
"Kita harus pastikan dulu, Wil." Aku setuju dengan ide Randi.
"Pik, pamitkan pada nenek, kita pulang dulu."
"Oke, Kakak." Opik mengacungkan jempol.
"Nek, dikantun heula nya. Abi bade wangsul heula. Kin kadieu deui." (Pen: Nek, ditinggal dulu ya. Saya mau pulang dulu. Nanti kesini lagi). Kami semua cium tangan pada nenek.
Kami pulang. Aku menyuruh Opik untuk menghafalkan rute menuju pulang dari rumah nenek.
"Eh, Pik. Itu kamu hebat bisa bahasa nenek, diajarin siapa?" Aku jadi penasaran kenapa Opik jadi bisa bahasa daerah sini.
"Diajarin Pak Preman, diajarin kakak-kakak pembimbing, di ajarin bapak-bapak supir dan kondektur, banyaklah yang ngajarinya." Ada rasa kagum. Opik banyak belajar dari orang-orang sekelilingnya. Dia bilang Pak Preman juga termasuk salah satu yang ngajari Opik. Hebat, dikira Pak Preman bisanya hanya menyiksa anak-anak dengan memaksa harus setor hasil jerih payah mereka. Ternyata tidak. Pak Preman bisa juga sebagai guru bahasa daerah untuk Opik.
Sampai rumah, Ada Mang Ijar di halaman. Mang Ijar masih bersih-bersih sekitar area kolam. Randi langsung menuju kamar, katanya mau mengambil kotak tusuk gigi di ranselku. Aku dan Opik ke dapur, mencari Mak Asih.
Kebetulan Mak Asih ada di dapur, masih asyik menyiapkan menu untuk makan siang.
"Mak, boleh ga minta makanan? Nasi satu rantang, lauk pauk satu rantang. Buat dikasih ke orang." Mak Asih tersenyum.
"Aden teh meni baik pisan."(Pen: Aden itu baik sekali) Tangan Mak langsung sigap menyiapkan apa yang aku minta.
"Boleh atuh, Aden. Boleh pisan. Ini pake sayurnya sekalian ya. Kebetulan Mak memang masaknya banyak." (Pen: Boleh dong Aden. Boleh sekali) Mak menyiapkan tiga rantang.
"Nah, Opik. Kamu dianter mang Ijar sampai ujung gang yang deket rumah nenek. Nanti Opik kasih ini ke nenek, bilang rantang diambilnya nanti saja saat kita ke sana lagi. Ditunggu sama Mang Ijar ya. Opik langsung pulang lagi." Opik mengerti. Aku minta tolong Mang Ijar untuk mengantar Opik.
Aku sengaja masih di teras, menunggu Opik pulang. Randi muncul mendekatiku.
"Wil. Liat." Randi menunjukkan sesuatu. Dia membawa kotak tusuk gigi pemberian Ibu Aisyah.
"Ini, coba perhatikan. Dua huruf, Wil. Sama persis dengan Pesawat kotak orang gila." Di kotak tusuk gigi punyaku, tertulis huruf MN. Huruf yang sama juga tertulis di semua pesawat kotak orang gila. Tulisannya tidak besar, tapi cukup jelas. Aku mencoba membolak balik, memperhatikan lebih detail, siapa tahu ada hal yang lain. Tapi sudah, hanya itu saja.
"Berarti sama persis, Ran."
"Betul. Kesimpulan sementara, nenek adalah nenek kamu, Wil. Dan orang gila, adalah..." Randi belum meneruskan kalimatnya.
"Orang gila adalah bapakku. Iya kan? Bapakku, Ran. Aku ketemu bapakku. Bapak gila." Ada rasa bahagia, sedih, penasaran, ragu, bahkan rasa aneh. Semua berbaur menjadi satu. Membuat aku tak tahu harus tersenyum atau menangis. Biarlah. Akan kuabaikan dulu rasa nano-nano di hati ini. Yang penting, bapakku sudah ketemu. Tiga hari lagi, saat aku pulang ke Cirebon, aku akan umumkan pada semua orang bahwa aku punya bapak. meski bapakku adalah bapak gila.
"Langkah kita sekarang gimana, Wil?"
"Nanti siang kita ke rumah nenek lagi. Aku akan bilang bahwa aku adalah bayi yang ditunggu-tunggu bapak gila."
"Memangnya kamu ga malu mengakui bahwa bapak kamu orang gila? Sorry, Wil. Jangan tersinggung ya." Randi mencoba bicara sehati-hati mungkin. Randi khawatir aku tak enak hati.
Motor Mang Ijar memasuki gerbang. Opik duduk di belakang sambil memegang pisang sesisir.
"Kakak, kata nenek terimakasih. Ini pisang dari nenek, buat kita semua katanya. Pesan nenek, pisangnya harus dimakan."
"Iya, alhamdulillah. Ayo kita makan." Kutawari Mang Ijar dulu. Mang Ijar menolak, katanya sudah terlalu sering makan pisang dari hasil kebunku. Jadi sudah agak bosan. Akhirnya pisang kubawa ke dalam. Kutawari Mak Asih dulu, baru kami mengambil. Pisang ini harus dimakan, kalau bisa harus habis sekarang juga. Supaya nenek merasa senang. Aku yakin nenek sebenarnya lebih membutuhkan pisang ini. Tapi nenek lebih bahagia bila kami yang makan pisang ini.
Sambil menunggu waktu dzuhur, kami menonton tv sebentar. Sedikit-sedikit kuceritakan pada Opik, siapa nenek, siapa orang gila. Opik menyimak ceritaku.
"Nanti agak siangan, kakak mau ke rumah nenek lagi. Opik mau ikut lagi?"
"Opik di rumah dulu aja ya, Kak. Opik ingin bantuin Mak cuci piring, terus siap-siap potong-potong sayuran buat masak nanti sore. Boleh kan?" Kami semua salut pada Opik. Opik betul-betul pandai menempatkan diri. Pandai membuat orang sayang padanya. Mak langsung senyum-senyum sambil berlinang air mata mendengar ketulusan Opik mau membantunya.
Siang setelah makan dan sholat, aku dan Randi bersiap. Pak Samsudin belum pulang. Di rumah ada Mak dan Opik. Kami pamit pada Mak, kami bilang sejujurnya bahwa kami menengok nenek dan orang gila. Orang gila yang besar kemungkinan adalah bapakku. Kami meminta Mak untuk menyampaikan pada Pak Samsudin bila Pak Samsudin datang. Penjelasan lengkapnya akan kami ceritakan langsung pada Pak Samsudin nanti malam.
Langkah aku dan Randi sedikit terburu-buru. Aku ingin segera ketemu nenek. Kami sudah sampai akar pohon besar. Nenek tidak ada di depan rumah. Pintu rumah nenek juga tertutup. Sepi, tidak terdengar ada aktifitas di dalam rumah. Aku dan Randi saling berpandangan.
"Ko sepi ya, Wil." Randi mendekati pintu rumah nenek, aku mengikuti dari belakang.
"Assalamu'alaikum, Nek. Ini kami, Nek. Wildan dan Randi." Tetap sepi, tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Coba ketuk pintunya, Ran." Randi mengikuti saranku. Pintu diketuk, perlahan. Tetap tidak ada jawaban. Tanpa diperintah Randi mencoba membuka pintu, dan betul saja, pintu tidak dikunci. Langsung terbuka. Kulihat di dalam rumah gelap. Aku berinisiatif menyalakan lampu HP untuk menerangi rumah. Baru saja kami akan masuk, memeriksa keadaan dalam rumah, terdengar suara salam,
"Assalamu'alaikum." Seorang bapak mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam."
"Adik ini kerabatnya nenek?" Bapak itu bertanya.
"Bukan, eh iya, Pak." Aku jadi serba salah menjawab pertanyaan bapak itu.
"Maaf, Pak. Kami mencari nenek, tapi nenek tidak ada di rumah." Aku mencoba menjelaskan.
"O begitu, syukurlah. Bapak ketua RT di sini. Nenek dan anaknya baru saja kami antar ke IGD Puskesmas. Anaknya nenek sakit dan perlu dirawat."
"Tadi pagi kata nenek hanya demam biasa, Pak."
"Iya, tapi ternyata demamnya tidak turun-turun, menggigil pula. Tadi nenek ke rumah bapak minta tolong. Nenek khawatir. Saat bapak liat, bapak juga ikut khawatir, makanya bapak bawa ke IGD Puskesmas."
"Bapak kemari mau mengambil pakaian ganti untuk nenek dan anaknya."
"Kami ikut ke Puskesmas ya, Pak." Pak RT langsung masuk ke dalam rumah, berusaha mencari tempat baju nenek. Randi menghubungi Mang Jana, meminta Mang Jana dan Meng Ijar menunggu di ujung gang ke arah rumah nenek. Di tempat Mang Ijar menunggu Opik saat mengantarkan makanan ke rumah nenek tadi pagi.