Kiana Story

Kiana Story
Bab 37



Kiana menekuk wajahnya. Ia kesal setengah matang saat tidak kebagian cokelat. Gadis itu terus menggerutu, mengumpat orang yang telah memborong cokelat di supermarket.


"Gue minta beliin pabrik cokelat sama Papi aja deh. Sekali-kali morotin mertua, gue yakin langsung di setujui. Gue kan mantu kesayangannya," gumam Kiana. Ia mengangguk, sepertinya ide bagus. Lagi pula satu pabrik tidak akan membuat seorang Zain jatuh miskin.


"Hei."


"Anjir." Kiana tersentak dan mengusap dadanya terkejut saat seseorang berjalan di sebelahnya.


Kiana menoleh mendapati cowok berjaket hitam, memakai topi dan juga masker.


"Lo.." Kiana mengerjap, ia sangat kenal dengan cowok di hadapannya. Kiana tidak percaya jika bertemu dengan kekasihnya? Hmm, apa Devan masih berstatus sebagai kekasihnya?


Devan menurunkan maskernya dan menyodorkan sebuah plastik kepada Kiana. "Nih, buat lo."


"Apaan?"


"Cokelat. Gue nggak sengaja liat lo ngamuk karena gak kebagian cokelat tadi di dalam," ucap Devan dengan terus menatap kedua mata Kiana. Demi apapun, walaupun wajah, tubuh dan perawakan mereka jauh berbeda, namun Devan seperti merasakan jika gadis di hadapannya adalah kekasihnya.


"Jadi lo yang borong semua cokelatnya?" tanya Kiana yang di balas anggukan kepala oleh Devan.


"Lo doyan cokelat?" tanya Kiana, jujur ia sangat penasaran.


Devan tersenyum kecut. "Bukan gue, tapi kesayangan gue," ucap Devan pelan. "Dia suka banget sama cokelat, sampai gue bingung gimana caranya buat dia berhenti makan yang manis-manis, karena gue takut dia sakit gigi. Tapi dasarnya keras kepala ya gitu. Gue nggak bisa cegah, yang gue bisa hanya nurutin kemauan dia dan juga manggil dokter gigi buat periksa."


Kiana mengerjap. Ia merasa de javu dengan ucapan Devan. Apa yang di maksud adalah dirinya?


"Te..terus pacar lo mana? Kok nggak bareng?" Kiana hanya ingin memastikan. Yang Devan maksud adalah dirinya atau tunangannya sekarang.


"Eumhh...Makasih cokelatnya. Gue pergi dulu, udah larut, takut nanti orang rumah khawatir." Kiana mengambil kantong plastik itu dan mundur selangkah.


Devan menghela napas dan pada akhirnya mengangguk.


"Takut suami ngamuk ya?" Devan terkekeh kecil. "Salam buat Azam, bilangin gue mau ajak dia tawuran lagi."


"Hm, nanti gue bilang. Gue pergi dulu," ucap Kiana, ia hendak pergi namun suara Devan membuat ia terhenti lagi.


"Mau gue anter? Udah malam gini, nggak baik cewek jalan sendirian," tawar Devan penuh harap jika Kiana mau di antar olehnya.


"Nggak perlu, makasih. Gue bisa pulang sendiri," balas Kiana. "Gue duluan."


Kiana berbalik pergi. Ia sudah lima langkah dari posisi devan, jadi ia masih bisa mendengar suara cowok itu.


"Lo mirip banget sama dia. Gue bisa lihat kesayangan gue dari dalam diri lo. Nama lo Kiana kan? Haha, bahkan nama kalian mirip."


Kiana menggeleng saat mendengar suara serak itu. Ia memilih melangkah lebih cepat meninggalkan Devan. Kiana tidak mau lemah di hadapan cowok itu.


"Aku kangen sama kamu, Kia," gumam Devan dengan suara parau. "Rindu banget."


Devan menghela napas panjang. Perasaannya kacau, ia begitu merindukan Kia, dan cewek itu istri musuh bebuyutannya membuat Devan mulai terobsesi. Perasaan ingin memiliki itu muncul dengan sendirinya.


***