
Sekarang sudah menunjukkan pukul 07:15, sebenarnya sudah waktu jam pertama di mulai, namun ternyata hari ini mereka jamkos karena gurunya sedang sakit.
"Si playboy cap buaya rawa tumben belum datang," celetuk Jeje sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Alan.
"Telat mungkin. Semalam dia lagi jalan sama ceweknya yang nomor sepuluh atau delapan ya? Lupa gue," ujar Bian sembari memasukkan ponselnya yang sempat ia mainkan tadi. "Dia yang kebanyakan pacar, gue yang bingung sendiri," lanjut Bian. Memang kalau kurang kerjaan, Bian suka menghitung jumlah pacar sahabatnya itu.
"Makanya cari pacar," ujar Azam dengan wajah datar.
"Gue mau cari hidup dulu, Zam. Baru cari pacar," balas Bian cengengesan.
Azam mendengus. Cowok itu menutup mulutnya dengan punggung tangan sembari menatap ke arah pintu masuk.
Keningnya berkerut saat melihat cowok yang sangat ia kenal, tengah memakai mantel dan juga kaca mata hitam. Raut wajahnya terlihat ketakutan.
"Kenapa tuh anak?" tanya Azam heran. Hal itu membuat semua pandangan mengarah ke pintu masuk. Di sana ada Alan.
"Kenapa lo Lan?" tanya Bian heran.
Alan nampak menggigil sembari menarik kursi ke dekat Bian dan duduk dengan posisi berdempetan dengan Bian.
"G-gue ta-takut n-njir," ujar Alan terbata-bata. "Di-dia ngi-ngikutin gue."
"Lah? Ngomong yang jelas Bagong!" Bian memukul kepala Alan karena kesal.
Alan mengatur napasnya. Ia harus menceritakan hal paling menakutkan dalam hidupnya ini pada sahabatnya.
"Ka-kalian tau kan, kalau gue takut banget sama makhluk halus?" Alan mulai bercerita.
Mereka mengangguk. Memang Alan paling penakut di antara mereka. Mau buang air ke toilet aja harus panggil orang buat temenin. Apalagi kalau pulang dari markas sudah larut malam, Alan akan meminta untuk di antar dibanding pulang sendiri.
"Nah, gimana ceritanya gue yang takut setan malah di ikutin setan cewek. Demi Tuhan gue gak bohong. Tu cewek pucat banget, terus kakinya gak napak tanah. Serem njir." Alan bergidik.
"Seriusan lo? Kok inces ikut takut ya?" Jeje ikut merinding.
"Gue gak mau bercanda soal kayak gini. Kalau kalian tahu, tu cewek ada-----KYAAA!" Alan spontan berteriak dan langsung memeluk Bian saat wajah pucat seorang gadis langsung muncul di depan wajahnya.
"Kenapa lo Lan?"
"A-anjir! Tu setan cewek ngikutin gue sampe ke sekolah!"
"Maksud lo?" Seisi kelas mulai merinding akibat Alan.
"TU HANTU ADA DI DEPAN HUE! AAA BUNDA TOLONG ALAN!" Alan berteriak kencang. Demi apapun ia sangat ketakutan.
"Kok sepatu gue kayak basah?" Bian bersuara sembari menunduk untuk melihat keadaan sepatunya. Matanya melotot kaget. "ANJIR ALAN! LO NGOMPOL KENA SEPATU GUE!" Bian berteriak dan mendorong Alan agar menjauh darinya.
Semua orang merinding saat Alan berkata ada hantu berada di dalam kelas. Suasana kelas kini menjadi sunyi. Hanya ada suara Bian yang kini mengumpat karena sepatunya basah akibat ulah Alan yang sedang ketakutan setengah mati.
Bian rasanya ingin marah dan menendang pantat sahabatnya itu, namun ia masih menahannya.
***
Jam istirahat pun tiba. Kiana menyuruh Alira dan Loli untuk ke kantin lebih dulu, karena ia ingin ke perpustakaan lebih dulu untuk mengembalikan buku. Awalnya Alira menawarkan untuk menemaninya, namun Kiana menolak dan akhirnya Alira menurut dengan kata Kiana untuk pergi ke kantin duluan.
Saat melewati lorong pemisah antara kelas, Kiana terpekik saat rambutnya di tarik seseorang.
Kira- kira siapa yang narik rambut Kiana?