Kiana Story

Kiana Story
Bab 9



Azam mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah Kiana. Cowok itu mengedikan bahunya acuh sebelum berjalan menuju sofa dan duduk di situ.


Azam menatap Kiana yang masih asyik makan seperti orang kelaparan, sebelum ia beralih memandang ponsel yang berbunyi tanda ada pesan masuk.


Azam hanya melihat pesan itu tanpa niat membalasnya. Ia menaruh handphone di atas meja sebelum kembali menatap ke arah Kiana.


Matanya melotot saat melihat Kiana yang kini sudah belepotan dengan cokelat Ia berdecak pelan.


"Sengaja di buat belepotan biar gue bersihin gitu?" tanya Azam sinis, membuat Kiana yang kini tengah menjilat jarinya yang penuh cokelat lantas menoleh ke arah cowok itu.


"Gue nggak secaper itu." ucap Kiana, sebelum mengambil tisu di atas nakas untuk membersihkan semua sampah yang mengotori ranjang nya.


Azam terus menatap Kiana tajam sebelum beranjak berdiri menghampiri Kiana. Membuat gadis itu yang hendak kembali berbaring, kini kembali menegakkan punggungnya.


"Mau ngapain lo?" tanya Kiana pada Azam.


"Turun, gue mau tidur." jawab Azam membuat Kiana mengerutkan keningnya.


"Maksud lo? Oh, lo mau tidur di sebelah gue? Idihh... kayak cerita novel aja. Si cewek sakit terus cowoknya ikut tidur di..."


"Banyak bacot lo! Gue bilang turun dari situ, gue mau tidur sendiri! Bukan bareng sama lo!" Azam menonyor kepala Kiana setelah ucapan ngawur gadis itu.


"Lah, terus gue tidur di mana?" tanya Kiana bingung.


Azam mengedikan bahunya acuh. "Lesehan di lantai atau di sofa aja. Terserah gue gak peduli! Udah cepat turun, gue udah ngantuk!" ucap Azam kesal.


Kiana mengerjapkan mata berkali-kali. "Ini yang sakit siapa? Lo atau gue setan!"ucap Kiana tidak terima.


Setelah perdebatan sengit yang di lakukan Azam dan Kiana dan dimenangkan oleh Azam. Kini Kiana sedang berjalan menuju sofa dan segera memejamkan mata.


****


Kiana menghela napas pelan sebelum turun dari mobil. Gadis itu meregangkan sedikit otot-otot tubuhnya. Percayalah jika saat ini tubuh Kiana sangat sakit karena habis tidur di sofa, akibat ulah manusia kejam tak punya hati siapa lagi jika bukan Azam.


Kiana menatap bangunan megah bertingkat di hadapannya. Sangat megah dan indah. Rumah Kiana di kehidupan sebelumnya juga sangat mewah, namun masih mewah lagi rumah di hadapannya sekarang.


"Ayo masuk sayang." tepukan lembut di bahunya membuat Kiana tersadar, ia tersenyum kikuk saat menatap Zara, kemudian kepalanya mengangguk mengikuti langkah wanita itu.


Di belakang Kiana dan Zara, Azam tengah merengut kesal sambil mengambil kasar tas pakaian Kiana. Tangannya terkepal menatap punggung Kiana yang sudah masuk ke dalam rumah. Ia melempar tas hitam itu begitu saja di atas paving sebelum menatap pak satpam di rumahnya.


"Bawa masuk Pak." ucap Azam menunjuk tas dengan dagunya. "Kalau Mommy nanyain Azam, bilang aja lagi keluar." lanjut Azam, kemudian berjalan menuju motor kesayangannya.


Di dalam rumah, Kiana duduk di sofa ruang keluarga, ia menunggu Zara yang tengah mengambil minum.


"Mommy,tolong sisil lambut Ipin dong!" suara Ipin terdengar membuat Kiana menoleh ke arah lift. Di sana ada Ipin yang hanya memakai celana hitam pendek tanpa memakai baju, hingga perutnya yang sedikit buncit terlihat. Ipin sungguh terlihat imut dan menggemaskan, apalagi rambut hitamnya yang kini berantakan.


"Tangan Mommy kotor, sisir sendiri aja." ucap Zara dari arah dapur.


"Hey, sini biar aku bantu sisir." ucap Kiana, ia memanggil Ipin dengan menggerakkan tangannya.


"Loh kakak Angel?" Mata Ipin mengerjap polos sebelum mulai menghampiri Kiana. "Aduhh, Ipin jadi malu di liat kakak Angel tadi pas teliak-teliak."


Kiana terkekeh kecil dan mencubit gemas pipi Ipin yang gembul. "Mau sisir rambut ya? Sini kakak bantu."ucap Kiana dan mengambil alih sisir di tangan Ipin, sebelum mengangkat tubuh kecil Ipin ke pangkuannya.


Ipin membekap mulutnya sendiri. "Kak Angel, Ipin bapel nih, padahal hanya di pangku kakak." ucap Ipin membuat Kiana terkekeh lagi.


Kiana di buat heran dengan tingkah bocah kecil itu. Sebenarnya siapa yang mengajari Ipin hingga bertingkah seperti sekarang. sayangnya Kiana belum mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri.


"Baperan kamu sih." balas Kiana dan mulai menyisir rambut Ipin. "Mau di model kayak gimana rambutnya?"


"Kayak olang habis kesetlum itu loh, lambut yang bedili-bedili." ucap Ipin sambil menarik rambutnya ke atas untuk membuat model seperti yang ia katakan.


Kiana menggeleng pelan sebelum kembali menyisir rambut Ipin lagi hingga sesuai dengan keinginan bocah itu.


Dari arah dapur, Zara terlihat tengah membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sepiring nasi yang sudah di lengkapi lauk pauknya dan juga terdapat dua gelas berisi susu dan air putih.


"Ipin kebiasaan nggak mau menyisir rambut sendiri."ucap Zara, ia menaruh nampan di atas meja sebelum duduk di sebelah Kiana.


"Ipin kan emang nggak bisa." ucap Ipin membela diri. Kemudian pandangannya tertuju ke arah makanan di atas meja.


"Wahh. Mommy baik banget deh, tau aja kalau Ipin lapar." Tangan kecilnya terulur untuk mencomot paha ayam, namun gerakan terhenti saat Zara memukul pelan punggung tangannya.


"Heh, itu punya Kak Kiana, kalau mau ambil di dapur sana. Minta sama Bi Sumi." ucap Zara memelototi Ipin.


"Ipin capek Mom kalau jalan ke dapul. Halus jalan lulus, telus tulun tangga belok kili balu nyampe." ucap Ipin dengan tangan yang ikut memperagakan ucapannya.


Zara mendengus pelan. "Hitung-hitung olahraga, Pin. Lihat tuh, perut kamu udah besar banyak lemaknya. Katanya mau punya roti sobek kayak Bang Azam."


Mendengar itu, sontak Ipin langsung menatap perutnya yang memang sedikit buncit. Bibirnya mengerucut sebelum akhirnya berdiri. "Benal juga. Oke Mom, Ipin ambil sendili aja." ucap Ipin dan langsung berlari ke dapur.


Zara dan Kiana tertawa melihat tingkah bocah kecil itu. "Ipin sifatnya emang kayak gitu. Turunan dari sifat Papinya." Zara terkekeh setelah menceritakan sikap Ipin yang sangat mirip dengan Zain saat muda dulu. "Tapi kalau sifat narsis sama playboy nya itu karena didikan dari sahabat Azam yang bernama Bian sama Alan."


Kiana terkekeh kecil. "Ipin lucu banget ya Mom." ucap Kiana.


Zara tersenyum, kemudian tangannya mengambil piring di atas meja dan memberikannya pada Kiana.


"Nih makan dulu. Makan yang banyak ya, Mommy tau kamu belum makan." ucap Zara dan mengambil obat milik Kiana.


"Habis itu minum obatnya. Dan ini, luka di pipi kamu jangan lupa di kasih salep biar cepat sembuh."


****