Kiana Story

Kiana Story
Bab 48



Elsa mendengus kesal dan mulai mencari nomor kontak Azam dan Damar. Ia berniat menggabungkan sambungan telepon kepada mereka berdua. Panggilan pertana belum di angkat sampai panggilan kedua. Hal itu membuat Elsa kesal, lain dengan Kiana yang malah tertawa kecil.


Mengapa Tuhan menciptakan manusia seperti Elsa ini?


"Hallo Sa." Akhirnya panggilan ke tiga pun di jawab oleh Azam dan begitu juga Damar. Namun Damar lebih memilih diam dan mendengarkan tanpa menyapa Elsa lebih dulu.


Senyum miring tercetak di bibir Elsa, ia menatap Kiana dengan remeh sebelum memulai drama yang terlihat menggelikan di depan Kiana.


"Kak, Zam," ujar Elsa pelan, suaranya ia buat bergetar. Tangis palsunya pun mulai keluar.


Di seberang sana, Damar dan Azam di buat kaget. "Loh Sa? Lo kenapa? Bilang sama gue."


Elsa sengaja loudspeaker agar Kiana bisa mendengar suara dari handphonenya.


Plak! Elsa menampar pipinya sendiri, hal itu hampir membuat Kiana bertepuk tangan. Kurang keras, pikir Kiana.


"K..kiana, ampun... Sa..sakit hiks...." suara Elsa terdengar sangat kesakitan.


"Elsa? Ang...Kiana ngapain kamu lagi hah? Bilang sama gue!" kali ini Damar yang angkat bicara.


"Sa..sakit Ka..kak, to..tolong Elsa di toilet hiks... Tolong arghh!" Dan tut! Elsa langsung mematikan panggilan. Ia sangat yakin jika Azam dan Damar sangat khawatir sekarang.


"Ck!ck!ck! Drama yang bikin mual," ucap Kiana. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, tak lama lagi bel pulang sekolah. Pasti Alira dan Loli sudah menunggunya.


"Bentar lagi Kak Damar dan Azam bakalan datang, dan siapin pipi kamu yang aku yakin bakalan di tampar sama mereka," ucap Elsa penuh kemenangan.


Kiana hanya memutar bola matanya jengah.


Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa, mendengar itu Elsa langsung mengacak rambutnya, menarik kancing seragam dan juga almamaternya agar terlihat berantakan. Setelah itu, Elsa langsung menjatuhkan diri di bawah kaki Kiana yang masih asik duduk di atas wastafel.


Berbarengan dengan itu, pintu toilet di dobrak kencang di ikuti bunyi bel pulang sekolah yang menggema.


Azam di sana, dengan napas tersengal-sengal. Yang pertama ia lihat adalah Kiana yang tengah menatapnya malas, kemudian disusul dengan Damar juga sudah berada di dalam toilet. Pandangan mereka tertuju ke arah Elsa yang sangat memprihatinkan.


"Elsa..." Azam melangkah mendekati Elsa dan berjongkok. Suara tangisan Elsa terdengar membuat Azam langsung memeluknya.


"Aku ta..takut hiks..." Elsa balas memeluk Azam, bibirnya tersenyum penuh kemenangan.


"Tenang ada gue. Gak akan ada yang bisa kasarin lo lagi," ucap Azam lembut, ia berucap sambil menatap tajam Kiana.


Kiana hanya terkekeh kecil. Mengapa ada manusia sebodoh Azam?


"Lo bangun dulu, gue mau kasih pelajaran buat cewek murahan kayak dia!" Azam menuntun Elsa untuk bangun. Ia mengusap air mata Elsa yang membasahi wajah cantiknya, kemudian mendekati Kiana yang masih duduk tenang.


Plak!


"LO EMANG MINTA DI KASARIN TERUS YA! KENAPA LO SELALU GANGGU ELSA? LO IRI SAMA DIA KARENA, GUE LEBIH MENTINGIN DIA KEBANDING LO YANG NOTABENYA ISTRI GUE? IYA?! murka Azam setelah menampar Kiana.


"JAWAB SETAN!" sentak Damar.


Kiana berdecak. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kemudian menatap Azam dan Damar malas. "Prajuritnya ratu muka lapis udah dateng," cibir Kiana. "Gak heran sih kalau ikutan go**** kayak ratunya." ucap Kiana dengan terkekeh.


"MAKSUD LO APA NGOMONG KAYAK GITU HAH?!


Azam langsung menarik Kiana dengan kasar, membuat Kiana tersungkur ke lantai.


Kiana terkekeh lagi. "Kalian udah di butakan dengan sikap sok polos dia!" tunjuk Kiana kepada Elsa dengan pandangan tajam.


"MATI AJA LO! MANUSIA KAYAK LO GAK PANTAS HIDUP DI DUNIA INI. LO ITU PEMBUNUH, TUKANG BULLY DAN BEBAN DUNIA KIANA!" ucap Damar.


Plak! Satu tamparan lagi mendarat keras di pipi sebelahnya dan itu ia dapatkan dari kakak kandungnya sendiri.


Kiana terdiam sesaat. Dadanya terasa sangat sesak sekali saat ini tanpa bisa ia cegah. Sial! Pasti ini perasaan Angel yang merasa sakit dengan kata-kata Damar.


"Cuman nampar doang nih yang gue dapat? Gak sekalian kalian tonjok wajah gue dan bunuh gue disini? Kiana terkekeh miris. Perasaan Angel ini membuat ia sedikit kesal. Kiana tidak mau terlihat lemah di depan siapapun. "AYO PUKUl! BIAR BUNDA LIHAT, ANAK YANG LAHIR DARI RAHIMNYA, MALAH SELALU MENYAKITI ADIK YANG LAHIR DARI RAHIM YANG SAMA, HANYA KARENA CEWEK MURAHAN KAYAK DIA! AYO TONJOK GUE! TAMPARAN KAYAK GITU GAK ADA APA-APANYA!" racau Kiana ia menunjuk pipinya sendiri di depan Damar dan juga Azam.


Tangan Azam terkepal kuat mendengar perkataan Kiana. Lain halnya dengan Damar, ia lebih memilih memejamkan mata guna mengontrol emosinya.


BUGH!


"KIANA!"


Azam tersadar mendengar suara pekikan itu. Ia menatap tangannya sehabis menonjok pipi Kiana. Azam kelepasan, dan ia tak menyadari itu.


Yang berteriak nama Kiana tadi adalah Alira dan Damar, Davian dan juga anggota Tiger yang lain.


Alira langsung membantu Kiana berdiri. Kiana terkekeh lagi, walaupun sedikit meringis menahan sakit di wajahnya.


"Ki," panggil Azam tercekat. Ia memang sering menampar Angel dan mengatai kata-kata kasar, namun baru kali ini Azam menonjok sekeras itu. "Gue..gue..."


Bugh!


"Anjing! Berani banget lo nonjok adik gue!" amuk Damar ia memberi tonjokan di rahang Azam.


"Gue kelepasan," ucap Azam susah payah. "Salah dia duluan, dia ngebully Elsa lagi. Lihat penampilan dia sekarang?" Azam masih membela Elsa.


"Ki, lo ngebully Elsa lagi?" tanya Ringga.


"Emangnya kalau gue bilang tidak, kalian bakalan percaya hmm?" Kiana bersedekap dada, alisnya terangkat sebelah. Ia berdecak melihat wajah bingung dan ragu begitu juga dengan Azam.


Hening.


"U..udah gak papa. Jangan mojokin Kiana kayak gi..gitu, a..aku gak papa kok. Azam juga, kenapa malah nonjok Kiana kayak tadi, Elsa jadi takut liatnya hiks..." Elsa menangis lagi.


"Lo lihat kan? Elsa masih ngebelain lo walau keadaannya udah kacau kayak gini!" ucap Azam.


Kiana dan Alira berdecih secara bersamaan. Ingin sekali meratakan wajah polos Elsa saat ini juga.


"Gue yang urus, atau kita berdua?" tanya Alira pada Kiana.


"Gue dulu, sisanya lo yang urus," balas Kiana. Kemudian ia menarik tangan Loli yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan cengo. "Pinjam," ucap Kiana setelah mengambil karet gelang Loli. Loli hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.


Setelah itu, Kiana mengikat rambutnya asal, membuat leher jenjangnya yang berkeringat terekspos.


"Gue udah bilang kan, kalau mau drama harus senatural mungkin," ucap Kiana yang mulai mendekati Elsa.


"Mau ngapain lo Ki?" tanya Azam waspada, namun tidak di hiraukan oleh Kiana.


"Dan gue juga udah bilang, kalau drama lo gak natural sesuai ekspektasi, lo bakalan dapat sangsi dari gue. Oh ralat, bukan sangsi sih, tapi sekedar pengajaran untuk tukang drama kayak lo!" ucap Kiana lagi. Bibirnya tersenyum miring, setelah ia berdiri di sisi kiri Elsa menghadap semua mata yang mengarah pada mereka.


"Ra, kamu mau ngapain? tanya Azam lagi.


"Gue? Kan udah gue bilang mau memberi sedikit pelajaran untuk berakting yang baik dan benar." Kiana tersenyum manis, ia memiringkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Elsa.


"Lo tadi drama nampar pipi sendiri kan? Itu terlalu pelan, kayak gini baru di bilang pro."


Plak!


"KIANA!" pekik semua orang kecuali Alira dan Ringga. Bahkan Loli saja sampai tersedak permen yang ia makan.


"Hustt...." Kiana menyuruh mereka diam. "Jangan teriak, ini belum selesai."


"K..Kiana, sa..sakit..." lirih Elsa.


"Sabar dong, masih ada satu lagi. Lo juga tadi drama meringis kencang kan? Tapi itu masih kurang, gak ada suaranya. Jadi nih, biar gue ajarin lagi, setelah ini lo harus belajar dengan giat lagi oke?"


Bugh!


"KIANA, GILA YA Lo?! pekik Azam, Ringga dan Damar. Mereka spontan berteriak akibat terkejut.


Elsa tersungkur di lantai. Sudah Kiana katakan, jika ia bisa menyerang orang dengan kekuatan jika sudah melewati batas.


"Apa? Ini akibat yang harus dia terima!" ucap Kiana sambil memandang tajam semua orang.


Tidak adil rasanya jika dirinya mendapat luka lebam di muka akibat ulah Elsa, tapi sang pembuat drama tidak di beri pelajaran. Wah, tidak bisa di biarkan ini.


Kiana lantas berjongkok, menyamakan tingginya dengan Elsa yang meringis. Tangannya terangkat menjambak rambut Elsa. "Nah, kalau mau acak-acak rambut, harus kayak gini, biar lebih mendalami banget," ucap Kiana lagi. Suara ringisian Elsa tidak ia hiraukan.


Semua orang di buat terdiam bak patung. Azam saja tak bisa berkata-kata, terlalu shock dengan aksi tiba-tiba Kiana. Elsa saja sudah kehabisan tenaga, tak mampu melawan Kiana lagi.


Kiana mendekatkan wajahnya di telinga Elsa dan menyeringai. "Udah gue bilang, jangan cari masalah sama gue. Lo sih, bandel banget di bilangin. " Kiana pura-pura kesal, namun setelahnya ia terkekeh kecil. "Welcome to the cruel world, created by me, Elsa."


[Selamat datang di dunia kejam, ciptaanku Elsa]


Kiana kembali berdiri, ia menyeringai penuh kemenangan saat melihat wajah kesal Elsa. Tangan gadis itu terkepal penuh amarah.


"Nah, itu ilmu yang bisa gue bagiin buat lo. Kalau mau belajar lagi, cari gue aja, tenang aja belajar sama gue gak di pungut biaya kok," ucap Kiana. "Giliran lo Al, penutupan." Kiana memberi kode Alira.


Alira yang mengerti langsung merebut botol air mineral yang baru saja di bawa oleh Bian. Sebenarnya air itu Bian beli untuk Loli yang tersedak permen, namun sudah di ambil dulu oleh Alira.


Byurr....


"Nah, inilah pertunjukan sederhana dari Queen Devil," ucap Alira setelah menyiram Elsa dengan air. "Terima kasih sudah menyaksikan secara cuma-cuma."


Kiana dan Alira tertawa.


"Cabut Al, hari ini sudah cukup." ajak Kiana.


"Cuss!" Alira langsung menggandeng tangan Kiana.


Kiana langsung mengajak mereka pergi dan menatap pada Azam yang kini tengah menatapnya. "Ragu ya, kenapa? Mau balas sama gue karena udah buat Elsa kayak gitu? Balas aja, itupun kalau lo berani. Ingat Zam, hubungan kita udah di ujung tanduk," ucap Kiana membuat Azam hanya bisa berdecak tanpa bisa membalas.


"Dan satu hal lagi, jangan banyak tingkah sok-sokan udah bucin sama gue, namun pada dasarnya lo belum bisa liat mana yang benar dan mana yang salah, kayak sekarang. Jatuhnya lo kayak orang be** tau gak! Yukk cabut guys!"


Mereka pun pergi, meninggalkan Elsa yang sudah di peluk oleh Azam ala bridal, dan juga Ringga yang terdiam bak patung dengan tangan terkepal di sisi tubuh.


**Bagaimana dengan part ini gengs menurut kalian? Semoga kalian suka dan aku tunggu komentar kalian....


Hari ke hari terus berganti. Minggu ke minggu terus pula bergilir. Begitupun bulan ke bulan masih berputar. Seperti tahun 2022 ini berganti tahun baru 2023. Mari kita rayakan tahun bari ini dengan hidup yang menuju ke kehidupan yang positif dan semakin maju. Tinggalkan segala bentuk kesedihan yang telah berlalu. Biarkanlah ia berlalu. Semoga Tahun baru menjadikan kita semakin dewasa dan kuat untuk menghadapi segala lika-liku kehidupan. Terimakasih sudah bertahan sejauh ini selamat Tahun baru untuk kita semua.πŸŽ‰πŸŽ‰**