Kiana Story

Kiana Story
Bab 73



Isak tangis terdengar memenuhi ruangan, sambil melihat video yang terpampang jelas di depan mata mereka.


Banyak sekali yang tidak mereka ketahui tentang Bian, selama ini Bian yang mereke kenal adalah orang yang selalu ceria dan murah senyum. Dan hal itu hanya tipuan semata guna menutupi semua kesedihan yang di alaminya.


"Uhuk-uhuk arghh!" Bian meringis mencengkram rambutnya. Terlihat para dokter bergegas memeriksa keadaan Bian.


"Keadaan pasien semakin kritis Dok."


"Detak jantungnya melemah Dokter."


"Siapkan alat kejut jantung."


Bian mengangkat tangannya dan melambaikan tangan ke arah kamera dan tetap tersenyum lebar. "Gue sayang kalian semua, maaf tidak bisa bertahan sampai akhir. Maaf matahari kalian tenggelam pada hari ulang tahunnya, dan tidak akan pernah terbit lagi uhuk-uhuk... Akh! Hah....hah..hah.." Napas Bian semakin melemah.


"Gu..gue pulang duluan ya. Sampai jumpa di titik terindah menurut takdir. Gue berharap terlahir kembali dan bisa ketemu kalian semua. Maaf dan terima ka..."


Tit!


"Dokter jantung pasien berhenti berdetak!"


Video pun berakhir. Yang terakhir terlihat keadaan ruangan yang kacau dan panik.


"Hiks Bian!" tangis mereka pecah di dalam ruangan itu.


Pemakaman Bian akan di langsungkan besok. Dan sekarang jenazahnya sudah di bawa ke rumah duka.


Namun mereka membagi tugas, sebagian ada yang balik ke markas dan sebagian lagi ikut membantu di rumah duka dipimpin oleh Ringga. Mereka turun tangan, karena keluarga Bian tidak ada di rumah.


Yang paling menyesakkan dari kepergian Bian adalah ketidak hadiran orang tuanya. Padahal, Bian berharap sebelum matanya tertutup selamanya, ia ingin melihat mereka berdua. Namun itu hanya sebuah angan Bian.


Bian ingin kehangatan keluarga sebelum ia pergi. Ia ingin kecupan kecil di kening dari Mama dan Papanya sebelum napasnya tidak terhembus lagi.


Bian ingin mendengar kalimat impiannya selama ini, kalimat yang ia harapkan di setiap kali ia membuka mata dan melihat dunia. Hanya kalimat singkat namun berarti bagi Bian yaitu "Mama dan Papa sayang Bian" sebelum matanya tak bisa terbuka lagi.


Hap!


Azam langsung memeluk Jeje. Alan yang tadinya hanya menyaksikan langsung ikut memeluk Jeje dan Azam. Mereka semuanya kehilangan.


"Gue jahat banget, seharusnya gue sadar kata-kata Bian akhir-akhir ini!"


"Seharusnya gue sadar kalau dia gak baik-baik aja."


"Seharusnya gue gak bodoh hingga tertipu dengan fake smile nya!"


"Seharusnya gue peka kalau rambut Bian udah menipis!"


"Seharusnya gue sadar tingkah dia yang aneh belakangan ini, seharusnya gue sadar!"


Jeje menangis. Ia memukul punggung Azam.


Azam hanya bisa diam. Ia mengeratkan pelukannya pada Jeje. Begitu juga Alan yang menangis tanpa suara. Di belakangnya ada hantu Alena yang menatap iba ketiga cowok itu.


Di banding mereka, yang paling kehilangan sosok Bian adalah Jeje dan Loli. Mereka yang paling dekat dengan Bian.


"Lihat Yan, kita hancur atas kepergian lo. Tapi ini udah takdir, gue harap lo tenang dan bahagia di sana."


"Kita semua sayang lo Bian, lo harus bahagia di sana, dan udah gak ngerasain sakit lagi. Selamat jalan cahaya matahari. You are the best friend Abian Satua Raksa."


Proses pemakaman sedang dilakukan. Azam, Ringga, Jeje dan Alan membantu petugas makam untuk menguburkan jenazah sang cahaya matahari.


Isak tangis tak bisa di bendung. Kiana dan Alira memeluk erat Loli yang terus memberontak dan menahan orang-orang yang akan mengubur jenazah Bian.


"JANGAN KUBUR BIAN! DI DALAM PASTI SESAK! NANTI BIAN GAK BISA NAPAS!"


"Kiana marahin mereka, bilang jangan kubur Bian, nanti Loli sama siapa?"


Bunda Loli hanya bisa mengusap air mata sang putri. Loli itu anti dengan cowok, dan Bian adalah cowok yang bisa membuat Loli sedekat dan senyaman itu.


"Tenang dan ikhlasin Bian ya, jangan kayak gini. Bian bakalan ikutan sedih kalau liat lo nangis." ujar Kiana.


Hari ini adalah hari senin. Sekolah di liburkan karena sedang berduka. Banyak siswa yang datang melayat beserta gurunya.


Proses pemakaman telah selesai. Di depan mereka, gundukan tanah yang masih basah yang di taburi bunga terpampang jelas dan nyata.


Nisan putih yang bertuliskan nama sang sahabat menyakitkan hati kala di baca. Bian meninggal tepat di hari ulang tahunnya.


"Tenang di sana anak ganteng. Mommy sayang sama Bian." ucap Zara sambil meletakkan mawar putih di atas gundukan tanah itu.


Zain ikut berjongkok di sebelah istrinya dengan Ipin berdiri di hadapannya.


"Selamat jalan boy, Papi bakalan rindu sikap narsis dan gak tau malu kamu. Tenang di sana anak ganteng," ucap Zain.


Ipin menyeka air matanya. "Selamat jalan Bang Bian, tenang di sana. Makasih untuk waktu yang pelna Bang Bian laluin dengan Ipin. Ipin gak bakalan lupa sama Bang Bian."


Mereka berdiri dan memberi ruang untuk orang lain. Kini, para guru ikut mengucapkan kata terakhir untuk Bian.


Keadaan makam sudah tidak seramai tadi. Murid dan para guru sudah pergi dan meninggalkan makam.


Elsa? Gadis itu ikut datang dan tentu saja ikut menangis. Namun ia sudah balik lebih dulu dengan alasan tidak enak badan.


"Gue dan semua anggota gue turut berdukacita, Zam. Gak nyangka kalau Bian pergi secepat ini." Devan menatap tempat peristirahatan terakhir Bian.


"Gue balik dulu. Sekali lagi, turut berduka ci..."


"BIAN!"


Ucapan Devan terpotong dengan teriakan kencang. Mereka menoleh ke sumber suara dan mendapati dua orang yang berderai air mata berlari ke arah mereka.


"Bian hiks.... Kenapa ninggalin Mama."


"Bian maafin Mama, tolong maafin Mama. Mama gak becus, mama jahat, mama nyesel sayang hiks... Mama minta maaf Bian." lirih Mia. Ia mencengkram nisan sang putra.


"Maafin Papa Bian, Papa terlalu buta hingga tidak menghargai keberadaan kamu, maafin Papa yang selalu mukul kamu. Tolong maafin Papa."


Ia kehilangan putra semata wayangnya akibat kebodohannya sendiri. Dan sekarang, ia menyesal. Ia menyesal dan tidak bisa mendapatkan maaf Bian secara langsung. Putranya telah pergi.


Betapa runtuhnya hati mereka yang saat itu masih berlibur di Singapure mendengar kematian Bian. Memang awalnya mereka keras hati dan biasa saja saat mendengar Bian kecelakaan, namun saat Dokter Rafi mengatakan jika Bian telah tiada, saat itu juga hati nurani mereka sebagai orang tua langsung tersentil.


"Om dan Tante gak bisa di sebut orang tua! Bahkan di saat napas terakhir Bian, kalian gak ada! Kalian hanya memilih liburan padahal kehadiran kalian sangat di butuhkan Bian! Kalian jahat! Kalau kalian gak nyiksa Bian lahir dan batin, pasti Bian masih bertahan dan ada di sini bareng kita semua!" pekik Loli. Ia tak bisa menahan diri.


"Yah! Kami memang bukan orang tua yang becus! Kami memang penyebab kematian Bian! Tapi kami sungguh menyesal." Mia menunduk dengan air matanya terus mengalir.


Anak yang tak pernah ia akui keberadaannya. Anak yang selalu ia biarkan saat suaminya memukulinya hanya karena ingin membela Elsa.


"Udah telat!" maki Azam.


Dokter Rafi datang tiba-tiba membawa sesuatu. Sebuah kotak hitam.


"Saya turut berdukacita," ucap Dokter Rafi. Kedatangan saya hanya ingin memberikan ini kepada orang tua Bian. Dia menitipkan ini pada saya di hari ia datang untuk cek penyakitnya."


Mia mengambil kotak hitam pemberian Rafi


Kedua orang tua Bian menangis kencang saat membaca sebuah diary yang berisi curahan hati Bian yang ingin mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Apalagi sebuah surat rumah sakit yang menyatakan jika Bian mengidap kanker otak stadium 2 membuat Mia dan Agung semakin merasa bersalah.


Penyesalan terbesar adalah ketika menyadari kesalahan, tapi orang yang di sakiti sudah tidak ada di dunia ini.


****