
Anak kecil itu tidak menjawab pertanyaan abang warung, dia masih asyik menikmati acara makan spesialnya. Kami sabar menunggu. Setelah makanan di piringnya habis, abang warung kembali menawari anak kecil itu.
"Mau tambah lagi, Dik?" Kali ini anak itu mendengar tawaran abang warung. Dia menggeleng.
"Namamu siapa, Dik?" Aku jadi ikut-ikutan abang warung, bilang adik.
"Opik." Dia menjawab.
"Tinggalnya dimana? Ibu bapakmu masih ada kan?" Randi tak sabar, mengajukan dua pertanyaan sekaligus. Opik tak menjawab pertanyaan Randi. Dia hanya menggeleng.
"Loh, maksudnya kamu ga punya ibu bapak?" Randi penasaran. Lagi-lagi Opik menggeleng. Entah maksudnya apa. Aku, Randi, dan abang warung hanya dapat saling memandang. Ada rasa kasihan di hati kami, tapi lebih banyak rasa penasaran.
"Selama ini kamu tinggal di mana ?" Lagi-lagi Randi bertanya. Randi tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Di mana-mana, Ka. kadang di emper toko. Kadang di terminal ini, di mana saja. Rumahku banyak." Aku diam, ada rasa sakit di hati ini. Membayangkan betapa anak sekecil Opik, tak punya rumah tempat dia tinggal. Lalu bagaimana bila hujan besar, di mana Opik berlindung? Kalau Opik sakit, siapa yang mengurus dia?. Betapa pahit hidup yang harus Opik jalani.
"Bagaimana kalau mulai sekarang, Opik tinggal di warung abang. Sekalian nemani abang. Abang tinggal sendirian di warung, keluarga abang jauh di kampung." Ide bagus. Keluar dari hati yang tulus. Mata Opik berbinar, menatap abang warung.
"Boleh, Bang?" Opik tak percaya. Abang warung mengangguk pasti. Opik berdiri, setengah berlari menghampiri abang warung, memeluknya erat.
"Terimakasih, Abang. Terimakasih." Tanpa kusadari sudut mataku basah. Pemandangan yang luar biasa di hadapanku ini membuat aku, Randi, menghela nafas panjang.
"Berapa semuanya, Bang?" Aku baru ingat. Opik sudah selesai makan, dan aku harus melanjutkan perjalanan. Opik melepaskan pelukannya, abang warung tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Masa anak sendiri makan, harus bayar." Abang warung ini baik sekali, Opik makan tak perlu bayar. Abang malah mengeluarkan uang dari sakunya. Memberikannya pada Randi.
"Walaupun tidak sebesar uang kamu yang hilang, tapi semoga bermanfaat untuk keperluan kalian selanjutnya." Randi menolak, tak enak hati. Abang warung tetap memaksa. Akhirnya uang pemberian abang warung Randi masukkan juga ke saku bajunya.
Kami melanjutkan perjalanan. Kami naik angkutan umum sesuai petunjuk abang warung. Jalanan macet. Walaupun penumpang angkutan yang kami tumpangi sudah penuh, angkutan umum tetap sering berhenti. Betul-betul macet. Di Kota sebesar Bandung, kemacetan sepertinya terjadi setiap hari. Sedikit berbeda dengan kota kami, Cirebon. Kemacetan hanya terjadi di waktu-waktu tertentu saja.
'Dit' 'Dit' 'Diìitt' terdengar suara klakson mobil dan motor secara bersamaan. Berisik sekali. Aku mencoba melihat melalui jendela kaca angkutan umum. Tapi tak terlihat kejadian apa-apa. Yang terlihat hanya tumpukan kendaraan yang padat. Beberapa saat kemudian, angkutan umum yang kami tumpangi, bergerak kembali. Perlahan.
Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan kami. Terminal Ledeng. Kami turun. Kata Abang warung, kalau kami hapal sih, kami bisa turun di pertigaan sebelum terminal ledeng. Tapi kalau kami tak yakin, ga apa-apa turun di terminal ledeng saja. Nanti tinggal tanya-tanya lagi tentang alamat yang kami cari.
"Tanya yuk, Ran."
"Ayo, tuh ke yang ada di warung nasi saja." Randi menunjuk sebuah warung nasi.
Orang yang kami tanya, memberi petunjuk. Dari pintu masuk terminal, kami belok kiri, lalu berjalan kaki, lumayan sekitar 10 menit perjalanan. Maka kami akan sampai di pertigaan menuju wilayah Geger Kalong. Bisa juga, dari pintu masuk terminal,kami belok kiri, berjalan sedikit, lalu menyeberang, Masuk ke area Kampus UPI Bandung. Di dalam area kampus bisa tanya-tanya ke kakak mahasiswa tentang arah ke Geger Kalong.
Aku dan Randi memutuskan, kami akan berjalan melalui kampus UPI. Sekalian jalan-jalan melihat-lihat kampus.
"Wil, lihat. Itu kampusnya."
"Betul, Ran. Ayo!" Kami menyeberang. Rasanya semangat sekali langkah kaki ini. Ada rasa bangga memasuki gerbang kampus. Serasa sudah jadi mahasiswa.
"Ran, sini. Lewat gerbang yang ini saja." Aku mengajak Randi melewati gerbang yang diperuntukkan bagi sepeda motor. Kami bermaksud meminta ijin penjaga untuk masuk ke dalam area kampus.
"Permisi, Pa. Boleh kami masuk? Kami ingin melihat-lihat kampus ini, sekalian mau menuju daerah Geger Kalong." Penjaga membolehkan kami masuk. Beliau malah memberi petunjuk, bahwa di belokan kedua nanti, kami harus belok kiri. Kami berjalan ke arah yang ditunjuk penjaga tadi.
"Wil, lihat! Bagus sekali. Bentuk bangunannya unik." Randi menunjuk gedung besar di hadapan kami. Bentuk gedung itu memang unik. Ada bentuk lingkaran-lingkarannya. Cat gedungnya berwarna putih. Makin menambah kesan megah. Di depan gedung ada tangga-tangga. Di sisi kiri dan kanan tangga ada tempat untuk duduk-duduk. Indah sekali sepertinya kalau duduk-duduk di sana. Masih di area sekitar gedung, ada kolam besar, yang dikelilingi tanaman-tanaman. Ada tempat duduk-duduk juga di sekeliling kolam. Udara segar langsung terasa di sini.
"Duduk dulu di sana yuk Wil." Randi tak tahan, ingin merasakan damainya duduk-duduk di pinggir kolam.
"Sst. Nanti lagi saja. Takut keburu sore. Perjalanan kita masih panjang." Aku mengingatkan. Randi terpaksa menurut.
Kami terus berjalan. Kulihat banyak kakak- kakak mahasiswa yang berjalan juga di area kampus. Ada yang searah dengan kami, ada juga yang berlawanan arah.
"Wil, kita berhenti dulu yuk. lumayan cape nih. Cari mesjid saja, sekalian sholat asar. sebentar lagi kan asar." Betul juga kata Randi. Sebentar lagi asar. Mumpung sedang ada di area kampus, dekat-dekat sini pasti ada mesjid.
"Permisi, Kakak. Mesjid sebelah mana ya?" Kebetulan ada kakak mahasiswa yang lewat di depan kami.
"Oh, ke sana, Dek." Kakak itu menunjuk arah ke mesjid. Aku dan Randi berjalan ke arah yang ditunjukkan kakak mahasiswa.
Kampus ini betul-betul indah. Gedung-gedungnya bagus, banyak pohon-pohon peneduh, juga taman-taman yang indah. Kakak-kakak mahasiswanya juga ramah. Yang berpapasan dengan kami tadi, semua kelihatan baik. Pakaian mereka juga rapih, kelihatan bersahaja. Dan sekarang, gedung mesjid yang ada di hadapan kami, luar biasa indah. Bagus dan indah bangunan gedungnya, juga indah bagian dalam mesjidnya.
"Wil, kita duduk dulu ya. Sambil menunggu waktu asar."
"Iya, Ran. Lumayan sambil istirahat." Kami duduk di koridor mesjid. Kebetulan di koridor ini juga banyak kakak-kakak mahasiswa yang sedang duduk juga. Sebagian besar dari kakak-kakak mahasiswa duduknya berkelompok. Sedang melaksanakan diskusi-diskusi. Beberapa ada juga yang sibuk mengetik sesuatu di laptop, seperti sedang mengerjakan tugas. Satu dua orang, ada juga yang hanya duduk diam. Sambil memandang taman yang begitu indah menghiasi halaman mesjid.
"Di sini betah ya Wil."
"Iya Ran. Ya udaranya sejuk, tamannya indah, orangnya ramah-ramah. Besok lusa aku sepertinya ingin kuliah di sini."
"Bener Wil? Kamu mau kuliah di sini?" Randi tak yakin dengan kata-kataku.
"Semoga saja Ran. Semoga saja."
"Ran, coba lihat itu." Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalaku.
"Apa Wil? Ada apa?" Randi melihat seseorang yang aku tunjuk. Seorang Bapak sedang mengepel di area sekitar tempat wudhu laki-laki. Mungkin bapak itu sedang mengeringkan lantai yang dilalui oleh orang-orang yang selesai berwudhu.
"Ada apa dengan bapak itu Wil? Bapak itu sepertinya marbot mesjid."
"Iya betul. Marbot mesjid"
"Lalu?"
"Kita nanti tanya bapak itu."
"Tanya apa? Alamat KK kedua?"
"Bukan."
"Trus, tanya apa?"
"Tanya, boleh atau tidaknya kita ikut tidur di mesjid, malam ini."
"Menginap di mesjid?"
"Iya, jadi kan ga usah bayar penginapan."
"Emang boleh?"
"Ya makanya kita tanya, besok paginya kita bantuin bapak itu bersih-bersih mesjid."
"Maksud kamu, kita ikutan jadi marbot mesjid?"