KK

KK
57. GURU-GURU HEBAT



Ada yang berbeda pagi hari ini di sekolah. Saat aku sampai di pintu kelasku, Ivan menyampaikan pesan,


"Wil. Kata Bu Min, istirahat nanti kamu ke ruang guru temui beliau." Sepagi ini Bu Min titip pesan padaku? ck ck ck... Hebat, rajin sekali Bu Min. Sudah memikirkan masalah-masalah siswanya sejak pagi.


"Kenapa sih, Wil. bolak balik mulu dipanggil Bu Min? Ada masalah apa?" Pantas saja Ivan bertanya-tanya. Dia memang yang paling hafal tentang panggilan-panggilan dari guru untuk para siswa di kelas.


"Nggak, masalah data aja." Semoga jawabanku bisa meredam rasa penasaran Ivan.


"Oh. Dikira ada masalah yang serius." Ivan berlalu. Aku menuju tempat dudukku.


Dua jam pertama adalah pelajaran IPA.


"Anak-anak, kali ini kita akan belajar tentang kemagnetan ya." Pak Adi memulai pelajaran.


"Yaa, kenapa nggak belajar tentang pewarisan sifat lagi, Pak?" Sebagian anak-anak protes. Kecewa. Aku ingat, kami belajar tentang pewarisan sifat saat pelajaran IPA di semester lalu. Waktu itu memang seru sekali. Kami belajar serius, tapi banyak komentar teman-teman yang mengundang tawa. Misal komentar tentang rambut Bimo yang ikal, Ada yang nyeletuk bahwa bapak kandung Bimo bisa jadi rambutnya kribo. Gaduh sekali tawa kami saat itu. Bimo yang kami ledekpun ikut tertawa lepas.


Meski kami belajar diselingi tawa, tetap banyak ilmu yang kami dapat saat itu. Tentang DNA, RNA, sifat dominan, resesif, tentang kelainan albino, tentang hemofilia, tentang banyak hal yang betul-betul membuat kami terpana. Saat itu pembelajaran ditutup dengan sebuah pesan dari Pak Adi 'Setelah lulus dari sini, kalian lanjutkan sekolah, cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadilah golongan orang-orang yang berilmu. Ingat bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.'


Untuk pembelajaran hari ini, Pak Adi hanya senyum mendengar protes dari kami.


"Kalian belum tau ya, di materi kemagnetan yang akan bapak ajarkan sekarang, ada keseruan yang lebih dahsyat lagi. Kita bisa main sulap!"


"Hah? Ko bisa, Pak?"


"Aaah, Pak Adi pasti cuma merayu kita aja."


"Yang dirayu jangan kita semua, Pak. Wina aja. Hahaha." Gemuruh tawa mengiringi komentar Bobi. Wina senyum-senyum penuh percaya diri. Yup, siapa juga yang akan menolak dirayu sama Bapak guru ganteng seperti Pak Adi ini. Sudah ganteng, pintar pula.


Pak Adi ikut tertawa. Pak guru yang satu ini memang bukan type guru yang menegakkan wibawa tinggi-tinggi. Beliau orangnya nyantai. Kami seru tertawa, beliau ikut tertawa. Itulah makanya kami selalu asyik kalau belajar IPA didampingi beliau.


"Oke. Sekarang bapak tanya, kalian mau tau nggak, sulap terkait materi kemagnetan?" Anak-anak mulai diam, fokus. Rasa penasaran mulai muncul di hati dan pikiran kami.


Dua pelajaran sudah berlalu, IPA yang seru, dan matematika yang bikin kepala sedikit nyut-nyut. Bel tanda waktu istirahat berbunyi. Aku siap-siap menuju ruang guru, menemui Bu Min.


Betul saja, sampai ruang guru, Bu Min sudah menunggu. Tapi Bu Min tidak sendirian, di sebelahnya ada Bu Tita, Bu Melani, juga Bu Sri.


"Hai, Wil. sini duduk." Satu kursi kosong sudah tersedia. Aku duduk. Agak heran juga duduk di hadapan empat ibu guru seperti ini. Rasanya seperti akan disidang karena kesalahan yang besar.


"Ini Bu Tita, Bu Mel dan Bu Sri sengaja nunggu kamu loh, Wil. Kami semua penasaran." Keningku spontan berkerut. Aku mencoba berpikir, mencari tahu alasan rasa penasaran guru-guruku ini. Tapi semakin berpikir, aku malah makin bingung. Selama ini aku tak pernah bermasalah apapun dengan Bu Tita, Bu Mel maupun Bu Sri. Terakhir kali aku bertemu mereka saja dua minggu lalu, di sini, saat aku ditanya soal data oleh Bu Min. Bu Tita Bu Mel dan Bu Sri saat itu kebetulan ada di dekat Bu Min. Mereka menahan tawa saat tahu tentang nama bapakku yang tidak jelas.


Mungkin karena melihat gelagatku yang bingung, Bu Min melanjutkan ucapannya,


"Kemarin, sepulang dari rumah kamu, ibu langsung chat ke mereka bertiga. Ibu ceritakan semuanya, terutama tentang kamu yang punya anak asuh 20 orang." Ooh, itu rupanya akar masalahnya. Semua ibu guru di depanku ini penasaran tentang anak-anak matahari.


"Itu kamu sudah lama, Wil, mengangkat mereka sebagai anak asuh?" Bu Tita mulai bertanya.


"Belum, Bu. Ketemunya aja kan waktu liburan kemarin. Anak-anak dibawa ke rumah baru seminggu-an kurang lebih."


"Insyaa Allah, mohon do'anya ya, Bu. Wil ingin menyekolahkan mereka. Kalau bisa sampai semua jadi sarjana."


"Apa?" Hampir serentak keempat bu guru di hadapanku ini berteriak. Nada mereka sama tinggi. Ekspresi wajah mereka sama-sama kaget.


"Menyekolahkan 20 anak sampai jadi sarjana itu tidak mudah, Wil. Jangan terlalu muluk mimpinya, nanti yang ada malah kamu kecewa." Bu Min mengingatkan.


"Iya, Bu. Itu cita-cita Wil untuk adik-adik wil. Do'akan tercapai ya, Bu."


"Iya, dido'akan sih dido'akan. Tapi kan logika harus jalan juga. Biayanya akan sangat mahal, Wil. Kamu uang dari mana untuk membiayai semuanya?" Bu Sri memperingati. Aku membenarkan apa yang dikatakan Bu Sri. Aku sendiri bahkan tak pernah menghitung nanti biayanya berapa dan berapa. Aku hanya tahu bahwa Allah mengatur segala sesuatu itu penuh kejutan. Seperti halnya yang aku alami. Hanya dengan hitungan hari, Allah menghadirkan Ua Amir, Bapak Muji, Bapak Samsudin, Bapak Nana, Randi alias Nandi, juga anak-anak matahari, dalam kehidupanku. Suatu kejutan yang sangat luar biasa. Maka demikian juga dengan masa depan anak-anak matahari. Aku yakin, suatu saat, tiba-tiba saja aku sudah berada di acara wisuda Mimbo, Opik, Dian, dan anak-anak matahari semuanya. Bahkan bisa jadi juga, sekali menghadiri acara wisuda, adik matahari yang diwisuda bisa jadi sekaligus dua atau tiga orang. Hmm... Pikiranku jadi geli sendiri memikirkan itu.


"Wil." Bu Min membuyarkan lamunanku.


"Ya, Bu."


"Itu, sudah kamu pikirkan semua resikonya?"


"Insyaa Allah, Bu. Wil siap, juga yakin, karena Wil punya Allah, yang Maha segala galanya." Semua diam, aku juga diam. Ada getar tersendiri saat kalimat penuh keyakinan itu keluar dari mulutku. Ya. Tanpa kusadari, aku telah mencuci otakku sendiri. menanamkan mindset positif pada seluruh sel dalam tubuhku bahwa 'Ada Allah, yang akan membuat segala sesuatunya mudah dan lancar.'


"Kami boleh ikut serta dalam perjuangan kamu, Wil?" Semua menatapku, lekat. Pertanyaan Bu Min membuat aku terpana sesaat.


"Maksud ibu?"


"Apa yang dapat kami bantu untuk mendukung perjuangan kamu?" Bu Min memperjelas kalimatnya.


"Tentunya bukan hanya do'a." Bu Min menambahkan.


"Wil nggak tau, Bu. Tapi kalau ibu mau tau keadaan anak-anak matahari seperti apa, ibu boleh liat langsung ke rumah Garut. Tiap hari jumat siang Wil ke Garut, pulang ke sini lagi minggu." Semua saling memandang satu sama lain. Semua saling tersenyum juga. Aku belum mengerti apa arti senyum para Guru hebat di hadapanku ini.


____________


'Masih bersambung ya... Terimakasih untuk selalu hadir di sini.'


Baca juga yuk, novel bagus karya temanku:



Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.