KK

KK
28. MASIH BUNTU



Sampai di lokasi belajar, anak-anak matahari sudah berkumpul. Sepertinya sudah lengkap, semuanya ada 20 orang. Kakak-kakak pembimbing belum datang. Tapi anak-anak matahari tetap setia menunggu. Sambil menunggu, mereka melakukan berbagai kegiatan sesuai selera masing-masing. Ada yang main kejar-kejaran. Ada yang duduk mengobrol. Ada yang mempraktekkan ulang cara sholat. Ada juga yang mengulang-ulang latihan baca. Semuanya bergembira, tak terlihat sama sekali lelahnya badan setelah mencari uang sepanjang hari.


"Hore ada Kak Wildan dan Kak Randi." Mereka menyambut kedatangan aku dan Randi dengan begitu ceria. Ada rasa bahagia tersendiri melihat mata-mata bening itu memandang dengan penuh harapan.


"Mulai belajar sekarang aja ya, Kak. Belajar baca dulu aja ga apa-apa." Kali ini mereka yang meminta. Mereka yang ingin belajar. Untungnya tepat saat itu kakak-kakak pembimbing datang.


"Wah, sudah kangen belajar rupanya, sampai tak sabar lagi menunggu." Kak Agung berkomentar. Kakak-kakak itu tersenyum melihat semangat belajar anak-anak matahari yang luar biasa.


"Alhamdulillah ada Kak Wildan dan Kak Randi juga rupanya. Kapan datang?"


"Tadi siang, Kak." Randi yang menjawab.


"Mau lama di sini kan? Anak-anak senang kalau ditemani Kak Wildan dan Kak Randi." Sesaat kami diam. Randi belum tahu rencanaku makanya dia juga ikut diam.


"Justru itu yang ingin kami bicarakan dengan Kak Agung dan semua. Barangkali ada waktu untuk berdiskusi, Kak?" Aku mengajukan usul.


"Boleh, nanti setelah anak-anak belajar ya. Ayo anak-anak matahari. Kita taklukkan dunia dengan ilmu! Ayo kita mulai belajar." Kak Agung membangunkan semangat anak-anak matahari. Opik dan kawan-kawan serempak menjawab,


"Siap, Kak." Mereka duduk rapi, sesuai formasi biasanya. Kali ini anak-anak matahari belajar menghafalkan do'a mulai belajar. Masing-masing kakak pembimbing dikelilingi oleh lima anak matahari. Mulailah anak-anak matahari menghafalkan do'a sedikit demi sedikit. Mereka yang sudah hafal pindah duduk di depanku atau di depan Randi. Lalu memantapkan hapalan mereka. Membacakan do'a berikut artinya.


Aku mengagumi semuanya. Kukagumi kakak-kakak pembimbing yang begitu telaten membimbing anak-anak. Kukagumi juga Opik dan kawan-kawan, yang begitu semangat, tak kenal lelah juga selalu ceria dalam setiap proses belajar. Bila sudah berkumpul dengan anak-anak ini, semua masalah serasa hilang. Aku hampir lupa pada kerinduanku mengetahui siapa bapakku.


Selesai menghafalkan do'a, anak-anak matahari kembali belajar membaca. Aku dan Randi masih menjadi bagian dari pembimbing. Kemampuan baca anak-anak alhamdulillah sudah makin baik. mereka sudah bisa merangkai dua huruf konsonan dan vokal. Semisal ba bi bu be bo, ca ci cu ce co. Diluar dugaanku, ternyata kemampuan hafalan anak-anak ini begitu kuat. Sambung menyambung materi pelajaran bisa diberikan dengan mudah, mungkin itu karena semangat mereka yang begitu menggebu.


Kak Agung memberikan jeda istirahat sepuluh menit. Anak-anak disuruh refresh sebentar.


"Ayo, katanya mau diskusi. sebagian materi diskusi sekarang, sebagjan lagi nanti pas bubar acara anak-anak belajar."


"Ok, Kak. Jadi begini..." Aku menceritakan sekilas tentang keberuntunganku bertemu Pak Samsudin. Sehingga mengantar aku menjadi sebutan Bos Acep, lengkap dengan kepemilikan rumah dan aset-aset lain. Kakak-kakak pembimbing mengucapkan syukur, dan mengingatkan aku untuk selalu bersyukur. Juga berhati-hati memegang amanah harta yang begitu banyak.


"Nah, Ide aku tuh, juga udah aku sepakati dengan Pak Samsudin,..." Aku melanjutkan menceritakan rencana rahasiaku dengan Pak Samsudin, bahwa kami ingin membawa Opik dan semua anak-anak matahari untuk tinggal di rumah Leuwi Goong. Semua akan kami sekolahkan sampai minimal SMA/SMK. Kalau memungkinkan sampai kuliah dan jadi sarjana.


"Allahu Akbar, Subhanallah... Alhamdulillah... Sholeh sekali kamu Wil. Allah telah memberi kamu hidayah dan tuntunan yang luar biasa. Kamu tidak silau oleh harta, semua harta dengan ikhlas kamu niatkan untuk menolong sesama. Semoga kamu tetap istiqomah di jalan Allah ya, Wil." Kakak-kakak di hadapanku berlinang air mata. Sudut mataku sendiri basah, Randi juga. Randi bahkan meneteskan air mata sambil melotot ke arahku, dia jengkel karena baru kali ini dia tahu rencanaku. Aku dan semua anggota diskusi, meneteskan air mata karena bahagia juga bersyukur.


"Tadi kudengar dari Opik dan abang warung, untuk ngambil Opik sendirian saja, preman terminal yang sebelumnya menguasai anak-anak minta tebusan lima ratus ribu. berarti kalau 20 anak, sepuluh juta. Nilai yang lumayan besar. Barangkali kakak-kakak punya ide yang lain?" Aku meminta ide dari semua. Siapa tahu bisa memperkecil pengeluaran uang tebusan.


"Nanti kalau anak-anak sudah selesai belajar, kita sama-sama menghadap Pak Preman. Kita minta kebijaksanaan dia." Kak Agung berpendapat. Sementara langkah itu yang akan kami tempuh, semoga saja hasilnya sesuai dengan yang kami harapkan.


Selesai kami diskusi, anak-anak matahari lanjut belajar lagi. Kali ini mereka diminta melakukan praktek sholat berjamaah. Kelompok di bagi dua. masing-masing kelompok sepuluh orang, satu orang bertindak sebagai imam dan sembilan orang sebagai makmum. Aku, Randi dan keempat kakak pembimbing memantau dan membimbing pelaksanaan praktek sholat.


Tak terasa, hari sudah sore. Sesuai rencana, aku, Randi dan semua kakak pembimbing akan menghadap pak preman. Anak-anak matahari berjalan mengiringi kami. Aku merasa lucu juga melihat iring-iringan kami berjalan. Kalau orang memperhatikan, mungkin iring-iringan kami disangka sedang berdemo.


Rupanya Kak Agung dan kawan-kawan sudah kenal dengan Pak Preman. Saat kami sampai di tempat Pak Preman, Pak Preman langsung menyapa Kak Agung dan kakak-kakak yang lain.


"Tumben kesini, ada apa?" Lumayan tegas juga nada suara Pak Preman.


"Ini, Bang. Kami ada perlu." Kak Agung yang bicara mewakili kami semua.


"Iya gua tau, pasti ada perlu. Perlu apa?" Tatap mata Pak Preman terlihat curiga.


"Kami minta ijin. Ingin menyekolahkan anak-anak." Kata Kak Agung lagi. Mata Pak Preman terbelalak.


"Sekolah-sekolah mulu. Kan sudah belajar dengan kalian, ga perlu lah sekolah." Nada suara Pak Preman mulai meninggi.


"Sekolah itu perlu, Bang. Kalau sekolah, nanti anak-anak dapat ijasah. Ijasahnya bisa buat melamar pekerjaan yang bagus."


"Aah. Sekarang juga mereka sudah bisa bekerja."


"Tapi kan kalau punya ijasah, pekerjaannya lebih bagus dari sekarang, Bang. Lebih terhormat."


"Persetan dengan kata terhormat, bagi mereka yang penting bisa makan." Masih dengan nada tinggi Pak Preman mengatakan itu.


"Jadi, bisa ga, Bang?" Kak Agung masih berusaha meluluhkan hati Pak Preman.


"Jelas ga bisa lah! Enak aja. Gua yang susah payah ngegedein mereka, lu maen ambil aja."


Kami diam sesaat. Pak Preman melanjutkan lagi bicaranya,


"Kecuali lu kasih uang tebusan. Satu anak, satu juta. Hahaha."


"Apa?" Randi berteriak. Kami semua juga kaget mendengar nominal yang disebutkan Pak Preman.


"Gila kali." Randi masih nyeletuk.


"Lu kali yang gila! Yang jelas gua waras, makanya gua minta tebusan." Pak Preman mulai marah. Randi diam.


"Lu pikir aja, kalau mereka sekolah, setoran gua nol. Maka pantas kan gua minta tebusan segitu." Randi tak tahan, dia berlalu meninggalkan kami. Aku dan kakak-kakak pembimbing saling berpandangan, Kak Agung memberiku kode.


"Baiklah, Bang. Kami pikir-pikir dulu ya. Besok atau lusa kami kesini lagi." Kami pamit pada Pak Preman dan anak-anak matahari. Aku dan Opik menuju warung abang.


"Kalau kesini bawa duitnya sekalian, sejuta perorang, hahaha." Masih kudengar teriakan Pak Preman dari kejauhan.