minta bantuan." Kak Agung antusias. Kak Yanto ikut berkomentar,
"Betul. Kalau melibatkan aparat bisa jadi ga perlu mengeluarkan uang tebusan."
"Ko bisa? Caranya?" Randi penasaran. Aku juga belum paham yang dibicarakan Kak Agung dan Kak Yanto.
"Tepat. Betul sekali. Kita join dengan aparat dalam melakukan aksi itu." Kak Amel ikut nimbrung. Aku dan Randi paham sekarang.
"Jadi, Kapan kita mulai beraksi?" Semangat Randi begitu menggebu. Opik berdiri, dia mondar mandir, tangannya dia simpan di dagu. Semua tertawa melihat tingkah Opik. Anak itu, lagaknya seperti sudah dewasa saja.
"Besok pagi, Aku dan Kak Yanto akan pergi ke kantor Dinas Sosial dulu, lapor dan minta petunjuk. Kalian HPnya aktifkan ya. Hasil kesepakatan kami dan pihak Dinas Sosial nanti segera kami kabarkan."
"Siap." Aku dan yang lain serempak menjawab.
"Wil minta nomor Kakak semua." Untung aku ingat. Aku belum menyimpan nomor HP Kak agung dan kawan-kawan.
Selesai saling menyimpan nomor HP, Kak Agung dan kawan-kawan pamit.
"Sini Mang antar aja ke rumah kalian semua." Mang Jana antusias menyampaikan ide. Rupanya Mang kasian melihat kakak-kakak harus pulang malam begini.
"Betul, Mang. Ayo Kak Agung, Kak Yanto, Kak Irna, Kak Amel, silahkan." Mereka langsung aku paksa naik si Putih. Mereka tak punya kesempatan untuk menolak.
Si Putih melaju, mengantar Kak Agung dan semua. Aku sengaja ikut, biar nanti Mang Jana ada teman ngobrol di perjalanan pulang. Juga biar aku tahu lokasi tempat tinggal kakak-kakak semua. Pikirku ke depannya pasti akan berguna aku tahu alamat mereka.
Beruntung perjalanan tidak terlalu macet. Dalam waktu dua jam Kak Agung dan kawan-kawan sudah berhasil kami antar ke rumah tinggal masing-masing. Aku dan Mang Jana kembali ke warung abang. Aku mengaktifkan google maps, biar Mang Jana tidak kesulitan menemukan jalan menuju warung abang.
"Ga usah. Mang mah sudah biasa perjalanan. Insyaa Allah hafal ko. Dipandu neng google mah kadang malah jadi pusing. seratus meter lagi, belok kanan. belok kanan. Dalam lima ratus meter, lurus. Hah, berisik. hehehe." Mang terkekeh. Aku jadi ikut tertawa.
Betul. Kemampuan Mang Jana untuk menghafalkan rute, patut diacungkan jempol. Dalam waktu singkat, kami sudah sampai di warung abang. Opik sudah tidur saat aku sampai. Randi dan abang masih menungguku.
"Ayo pada makan dulu. Abang, Randi dan Opik sudah makan tadi." Aku dan Mang Jana menurut.
Selesai makan, Mang Jana aku suruh tidur di mobil. Sekalian menjaga mobil juga, karena Si Putih diparkir di area terbuka. Ya, Jaga-jaga saja sih. Randi pamit tidur, dia merapatkan tiga kursi sebagai tempat tidur. Aku bantu-bantu abang dulu menyiapkan beberapa bahan menu untuk jualan besok.
***
Selesai sholat subuh, Aku, Randi, Opik dan Mang Jana menyempatkan jalan-jalan mengelilingi area terminal Leuwi Panjang. Ceritanya sih olah raga, biar badan segar. Abang warung kami lihat tadi sudah sibuk di dapur. Biasa, ada beberapa menu warung yang harus abang siapkan.
"Kakak, Jadi kalau nanti usaha kakak-kakak berhasil, Opik dan kawan-kawan tinggal di rumah Kak Wildan ya?" Opik tiba-tiba bertanya.
"Iya, Opik. Rumahnya Kak Wildan bagus, Besar. Kak Wildan orang kaya. Halaman rumahnya juga luas banget... segini." Randi sengaja merentangkan tangannya sampai samping, dan mengenai Opik. Opik tertawa.
"Ah Kak Randi ini." Kami semua tertawa. Bahagia sekali rasanya pagi ini. Meski usaha hari ini belum tentu hasilnya seperti apa, kami tetap bersyukur, karena pagi ini kami dapat menghirup udara segar, juga bisa tertawa bahagia.
Walaupun masih begitu pagi, di terminal, kulihat sudah ada aktifitas. Para kondektur sedang mencuci mobil, sepertinya sengaja, biar bersih saat akan digunakan. Kami berhasil olah raga jalan-jalan pagi sampai tiga kali putaran. Keringat mulai membasahi badan.
"Sudah yuk. Kita bantu abang bersih-bersih warung dulu." Opik mengajak pulang. Dia ingat pekerjaan paginya belum dikerjakan.
"Iya yuk. Kakak juga dah lapar nih." Randi memegang perutnya sendiri.
"Ah Kakak nih. Ingatnya makan terus. Belum juga jam enam pagi." Opik menertawakan Randi, Randi sendiri cengengesan.
Kami pulang. Sampai warung abang, kami melakukan kegiatan suka-suka kami. Opik membersihkan meja kursi pelanggan. Randi sarapan. Mang Jana membersihkan mobil dan menghangatkan mesin mobil. Aku sendiri duduk, sambil mencoba mengecek chat di HP. Betul saja, sudah ada chat dari Kak Agung,
"Aku dan Kak Yanto sudah siap menuju kantor Dinas Sosial, do'ain ya." Rajin dan semangat sekali kakak-kakak ini. Padahal sekarang baru jam enam kurang sedikit.